
Daniar yang baru saja selesai bertelepon hendak memasuki gedung kembali ketika kedua matanya menatap kearah sebuah mobil yang baru saja menjauh.
"Mobil itu kayak aneh deh! gedung ini kan udah dibooking buat pernikahan keluarga Sanjaya dengan Mentari, kenapa mobil itu malah sepertinya dari arah sini?" tanya Daniar pada dirinya sendiri.
"Ah, ya sudahlah mungkin saja kebetulan!" ucap Daniar kemudian langsung kembali ke pesta pernikahan Darel dengan sahabatnya, Mentari.
Sesampainya didalam gedung...
"Kamu darimana aja, aku nyariin dari tadi!" ucap Zanu.
Ya, hampir setengah jam lamanya Zanu mencari keberadaan Daniar. Khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi kepada diri Daniar.
"Eh, emm maaf ya soalnya tadi aku mengangkat telepon dulu diluar, disini berisik jadi nggak kedengaran." jawab Daniar.
Tidak bisa dipercaya bahwa hanya dengan Zanu mengkhawatirkan dirinya membuat Daniar serasa melambung ke awang-awang dan enggan untuk turun ke Bumi. Jantungnya mulai berdegup dengan cepat, pipinya juga mulai memerah saking senangnya. Untung saja blush-on yang dia pakai hari ini adalah warna merah muda, jadi tidak terlalu kelihatan kalau pipinya sudah memerah akibat perhatian kecil dari Zanu.
"Woi, kenapa senyam-senyum sendiri? awas kesambet loh, ayo kesana aja!" ucap Zanu yang langsung berjalan menuju pesta.
"Eh, tunggu!" ucap Daniar yang langsung berlari kecil menyusul Zanu.
Tanpa disangka, sepasang mata terus menatap kepergian mereka.
Kenapa rasanya sakit sekali saat orang yang kita sukai malah dekat dengan sahabat sendiri? apa aku harus mengalah kali ini? batin Bagas.
Bagas yang saat itu tidak sengaja melihat Zanu dan Daniar berbincang-bincang pun langsung bersembunyi agar kehadirannya tidak disadari Daniar dan Zanu. Tapi semakin dia tahu kedekatan mereka semakin sakit pula hati Bagas.
Jika bahagiamu adalah bersama sahabatku, maka aku akan merelakan mu! batin Bagas kemudian berlalu pergi.
Saat ini ada seorang pasien yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal dan mobil yang menabraknya melarikan diri. Angel sudah berangkat lebih dulu ke rumah sakit, dan Bagas baru mau berangkat menuju rumah sakit.
__ADS_1
Yah, meskipun moodnya sedang tidak baik, tapi dia harus tetap bersikap profesional bukan? itulah yang mungkin sedang dipikiran Bagas saat ini.
Tidak butuh waktu lama untuk Bagas sampai dirumah sakit. Sesampainya disana, dia langsung menemui Angel diruangannya, seperti yang Angel bilang ditelepon beberapa saat yang lalu.
"Angel!" ucap Bagas sambil memasuki ruangan Angel.
"Ah, untung lah kau sudah datang! sepertinya pasien ini kekurangan banyak darah. Aku baru saja menghubungi rumah sakit pusat untuk meminta darah yang sesuai dengan pasien." jelas Angel.
"Apa golongan darahnya?" tanya Bagas.
"O negatif!" jawab Angel.
"Emm, baiklah lebih baik kau meminta beberapa kantung darah untuk stok dirumah sakit ini, bukankah kita juga kekurangan stok darah untuk darah O negatif?" tanya Bagas.
"Aku juga sudah melakukan itu tau. Lebih baik kau periksa dulu pasiennya baru kita ambil tindakan!" saran Angel.
"Kenapa aku? bukankah kau sendiri sudah memeriksanya?" tanya Bagas sambil mengerutkan keningnya.
"Hahahaha, iya ya, aku sampai lupa!" ucap Bagas cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Angel hanya menggelengkan kepalanya, sedikit kesal sih sebenarnya, tapi dia lebih memilih diam dari pada bertengkar.
Angel dan Bagas pun segera menuju ruangan pasien tabrak lari tersebut. Sesampainya didepan ruangan itu, Bagas dengan cepat langsung membuka pintu dan....
"Dia!!!??" bentak Bagas entah karena apa.
