Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 80


__ADS_3

"Zanu!" panggil Daniar sambil melirik kearah Zanu yang sedang fokus mengemudi.


"Ada apa?" tanya Zanu tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Daniar sedikit ragu.


"Tentu saja boleh. Kau mau tanya tentang apa?" tanya Zanu.


Daniar diam sesaat. Otaknya sedang berpikir keras untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menanyakan perasaan hatinya.


Apa pantas seorang wanita menembak seorang pria? bukannya dimana-mana pria yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu pada wanita? batin Daniar.


"Apa kau merasa nyaman saat bersamaku?" tanya Daniar setelah menguatkan mentalnya untuk mengungkapkan isi hatinya.


Zanu terdiam sebentar. Tentu saja dia merasa nyaman saat berada didekat Daniar. Tidak bisa dia pungkiri juga kalau dirinya sedang jatuh cinta pada Daniar. Sejak awal pertemuan mereka dulu, Zanu terus terbayang-bayang wajah cantik Daniar.


Merasa Zanu tidak memberikan jawaban dari pertanyaannya tadi, Daniar pun terdiam dan raut wajahnya seketika menjadi muram.


"Kalau aku boleh jujur.....sebenarnya aku juga nyaman berada didekatmu.." ucap Zanu setelah lama keheningan hinggap diantara keduannya.


Daniar langsung menatap wajah pria disampingnya itu, yang tidak lain adalah Zanu, pria yang sudah berhasil mencuri hatinya.


"Benarkah?" tanya Daniar menunjukkan raut wajah sangat-sangat dan sangat senang.


"Hem, aku juga tidak tahu kapan itu, yang jelas aku merasa nyaman saja bersamamu!" ucap Zanu sambil menatap Daniar sebentar.


Jantung Daniar dibuat semakin berdegup kencang, apalagi saat Zanu tersenyum manis kearahnya, seakan membuat Daniar terbang ke awang-awang.


Ya Tuhan benarkah ini nyata? jika ini hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku! batin Daniar.


Daniar sungguh-sungguh tidak percaya kalau pria yang dia sukai juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Setelah cukup lama berbincang, mereka pun sampai di restoran langganan Zanu dan makan malam bersama disana.


Waktu semakin larut, Zanu mengantar Daniar pulang setelah makan malam dan langsung menuju bar Arul dimana sahabat-sahabatnya yang lain sudah berkumpul disana.


Saat sampai didepan bar Arul, Zanu mendengar seseorang yang tengah curhat.


"Aku mencintai seorang wanita, namun aku rasa wanita itu menyukai sahabatku." ucap suara yang didengar Zanu.


Zanu pun mengendap-endap menguping dibalik tembok sambil melirik kearah suara yang dia dengar tadi. Dari balik tembok Zanu melihat dua orang tengah duduk sambil ditemani segelas jus buah, bukan minuman keras.


Bagas? siapa yang Bagas sukai? dan siapa sahabat yang dimaksud Bagas? batin Zanu.


Bagas tengah duduk bersama Rohan. Arul, Tomi dan Jack sudah naik keatas dan tepar setelah pesta minuman untuk merayakan pernikahan Darel meskipun Darel sendiri tidak bisa datang kesana.


"Apa sahabat istrinya Darel itu yang kau maksud?" tanya Rohan penuh selidik.


"Kau tahu rupanya! ah, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu!" ucap Bagas sambil tersenyum getir.


Sahabat istri Dwi? apa yang dimaksud Bagas dan Rohan adalah Daniar? jadi Daniar adalah orang yang disukai Bagas? dan Bagas tahu kalau Daniar menyukaiku? batin Zanu terkejut dengan pernyataan Bagas.


"Apa kau tidak berpikiran untuk mengalah saja, Gas? bukankah Zen juga sahabat mu?" tanya Rohan seolah memberikan saran pada sahabatnya itu.


