Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 257


__ADS_3

"Tari....dia...." terpotong.


"Jangan bertele-tele! cepat katakan kenapa dengan istriku!!" teriak Darel kesal karena Bagas yang bertele-tele menjelaskan keadaan Mentari.


Darel bahkan sampai menarik kerah jas Bagas saking frustasinya. Sementara yang lain ikut panik karena khawatir terjadi apa-apa dengan Mentari.


"Tenang.....tenang...sloww!!! dia nggak apa-apa kok! cuma kamu harus bersabar aja!" ucap Bagas hendak menjauhkan cengkraman tangan Darel dari kerahnya namun tidak bisa karena cengkraman tangan Darel terlalu kuat untuknya.


"Dia hamil!" ucap Bagas karena Darel masih menatapnya tajam.


"Hah?!" Darel terkejut bahkan cengkraman tangannya di kerah Bagas sampai terlepas begitu saja.


"Alhamdulillah!!! akhirnyaaa!!!!" sorak semua orang berbahagia terutama Daniar.


"Ehemm...gimana... gimana?? Tari....ha...hamil gitu?" tanya Darel memastikan.


"Iye bude*!! tul* lo gue bilang apa tadi?" dengus Bagas kesal.


"Tari!!! Tariiii" teriak Darel memasuki ruangan Mentari.


Bagas yang memang masih berdiri ditengah-tengah pintu ruangan itu bahkan sampai ditabrak hingga pundaknya sakit karena Darel.


"Duhhh, lihat-lihat dong kalau mau nabrak!! sakit nih, ah!" omel Bagas yang tidak dihiraukan oleh Darel.


Yang lain juga ikut masuk saking bahagianya mereka.


"Sa...sayang...." Panggil Mentari baru saja siuman.


"Sayang... mulai sekarang kau harus jaga kesehatan!!" ucap Darel menggenggam erat tangan Mentari dan mencium punggung tangannya berulang kali membuat Mentari kebingungan.


Mentari dibuat kembali bingung dengan tatapan semua orang apalagi Daniar, mama, dan papa yang berkaca-kaca.


"Aku sakit apa? apa begitu parah sampai kalian berkaca-kaca seperti itu? aku akan mat...." terpotong karena jari telunjuk Darel mendarat di bibirnya dengan melontarkan tatapan tajam.


"Jangan bicara hal konyol itu lagi! kau tidak sakit kok! kau hanya sedang hamil!" ucap Darel.


"H..hamil??!!" Mentari terkejut sampai membelalakkan matanya tidak percaya.


"Aku?! aku..hamil? benarkah ituu?!" tanya Mentari masih tidak percaya.


"Iya sayang!! kamu hamil!! Bagas yang bilang tadi. Tidak mungkin dia berbohong, kalau sampai dia berbohong aku akan tutup rumah sakit ini!" ancam Darel membuat Bagas bergidik ngeri.


"Serem amat loh, Rel!" cibir Bagas yang masih berdiri di pintu.


"Selamat ya Tari! akhirnya kamu bisa hamil juga! nanti kalau anak kita sepasang kita bisa menjodohkan mereka, bagaimana?" tawar Daniar mengusap perutnya yang mulai membesar.


"Eh, acara mu, Niar? kok kalian disini? acara Daniar itu penting loh!" ucap Mentari merasa bersalah karena menggangu acara selamatan Daniar.


"Kami khawatir sama kamu, Tari! makanya kami bergegas ikut kesini!" ucap mama Daniar.


"Iya, bu! Iwang takut saat ibu pingsan tadi!! jangan begitu lagi yaa, Iwang nggak mau kehilangan orang yang Iwang sayang lagi!!" ucap Iwang yang memeluk Mentari dari arah samping.


"Ouuhhhh!!!" ucap semua orang terharu.


"Nggak kok sayang!! ibu nggak akan tinggalin Iwang! Iwang seneng nggak kalau punya adik kecil?" tanya Mentari.


"Boleh-boleh, bu! dua puluh adik kecil juga mau! nanti biar Iwang jaga merekaa!!" ucap polos anak itu membuat Darel dan Mentari salah tingkah.


Mana mungkin bikin anak sampai dua puluh, bisa tekor nanti dia melahirkannya. Melahirkan satu anak saja sudah menyakitkan apalagi dua puluh. Pikir Mentari karena memang dia belum punya pengalaman melahirkan sehingga kata melahirkan itu seperti hal menyeramkan baginya, tapi dia juga ingin melahirkan. Dih bagaimana sih Mentari ini.

__ADS_1


"Hehehe iya, lihat nanti dulu yaa!" ucap Mentari memaksakan tersenyum.


"Horeeee, Iwang dapat adik dua puluhhh!!!! horeeee!!!" teriak Iwang kegirangan.


