
Darel tiba dimarkas. Beberapa anak buahnya yang berpapasan dengannya memberi hormat dan menyapa Darel dan Darel hanya membalas dengan anggukan kepala saja.
"Dimana mereka?" tanya Darel pada salah satu anak buahnya.
"Mereka ada diruangan anda, tuan!" jawabnya.
"Hem, baiklah. Oh ya, jika nanti Harri datang langsung suruh dia ke ruangan ku!" ucapnya kemudian pergi menuju ruangannya.
Adi masih setia berada dibelakang Darel. Jaraknya hanya beberapa langkah saja dengan tuannya itu.
"Apa kalian sudah dapat apa yang aku suruh!" sesampainya diruangannya.
Didalam ruangan itu sudah ada Darel, Adi, Jack, Tomi, dan Arul.
"Kalian berdua ini kurang kerjaan atau gimana sih, ikut campur aja urusan orang!" dengus Darel menatap Tomi dan Arul.
"Hehehehe, man, kau kan tahu aku ini sahabatmu yang paling lama. Mana mungkin ada peristiwa menarik dan aku tidak ikut, ha?" ejek Tomi sambil merangkul kan tangannya dibahu Darel.
"Singkirkan tangan mu yang kotor itu!" Darel menyingkirkan tangan Tomi kasar hingga terhempas.
"Hei, santai dong! kita bawa informasi penting nih, kalau nggak mau ya udah!" Arul mengedipkan matanya pada Tomi.
Mereka ini lama-lama bisa membuatku gila! tapi mereka itu sahabatku, seandainya dia tidak berkhianat padaku, apakah kita akan bisa bersama lagi seperti dulu? batin Darel.
"Tuan?! tuannnn.....!!!" Jack menggoncang kan bahu Darel kuat hingga Darel tersadar dari lamunannya.
"Kau bocah tengik!! sudah bosan hidup rupanya?" sinis Darel.
"Kenapa aku yang dimarahi, kau sendiri yang melamun!"
"Sudahlah man, kau tidak mau tahu apa informasi yang kami dapatkan?" ucap Tomi.
"Apa?" duduk di sofa nya, diikuti sahabat-sahabat nya. Jack mendekat sambil menunjukan lembaran file berisi data-data yang diminta Darel.
"Jadi dia ada dinegara I?" tanya Darel melihat data-data ditangannya.
"Menurut informasi dari anak buah kita begitu, tuan! dia beberapa kali terlihat sedang duduk sendiri di Hyde Park atau ke minimarket didekat sana. Kemungkinan dia bertempat tinggal didekat situ, tuan!" jelas Jack.
"Hemm, baiklah! dan kalian info apa yang kalian bawa untukku?" masih fokus pada file yang dibawa Jack tadi.
"Man, Rohan akan segera kembali!" ucap Tomi sedikit antusias.
__ADS_1
"Apa dia sudah menyelesaikan pendidikannya?" tanya Darel mengarahkan tatapannya pada Tomi.
Hei, dia ini apa tidak bisa menatap dengan biasa? tatapannya itu bisa membuat orang lain ketakutan!
"Sebenarnya dia sudah menyelesaikan pendidikannya 3 tahun yang lalu, man. Tapi dia dipindahkan ke negara S untuk membantu polisi disana mengusut kasus penculikan anak yang sudah merejalela dinegara itu. Kini dia sudah menangkap penjahatnya, dan sekarang dia akan kembali ke Indonesia." ceritanya antusias.
"Baguslah, kita bisa berkumpul lagi seperti dulu!" ucap Darel. Ada perasaan getir ketika mengucapkan kalimat itu.
"Hanya saja ada yang kurang satu!" ucap Bagas.
Bagas datang bersama dengan Harri. Bagas mendengar pembicaraan Harri dan Adi ditelepon tadi dan dia memaksa untuk ikut.
"Maaf, tuan! tuan Bagas memaksa untuk ikut, dan saya tidak bisa menolaknya!" Harri takut.
"Kau jangan takut, Ri! dia tidak akan memecat mu, tenang saja!" ucap Bagas santai.
"Apa yang kau katakan tadi, Bagas?" memaksa mengulang kalimatnya.
"Aku tadi bilang, hanya kurang 1 personil lagi agar kelompok kita bisa sempurna seperti dulu!" jawab Bagas.
Mereka semua tahu benar siapa yang dimaksud Bagas.
"Kau benar, Rul! tapi kita hanya melihat mereka saja, kita belum mendengar penjelasan darinya. Kita bersikap tidak adil padanya selama 5 tahun ini, dia menerima hukuman yang mungkin saja tidak dia lakukan!" Bagas tidak kalah emosinya.
Brakkkkkkkk.....
Darel memukul meja keras-keras hingga suaranya menggema di seluruh ruangan. Mereka semua diam tidak berani bicara lagi.
