Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 195


__ADS_3

Harri mengajak Laila ke sebuah danau. Mereka duduk disalah satu bangku sembari menikmati keindahan sore itu.


"Tuan?!" panggil Laila setelah cukup lama.


"La, jika kau tahu ada seseorang yang menyukaimu bagaimana?" tanya Harri tanpa menoleh kearah Laila.


Laila langsung menatap pria disampingnya ini dengan tatapan tidak mengerti. Cukup lama Laila masih diam memikirkan maksud dari pertanyaan Harri barusan hingga akhirnya Harri kembali berbicara.


"Sejak kita bertemu dirumah sakit untuk pertama kalinya, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Kedengarannya memang seperti lelucon tapi..." menatap Laila dengan serius.


Laila mendengarkan setiap kata yang diucapkan Harri. Raut wajahnya masih menunjukkan ketidakmengertiannya terhadap situasi yang tengah terjadi.


"Tapi percayalah, ini bukan sebuah lelucon! ini tulus dari dalam hatiku!"


Hah, apa dia ingin mengungkapkan perasaannya kepadaku? oh ya Tuhan aku harus bagaimana? aku merasa tidak pantas untuknya! batin Laila mulai memahami arah pembicaraan Harri.


"La, maukah kau menjadi kekasihku? aku tahu ini terlalu singkat dan terkesan terburu-buru, karena aku tidak mau menyesal dikemudian hari." ucap Harri menatap lekat kedua netra Laila.


"E....e...t..tuan!" menatap lekat kedua mata Harri.


Mulut Laila seolah terkunci, dia kehilangan kata-kata hingga tidak tahu lagi harus berucap bagaimana.


"Ah, baiklah aku mengerti! aku tahu ini terlalu mendadak bagimu, aku akan setia menunggu jawabanmu. Apapun itu kau harus memikirkan perasaanmu juga, aku tidak mau kau menerimaku nantinya hanya karena aku tangan kanan suami bosmu!" ucap Harri tersenyum getir.


"Maaf tuan!" ucap Laila menunduk.


"Sudahlah tidak apa, aku mengerti!" kembali menatap kearah danau.


"Oh ya, aku akan pergi lusa. Doakan aku bisa kembali dengan selamat ya!" ucap Harri enteng.


"M...maksud tuan?" tanya Laila.


"Aku..." terlihat ragu-ragu.


"Huhhh..mungkin kau harus tahu siapa aku sebenarnya!" menyakinkan dirinya untuk berkata jujur kepada Laila.


Laila mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Aku ini anak buah seorang mafia!" ucap Harri lirih namun masih bisa didengar Laila.


"MAFIAAA!" teriak Laila terkejut.


"Mafia yang brutal, suka menjual or*an manusia, melakukan kegiatan ilegal, dan aksi brutal lainnya?" tanya Laila masih dengan suara yang meninggi.


"Hussttttt! jangan kencang-kencang ngomongnya, nanti didengar orang!" perintah Harri sambil meletakkan jari telunjuknya dimulut.


"Oh ya maaf! apa mafia yang itu?!" tanya Laila mulai tenang.


"Emmm, tidak semua benar! justru kelompokku ini sangat anti terhadap kegiatan ilegal. Kami hanya melakukan perdagangan senjata namun secara legal, Kami justru memusuhi kelompok yang melakukan aksi ilegal." jelas Harri.


"Berarti tuan Darel..." berpikir keras.


"Yah, tuan Darel adalah pimpinan kelompok Dendley! tidak hanya tuan Darel saja, semua sahabat tuan Darel selain tuan Rohan dan Tuan Bagas juga seorang mafia!" ucap Harri.


"Lalu....kepergian mu lusa bukan untuk berperang kan?" tanya Laila mulai khawatir.


"Tidak!"

__ADS_1


Laila menghela nafas lega.


"Kami pergi untuk mencari seseorang, tapi tidak menutup kemungkinan hal itu bisa terjadi!" ucap Harri lagi membuat Laila kembali khawatir.


Laila tidak mau membohongi dirinya sendiri, dia juga memiliki perasaan lebih kepada Harri. Namun statusnya berbanding terbalik dengan Harri. Bak dia di Bumi sedangkan Harri di Bulan, sangatlah jauh perbedaannya.


"Bolehkah aku meminta suatu janji padamu?" ucap Harri menerawang jauh kedepan.


Laila mengangguk ragu.


"Jika aku kembali dengan selamat...." menatap kearah Laila lagi.


"Bisakah kau memberiku jawaban atas pertanyaanku barusan?" tanya Harri serius.


"T...tuan?!" panggil Laila ragu.


"M...maaf, tapi apakah saya pantas mendapatkan kesempatan ini? maksudku lihatlah diriku dan dirimu! perbedaan kita sangatlah jauh, banyak wanita diluar sana yang sederajat denganmu! bukan aku!" menunduk malu.


"Cinta!" ucap Harri spontan.


"Ap...apa? aku tidak mengerti tuan!" tanya Laila mengerutkan keningnya.


"Karena aku mencintaimu dan bukan yang lain. Aku mau kau yang mendampingiku baik dalam suka maupun duka ku, menemani setiap hariku bukan yang lain." ucap Harri.


