
Mentari memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Begitu keluar kamar, Mentari melihat Anisa yang berjalan seperti orang kesakitan dan tentu saja Mentari langsung menghampirinya.
"Anisa, kau baik-baik saja?" tanya Mentari.
"Ah iya aku baik-baik saja kok! ini hal yang biasa bukan?" menatap dengan tatapan aneh kepada Mentari.
"Hah, biasa apa maksudmu?" tanya Mentari tidak paham.
"Kau kan juga pernah mengalaminya! masa kau tidak tahu!" jawab Anisa dengan nada rendah karena malu didengar orang lain.
Melihat gelagat Anisa, Mentari jadi ingat kejadian dirinya setelah mabuk dulu waktu bulan madu. Cara berjalannya persis seperti yang Anisa buat tadi.
"Hahhhh, jangan-jangan kau sudah...emm...emmm...emmmm!!!!" teriak Mentari.
Tangan Anisa segera menutup mulut Mentari membuat Mentari tidak bisa meneruskan perkataannya.
"Jangan keras-keras dong! aku kan malu!"
"Tapi kau benar sudah melakukannya?" berbisik.
Anisa hanya mengangguk malu.
"Kapan?" penasaran.
"Semalam! tadi akan mulai lagi, tapi dia dipanggil oleh Tomi. Aku tidak tahu mereka akan kemana! karena jenuh akhirnya aku keluar kamar walau sangat susah." jelas Anisa.
"Hei apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Daniar.
Daniar, Shiren, Angel, dan Nurul menghampiri Mentari dan Anisa.
"Ah, tidak-tidak! kami baru saja akan menemui kalian!" ucap Mentari.
"Kalian rasa para pria tadi mau membahas apa ya? sepertinya serius sekali!" tanya Daniar penasaran.
"Sudahlah, Niar, jangan terlalu penasaran! lebih baik kita masak-masak aja buat makan siang, gimana?" ucap Mentari memberi usulan.
"Wahh, ide bagus tuh! kita masak-masak dihalaman aja gimana?" tanya Angel.
"Boleh juga, yang lain gimana?" tanya Daniar.
"Setujuuu!!!" sahut yang lain.
"Oke ayo ambil bahan-bahannya dulu!" ucap Mentari.
__ADS_1
Mereka pun membagi tugas, ada yang mengambil peralatan masak, ada juga yang mengambil bahan-bahan masakan, ada juga yang mengambil tikar juga peralatan makan.
Mereka akan membuat seolah-olah sedang piknik bersama diluar. Menu yang akan mereka buat kali ini adalah seafood, mulai dari lobster, kepiting, udang, tiram dan masih banyak lagi.
Selain olahan seafood mereka juga membuat salad sayur. Semua bekerja sesuai tugas masing-masing. Mereka melakukannya dengan sangat bahagia penuh canda dan tawa dan terlihat sangat akrab.
Disisi lain, Zanu membawa para pria yang lain ke ruang rahasia dirumah ini.
"Apa semua baik-baik saja Darel?" tanya Bagas.
"Aku mendapat kabar kalau ada sebuah kelompok mafia di kota ini. Mereka terkenal dengan kebrutalan mereka."
"Apa? kenapa bisa terjadi?" tanya Arul.
"Mungkin jawabannya karena ini!" ucap Jack sembari mengeluarkan sebuah foto seorang perempuan.
"Ini? siapa dia?" tanya Arul menatap kearah Jack.
"Dia Suli, anak buah pembunuh bayaran yang menjadi incaran banyak kelompok mafia. Menurut informasi yang aku dapat, dia melarikan diri setelah dibuang dari kelompoknya dan menetap disini. Mungkin kelompok mafia itu mengincarnya karena suatu alasan yang besar!" jelas Jack.
Mata itu??? sepertinya aku pernah melihat mata itu, tapi dimana? batin Rohan.
"Emm, Han, apa kau pernah melihat wanita ini?" tanya Zanu yang memperhatikan tingkah Rohan.
"Ah, sepertinya iya! tapi aku belum pasti juga apakah itu dia karena hanya bagian matanya saja yang aku lihat itu pun sangat singkat!" jelas Rohan.
"Aku setuju! ini kan honeymoon ku, harusnya kita happy-happy disini!" ucap Arul.
"Emmm, ngomong-ngomong soal honeymoon, aku lihat tadi rambutmu basah deh waktu mau kesini! habis ngapain loh!" goda Bagas.
"Sialan lo, bilang aja lo iri? tuh liat si Darel! dia aja yang tiap hari keramas fine-fine aja tuh!" ucap Arul.