Dia mungkin salah! tapi apa yang dikatakan Bagas ada benarnya juga! tapi aku sudah terlanjur sakit hati karenanya! ah siallll!!.
"Darel, kau lihat foto-foto ini? dia terlihat kesepian, menyendiri penuh beban! apa kau tidak bisa memberikannya kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi? kalau dia memang salah, bukan hanya kau, aku akan langsung memukulnya bahkan menembaknya ditempat!" Bagas berusaha mencari kebenaran.
Ya kebenaran! kebenaran yang masih menjadi misteris selama 5 tahun lebih ini membuat Bagas berpikir keras. Lain halnya dengan ke tiga sahabatnya, dia dan Rohan yakin bahwa Zen memiliki alasan tersendiri hingga dia tega mengkhianati kepercayaan sahabatnya, Darel.
"Darel! cobalah untuk mengerti, dia munkin mempunyai alasan, dan alasan itu yang tidak kita ketahui! mintalah dia kembali, tanyakan padanya apa yang terjadi saat itu. Baru kita bisa mengambil kesimpulan dia bersalah atau tidak." Bagas memohon.
"Apa kau berusaha membela penghianat itu, Gas? kau tahu bagaimana cintanya aku pada Pretty dan dia? pria breng*ek itu berani-beraninya mengajak Pretty ke hotel!" ucap Darel dengan emosi yang meledak-ledak.
"Hai guys, kalian...." ucap Arul terpotong.
"Diamm!!!!!!" teriak Darel dan Bagas menatap tajam Arul.
__ADS_1
Arul pun diam, dan menatap Tomi yang mengisyaratkan untuk membiarkan mereka begitu.
"Emangnya lo nggak bisa liat ha? dia apa si Pretty yang ngajak? buka mata lo kalau si Pretty itu emang jal*ng!" Bagas sudah sangat emosi karena keras kepala Darel.
Tomi, Arul, Harri, Adi, dan Jack hanya diam melihat pertengkaran mereka takut kena semprot lagi.
Seumur-umur kami bersahabat, baru kali ini aku dengar Bagas mengatakan kata 'lo' dan 'gue'! batin Arul.
Sepertinya ada sesuatu yang diketahui Bagas tapi tidak kami ketahui, makanya dia membela Zen mati-matian, apalagi lawannya itu Darel! batin Tomi.
"Kau ingat kata-kata ku ini! selagi kau tidak menyelidiki kebenaran peristiwa itu, maka aku akan terus membela Zen!" ucap Bagas dengan suara rendah namun tatapannya masih tajam kearah mata Darel.
Untuk pertama kalinya Darel dan Bagas bertengkar hebat seperti sekarang. Bahkan mereka barusaja melihat emosi dari Bagas.
"Sampai kapan pun pria breng*ek itu akan tetap salah dimataku! akan selalu begitu!" Darel merendahkan nada suaranya namun tatapannya masih tajam ke arah Bagas.
"Aku harap kau tidak akan menyesali perbuatanmu ini!" Ucap Bagas kemudian berlalu pergi.
"Bagas!" panggil Arul.
"Man?!" menatap Darel meminta penjelasan.
"Kau tenang saja, dia tidak bisa marah dalam waktu yang lama!"
"Tapi man, dia terlihat sangat marah tadi! jangan sampai karena hal ini kita kehilangan sahabat kita lagi!" ucap Arul menyadarkan keras kepala Darel
"Diam kau Arul! setelah dia menghianatiku, bagiku dia tidak lain hanya sebagai jal*ng!" Darel masih keras kepala.
Dia benar-benar keras kepala! mungkin Bagas tau sesuatu tentang peristiwa itu, makanya dia berusaha sangat keras agar kami menyelidiki peristiwa itu! batin Arul.
"Sepertinya tidak ada ruginya kita menyelidiki dulu kasus itu. Jika memang semua yang kita lihat itu benar, maka aku tidak segan-segan membunuh Zen!" ucap Tomi berusaha meyakinkan Darel.
Apa mungkin aku yang salah duga selama ini? tapi...tidak, tidak mungkin Pretty yang mengajaknya, aku kenal dengan Pretty, dia tidak mungkin melakukan hal menjijikan seperti itu! batin Darel.
Kini pikiran dan batin Darel sedang bertarung. Pikirannya mengatakan kalau itu semua salah Zen, sedangkan hatinya mengatakan kalau itu bukan salah Zen.
"Aaaaakkkkkkhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!" berteriak sambil mengobrak-abrik semua yang ada dihadapannya.
"Apa baik-baik saja kita biarkan dia begini?" tanya Arul pada Tomi.
"Biarkan dia melampiaskan amarahnya dulu, setelah tenang baru kita bicara dengannya lagi!" jawab Tomi.
__ADS_1