
Naruka keluar dari kamar mandi, mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan sosok Alvaro didalam kamar tersebut. Pandangan Naruka tiba-tiba menatap tajam ke arah atas nakas, dia berjalan mendekat dan menemukan kartu milik Alvaro berada disana dan dibawahnya terdapat sebuah surat.
"Aku harap setelah ini kita tidak bertemu lagi. Gunakan uang dalam kartu ini sesuka hati kamu sebagai permintaan maafku!" baca Naruka pada pesan yang ditulis Alvaro.
"BAJINGA*!!!!! KAU KIRA AKU WANITA MURAHA*?!!!!" emosi Naruka.
Naruka mengobrak-abrik kamar itu hingga seperti kapal pecah. Dia menangis sesenggukan namun sesaat kemudian dia menatap ke arah kartu milik Alvaro yang tadi dia buang ke sisi kamar. Naruka berjalan memungut kembali kartu itu. Mengusap air matanya dengan kasar lalu senyum Naruka tiba-tiba mengembang.
"Ya sudahlah! Lumayan juga bisa buat shopping atau beli apartemen. Lagian lumayan kan, uangku juga nggak bakal berkurang!" ucap Naruka.
Mengesampingkan rasa perih di bagian intinya, Naruka keluar dari kamar. Dia berniat mengunjungi agen properti untuk membeli sebuah unit apartemen. Setelah berkeliling melihat-lihat apartemen yang akan dibeli, Naruka pun menjatuhkan pilihannya pada sebuah apartemen yang cukup mewah seharga satu milyar. Setelah menandatangani surat-surat, Naruka pun telah resmi menjadi pemilik apartemen itu.
Walaupun dia telah memiliki apartemen sendiri, namun Naruka tidak mungkin kembali kesana karena tentu mamanya tahu tempat itu dan besar kemungkinan Zoe akan mendatanginya disana. Naruka enggan bertemu mamanya atau Rangga yang rupanya adalah papa kandungnya.
Merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Naruka menatap langit-langit apartemen. Sunyi. Hanya suara bising dari luar apartemen yang terdengar. Tiba-tiba air mata Naruka mengalir begitu saja. Dia mengusap air matanya, menatap telapak tangannya yang basah karena air matanya.
"Kenapa aku menangis?! Aku bahagia kok! Aku punya banyak uang! Aku bisa shopping, aku bisa pergi kemana pun yang aku mau! Aku bahagia!!!!" ucap Naruka mencoba tersenyum.
Namun bukanya tersenyum, Naruka justru menangis. Psikisnya terganggu dengan semua masalah ini.
"Karirku, pekerjaanku, semuanya, aku kehilangan semuanya!!! KENAPA DUNIA INI TIDAK ADIL PADAKU?!!!! AKU SUDAH KEHILANGAN SEMUANYA, BAHKAN DENGAN KESUCIANKU!!!!" teriak Naruka.
Naruka menangis sejadi-jadinya. Setelah lelah menangis, Naruka ketiduran hingga menjelang sore hari itupun karena perutnya keroncongan karena lapar.
"Mending gue beli di bawah, kayaknya rame penjual makanan." gumam Naruka.
Setelah mandi dan bersiap, Naruka pun keluar apartemen. Tidak lupa juga dia mengenakan masker wajah untuk menutupi identitasnya juga topi untuk menutupi sebagian wajahnya.
********
"Bu, nasi goreng seafood 1 ya! Nggak usah pedes." pesan Naruka.
"Baik, neng." jawab ibu penjual nasi goreng.
Ada beberapa pelanggan lain yang mengantri nasi goreng itu. Seorang laki-laki yang kemungkinan suami dari ibu tadi dengan cekatan memasak pesanan pelanggan. Naruka berdiri berdekatan dengan seorang ibu-ibu yang menatapnya intens.
"Ini neng pesanannya!" ucap si ibu memberikan pesanan Naruka setelah menunggu lima belas menit.
"Ini uangnya bu, kembaliannya buat ibu aja." ucap Naruka memberikan selembaran uang lima puluh ribu.
