Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EXTRA PART II


__ADS_3

Iwang yang hampir berusia sembilan belas tahun itu kini berada ditengah-tengah para kolega Darel. Darel memang telah merencanakan agar Iwang melanjutkan bisnisnya nanti. Sayangnya, Iwang lebih memilih untuk menjadi seorang dokter, dan Darel akan mendukung apapun keputusan Iwang. Iwang sekarang juga tampak jauh lebih gagah dengan tinggi badan ideal, perut sixpack juga otot lengan yang besar. Darel selalu membanggakan prestasi Iwang dalam hal apapun, kepada siapapun, dan dimanapun.


"Yah, aku mau makan dulu, ya." ucap Iwang berbisik.


"Oh, yaa! makan yang banyak ya!" jawab Darel.


Sebelum pergi, Iwang memberi isyarat kepada kolega-kolega Darel yang saat itu tengah bercengkrama untuk undur diri dengan menundukkan kepalanya sebentar sambil berkata "permisi!".


Iwang mengambil nasi kuning lengkap dengan lauknya yang ada di meja prasmanan itu. Kemudian, Iwang mengambil segelas es kopyor lalu berjalan ke meja yang kosong.


"Hai! merasa bosan?!" tanya seorang gadis saat Iwang baru saja memakan makanannya.


Iwang menatap ke arah gadis seusianya itu. Terlihat gadis itu mengenakan dress sederhana namun terlihat sangat mewah dan pas dikenakan olehnya.


"Iya!" jawab Iwang.


"Boleh aku duduk disini?" tanya Gadis itu.


"Tentu saja!" jawab Iwang.


"Jadi, tuan muda ini bisa bosan juga rupanya? kau ini sangat aneh ya, rupanya!" ucap gadis itu.


"An, hentikan! aku sedang makan, jangan mengajakku berbicara!" ucap Iwang.


"Oke-oke!! aku akan diam sampai kau selesai makan!" ucap gadis itu.


Tidak sampai sepuluh menit, makanan di piring Iwang telah habis. Iwang pun membawanya ke meja untuk piring dan gelas kotor yang memang sudah disediakan lalu kembali lagi ke tempat duduknya.


"Sudah selesai?" tanya gadis itu saat Iwang selesai meminum air putih kemasan.


"Hmm!" jawab Iwang.


"Kau itu sok cuek!" gerutu gadis itu.


"Kau kenapa sih? rese sekali hari ini? kamu mau apa?" tanya Iwang seolah tahu apa maksud gadis itu menemuinya.


"Tepat sekali! kau memang selalu tahu aku!! jadi begini!" ucap gadis itu dengan penuh semangat.


Gadis itu menata duduknya untuk lebih dekat ke meja dengan tangan yang berada di atas meja.


"Jordan, dia mengajakku untuk balikan. Aku tidak mau lah! sudah tukang selingkuh, nggak modal, banyak omong pula. Nah aku bilang kalau aku punya pacar makanya aku menolak balikan dengan dia." cerita gadis itu.


"Terus?!" tanya Iwang seolah tahu arah maksud gadis itu.


"Teruss, ya dia nggak percaya. Lalu aku mengajaknya untuk bertemu di cafe besok dan aku akan mengenalkan pacar baruku padanya. Jadiii, aku mo..." terpotong karena Iwang menghentikannya.


"Kau memintaku untuk menjadi pacar pura-pura mu?? yang benar saja Ana!! nggak! aku nggak mau!" tolak Iwang.


"Oh ayolahh!! papa akan marah kalau tahu aku masih berhubungan dengan pria itu!!! please!!!" bujuk gadis bernama Ana itu.


"Nggak!!" tolak Iwang.

__ADS_1


"Emm, kalau kamu bantuin aku, aku bakal bantu kami dekat sama doi kamu, gimana?" tawar Ana.


"Siapa?! orang nggak ada!" ucap Iwang.


"Itu, si Freya! kamu suka kan sama dia?" tanya Ana.


Iwang terkejut saat Ana mengatakan nama Freya.


"N...nggak kok!! aku nggak suka sama dia!! kamu jangan bikin rumor yang nggak-nggak yaa!" kilah Iwang.


"Alahh, jangan bohong!! tatapan mata kalian itu nggak bisa membohongi aku tahu!" ucap Ana.


"Aku tid..tunggu dulu! kamu bilang tadi kalian? maksudmu aku dan dia?!" tanya Iwang memperjelas kata Ana.


"Iya! kalian! kamu dan Freya! aku yakin kalau gadis itu juga menyukaimu!" ucap Ana.


"Oke! deal!! aku akan bantu kamu!" ucap Iwang mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.


"Deal!!" ucap Ana menjabat tangan Iwang.


********


Pagi Darel diawali dengan membangunkan anak-anaknya. Kemudian mandi dan bersiap ke kantor. Baby triple saat ini juga telah bersekolah, baru kelas dua sekolah dasar. Iwang sejak pukul setengah enam pagi tadi sudah berangkat lebih dulu, karena ada jadwal piket juga harus mengumpulkan formulir lomba olimpiade sains. Harusnya terakhir mengumpulkan adalah kemarin, cuma karena Iwang sibuk dengan acara ulang tahun baby triple, dia pun menjadi lupa. Untung saja guru Iwang memberinya tenggat waktu lebih yaitu pagi ini sebelum jam pelajaran dimulai.