"Ma, pa, sepertinya kami bertiga tidak akan datang ke acara selamatan Daniar! maaf yaa Daniar, Zanu!" ucap Darel pelan.


"Loh, kenapa?" tanya Daniar dan Mentari bersamaan menatap ke arah Darel.


"Bibimu itu sangat keterlaluan! hampir saja kau menjadi bulan-bulanan warga karena di fitnah mencur*, sayang!! belum lagi hinaan yang dia berikan!!" ucap Darel terlihat kesal.


Deg....


Bagaimana Darel bisa tahu kalau bi Surti menghina Mentari? perasaan Darel belum datang saat itu karena harus menunggu Iwang ekstrakurikuler terlebih dahulu. Iwang memilih ekstrakurikuler musik karawitan karena dia memang menyukai itu, selain ekstrakurikuler pramuka yang diwajibkan untuk semua siswa.


"Untung saja tadi Zanu menghubungiku dan menceritakan semua yang dilakukan bibimu itu, serta mengirimkan video dia menghina mu habis-habisan! kau mungkin bisa terima dihina seperti itu olehnya, tapi tidak denganku!" ucap Darel menggerutukan giginya kesal.


"Makasih!!!" ucap Mentari refleks memeluk Darel.


"Terimakasih sudah menjagaku!" ucap Mentari tulus.


"Kau istriku! lagi pula aku harus menebus semua kesalahanku padamu! dan jika terjadi apa-apa denganmu dan calon anak kedua kita nantinya aku tidak akan bisa memaafkan diriku dan semua orang yang terlibat disana!" ucap Darel bersungguh-sungguh.


"Papa setuju juga dengan perkataan kamu Darel! sebaiknya jaga jarak dari bertemu dengan dia! atau kalau kalian mau datang, datang saja disaat dia sudah pulang juga tidak apa-apa. Malah lebih bagus!" ucap papa Daniar memahami kegelisahan Darel.


"Untuk saat ini, suasana hati Mentari juga sangat penting dan perlu diperhatikan. Jangan sampai stress. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan." ucap papa Daniar.


"Tuh, denger, Tari! kamu kan biasanya menasehati aku, sekarang kamu juga sama!" ucap Daniar senang.


"Permisi! boleh saya periksa pasien?" tanya seorang dokter wanita.


"Diperiksa? bukannya tadi sudah?" tanya Darel.


"Iyaa, tapi ini lebih spesifik juga untuk mengetahui berapa umur janinnya, kapan perkiraan akan melahirkan, dan kondisi ibu hamil." ucap dokter wanita itu dengan penuh kesabaran.


Dokter itu segera memeriksa Mentari.


"Usia kandungannya sudah berjalan empat minggu! tekanan darah ibu hamil sedikit naik, mungkin karena tertekan atau memikirkan sesuatu sehingga membuat stress. Aku dengar dari dokter Bagas, katanya tadi sempat pingsan ya?" tanya dokter itu membuat Mentari mengangguk cepat.


"Tidak apa kok! apa pernah mual-mual sebelum ini?" tanya dokter wanita itu.


"Tidak dok! tapi kalau suami saya lumayan sering akhir-akhir ini, saya pikir salah makan saja, makanya saya bawakan bekal setiap hari!" jelas Mentari.


"Wahh, bagus kalau begitu!" ucap dokter itu membuat semua orang bingung kecuali Bagas.


"Berarti ayah dari janin ini sangat sayang kepada ibunya!!" ucap dokter.


"Kok kamu nggak gitu sih, sayang? berarti kamu nggak sayang ya sama akuuu!!!" omel Daniar kepada Zanu.


"Aku sayang banget loh sama kamuu!! buktinya aku halalin kamu, kalau aku nggak sayang nggak mungkin kita menikah dan mau punya anak, sayangg!!" ucap Zanu.


"Ohhh, berarti kamu menikah cuma mau punya anak doang gituu!!!"


"Duh, salah ngomong nih aku kayaknya!" ucap Zanu lirih.


"Jawabbb!!!"


"Enggak lah sayangkuu!! jangan berpikir negatif gitu dong sama suamimu ini!" ucap Zanu memelas.


"Ini saya resepkan vitamin dan juga obat kalau nanti mual-mual ya, entah ayah atau ibunya!" ucap dokter memberikan selembaran kertas berisi resep vitamin dan obat.

__ADS_1


"Terimakasih dokter!" ucap Darel menerima kertas itu.


"Aku tebus dulu obatnya! sekalian bayar administrasinya!" ucap Darel pergi.


Setelah kepergian Darel, keluarga Daniar mengerumuni Mentari ikut senang dengan kabar bahagia ini.