"Makasih ya neng!" ucap si ibu.
Srek....
"Nah kan, saya sudah curiga sama gadis ini! Rupanya dia beneran anak haram dari model dan pebisnis itu kan?!!" sentak si ibu yang tadi menatap intens ke arah Naruka.
Tadi saat Naruka hendak pergi dari kerumunan pembeli, si ibu tiba-tiba menarik topi dan masker Naruka hingga wajahnya terlihat jelas. Naruka bingung, takut. Semua orang menatapnya dengan tatapan jijik dan mulai mengerumuninya. Di jalanan itu memang menjadi tempat bagi pedagang kaki lima. Jadi saat menjelang sore sampai dini hari selalu ramai oleh pedagang kaki lima.
"Oh iya, ini anak hara* yang lagi viral itu!!!" timpal ibu-ibu lain.
"Cantik sih tapi sayang anak hasil perselingkuha*!!" maki ibu-ibu lain membuat Naruka semakin terpojok.
__ADS_1
Naruka sangat ketakutan. Tatapan jijik dan ucapan-ucapan mereka begitu menyakitkan hati Naruka. Naruka menahan tangisnya, menutup telinga rapat-rapat lalu pergi dari tempat itu.
BRAK.....
Naruka menutup pintu apartemennya, menguncinya lalu bersandar di pintu. Tubuhnya luruh begitu saja dengan air mata yang membasahi pipinya.
"KENAPA HIDUP GUE HARUS KAYAL GINI?!!! KENAPA GUE NGGAK BISA BAHAGIA?!!! APA DOSA GUE?!! ORANG TUA GUE YANG SALAH TAPI KENAPA GUE YANG KENA GETAHNYA?!!!" teriak Naruka sambil menangis.
Nafsu makannya menghilang karena kejadian tadi. Dia memilih naik ke atas ranjang dan meringkuk sambil menangis.
********
Naruka terbangun dari tidurnya, melihat jam di ponselnya.
"jam sembilan!" gumam Naruka setelah melihat jam.
Karena perutnya lapar sekali, dia pun menghidupkan data untuk memesan makanan lewat online. Begitu data dihidupkan, terdapat banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Zoe, Rangga, dan Hyuna.
Hyuna?! Naruka mengernyitkan dahinya. Kenapa Hyuna meneleponnya?! Apakah gadis itu berniat untuk mengejeknya karena semua yang dia alami?! Pikir Naruka. Naruka terbangun dari lamunannya saya sebuah panggilan masuk dari ponselnya.
"Hallo?! Belum puas lo buat hidup gue hancur?! Lo seneng kan gue hancur begini?! lo pasti mau ngejek gue kan karena gue anak hasil perselingkuha*?!" ucap Naruka setengah berteriak.
"Naru, syukurlah kamu mau ngangkat telepon aku. Aku khawatir banget sama kamu. Kamu ada dimana sekarang?! Udah makan belum?! Kalau belum makan biar aku pesanin kamu makanan ya, kamu kirim alamat kamu sekarang!" ucap Hyuna.
Ya, gadis itu yang menelepon Naruka. Sejenak Naruka membisu. Dia mengira Hyuna meneleponnya karena ingin mengejek atau sejenisnya, namun rupanya dia justru mengkhawatirkan keadaannya.
"Nggak usah, gue bisa pesan sendiri!" tolak Naruka ketus.
Hyuna khawatir sekali dengan keadaan adik sepupunya itu.
"Oke, gue kirim sekarang!" ucap Naruka.
"Udah!" ucap Naruka lagi setelah mengirimkan lokasinya pada Hyuna.
"Yaudah kamu tunggu sebentar ya biar aku beliin kamu makanan terus langsung kesana!" ucap Hyuna.
Panggilan telah berakhir namun Naruka masih membeku. Tangannya perlahan turun, genggaman tangannya pada ponselnya juga melemah.
"Nggak mungkin dia sebaik itu?! Dia pasti punya rencana, gue yakin setelah disini nanti dia pasti ngejek gue!" ucap Naruka.
