
Darah segar mengalir dari lengan Rudra yang terputus hingga mengenai wajah dan baju Darel. Teriakan kesakitan oleh Rudra semakin membuat Darel senang dan semakin bringas.
Arul dan Tomi yang hanya menyaksikan adegan itu sampai bergidik ngeri. Bagaimana Darel bisa tetap santai begitu disaat darah berceceran dan bahkan sebagian mengenai tubuhnya. Arul dan Tomi saling lirik seolah sedang berbicara dalam bahasa isyarat yang hanya mereka berdua saja yang tahu percakapan itu.
Sedangkan Jack yang belum terbiasa dengan sikap Darel yang bar-bar ini mual dan ingin memuntahkan semua isi diperutnya saat melihat tangan Rudra terlepas dari tubuhnya.
"Tahan mualmu itu atau kau juga akan bernasib sama seperti dia!" ucap Adi memperingatkam Jack.
Hai otak alihkan perhatianmu dari adegan itu tadi! jangan sampai karena aku terus memikirkan sikap pak salju yang bar-bar ini malah aku nanti sasaran selanjutnya!!!! batin Jack.
Jack yang merasa takut pun menahan mualnya. Disaat yang lain terlihat jijik dengan adegan ini, lain halnya dengan Adi dan Harri yang terlihat biasa saja meskipun sedikit ngeri juga sih. Mengingat tugas mereka yang menjadi kaki tangan Darel, Adi dan Harri memang sudah terbiasa dengan adegan-adegan seperti ini dan itu malah menjadi adegan favorit Harri.
Setelah puas melepaskan kedua tangan dan kaki Rudra dari tempatnya, Darel pun beralih kepada Dendi dan melakukan hal serupa. Tempat itu sudah dipenuhi dengan cairan merah dari mereka berdua.
"Bersihkan kekacauan ini, dan ledakkan tempat ini agar tidak ada yang main-main lagi dengan Darel Sanjaya!" ucap Darel kepada Adi dan Harri.
"Baik tuan!" ucap keduanya.
Darel pun melepas jasnya dan hanya menggunakan kaos polos santai. Memang sedari awal menuju desa tadi Darel menggunakan pakaian formal sehingga orangtuanya tidak curiga kepadanya. Namun tuan Sanjaya mengerti betul sifat Darel dan berpikir bahwa Darel sedang ingin membereskan sesuatu tapi dia tetap diam saja.
Darel, Arul dan Tomi keluar dari tempat itu menyusul yang lain. Di luar Darel yang melihat Mentari tengah melamun langsung menghampirinya dan berniat menjelaskan semuanya kepada Mentari.
"Mentari!!! aku.....aku ingin menjelaskan sesuatu!!" ucap Darel ketika berada didekat Mentari.
__ADS_1
Mendengar suara Darel, Mentari langsung bangun dari duduknya dan menjaga jarak lumayan jauh dari Darel.
"Kenapa? apa yang mau kau jelaskan? tentang kau yang bersenang-senang dengan para pel***r itu, begitu?" Mentari dengan penuh emosi.
"Aku hanya tidak ingin menyentuhmu itu saja! kau tau kan pernikahan kita ini berawal dari perjodohan!!!" ucap Darel.
Maksud Darel, dia saat itu tidak mau menyentuh Mentari karena dia belum mencintai Mentari, namun Mentari yang sudah dibutakan oleh amarahnya pun salah tangkap dengan ucapan Darel.
"Oh, jadi kau lebih memilih menghabiskan malam-malammu bersama wanita tidak suci daripada dengan istrimu sendiri?!!!" teriak Mentari.
Semua orang yang ada disana mendengar perdebatan antara suami-istri itu. Mereka ingin melerai namun akhirnya mereka memberikan waktu untuk Darel dan Mentari saling terbuka dengan perasaan masing-masing. Semua orang memilih mencari tempat lain selagi Adi dan Harri menyelesaikan tugas Darel tadi juga mereka menunggu mobil yang akan menjemput mereka kembali ke desa.
"Kau mengataiku wanita kotor, kau bahkan menuduhku wanita tidak suci tapi kau sendiriii!!" ucap Mentari menangis.
Darel terdiam, dia mengingat perdebatannya dengan Mentari beberapa bulan yang lalu dimana dia mengatai Mentari tentang apa yang tidak pernah Mentari lakukan dan itu membuat hati Mentari semakin terluka.
"Kau bilang apa dulu!!!???? aku wanita penggoda, aku wanita jal*ng, aku wanita kotor!!! lalu kau sendiri disebut apa? yang mulia terhormat dan paling suci didunia??? hingga kau sendiri lupa akan dosa-dosamu itu dan malah menghakimi orang lain tentang dosa-dosa mereka!!!!" ucap Mentari meluapkan isi hatinya.
Darel tetap diam saja saat itu, dia tahu dia salah. Dia salah karena berbohong banyak hal kepada Mentari, istrinya sendiri.
Ketidakmampuanku untuk mengatakan kebenarannya kepadamu membuatku harus berbohong. Aku tidak mau kehilangan kau Mentari, tidak mau lagii!
"Kenapaaa!!!!" ucap Mentari melemah.
__ADS_1
Mentari menangis sejadi-jadinya, air mata terus membasahi pipinya bahkan matanya kini sudah sembab akibat terus menerus menangis.
********
Lukas yang kehilangan Mentari segera pulang ke rumah utama. Mereka sudah mencari Mentari kemana-mana namun tak kunjung ketemu. Dia pun menemui tuan Ardi dan menjelaskan apa yang terjadi di ruang kerja tuan Ardi.
"Maaf tuan, tadi nona Mentari meminta ijin untuk ke toilet dan meminta kami untuk menunggu dimobil saja, tapi setelah cukup lama nona tidak kembali. Saya dan yang lainnya segera mencari nona namun tidak jumpa." ucap Lukas tertunduk lesu.
Bukan hanya karena dia lalai menjaga Mentari, namun juga dia sudah mengecewakan ayahnya, Joni.
"Kalian sudah mencarinya ke seluruh tempat?" tanya tuan Ardi.
"Sudah tuan! kami sudah mencari ke setiap sudut namun tetap tidak menemukan nona." jawab Lukas.
"Baiklah kalian tenang saja, aku tahu dimana Mentari sekarang dan aku yakin Darel akan menjaganya bahkan dengan mengorbankan nyawanya sekalipun!" ucap tuan Ardi penuh keyakinan.
Lukas mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud tuan besarnya itu.
Tuan Darel? apa hubungannya tuan Darel dengan menghilangnya nona Mentari?
"Hal ini jangan sampai nyonya besar dan yang lain tau, cukup jaga rahasia ini! kalau sampai nyonya tau bahwa menantunya diculik penyakitnya pasti kambuh lagi!" tegas tuan Ardi.
"Baik tuan, saya akan pastikan nyonya besar tidak mengetahui hal ini!" ucap Lukas.
__ADS_1
Lukas dan anak buahnya pun pergi dari ruang kerja tuan Ardi dengan wajah penuh penyesalan karena merasa gagal melindungi nona muda mereka, Mentari.