Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 238


__ADS_3

Mentari masih diam mendengar gelak tawa Tomi dan Arul. Adi dan Lukas yang curiga memicingkan mata penuh selidik ke arah Mentari.


"Apa tuan sudah bangun?" tanya Lukas.


"Hahhh?!" teriak semua orang menatap ke arah Mentari dengan wajah yang....entahlah.


"Benar itu Mentari? Darel sudah bangun?" tanya Arul dan Tomi yang hampir bersamaan.


"I....iyaa! di...dia hanya pura-pura ternyata!" ucap Mentari lirih.


"APAAAAAAAA!!!!" teriak semua orang.


"Hihhhh, minta di kasih bogem mentah nih orang!!!" ucap Tomi mengepalkan kedua tangannya lalu meninjukan kedua tangannya.


"Tenang broo, kau nggak sendirian! aku bantu hajar tuh orang!!" ucap Arul yang ikut geram.


Mereka semua memasuki ruangan Darel.


BRAKKKKK....


Arul dan Tomi membuka pintu dengan sangat keras saking geramnya diikuti langkah yang lain. Darel yang saat itu baru saja keramas tengah mengancingkan kancing baju atasnya langsung menoleh ke arah pintu.


"Kenapa wajah kalian merah begitu?" tanya Darel seperti tidak punya dosa.


Bukkkk....bukkk


Plak.....plakk.....plak....


Tomi meninju perut Darel sebanyak dua kali dan Arul menampar pipi Darel sebanyak tiga kali.


"Hei.... apa-apaan kalian iniii!" ucap Darel.


"Kau yang apa-apaan!!! kami semua cemas menunggu keselamatan mu malah kau disini asik main-main sama istrimu!" ucap Tomi kesal.


"Tau tuh! aku sampai harus puasa satu bulan gara-gara ulah mu ini kau tahuu!!!" ucap Arul ikut geram.


"Loh, kok jadi satu? kan tadi gue suruh si Anisa satu tahun aja!" ucap Tomi beralih menatap Arul.


"Sial*n lo! sahabat gue bukan sih?!" ucap Arul menatap kesal ke arah Tomi yang berhasil mengimpori istrinya hingga dia harus mendapat hukuman tidak dijatah satu bulan lamanya.


"Hahaha, rasain tuh suami takut bini!" ejek Tomi.


"Temen lakn*t loo!" omel Arul.

__ADS_1


"Darel, ngapain pake drama-drama kayak gini sih? kayak anak kecil tau nggak! kami semua panik gara-gara kamu!" kini Bagas yang bersuara.


"Tau tuh tuan! kita khawatir beneran malah dia main-main!" omel Harri.


"Harri, kau mau aku habisi sekarang atau nanti!" ucap Darel menatap tajam ke arah Harri.


"Ehh, nggak....nggak usah tuan....hehehee!" ucap Harri salah tingkah.


"Dwi, kenapa kamu buat drama kayak gini?" tanya Zanu yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Darel.


"Buat mengembalikan bulanku ke tempatnya!" ucap Darel memandang ke arah Mentari.


"Cih....drama banget!" cibir Arul, Bagas, dan Tomi bersamaan dengan memasang wajah jengah.


"Jadi, semua pernyataan dokter tadi itu, semua akal bulus kamu doang?!" tanya Zanu yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Darel.


"Lihatlah dia!!! lihat pria inii! dengan memasang wajah yang tanpa dosa karena sudah mengerjai kita semua!" ucap Arul geram menunjuk ke arah Darel.


"Gimana ceritanya dokter tadi bisa melanggar sumpah dokternya?" tanya Bagas penasaran.


"Yah, aku memang terluka di punggung ku! aku juga kritis kok!" ucap Darel.


"Kritis kok bisa skidipappap!" cibir Tomi.


"Kau ni benar-benar minta dihajar yaaaa!!!" geram Tomi.


Tomi memburu Darel diikuti oleh Arul dan Bagas Mereka bermain kejar-kejaran didalam ruangan UGD. Zanu, Rohan dan semua orang yang ada disana hanya bisa menggelengkan kepala jengah melihat tingkah mereka berempat yang sudah seperti kucing dan tikus saja.


"Hah...hah.....hah....cukup....cukup....istirahat dulu...capek!!" keluh Bagas kelelahan.


