Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 78


__ADS_3

"Sudah jangan pikirkan!" ucap Darel.


"Sebaiknya kita makan siang saja, aku sudah sangat lapar. Kau masak apa tadi?" tanya Darel berusaha mengalihkan topik.


"Ah, itu hanya makanan sederhana kok!" ucap Mentari.


Darel mengambil kotak bekal yang terletak dimeja yang diletakkan Daniar tadi disana dan segera membuka kotak bekal itu. Begitu kotak bekal dibuka, tampaklah omelette telur dan sayuran, ayam yang disiram saus pedas manis, serta sayur bayam dan jagung.


Perut Darel langsung terasa sangat lapar saat melihat makanan yang dibawa Mentari tersebut.


"Apa benar ini kamu yang masak?" tanya Darel.


Mentari menganggukkan kepalanya senang.


"Sebanyak ini?" tanya Darel lagi.


Mentari masih menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Cepat dimakan dan katakan bagaimana rasanya?" tanya Mentari memberikan Darel sendok dan garpu.


Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.04 siang. Para karyawan sedang menikmati jam istirahat dengan makan siang. Ada beberapa karyawan yang memilih untuk makan di restoran atau cafe dekat kantor, namun tidak jarang juga ada karyawan hang membawa bekal dari rumah untuk menghemat perbelanjaan.


Darel mulai memasukkan suapan pertama kedalam mulutnya. Begitu makanan itu bersentuhan dengan lidahnya, Darel seketika berhenti mengunyah. Tatapannya yang seakan kosong itu membuat Mentari berpikir bahwa masakannya tidak enak.


"Apa rasanya seburuk itu?" tanya Mentari khawatir karena Darel sama sekali tidak bergeming setelah mencicipi masakannya.


"Kalau begitu aku bawa pulang saja ya, nanti kamu beli aja dicafe dekat sin...." terpotong.


"Makanannya enak banget!" ucap Darel sambil tersenyum.


Tangan Mentari yang semula hendak mengambil kotak bekal langsung ditahan oleh Darel. Darel pun segera menghabiskan makanan itu tanpa sisa sedikitpun. Mentari tersenyum dengan tingkah Darel yang makan terburu-buru seakan takut makanan itu akan diambil orang.


Setelah Darel menghabiskan makan siangnya, Mentari memutuskan untuk pulang.


"Oh ya, nanti aku mau menemui Iwang ya? sekalian mau ketoko!" ucap Mentari sebelum pergi.


"Hem! apa perlu aku pesankan taxi?" tanya Darel.


"Tidak perlu, Lukas tadi masih dibawah kok!" ucap Mentari.


"Lukas masih disini dan dia membiarkanmu masuk ke perusahaan tanpa pengawalan darinya? berani-beraninya dia!" ucap Darel sedikit emosi.


Mentari yang menyadari hal itu pun langsung berusaha menenangkan Darel.


"Ak...aku yang menyuruhnya menunggu dimobil, dia sudah memaksa untuk mengawal ku tadi, tapi aku bilang tidak usah makanya aku masuk sendiri!" ucap Mentari.


"Heh! ya sudah pergilah!" ucap Darel sedikit mengusir Mentari.


Mentari keluar dari ruangan Darel dengan rasa bersalah kepada Lukas. Takut jika nanti Lukas mendapat hukuman dari Darel karena membiarkannya masuk sendiri kekantor tanpa pengawalan terlebih dirinya tadi sempat berkelahi dengan Ratna.

__ADS_1


Maafkan aku Lukas, lain kali aku akan mendengarkan ucapanmu! batin Mentari saat berada di lift.


********


Lukas masih setia menunggu dimobil. Sedikit cemas sebenarnya karena Mentari tidak keluar-keluar dari perusahaan setelah cukup lama.


Apa ada masalah yang terjadi didalam? haih matilah aku, harusnya tadi aku tidak mendengarkan nona! batin Lukas.


Karena Mentari tidak kunjung muncul juga Lukas pun berniat menyusul Mentari kedalam. Belum sempat dia keluar dari mobil, dia melihat Mentari tengah berlari kecil menuju kearah mobil dan langsung masuk.


