
Darel baru saja sampai di apartemen miliknya. Begitu dia sampai, dengan tidak sabaran Darel langsung melakukan video call dengan istrinya. Setelah beberapa saat berdering, panggilan itu pun tersambung dan menampilkan Mentari yang terlihat baru bangun tidur.
"Haii, gimana perjalanannya huammm!!!" tanya Mentari dengan menguap.
"Lancar kok! kamu habis tidur ya? maaf ya aku ganggu tidur kamu. Soalnya aku kangen bangettt!!" ucap Darel.
Darel tidak perduli kalau saat ini dibelakangnya ada Harri dan salah satu ketua pemimpin kelompok disana tengah menatapnya jengah. Jadi, setelah membubaran kelompok mafia tempo hari, Darel juga membubarkan kelompok mafianya yang berada di berbagai negara, salah satunya di Swiss. Namun kelompok disini masih tetap utuh tetapi visi dan misi mereka berubah untuk membantu kepolisian disana. Yah, semacam lebih ke hal yang positif sih tujuan kelompok itu. Kelompok itu juga diketuai oleh Yai, yang dulu juga diangkat sebagai pengurus kelompoknya yang berada di sini.
"Iya, nggak apa-apa kok! lagian aku juga udah dari tadi tidurnya, mau mandi nih!" ucap Mentari.
"Mau lihat dong!" ucap Darel mesum.
Sontak saja Mentari membulatkan mata melotot ke arah Darel yang berbicara sefrontal itu.
"Nggak yaa!! dasar tuan mesum!! dah lah aku mau mandi. Kamu juga mandi habis itu istirahat yaa, oh ya aku juga bawain beberapa toples rendang buatan aku dan mbok kalau misalnya kamu kangen sama masakan aku." ucap Mentari.
"Wahhh, pasti enak itu, nona!" celetuk Harri yang tiba-tiba menyerobot.
"Hahaha, pasti dongg!" ucap Mentari tertawa.
"Bagian saya ada nggak nona?" tanya Harri yang tidak menghiraukan tatapan tajam dari Darel.
"Ada, udah aku siapin juga kok." ucap Mentari.
"Dah lah, sayang! katanya mau mandi, aku juga mau mandi nih, bau!" ucap Darel sembari mencium ketiaknya yang bau asam.
"Iya, nanti video call lagi yaa, byee!!" ucap Mentari mengakhiri panggilan videonya.
Disisi Mentari, Mentari keluar dari kamar untuk memeriksa apakah Nakala masih berada di depan kamarnya.
Ceklek....
"Eh, kamu masih disini?" tanya Mentari.
Nakala yang melihat Mentari keluar kamar itu pun langsung berdiri dari duduknya.
"Apa nona membutuhkan sesuatu?" tanya Nakala.
__ADS_1
"Tidak. Oh ya kamu bersih-bersih sekalian istirahat sebentar aja, saya mau mandi kok." ucap Mentari.
"Tapi tugas saya kan..."
"Saya mandinya lama, jadi kamu tenang aja. Nanti kalau saya butuh bantuan kamu, saya akan bilang." ucap Mentari memotong kalimat Nakala.
"Baiklah kalau begitu, nona! selamat sore." ucap Nakala lalu berlalu pergi setelah Mentari menutup kembali pintu kamarnya.
Nakala yang saat itu baru saja memasuki kamarnya sangat terkejut kala melihat Adi yang dengan lancangnya membuka tas berisi pakaiannya dan meletakkannya didalam lemari pakaian.
"Adiii!!! apa yang kau lakukan disiniii!!!" teriak Nakala kesal.
"Hanya membantu! lagi pula kau melipatnya dengan sangat buruk jadi sekalian aku bantu melipat dan juga memasukkannya kedalam lemari." ucap Adi tanpa bersalah.
"Keluar!!! ayo keluarrr!!!" usir Nakala.
Nakala menarik lengan kanan Adi dengan sangat kuat, namun Adi tidak mau pergi juga.
"Kamu tuh apa sih maunya?!" tanya Nakala yang sudah pasrah.
"Adi jangan main-main, ayo keluarrr!!" usir Nakala lagi.
"Nggak!" ucap Adi.
Adi malah berjalan menuju ranjang Nakala lalu berbaring telentang disana.
"Ahh, enaknyaa!! kayaknya tidur sebentar disini bisa yaa!" gumam Adi yang bisa didengar oleh Nakala.
"Nggak!! nggak boleh!! ayo keluarrr!!" seret Nakala.
Nakala menarik kedua kaki Adi yang terjuntai di tanah itu hingga Adi terjatuh dengan posisi terduduk.