"Lah, kenapa aku yang kalian bawa-bawa! kalau aku sih wajar ya!" menyeringai puas.
"Dih, pamer!" ucap Tomi, Bagas, dan Arul.
"Sudahlah, ayo kita keluar! para cewek akan penasaran nanti kalau kita pergi lama." ucap Zanu.
"Ide bagus! aku juga udah kangen sama Mentari!" ucap Darel melangkah pergi meninggalkan yang lain.
"Dasar!" omel semua orang.
Mereka pun kembali menyusul Darel. Mereka menuju halaman belakang tempat para cewek mengadakan piknik kecil-kecilan.
__ADS_1
"Wah...wah....wah!!!! aromanya menggugah selera sekali!" ucap Arul dari kejauhan.
"Kalian darimana saja? ini makan siang sudah siap semuanya!" tanya Daniar.
"Biasa, urusan lelaki!" ucap Tomi.
"Ayo kita makan siang! setelah itu kita bersenang-senang di pantai!" ucap Mentari.
Darel tentu saja langsung menggelayut didekat Mentari, menempel seperti perangko. Arul yang pengantin baru pun tidak mau kalah, dia memperlihatkan keromantisannya dihadapan yang lain termasuk Darel.
"Kalian ini kalau mau pamer jangan disini, dikamar saja sanaa! setidaknya hargailah kami yang belum menikah ini!" omel Bagas.
"Sudahlah, Gas! kan mereka juga udah halal, kenapa kamu marah?" ucap Angel.
"Ya nggak bisa gitu dong!!! aku kan jadi iri!" memperlihatkan wajah menggemaskan dihadapan Angel.
"Makanya kalau iri itu disaingi!! nggak mampu? diem aja looo, hahahaha!!!" ejek Arul.
"Dih, mentang-mentang baru nikah ya! Sayang ayo kita cepet nikah!" ucap Tomi kepada Shiren.
"Tomi, jangan begitu! aku maluuu!" ucap Shiren lirih.
"Tapi mereka mengejek terus! pamer kemesraan didepanku, aku kan mau juga!" bergelayut dilengan Shiren.
"Jangan buru-buru menikah hanya karena kamu iri! pernikahan itu hal yang sakral loh, nggak bisa buat main-main!" ucap Shiren.
Para tuan muda ini tingkat irinya berbeda ya, orang biasa iri karena kekayaan, kecantikan, atau kelebihan orang lain. Lah ini, iri cuma karena sahabatnya udah menikah! duh dasar para sultan, udah kayak nggak butuh uang lagi mereka!!! batin Mentari melihat kelakuan para tuan muda dihadapannya ini.
"Sayang apa yang kau lihat? jangan bilang kamu lagi lihat mereka? kan ada aku disini kenapa kamu lihat yang lain?" rengek Darel.
"Eh, enggak kok! mana berani aku menatap pria lain selain suamiku yang tampan dan mempesona iniiiii!!!!" berusaha merayu Darel.
"Baru tahu emangnya kalau suamimu ini tampan, mempesona dan kaya raya?" ucap Darel sombong.
"Udah ayo makan aku udah lapar nih!!!" ucap Mentari.
Darel berinisiatif mengambilkan makanan dipiring Mentari lalu menyuapi Mentari kemudian menyuapi dirinya sendiri. Mereka makan satu piring berdua.
Arul, Tomi, dan Bagas yang memang iri dengan keromantisan Darel dan Mentari juga melakukan hal yang sama. Mereka mengambil makanan lalu berbagi dengan pasangan masing-masing. Sementara Zanu membuat ceritanya sendiri. Zanu mengambilkan makanan dari piring Daniar dan handak menyuapi Daniar.
"Kamu tidak akan melakukan hal seperti mereka kan?" tanya Daniar malu.
"Tidak! makanlah dulu, baru aku akan makan!" ucap Zanu sembari menatap lekat wanitanya.
__ADS_1
Daniar pun membuka mulutnya menyambut suapan dari Zanu. Sungguh sesuatu yang tidak pernah Daniar pikirkan sebelumnya bisa mendapatkan kekasih seperti Zanu.
Aku semakin yakin untuk membuatmu menjadi milikku seutuhnya Daniar! tidak akan aku biarkan cahaya dan warnaku hilang dari genggamanku! tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu, selama aku masih ada untukmu orang lain tidak akan bisa menyentuhmu! tunggu aku datang bersama orangtuaku untuk melamar mu, Daniar! batin Zanu.