"Maaf ya, kamu pasti menunggu lama?" ucap Mentari menata duduknya.


"Justru bukan itu yang saya risaukan, tapi justru keselamatan anda yang saya utamakan nona. Jika tuan tahu anda keluar tanpa pengawalan bisa habis saya!" ucap Lukas.


Sekilas Lukas melihat beberapa bekas goresan dipipi Mentari. Dia pun langsung panik karenanya.


"Nona, pipi anda!" ucap Lukas sedikit berteriak.


Mentari memegang pipinya yang terluka.


"Oh ini, hanya luka biasa nanti juga sembuh!" ucap Mentari enggan menceritakan alasan dibalik luka itu.


"Sepertinya saat berangkat tadi pipi anda baik-baik saja, apa didalam terjadi masalah tadi?" tanya Lukas penuh selidik.


"Tidak kok, oh ya ayo kita segera berangkat nanti keburu Iwang sudah pergi!" ucap Mentari mengalihkan topik.


Lukas segera ingat akan tugasnya yang kedua yaitu mengantar nona mudanya ketoko kue miliknya. Lukas pun segera menancap gas menuju toko kue Mentari.


"Laila, dimana Iwang?" tanya Mentari kepada Laila yang berdiri didepan toko.


"Bu Mentari, oh hari ini Iwang masuk pagi Bu, dia juga terlihat terburu-buru saat meninggalkan toko tadi. Saya lihat gerak-geriknya seperti itu sudah beberapa hari yang lalu!" jelas Laila.


"Apa kamu tahu rumah Iwang, La?" tanya Mentari pada Laila karena seingatnya Laila lah yang dulu menjemput Iwang saat pertunangan dan pernikahannya.


"Emmm, sebenar-benarnya saya tahu Bu, tapi saya rasa itu tidak pantas dianggap rumah." jawab Laila sedikit bersedih.


Mentari ikut bersedih, dia tahu benar apa maksud perkataan Laila karena dirinya pun pernah berada diposisi Iwang dulu.


"Kamu tunjukkan saja arahnya, nanti biar aku kesana!" ucap Mentari.


Laila pun memberi petunjuk jalan menuju rumah Iwang. Setelah mengerti, Mentari dengan ditemani Lukas pun segera menuju arah yang dimaksud Laila tadi.


Tempat itu tidak jauh dari toko Mentari, namun tempatnya yang berada digang kecil membuat mobil yang Mentari tumpangi tidak bisa masuk hingga harus di titipkan dirumah warga sekitar. Mentari dan Lukas memasuki gang-gang sempit dan kumuh, bahkan sekilas terlihat seperti tempat pembuangan sampah. Banyak sampah bertumpukan disana hingga bau tidak sedap tersebar dan menyatu dengan udara.


Tidak lama kemudian sampailah Mentari dan Lukas kesebuah gubuk yang terbuat dari kardus dan karung bekas semen yang disusun seperti atap dengan kayu sebagai penyangganya. Mentari merasa miris dengan apa yang dia lihat itu, dia dan Lukas pun memasuki 'rumah' itu yang hanya sepanjang 2x2 meter itu.


"Kakak?!" teriak suara dari dalam gubuk itu.


"Iwang!" ucap Mentari.

__ADS_1


Ya, itu adalah suara Iwang. Iwang langsung keluar dari 'rumahnya' dan memeluk erat tubuh Mentari.


"Kakak kenapa bisa datang kesini?" tanya Iwang sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah Mentari.


"Kakak rindu padamu dan kata kak Laila kau pulang cepat beberapa hari ini, jadi kakak datang kesini!" ucap Mentari sambil menundukkan kepala menatap bocah kecil itu.


"Kakak ayo masuk, Iwang kenalin sama nenek!" ucap Iwang sambil menarik tangan Mentari.


Mentari dan Lukas pun mengikuti langkah Iwang hingga sampai pada sebuah sekat yang terdapat sebuah kasur bekas dimana dikasur itu sudah banyak tembelan-tembelannya dan diyakini itu adalah kamar tidur mereka berdua.