Rohan berusaha menjadi penengah dalam masalah ini karena baik Bagas maupun Zanu sama-sama sahabatnya, dan dia tidak ingin hanya karena seorang wanita hubungan persahabatan mereka rusak lagi terlebih sampai sekarang pun hubungan Darel dan Zanu belum sepenuhnya membaik.


Bagas menenggak jusnya, dia seolah mempertimbangkan saran Rohan barusan.


"Aku tidak tahu apa aku bisa melupakan dia terlebih jika dia bersama Zen, bukankah akan lebih sulit lagi bagiku untuk melupakan dia?" tanya Bagas yang ada benarnya juga.

__ADS_1


Diposisi Zanu, Zanu yang awalnya hendak menghampiri sahabat-sahabatnya itu memilih mengurungkan niatnya dan meninggalkan bar milik Arul dengan perasaan gundah gulana.


Zanu mengendarai mobilnya kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah, Zanu langsung menuju kamarnya dan merebahkan dirinya diatas kasur.


"Bagaimana ini? kenapa saat aku dan Bagas baru mengenal cinta malah dengan wanita yang sama? apa aku harus mengorbankan perasaan Bagas hanya karena aku ingin memiliki Daniar dan mengorbankan persahabatan kami?" ucap Zanu pada dirinya sendiri.


Tidak, aku tidak bisa menjadi egois dan mengorbankan persahabatan kami hanya karena seorang wanita. Aku memang mencintai Daniar, tapi....tapi persahabatan diantara kami lebih penting daripada wanita. Daniar...maafkan aku! batin Zanu.


Setelah cukup lama bergulat dengan batinnya, Zanu memilih untuk tidur terlebih hari juga sudah mulai larut.


********


Ditempat lain, Frans dan Juna sedang berada di club. Mereka datang bersama untuk minum-minum.


"Kau lihat pria disana. Mereka terlihat sangat kaya, dari baju yang dikenakan saja terlihat sangat jelas kalau status sosial mereka sangat tinggi!" ucap seorang wanita pada temannya.


"Mungkin kau benar juga. Eh tapi masih tampan pacar gue kali!" jawab temannya.


Dua wanita itu sedang membicarakan Frans dan Juna. Diketahui juga dua wanita itu bernama Cindy dan Shiren.


Cindy dan Shiren terus menatap kearah Frans dan Juna. Juna yang sadar arah tujuan kedua wanita itu pun langsung membisikkan sesuatu pada Frans dan mereka beranjak meninggalkan club itu.


"Loh kok malah pergi sih! nggak bisa cuci mata deh!" keluh Cindy saat Frans dan Juna pergi.


Shiren hanya menggelengkan kepala jengah dengan tingkah temannya ini.


"Udahlah ayo pergi, bisa mati aku kalau Bram tau di club!" ajak Shiren pada Cindy.


Mereka pun meninggalkan club dan memutuskan untuk pulang. Setelah mengantar Cindy pulang, Shiren pun memutar mobilnya kembali kerumahnya. Arah rumah Shiren kerumah Cindy memang berbeda jalur, sehingga Shiren harus memutar arah lebih jauh saat mengantar Cindy pulang.


Saat sedang berada dijalanan sepi, tiba-tiba mobil Shiren mogok.


Shiren pun memutuskan untuk keluar dari mobil, membuka bagian depan mobil dan mencoba mengotak-atik mobilnya. Namun hasilnya nihil, Shiren yang sama sekali tidak tahu menahu tentang mesin pun kebingungan terlebih hari sudah larut dan keadaan sangat sepi disana.


"Aduh, mana ponsel mati lagi, gimana nih!" tanya Shiren pada dirinya sendiri.


Dari kejauhan, terlihat sebuah kendaraan yang tengah melintas. Shiren pun segera berlari ketengah jalan dengan dalih bisa meminta pertolongan.


CIIITTTTT......


Mobil itu menghentikan laju mobil dengan mendadak.