********


Di sisi lain, Shiren tengah pusing dengan kelakuan kakak dan calon suaminya. Mereka akan menikah beberapa minggu lagi dan sekarang tengah fitting baju.


"Yang ini bagus!! nggak terlalu kebuka!" ucap Tomi.


"Ini juga nggak terlalu terbuka banget kok! adik gue pasti cocok nih pakai ini!! Sharina, pakai yang kakak pilihkan saja yaa! pilihan dia jelek!!" ucap Jo.


"Nggak bisa gitu dongg!! ini kan pernikahan kami! jadi harus sesuai sama keinginan kami! orang luar diem aja!" sindir Tomi.


"Orang luar mata lo!! gue tuh kakaknya pengantin wanita, jadi keinginan gue juga penting! udahlah sekali-kali ngalah napa sama calon kakak ipar!!" ucap Jo masih bersikukuh dengan gaun pilihannya sedangkan Tomi pun juga begitu.


Shiren yang tengah duduk di kursi jengah menatap kedua pria itu yang selalu saja meributkan semua hal. Bahkan karyawan wanita yang berdiri di samping Shiren juga ikut gemas melihatnya. Mereka saling menarik perhatian dari Shiren.


"Wahh, beruntung ya mbak, punya calon suami dan Kaka seperti mereka! pasti rumah jadi ramai!" ucap karyawan itu setengah berbisik.


Shiren hanya menanggapinya dengan senyuman yang terpaksa.


"Eh, kata lo nggak terbuka?! nih nggak liat loh bagian belakang bolong segede gaban udan mau cosplay jadi sundel bolong aja calon istri guee!! enak aja!! nggak... nggak...nggak!! pokoknya harus yang ini!!" ucap Tomi menunjukkan gaun pilihannya.


"Eh, ini tuh style!! lo tau style nggak sih, norak banget jadi orang!!" ucap Jo.


"Udah kayak sundel bolong, belahannya sampai paha lagi, lo mau bikin istri gue tubuhnya dinikmati sama cowok lain?! mana mau gue!!! kalau lo mau, lo simpen nih baju buat calon istri lo nanti!! kalau ada sih jodohnya!" ucap Tomi dengan suara hampir berbisik di kalimat akhirnya.


"Apa lo bilangg?! lo nyumpahin gue jomblo selama sisa umur gue gitu!!! wahhhhh, adik ipar siala* lo!! nglunjak ya lama-lama!!" ucap Jo kesal.


"Apa?!! mau berantem!!! ayo sini!!! sinii!!!" tantang Tomii.


"Kalau bukan calon suami adek gue udah gue ulek dari dulu lo! gue kasih cabai yang banyak biar mata lo kepedesan, terus gue goreng yang garingggg" ucap Jo.


"Emang low pikir gue ayam penyet apa?! eh makan ayam penyet sambelnya banyak pakai lalapan terus nasinya masih anget enak kali yaa?!!" ucap Tomi yang menjadi lapar.


"Iya nih, jadi laper gue gara-gara lo bilang ayam penyet! beli yok didepan, tadi gue lihat ada yang jualan kayaknya enak soalnya rame!" ajak Jo.


"Yokkk....." ucap Tomi.


Baru saja hendak melangkah meninggalkan tempat itu, Shiren menjewer telinga kakak dan calon suaminya itu hingga merah.


"Aduh...aduh...aduh...sakit, sayanggg!!!! copot nanti telinga akuu!!!" teriak Tomi kesakitan.


"Aduhh....sakit....sakit....sakit....adik...sakittt!!!" teriak Jo kesakitan.


"Bagus yaa?! udah berantem selama satu jam disini! habis itu mau ninggalin aku gitu ajaa?!!" ucap Shiren kembali menguatkan jewerannya membuat Tomi dan Jo semakin meringis kesakitan.


"Huhhh!!!" Shiren melepaskan jewerananya.


Refleks Jo dan Tomi memegang telinga mereka yang panas akibat kena jeweran dari Shiren.


"Eh, kayaknya lo jangan nikah deh sama adik gue!! gue yakin lo nanti pasti bakal dijadikan babu sama diaa!! lo kan lemah kalau sama dia!" bisik Jo kepada Tomi namun masih bisa didengar Shiren meski samar-samar.


"Kakakkkk!!!" kesal Shiren karena Jo mengompori Tomi agar tidak jadi menikahinya.


"Ehh, enggak kok adikku!! kakak cuma bercanda, hehehee!" ucap Jo cengengesan.

__ADS_1


Jack yang menunggu di luar ruangan hanya bisa cekikikan mendengar pertengkaran Jo dan Tomi.


Bisa gitu yaa, pak tua kalau lagi bucin?! bikin geli telinga gue deh, apa jangan-jangan karena efek kelamaan jomblo yaa?! batin Jack masih cekikikan.


__ADS_2