"Memang banyak wanita diluar sana yang mungkin sama denganku, tapi Laila, aku juga sama sepertimu! aku manusia yang memakan nasi untuk mendapatkan tenaga, aku juga berjalan diatas tanah yang sama dengan yang kau pijak, aku melihat langit yang sama seperti yang kau lihat. Aku sama sepertimu Laila, tidak ada perbedaan diantara kita selain materi yang tidak akan ada habisnya jika kita membahasnya! aku mencintaimu dan saat aku memutuskan untuk mencintaimu, aku tidak mengharapkan balasan atas cintaku! kau menerima atau menolak cintaku, itu adalah hakmu, aku tidak akan memaksa!" jelas Harri.


Ucapan Harri yang panjang lebar membuat hati Laila tersentuh. Setiap kata yang diucapkan Harri ibarat bunga yang bermekaran dihatinya saat ini. Terharu, itulah yang dirasakan Laila saat ini.


"Baiklah aku berjanji! aku akan memberikan jawabanku! tapi anda juga harus berjanji kalau anda akan kembali!" ucap Laila.


Mereka kembali menikmati pemandangan hingga matahari telah tenggelam dan mereka memutuskan untuk pulang.


********


Mentari menyiapkan baju untuk Darel yang saat ini sedang mandi.


Tulinggg......


Sebuah notifikasi berbunyi dari ponsel Darel. Mentari mendatangi ponsel Darel yang terletak diatas meja disamping ranjang mereka karena penasaran.


"Bukti pengeluaran kartu kredit?" tanya Mentari menyatukan alisnya.


"Hah, sebanyak ini? apa yang Darel beli dengan uang sebanyak ini???" ucap Mentari syok.


Mentari terkejut ketika melihat deretan nominal uang yang tertera dilayar ponsel Darel.


Ceklekk...


Darel keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk.


"Sayang!" panggil Darel.


"Kamu beli apa lagi sih?" tanya Mentari spontan.


"Hah, maksudnya?" tanya Darel tidak mengerti.


"Lihat ini?!" menunjukkan pengeluaran kartu kredit di ponselnya.

__ADS_1


Darel melihat deretan angka yang sangat banyak baru saja keluar dari kartu kreditnya, dan dia yakini pasti uang itu keluar dari kartu kredit yang dia berikan kepada Pretty.


"Emm, mungkin Lukas yang membelikan senjata untukku dan yang lain untuk mencari Suli. Soalnya aku tadi menyuruh Lukas untuk membelikannya!" bohong Darel.


"Oh, gitu! yasudah, ini ponselmu!" mengembalikan ponsel milik Darel.


"Oh ya bajuku?" tanya Darel.


"Sudah aku siapkan, tunggu!" mengambil baju Darel yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Ini cepat pakai dan langsung turun ya, mbok Tini pasti sudah memasak untuk makan malam!" ucap Mentari.


"Baiklah, tunggu sebentar!" ucap Darel.


Dia memasuki ruang ganti dan memakai baju yang sudah Mentari siapkan. Setelah memakai baju, Darel dan Mentari keluar dari kamar untuk makan malam.


"Selamat malam tuan, nona!" sapa Lukas dimeja makan bersama dengan Adi dan Harri.


"Malam!" jawab Darel lalu duduk di kursinya.


"Malam juga kak!" jawab Mentari juga duduk di kursinya.


"Oh iya kak, aku mau tanya senjata apa saja yang kau beli tadi sampai-sampai habis segitu banyak? aku cuma penasaran aja sih!" tanya Mentari.


Darel terkejut dengan pertanyaan Mentari sedangkan Lukas yang tidak tahu apa-apa terlihat kebingungan. Harri yang juga baru sampai tidak tahu apa yang terjadi, dia berbisik ke Adi.


"Apa yang terjadi? alat apa yang dimaksud nona?" tanya Harri berbisik.


"Mana aku tahu, aku saja yang dari tadi bersama Lukas tidak tahu apa-apa kok!" jawab Adi ikut berbisik.


"E...maksud nona, senjata? senjata apa ya nona?" tanya Lukas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya senjata! bukankah Darel menyuruhmu untuk membeli senjata untuk mencari Suli?" tanya Mentari juga ikut bingung.


Lukas menatap kearah Darel seolah meminta penjelasan atas situasi ini. Darel berbicara melalui bahasa isyarat kepada Lukas.


"Ohhh, ah iya nona, senjata ituuu! em..apaa...cuma senjata yang diperlukan nona dan memang harganya segitu!" ucap Lukas cengengesan meskipun dia tidak tahu pasti apa yang Darel isyaratkan tadi.


"Sampai habis milyaran?" tanya Mentari lagi.


"Hah?" syok, spontan menatap kearah Darel.


"Ahahaha, benar! memang harganya sangat mahal nona, yah mahal!" ucap Lukas lagi.


Aduh tuann, lain kali kalau mau berbohong itu briefing dulu napa! ini nggak tau apa-apa malah diseret-seret kedalam lubang neraka! untung nona percaya tadi! eh tapi siapa yang menghabiskan uang tuan sampai-sampai tuan berbohong gitu? batin Lukas.


"Oh gitu!" ucap Mentari.


"Yasudah ayo kita makan!" ajak Darel.


Adi, Harri, dan Lukas juga duduk dikursi mereka bersiap untuk makan malam.


Kenapa aku merasa Darel berbohong ya? apa ada yang dia sembunyikan dariku? batin Mentari.


Mentari sebenarnya agak curiga dengan sikap aneh Darel dan Lukas tadi terlebih sepertinya saat Mentari bertanya kepada Lukas untuk pertama kalinya, Lukas sepeti tidak tahu apa yang dia maksudkan.


Semoga saja ini hanya perasaanku saja! batin Mentari.

__ADS_1


__ADS_2