Mereka bertiga berhenti di tempat yang jaraknya tidak berjauhan. Sedetik kemudian mereka berempat saling menatap satu sama lain kemudian di detik berikutnya mereka tertawa bersamaan.


"Kau kalau tahu muka Mentari saat itu, behhh sangat lucu, Rel!" ucap Arul merangkul pundak Darel.


"Oh iyaa? sayangnya aku lebih suka melihat mukanya saat berada di bawah kungkunganku!" ucap Darel menggoda Mentari membuat yang di goda tersipu malu.


"Ya in aja deh!" ucap Tomi merotasi matanya.


"Jadi, kapan kita pulang?" tanya Bagas.


"Sekarang aja! udah kangen rumah gue!" ucap Arul.


"Kangen rumah apa kangen bini?" goda Bagas.

__ADS_1


"Dua -duanya sih! tapi lebih ke bini!" ucap Arul cengengesan.


"Emangnya kamu udah boleh pulang?" tanya Mentari masih khawatir.


"Udah!" ucap Darel singkat.


"Ya udah kalau gitu kita makan malam dulu, nginep disini semalam terus kita pulang. Gimana?" ucap Zanu memberi saran.


"Nggak buruk juga idemu!" ucap Rohan.


"Boleh juga!" ucap Tomi setuju.


"Alahhhh....semakin lama deh guee jauh dari bini guee!" ucap Arul pasrah.


Mereka keluar dari rumah sakit. Sebelum itu Darel membayar tanggungan rumah sakit menggunakan black card nya.


Rombongan mereka keluar dari rumah sakit dengan di iringi banyak pasang mata yang melihat. Terkagum-kagum akan ketampanan dan kecantikan mereka.


Candra juga berada di rombongan itu. Dia pernah mengatakan bukan, apapun jika itu membuat Mentari bahagia maka Candra juga akan ikut bahagia. Walaupun sejujurnya ada sedikit rasa kecewa dihatinya. Setahun lamanya bersama dengannya, apakah tidak ada rasa sedikit pun dihati Mentari untuknya? ahh, sepetinya tidak! hati Mentari sudah terlalu penuh dengan nama dan kenangan Darel hingga tidak ada tempat lagi untuk orang lain bersemayam didalamnya.


Mereka menuju sebuah restoran makanan khas Bali disekitar sana. Mereka pun memesan banyak makanan khas Bali yang terkenal di restoran itu.


********


Daniar lega mendengar kabar bahwa mereka semua selamat. Tadi Arul mengatakannya saat membahas masalah ranjangnya kepada Anisa lewat ponsel Shiren.


"Alhamdulillah kalau semuanya baik-baik saja!" ucap mama Daniar.


"Berarti mereka segera pulang dong?" tanya Daniar bersemangat.


"Kayaknya enggak deh! ini kan udah malam, mungkin besok pagi baru pulang." jelas Anisa yang tengah menyusui Brian.


Wajah Daniar berubah kecewa saat mendengar penjelasan Anisa. Mereka pasti butuh istirahat setelah bertarung tadi, mungkin itu juga yang membuat mereka tidak bisa pulang malam ini.


"Nisa, sebaiknya kamu tidurkan Brian di kamar saja sekalian istirahat. Sudah malam juga!" ucap mama Daniar.


"Oh, baiklah kalau begitu. Nisa ke kamar dulu ya!" ucap Anisa pamit.


Anisa berjalan menuju kamar tamu di rumah itu. Karena kamar Daniar sudah menjadi kamar pribadinya dengan Zanu, maka tidak baik jika ada orang lain yang tidur di kamar itu meskipun dia adalah wanita.


Anisa membaringkan tubuh mungil putranya di atas kasur lalu Anisa ikut berbaring di sampingnya. Dalam sekejap Brian kecil terbangun sambil mulutnya seperti mencari-cari sesuatu. Anisa yang paham maksud gerakan putranya itu segera menyodorkan payuda*a nya untuk kembali menyusui sang putra.


"Tumbuh yang sehat ya nak! nanti kalau kamu sudah besar, jangan jadi seperti ayahmu ya. Suka mempermainkan hati wanita. Kamu sebagai laki-laki harus bisa melindungi wanita, siapapun itu!" ucap Anisa berbicara sendiri sambil memandang wajah putranya yang telah terlelap namun masih menyusu.

__ADS_1


__ADS_2