"Awww!!" pekik Adi kesakitan.
Nakala yang melihat kesakitan diwajah Adi pun merasa bersalah.
"Maaf!! maaf, Adi!! mana yang sakit?" tanya Nakala khawatir.
__ADS_1
"Sini!" tunjuk Adi pada punggungnya yang tergores pinggiran tempat tidur tadi.
"Maaf yaa!" ucap Nakala sambil membantu Adi berdiri.
"Nakala!" panggil Adi saat Nakala sibuk menggosok-gosok punggungnya.
"Apa sakit?" tanya Nakala.
"Tidak lebih sakit daripada kau tinggalkan dulu!" ucap Adi lirih membuat Nakala menatapnya.
"Adi, please! lupakan kenangan itu. Mulailah hidup baru!" ucap Nakala.
"Hidup baru? bahkan aku masih terjebak oleh nama dan kenangan-kenangan mu! katakan padaku, harus bagaimana caraku untuk meluapkan nama mu, kenangan mu yang telah merasuk sampai kedalam tulangku?" tanya Adi sambil berjalan mendekati Nakala.
Semakin Adi berjalan ke arahnya, memangkas jarak diantara mereka, Nakala justru berjalan mundur untuk memberi jarak pada mereka. Jujur, Nakala sendiri juga merasakan hal yang sama. Namun apalah daya, perbedaan yang terlalu tinggi bagi mereka membuat mereka tidak bisa bersatu. Benteng yang memisahkan mereka terlalu tinggi hingga tidak mungkin untuk dirobohkan. Nakala mengerti itu, itulah sebabnya dulu dia pergi. Tanpa pamitan, tanpa memberi kabar lebih dulu. Berharap rasa cintanya akan lenyap seiring berjalannya waktu.
Namun bohong jika dia bilang dia telah move on dari Adi. Nyatanya selama hampir sepuluh tahun Nakala berada di Cina, Nakala masih sering memikirkan Adi. Sama seperti Adi, kenangan mereka yang singkat itu telah merasuk sampai kedalam tulangnya hingga tidak bisa untuk dilupakan.
"Adi....ku mohon jangan begini!" ucap Nakala.
"Kenapa? apa salahku, Miguela? apa aku berbuat salah? jelaskan padaku! aku akan berubah demi mu!" ucap Adi bersungguh-sungguh.
"Tidak ada yang perlu diubah, Adi! semuanya biarlah seperti ini! aku, kamu, kita jalan di jalan masingmasing." ucap Nakala menjauhkan tubuh Adi yang berjalan hanya tiga jengkal dari dirinya.
"Tidak, Miguela! aku tidak menerima alasanmu barusan! aku butuh jawaban!! bukan alasan!! berikan aku jawabannya!!" desak Adi.
"Apa kau tidak mencintaiku?! apa kau telah menemukan penggantiku?! jawab aku Miguela!! jawab akuu!!! apa selama kita bersama tidak ada sedikitpun rasa cintamu untukku? katakan Miguela!! katakaaannn!!!" desak Adi.
"Jawaban apa yang kau ingin kan Adi?! bukankah terlalu nyata kemana status kita jika hubungan itu terus berlanjut?! Adi, aku juga ingin bersamamu!! benteng kita terlalu tinggi, Adi!!! kau muslim dan aku Budha! apa kau kurang mengerti, Adii?!" teriak Nakala yang telah lelah didesak Adi.
Adi terkejut dengan pengakuan Nakala. Ya, Nakala adalah seorang keturunan yang menganut agama Budha, sedangkan Adi adalah seorang muslim. Muslim yang baru insaf beberapa tahun belakangan ini semenjak Darel juga insaf. Selama ini, Adi sangatlah jauh dari Tuhannya.
"Miguela?!"
"Ya Adi!! kita berbeda!! perbedaan kita terlalu jauh!! aku juga tersiksa, Adi!! ku juga sakit!! sakit hatiku karena harus meninggalkan cintaku dan memaksanya untuk mati! cintaku harus terpaksa mati untukmu! aku tidak ingin merenggut mu dari Tuhanmu, dan aku juga tidak bisa pergi dari Tuhanku!!" ucap Nakala.
Nakala menangis sejadi-jadinya. Perbedaan itu membuatnya sangat kesal. Mengapa dari sekian banyaknya manusia, dia harus mencintai seorang pria yang beda agama?! Nakala tidak sanggup. Nakala tidak bisa menjauhi Adi, dia juga tidak bisa meninggalkan Tuhannya. Adakah jalan untuk kisah cinta mereka tanpa harus meninggalkan kepercayaan masing-masing?!
__ADS_1