Semua mata tertuju pada Bagas. Memang saat itu dua suster sedang memasangkan beberapa alat bantu ditubuh pasien tersebut.
Angel menatap rekan kerjanya itu, ada tanda tanya besar dibenaknya.
__ADS_1
Apa Bagas mengenali wanita ini? batin Angel masih menatap mata Bagas dengan lekat.
********
Disisi lain, Wisnu dan Nurul juga memilih meninggalkan pesta pernikahan keluarga Sanjaya. Bagaimana tidak, Wisnu yang baru merasakan cinta pada pandangan pertamanya sekarang hanya bisa berangan-angan untuk memilikinya.
Memang sedari awal pertemuannya dengan Mentari, Wisnu sudah menaruh hati padanya. Namun hal itu sempat memudar saat Mentari mengatakan sudah punya tunangan. Semalaman penuh Wisnu memikirkan hal itu dan dia akhirnya memutuskan untuk terus memperjuangkan cintanya, toh masih tunangan belum menikah, yang menikah saja masih bisa ditikung apalagi masih tahap tunangan pikir Wisnu saat itu.
Namun siapa sangka, tunangan yang dimaksud oleh Mentari tidak lain dan tidak bukan adalah Darel Dwi Sanjaya, bosnya sendiri. Wisnu merasa sangat patah hati saat ijab qobul mereka, dia pun memilih untuk meninggalkan gedung dan Nurul entah apa alasannya namun dia memilih mengikuti Wisnu meninggalkan pesta megah itu.
"Apa wanita itu yang membuatmu jatuh cinta?" tanya Nurul setelah beberapa lama mereka berdiam diri didalam mobil.
Mereka sekarang berada dihalaman rumah Wisnu yang baru. Belum pernah ada seorangpun yang mengetahui lokasi rumah tersebut.
"Kenapa kau tidak bilang kalau tunangan tuan Darel itu adalah Mentari? harusnya kau mengatakannya padaku, setidaknya aku akan mencoba berhenti mengharapkan yang tidak pasti! bersaing dengan tuan Darel? heh bahkan memikirkannya saja aku tidak sanggup!" ucap Wisnu tertunduk lesu.
Nurul merasa kasihan pada kondisi Wisnu saat ini. Namun dia juga tidak tahu kalau wanita yang dimaksud Wisnu waktu itu adalah Mentari, istri bosnya sekarang.
"Maafkan aku, bukan maksudku untuk tidak mengatakannya padamu, tapi sungguh aku tidak tahu kalau dia adalah wanita yang sama dengan yang membuatmu jatuh cinta. Lagi pula kau tidak pernah mengatakannya padaku sebelumnya." jawab Nurul yang tidak lagi formal kepada Wisnu.
Wisnu hanya terdiam, meratapi nasib buruknya yang tidak bisa memiliki wanita impiannya.
Mau tidak mau aku harus bisa melupakannya! dia bukan wanita yang aku cintai lagi sekarang, namun dia sudah menjadi nyonya Darel Sanjaya, bosku! batin Wisnu.
Nurul melihat gelagat aneh atasannya itu, wajahnya juga ikut murah. Bukan karena ikut sedih dengan perasaan Wisnu yang tidak bisa dicapainya, namun ini lebih ke perasaannya sendiri yang juga tidak akan bisa dia raih.
Kenapa rasanya sangat sakit saat mendengar dia mengatakan cinta pada wanita lain? apa memang aku tidak pantas untuk dicintai? apakah aku seburuk itu? batin Nurul.
********
__ADS_1
Disisi lain, keluarga Sanjaya sudah berada dihotel yang dekat dengan gedung untuk acara pesta. Karena kelelahan mereka memutuskan untuk beristirahat dihotel saja bukan. Darel dan Mentari berada disatu kamar karena mereka baru saja sah menjadi pengantin baru. Frans dan Juna memilih kamar hotel disamping kamar Darel. Randita, Arya, dan Rangga berada disatu kamar. Serta tuan dan nyonya Ardi berada disatu kamar yang lain.
Mereka memesan kamar hotel VVIP untuk lima kamar. Awalnya Mentari ingin tidur dikamar hotel terpisah dengan Darel begitu juga Darel. Namun karena paksaan dari orang tua Darel, mereka pun akhirnya menuruti saja keinginan orang tuannya.