"PAPIIII!!! HUHUUUUUU!!" tangis Hyuna saat memasuki kamar Darel.


"Loh, princessnya papi kenapa? kok nangis sih?" tanya Darel sambil membawa Hyuna kedalam gendongannya.


"Kak...Ivan!!! ngatain aku jelekkk!!! aku jelek ya papi?!" Adu Hyuna dengan wajah polosnya.


"Kok papi malah ketawa?! Hyuna jelek banget yaa, huaaaa papi jahatttt!!!" tangis Hyuna semakin kencang.


"Hahahaa, emang kamu kan jelek!!! Hyuna jelekk!!! Hyuna jelekkk!!" ejek Kaivan yang datang bersama Shaki.


"Jangan gitu! minta maaf!" ucap Shaki setelah menyikut perut Kaivan membuat Kaivan meringis.


"Kakk, jangan gitu sama adeknya! kan Hyuna jadi nangis. Ayo minta maaf!" ucap Darel.


"Maafin kakak ya, Hyuna?" ucap Kaivan.


"Nggak mau!! kak Ivan jahat!! nggak mau lagi temenan!" ucap Hyuna membuang muka kearah lain.


"Ohh, beneran nih nggak mau temenan lagi?!" tanya Kaivan.


"Nggak!! nggak mau! pokoknya nggak mauu!" ucap Hyuna dengan suara cempreng khasnya.


"Yaudah deh, nggak apa-apa! tapi nanti siapa ya yang bakal habisin es krim di kulkas kakak? kak Shaki mau?" tawar Kaivan.


"Kamu nggak suka es krim!" ucap Shaki tanpa ekspresi.


"Ya Hyuna dongg!! siapa lagii??" cerocos Hyuna.

__ADS_1


"Kan, kamu nggak mau maafin kakak!"


"Pokoknya es krim di kulkas kakak itu punya aku, wleee!!" ucap Hyuna sambil menjulurkan lidahnya mengejek.


"Sudah-sudah! ini sudah siang, cepat bersiap lalu kita sarapan." ucap Darel.


"Papi, mau digendong sampai meja makan." ucap Hyuna dengan manjanya.


"Boleh! apa sih yang nggak buat princess nya papi!" ucap Darel.


"Curanggg!!! aku juga mau papii!" ucap Kaivan iri.


"Nggak boleh, kakak kan sudah besar!" ucap Hyuna.


"Cuma beda sepuluh menit aja, kok!" cemberut Kaivan.


"Yasudah sini, Kaivan papi gendong!" ucap Darel membawa Kaivan di dalam gendongannya.


Saat ini posisinya Hyuna didalam gendongan Darel sebelah kiri dan Kaivan di sebelah kanan.


"Wlee, aku juga digendong sama papiii!!" ejek Kaivan membuat Hyuna mengerucutkan bibirnya sebal.


"Kak Shaki, nggak mau digendong juga?" tanya Darel.


"Enggak pi, aku jalan sendiri aja." ucap Shaki.


Mereka pun pergi menuju meja makan. Adi, Harri dan Lukas yang melihat pemandangan itu tidak kuasa menahan tawanya.


"Sudah, tertawanya?!" ucap Darel dingin.


"S...sudah, tuan!" ucap ketiganya.


"Oh, ya Adi, apa kamu sudah mengurus agar wajah Hyuna tidak ditampilkan dilayar kaca?" tanya Darel saat mereka berada dimeja makan.


"Tentu saja sudah, tuan!" jawab Adi.


"Bagus, pastikan kalau tidak ada yang bisa mempublikasikan foto Hyuna. Aku tidak ingin ada orang yang mengincarnya. Jika itu Kaivan atau Shaki, aku akan lebih tenang. Setidaknya mereka bisa bela diri. Tapi Hyuna, hufttt!" ucap Darel sambil menghela nafas berat.


Memang sejak umur tiga tahun, Darel telah memberikan bimbingan bela diri kepada anak-anaknya. Dia tidak ingin kejadian Mentari terulang lagi, terlebih kepada Hyuna. Namun karena memang dasarnya Hyuna tidak suka dengan bela diri, dia pun tidak bisa menguasainya sampai sekarang.


"Papi mau bilang kalau Hyuna itu lemah yaa?! Hyuna nggak lemah, papi!!" protes Hyuna ditengah fokusnya menyantap sarapan berupa sandwich.


"Enggak! papi nggak bilang Hyuna lemah kok. Cuma Hyuna itu berliannya papi, jadi papi nggak mau Hyuna sampai kenapa-kenapa." jawab Darel.


"Kak, Ivan! lihat tuh, papi lebih sayang aku dari pada kakak!!" ucap Hyuna bangga.


"Terserah kamu aja lah cebol!" ejek Kaivan.


Memang dari ketiganya, Hyuna lah yang memiliki tinggi badan jauh dibawah mereka. Bisa jadi Shaki dan Darel menurun tinggi badan Darel yang cukup tinggi, sedangkan Hyuna menurun pada tinggi badan Mentari.


"Aku bukan ceboll!" kesal Hyuna.

__ADS_1


"Sudah, ayo cepat habiskan sarapan kalian. Lalu berangkat sekolah." ucap Darel.


"Baik papi!" ucap ketiganya.


__ADS_2