Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 291


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mentari dan Darel terlihat selesai mandi. Pertempuran kali ini tidak hanya terjadi di atas ranjang saja melainkan di kamar mandi juga. Darel seolah melepas dahaga setelah berpuasa berhari-hari lamanya.


"Awww...." teriak Mentari memegangi perutnya.


"Sayang, ada apa?!" tanya Darel yang langsung Menghampiri Mentari yang berjongkok sambil memegangi perutnya.


"S...sayang... sakittt!!!" ucap Mentari menahan sakit.


Keringat dingin mulai keluar dari keningnya. Darel pun langsung menggendong Mentari untuk dibawa kerumah sakit.


"LUKASSS!!! SIAPKAN MOBILLLK!!! CEPATTTT!!!!" teriak Darel saat menuruni tangga.


Pagi itu aktivitas di rumah Darel menjadi panik tatkala melihat nona mereka digendong dengan raut wajah yang kesakitan. Iwang yang tengah membantu mbok Tini pun keluar dapur saat mendengar teriakan Darel.


"Ayah, ibu kenapa?! bu, ibu sakit?!!! nggak apa-apa bu, ada Iwang disini!!" ucap Iwang sambil berlari mengikuti langkah Darel.


Tangan itu tidak lepas menggenggam tangan ibunya. Terlihat benar bahwa dia takut kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya, lagi.


"Cepat kerumah sakit!" ucap Darel. Darel dan Lukas membawa Mentari berangkat lebih dulu, sedangkan Iwang dan mbok Tini berada di mobil lain bersama Adi dan Harri.


********


Rumah sakit ikut panik saat mendengar berita bahwa tuan Darel akan datang kesana. Sinyal urgent mereka terima hingga membuat perawat dan dokter panik sendiri. Mereka sudah stay di depan rumah sakit dengan brankar untuk membawa Mentari. Begitu mobil Darel sampai di area rumah sakit, dia langsung menidurkan Mentari di atas brankar dan membawanya ke UGD.


Selama perjalanan tadi, Mentari terus berteriak karena perutnya sakit. Darel takut terjadi apa-apa dengan istri dan calon anak yang dikandung Mentari. Setibanya di ruang UGD, Mentari langsung mendapatkan penanganan khusus dari dokter kandungan terbaik.


Darel yang menunggu diluar pun tampak gelisah. Dia hanya bisa mondar-mandir didepan pintu UGD berharap dokter segera keluar untuk memberitahu kabar mengenai istri dan anaknya didalam.


"Ayah!!" panggil Iwang yang baru datang bersama Adi, Harri dan mbok Tini.


"Tuan, bagaimana keadaan nona?" tanya mbok Tini yang terlibat sangat mencemaskan keadaan Mentari.


"Aku juga belum tau, mbokk! dokter masih belum keluar sejak tadi!! ingin rasanya aku meneriaki mereka agar secepatnya memeriksa Tari!!!" ucap Darel kesal.


Ya ampun tuan!! anda pikir memeriksa manusia itu tidak membutuhkan waktu lama apa?! seenaknya saja menyuruh orang memeriksa dengan cepat. Nanti kalau salah periksa bagaimana?! batin Harri.


Gini nih, kalau punya tuan nggak sabaran!! maunya yang instan muluu, heran dehh!! batin Adi.


"Ayah, ibu nggak bakal kenapa-kenapa kan?" tanya Iwang berkaca-kaca.


Darel menatap ke arah anaknya itu. Dia berjongkok mensejajarkan tinggi dengan anaknya lalu menangkup wajah yang sudah semakin berisi itu.


"Doakan ibu ya biar dia baik-baik saja! Iwang kan anak sholeh. Doa anak sholeh itu lebih cepat dikabulkan oleh Alloh!" ucap Darel.


Iwang mengangguk tanda mengerti. Dia pun menyatukan tangannya lalu berdoa.

__ADS_1


"Ya Allah, sembuhkan ibu Mentari Ya Allah!! angkat penyakitnya! jangan ambil ibu Mentari Ya Alloh! Iwang sangat sayang sama ibu Mentari dan calon adik Iwang! tolong kabulkan doa Iwang ya Allah, aminnn!" ucap Iwang.


"Aminnn!!" ucap mereka serempak.


Krekk....


Pintu dibuka, lalu seorang dokter wanita keluar bersama Mentari yang masih tertidur akibat obat bius. Mereka akan membawa Mentari ke ruangan pemulihan. Tentunya di ruangan VIP.


"Tari!!!" panggil Darel saat melihat perawat mendorong brankar dimana Mentari berbaring disana.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Darel khawatir.


"Tidak ada yang perlu dicemaskan pak. Hanya keram perut saja. Itu hal lumrah dialami oleh ibu hamil." ucap dokter menjelaskan dengan sangat jelas agar Darel bisa mengerti.


"Iya, nggak ada yang perlu dicemaskan! tapi saranku nih, Rel! kalau mau begituan inget kalau Mentari lagi hamil napa?! jangan kasar-kasar, jangan kelamaan juga. Itu salah satu penyebab keram di perut dia tadi. Lo main berapa ronde sih semalam?!" tanya Bagas yang keluar bersama dengan dokter kandungan tadi.


"Emm...." Darel salah tingkah sendiri.


Benar sih semalam dia memang rasa kasar. Ahh, dia merutuki kebodohannya sendiri lagi kann!!


"Cuma empat ronde doang kok!" ucap Darel cengengesan.