"Hei, mau mati ya? kalau mau mati jangan dimobilku!!" ucap seorang pria yang turun dari mobil.


Loh ini kan pria yang tadi! batin Shiren.


Mobil itu ternyata milik Juna. Ternyata Juna dan Frans tadi tidak langsung pulang. mereka mampir lebih dulu ke warung sate untuk makan malam dan baru mau pulang ketika Shiren menghentikan laju mobil Juna dengan berdiri ditengah jalan.


"Mobilku mogok, aku cuma mau minta tolong itu aja kok!" ucap Shiren tidak ada takut-takutnya sama sekali pada Juna.


Juna melihat kearah mobil dipinggir jalan yang dia yakini itu milik wanita tidak dia kenali ini.


Juna, saat bersama orang yang tidak dia kenali dia akan menjadi orang yang dingin. Namun jika berada di antara orang-orang yang dia kenal dekat, huh jangan tanya tingkahnya bisa menjadi bar-bar.


Karena kasihan, Juna pun menuju mobil Shiren dan mengecek masalah apa yang terjadi pada mobilnya sehingga bisa mogok. Terlebih karena Shiren seorang wanita dan tidak baik jika dia tinggal disini seorang diri.


"Apa kau bawa air?" tanya Juna setelah memeriksa mobil Shiren.

__ADS_1


"Air? oh ada-ada!" ucap Shiren.


Shiren langsung masuk ke mobil, mengambil sebotol air minum dan memberikannya pada Juna.


Setelah menuangkan hampri setengah air minum itu, Juna meminta Shiren mencoba menghidupkan mobilnya lagi. Dan..


Brummmmm......


Mobil Shiren kembali hidup.


"Makasih ya!" ucap Shiren pada Juna.


"Aki mu bermasalah, sebaiknya besok pagi bawa ke bengkel saja biar diperbaiki disana. Untuk sementara bisa lah untuk berkendara." jelas Juna.


"Dimana rumahmu?" tanya Juna lagi.


"Emm, dijalan xxx, kenapa?" tanya Shiren.


"Emm, sepertinya tidak akan sampai jika jaraknya sejauh itu. Atau begini saja, aku antarkan kau saja, dan..." terpotong.


"Mobilku?" tanya Shiren dengan cepat.


"Dengarkan aku dulu makanya!" ketus Juna.


Shiren memilih diam.


"Mobilmu biar diantar temanku itu, kebetulan rumahnya dekat dari sini. Besok biar aku suruh montir memperbaiki mobilmu." jelas Juna.


Shiren mengarahkan pandangannya kemobil Juna dan melihat seorang pria tengah duduk tenang disana.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Shiren ragu-ragu.


"Kalau tidak mau ya sudah!" ucap Juna menuju mobilnya.


"Eh tunggu!" ucap Shiren yang mengejar langkah Juna.


"Kak kau turunlah!" ucap Juna setelah membuka pintu tempat Frans duduk.


"Apaan?" tanya Frans.


"Kau bawa mobil wanita ini." ucap Juna.


Frans mengernyitkan dahinya, dan menatap wanita disamping Juna.


"Ah, baiklah aku tidak akan mengganggu pasangan yang lagi mabuk asmara!" ucap Frans dengan nada bercanda.


"Kakk!" ucap Juna menekankan nadanya.


"Hahaha jangan serius-serius amat kenapa? yasudah mana kuncinya?" tanya Frans setelah keluar dari mobil.


"Ad...ada didalam mobilku." ucap Shiren.


Frans hanya membalas dengan menyatukan jari telunjuknya dengan jari jempolnya, kemudian pergi membawa mobil Shiren.


"Ayo masuk!" ucap Juna.


Shiren dan Juna memasuki mobil Juna. Mobil pun melaju menuju rumah Shiren.

__ADS_1


Gimana kalau Bram tau ya? ah, semoga saja dia tidak tau. Lagian pria ini kan hanya membantuku! batin Shiren.


__ADS_2