Mentari hendak menangis saat itu, dirinya dahulu bahkan masih memiliki tempat yang lebih baik dari ini, kasur yang meskipun untuk banyak anak-anak lain namun masih layak pakai. Namun hal itu tidak dia perlihatkan, saat air mata itu hendak jatuh Mentari langsung memutar kepalanya dan segera menghapus air mata itu dari pipinya.


Lukas yang melihat hal itu sebenarnya ingin menangis juga. Dirinya yang hidup serba kecukupan sedari kecil meskipun hanya ditemani sang ayah, namun semua kebutuhannya masih bisa tercukupi, bahkan jauh dari kata cukup.


"Uhuk...uhuk...uhukk...Iwang, si...siapa ini?" tanya nenek Iwang dengan suara lirih dan terbatuk-batuk.


"Nenek, ini kakak baik hati yang memberi Iwang pekerjaan dan banyak makanan enak!" ucap Iwang bahagia.


Sama sekali tidak terlihat raut wajah sedih dan tidak terima pada takdir yang sangat tidak adil padanya. Iwang adalah anak yang tegar, terlihat dari dia yang tidak pernah mengeluh pada diapaun, bahkan dirinya tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapapun termasuk neneknya sendiri.


"Te... terima...ka...sih, nona, uhuk...uhukkk...uhukkk.. anda sang...at baik!" ucap nenek Iwang sambil meneteskan air matanya.


Mentari yang tidak tahan lagi juga menumpahkan air matanya sambil memeluk nenek Iwang yang menangis.


"Hanya ini yang bisa saya berikan nek!" ucap Mentari.


"Oh iya saya tadi masak, dan ingin memberikan ini kepada Iwang! mohon diterima ya nek?" ucap Mentari lembut sambil memberikan dua kotak bekal kepada nenek dan Iwang.


"Terimakasih,nona. Tapi ini sat..satu saja sudah cukup." ucap nenek Iwang yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, nenek makan saja bersama Iwang." ucap Mentari.


Iwang menatap kearah neneknya, seolah meminta ijin untuk menerima pemberian Mentari. Nenek Iwang pun mengangguk pelan dan Iwang segera menerima kotak bekal itu.


"Terimakasih kak, kakak sangat baik pada kami!" ucap Iwang sambil memeluk Mentari dengan kotak bekal yang dia pegang ditangannya.


"Sama-sama Iwang, kakak juga senang kok kalau Iwang senang!" ucap Mentari mengelus pucuk kepala Iwang.


Setelah cukup lama disana, Mentari dan Lukas pun segera berpamitan untuk pulang karena hari juga sudah sore. Dalam hati Mentari ingin membuatkan tempat tinggal yang layak untuk ditinggali Iwang dan neneknya.


"Lukas, menurutmu apa Darel akan setuju jika aku meminta ijin untuk membantu Iwang dan neneknya agar mendapat rumah yang layak ditinggali?" tanya Mentari saat dalam perjalanan menuju rumah Darel.


"Kenapa anda tidak menanyakan hal itu langsung, nona?" tanya Lukas masih fokus menyetir.


"Hais, kau kan tahu bagaimana dia, lagi pula kau selama ini bekerja untuknya setidaknya kau paham lah bagaimana sifatnya." ucap Mentari.


"Kalau saya boleh menyarankan ya nona, sebaiknya anda tanyakan langsung saja pada tuan muda, karena tindakan apa yang akan diambil tuan muda itu tidak akan bisa diprediksi. Dia memang terlihat angkuh dan keras kepala dari luar, namun sebenarnya hatinya itu lembut seperti kapas. Hanya saja belum ada yang bisa mengubah hatinya yang sudah membeku itu kembali seperti semula!" jelas Lukas.


Mentari terdiam mendengar penjelasan dari Lukas. Seketika pikirannya kembali disaat Darel dengan tegas membela dirinya dan menghukum Ratna beserta Ruri tadi siang.

__ADS_1


Apa aku bisa mengubah hatinya seperti perkataan Lukas tadi? apa benar jika hatinya sekarang sudah mulai melunak? batin Mentari.


__ADS_2