"Mohon dikurangi ya, pak! karena istri bapak sekarang bukan hanya mengandung satu janin melainkan ada tiga janin didalam rahimnya. Jadi mohon diperhatikan lagi yaa." ucap dokter kandungan itu.


"T....tigaa, dok?!" tanya Darel terkejut.


"Apa?! lalu saya harus bagaimana, dok?!" tanya Darel khawatir.


"Istri bapak hanya harus sering-sering cek kehamilan. Lalu makan makanan yang bernutrisi seperti zat besi, kalsium, asam folat dan nutrisi lain yang diperlukan untuk perkembangan janin. Juga hindari asap rokok yaa karena itu bisa menganggu pertumbuhan janin. Nanti saya akan buatkan resepnya untuk obat dan juga vitamin untuk menambah nutrisi pada janinnya, yaa!" ucap dokter itu.


"Ah, baiklah terimakasih dok!" ucap Darel.


"Kalau begitu saya permisi dulu! mari pak Bagas!" ucap dokter itu pamit.


"Mari!" sahut Bagas.


Setelah dokter itu pergi, Darel bergegas menuju ruang VIP nomor 2 tempat Mentari dirawat.


"Tuh, dengerin kalau dokter lagi ngomong! jangan brutal, istri kamu lagi hamil!! mana anaknya tiga lagi! emang kamu mau terjadi apa-apa dengan anak dan istri kamu? keram perut ini bisa menjadi masalah serius loh bagi ibu hamil;" ucap Bagas.


"Iya-iya lain kali aku bakal hati-hati!" ucap Darel tanpa mengalihkan pandangannya dari Mentari.


"Bukan cuma itu aja! jangan kelamaan juga! kasian tuh janin!" ucap Bagas.


"Huftt!! iya-iya bawel!!" ucap Darel.

__ADS_1


"Dih!!! dibilangin ngeyell!! nanti kalau istrinya kenapa-kenapa kan aku juga yang repot!!" omel Bagas.


"Emm...."


Mentari mulai mengerjakan matanya. Setelah terbuka dengan lebar, Mentari pun menelisik setiap sudut diruangan itu.


"Dimana aku??" tanya Mentari.


"Sayang, Alhamdulillah kamu udah siuman!! maaf ya semalam aku mainnya lama, jadi kamu harus sakit begini." ucap Darel yang nampak lega setelah Mentari siuman.


"Kita ada dimana?" tanya Mentari dengan suara lemah.


"Di rumah sakit. Tadi kamu keram perut. Untung kalian baik-baik saja. Oh ya, kata dokter, anak kita kembar tiga loh sayang!!" ucap Darel.


"Kembar...tigaa?" tanya Mentari.


"Iyaa, kembar tigaa!" ucap Darel.


Mentari tersenyum bahagia mendapati kabar ini. Setelah melewati pasang surut pernikahannya hingga akhirnya dia hamil dan Tuhan langsung memberikan tiga janin didalam rahimnya. Mentari mengelus lembut perutnya dengan senyum merekah yang sangat manis.


"Tapi sayang..."


"Tapi...tapi kenapa?" tanya Mentari khawatir.


"Dokter bilang salah satu anak kita ada yang lemah. Tapi nggak apa-apa kok, Kamu hanya perlu makan makanan bergizi dan minum vitamin aja." ucap Darel yang mengerti kegelisahan hati istrinya.


"Tapi mereka tidak akan kenapa-kenapa kan? mereka akan baik-baik saja kann?" tanya Mentari.


"Iya!! tadi aku juga sudah meminta Lukas untuk membuat peraturan baru dimana tidak boleh ada asap rokok dirumah utama. Dokter bilang asap rokok tidak baik untuk pertumbuhan janinmu." ucap Darel.


"Maaf yaa, aku jadi merepotkan kalian semua!" ucap Mentari tertunduk lesu.


"Husttt!!! kamu nggak merepotkan kami kok! justru kamu memberi semangat baru untuk mereka karena sebentar lagi mereka akan mendapatkan Darel junior bukan hanya satu melainkan tiga Darel Junior." ucap Darel.


"Sayang, aku mau pulang aja yaa!! aku muak mencium aroma rumah sakitt." rengek Mentari.


Masih ingat bukan kalian kalau Mentari tidak suka mencium aroma obat-obatan dirumah sakit. Dia merasa aroma itu semakin menyengat indra penciumannya saat ini. Atau memang ini bawaan hamil ya, jadi dia sangat sensitif dengan aroma-aroma tertentu, salah satunya aroma rumah sakit.


"Tunggu dulu, yaa biar aku ngomong sama dokternya kalau misalnya kamu dirawat dirumah boleh apa tidak." ucap Darel.


Mentari menganggukkan kepala. Darel pun keluar ruangan bersama dengan Bagas dan kemudian Angel yang berganti memasuki ruangan Mentari.


."Hai Tari, bagaimana kondisi mu! kami semua sangat panik saat mendapati sinyal emergency dari rumah sakit saat kau keram tadi! huhhh, seperti senam jantung saja, hahhaa!" ucap Angel.


"Hehe, maaf yaa aku jadi membuat kalian semua kelimpungan." ucap Mentari merasa tidak enak.

__ADS_1


"Nggak apa-apa! yang penting kamu sudah selamat dan bayi kamu juga sehat kan!" ucap Angel.


"Oh ya, kamu dan Bagas sudah..." tanya Mentari.


__ADS_2