Naruka tetap negatif thinking pada Hyuna. Akhirnya, Naruka memutuskan untuk mandi saja.
********
Ting...tong....
Ceklek...
"NARUUU!!!"
Hyuna memeluk tubuh adik sepupunya itu dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja kan?! Ini, kakak bawain kamu makanan dan cemilan. Kamu pasti lapar kan?!" ucap Hyuna yang langsung memasuki apartemen Naruka.
Naruka menatap Hyuna dengan tatapan yang sulit diartikan. Menutup pintu apartemennya, Naruka lalu menghampiri Hyuna yang sibuk mengeluarkan makanan dari plastik yang dia bawa.
"Kamu makan dulu ya yang kenyang." ucap Hyuna saat Naruka berada di dekatnya.
Kruyukk...
"Perut kamu udah bunyi tuh, cepat makan." ucap Hyuna lembut.
Naruka tidak berbicara apapun lagi, perutnya sudah sangat lapar karena dari kemarin perutnya itu belum terisi makanan apapun. Hyuna tersenyum melihat Naruka dengan lahap memakan makanan yang dia bawa.
"Pelan-pelan aja makannya, aku nggak bakal ambil kok." ucap Hyuna.
Naruka menatap intens ke arah Hyuna.
"Kenapa lo sebaik ini sama gue?! Gue udah jahat sama lo?" tanya Naruka menghentikan makannya.
"Karena kamu keluarga aku, Naru. Aku udah anggap kamu kayak adik aku sendiri." ucap Hyuna.
"Lo, nggak mau ngejudge gue kayak orang-orang!??!" ucap Naruka.
Hyuna tersenyum.
"Kenapa aku harus ngejudge kamu kayak orang-orang?! Mereka nggak tau kamu gimana?! Tapi aku! Aku tahu kamu kayak gimana." ucap Hyuna.
"Tapi gue udah jahat sama lo, gue udah coba ngrebut calon suami lo!" ucap Naruka sendu.
"Soal itu. Maaf. Maaf karena aku lupa kalau kamu suka sama Kaj. Aku benar-benar nggak ada niatan buat ngambil dia dari kamu. Kalau kamu mau, aku bisa aja bujuk papi buat batalin perjodohan ini." ucap Hyuna.
Naruka langsung menggelengkan kepalanya. Matanya mengembun lagi.
"Nggak! Gue udah nggak pantes buat Kaj." ucap Naruka sendu.
"Karena kamu anak diluar nikah?! Aku yakin kamu bisa meluluhkan hati orang tua Kaj dengan berperilaku baik. Mereka hanya ingin yang terbaik buat anak mereka, dan cinta kamu yang besar buat Kaj, menurut aku itu sudah lebih dari cukup." ucap Hyuna.
"Gue udah nggak suci lagi, kak! Gimana mereka bisa menerima gue yang udah cacat ini?!" isak Naruka yang seketika membuat Hyuna syok.
"Naru...kamu..."
"Iya! Aku udah nggak suci lagi, kak! Aku udah cacat!" ucap Naruka menangis.
Hyuna langsung membawa Naruka dalam pelukannya.
"Siapa yang udah mengambilnya, Naru?! bilang sama aku! Siapa laki-laki itu?!!" tanya Hyuna setelah melepaskan pelukannya dan menatap intens adik sepupunya itu.
Naruka diam saja. Justru tangisnya semakin kencang. Hyuna menjadi bingung. Dia tidak menyangka Naruka akan melakukan hal sejauh ini.
"Udah nggak ada gunanya kakak cari dia! Dia udah buang gue setelah pakai gue. Dia ninggalin gue dan hanya beri gue kartu berisi 5 milyar seolah-olah gue ini wanita pelacu*!" ucap Naruka dengan bahu bergetar karena menangis.
Sekali lagi, Hyuna memeluk Naruka. Pelukan hangat yang mampu menenangkan Naruka. Naruka jadi merasa bersalah karena pernah berniat menghancurkan kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Maaf, maafin Naruka, kak!!" ucap Naruka tulus dalam pelukan Hyuna.