
Mentari terbangun di pagi harinya. Matanya langsung membelalak ketika mengetahui dirinya sudah dikamar padahal seingatnya dia sedang menonton televisi semalam.
Apa mungkin aku ketiduran lalu Darel yang menggendongku kekamar? batin Mentari.
Tidak ingin ambil pusing, Mentari memilih mandi pagi agar tubuhnya fresh kembali. Setelah menghabiskan waktu cukup lama didalam kamar mandi, Mentari akhirnya keluar dengan tetesan air mandi yang masih ada diujung rambutnya, karena dia sedang keramas.
Setelah bersiap, Mentari pun turun untuk sarapan. Namun matanya tidak menemukan Darel disana padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Apa mungkin dia kelamaan mandi? pikir Mentari saat itu. Mentari pun bertanya pada salah seorang pelayan bernama Ita.
"Emm, permisi? apa tuan sudah turun? bukankah ini sudah lewat jam sarapan?" tanya Mentari sopan.
Ita yang ditanyai Mentari tentang Darel pun menjelaskan dimana Darel.
"Maaf nona, tuan muda sudah berangkat ke kantor bersama tuan Adi dan tuan Harri pagi-pagi sekali!" jelas Ita.
"Loh, emangnya dia sudah sarapan? kenapa dia tidak memberitahuku?" tanya Mentari.
Ita menggelengkan kepala gemas dengan perkataan Mentari barusan. Ita mengira mereka baru saja dimabuk asmara maka dari itu Mentari tidak ingin ditinggalkan suaminya meskipun hanya sebentar saja. Terlebih Ita juga melihat rambut Mentari yang habis keramas dan belum kering.
"Emm, sepertinya anda kelelahan dan tuan muda tidak ingin mengganggu tidur anda, nona!" jawab Iya sambil tersenyum penuh arti.
Mentari tidak mengerti dengan maksud perkataan Ita, dia memilih untuk memulai sarapannya.
"Emm, Ita makanan segini banyak untuk apa?" tanya Mentari.
Ita terkejut dengan pertanyaan nonanya itu.
"Nona, tuan muda menyuruh kami untuk memasak semua ini karena tidak tahu apa makanan favorit anda." jawab Ita.
"Ya ampun, ya sudah kalau begitu aku akan makan nasi goreng dan ayam goreng ini saja, yang lainnya kamu bagikan ke pelayan lain ya! soalnya saya tidak akan mungkin menghabiskan semua makanan ini, kan mubazir!" ucap Mentari.
"Tapi nona..." ucap Ita terpotong.
Mbok Tini datang saat mendengar suara Mentari. Dia yang awalnya berada dihalaman depan untuk mengatur beberapa tempat agar lebih indah sesuai permintaan Darel pun segera menuju meja makan.
"Maaf nona, apa ada masalah?" tanya mbok Tini takut nona barunya ini merasa tidak nyaman.
"Ah, tidak apa-apa kok mbok. Hanya saja saya menyuruh Ita untuk membawa kembali makanan ini dan memberikannya pada pelayan yang lain untuk dinikmati bersama!" jawab Mentari tersenyum manis.
Mbok Tini salah mengartikan ucapan Mentari, dia pikir Mentari tidak suka dengan menu yang dimasak chef profesional disini.
"Apa nona ingin makan yang lain saja? biar chef kami yang memasaknya?" tanya mbok Tini.
Mentari mengernyitkan dahinya.
"Tidak mbok, bukan begitu. Tapi makanan ini terlalu banyak makanya saya menyuruh untuk dibagikan saja! saya sudah mengambil porsi saya!" ucap Mentari menunjukkan piringnya yang sudah terisi penuh makanan.
Mbok Tini pun akhirnya membawa kembali makanan itu dibantu beberapa pelayan laki-laki. Sedangkan Mentari langsung memakan sarapannya. Setelah selesai, Mentari berinisiatif untuk membuatkan makan siang untuk Darel, terlebih kata Ita Darel hanya mengambil sepotong sandwich untuk sarapan.
Mentari pun memasuki dapur dan terlihat disana mbok Tini beserta beberapa pelayan dan chef profesional sedang bekerja.
"Mbok!" panggil Mentari.
Mbok Tini langsung menoleh kearah Mentari.
"Nona? apa nona butuh sesuatu?" tanya mbok Tini.
"Emm, bolehkah aku meminjam dapurnya sebentar? aku ingin membuatkan makan siang untuk suamiku!" jawab Mentari sedikit risih dengan panggilan 'suamiku' yang harus dia biasakan mulai sekarang dikarenakan statusnya yang sudah menjadi seorang istri.
__ADS_1
"Tapi Nona, kalau tuan muda tahu anda memasak didapur kami akan dimarahi olehnya!" ucap mbok Tini.
"Mbok tenang saja, nanti aku yang akan bilang pada Darel kalau aku yang memaksa! boleh ya?" ucap Mentari memohon.
Mbok Tini dan para pelayan disana saling bertatapan seolah mengatakan "bagaimana ini, apa harus diijinkan?"
Mereka pun akhirnya mengijinkan Mentari untuk memasak karena Mentari terus mendesak dan memelas kepada mereka. Mentari sangat senang karena diijinkan memasak didapur.
Mentari dengan cekatan memotong dan memasukkan bumbu-bumbu, seketika aroma semerbak pun menggelitik hidung mbok Tini dan pelayan lainnya.
Tidak salah jika tuan besar menjodohkan nona dengan tuan muda! semoga saja dengan adanya nona, hati tuan muda yang sudah lama membeku mencair kembali! batin mbok Tini.
Setelah cukup lama bergumul dengan bumbu dan keringat, akhirnya masakan pun sudah siap. Dia meminta mbok Tini memindahkan masakannya kedalam tiga kotak bekal.
"Kenapa tiga kotak nona? tuan muda tidak serakus itu loh!" tanya mbok Tini diselingi bercanda.
"Hahaha, aku tahu. Tapi dua kotak bekal yang lain untuk Iwang dan neneknya, dan yang satu kotak untuk Darel!" jawab Mentari.
Mbok Tini mengerti siapa itu Iwang, anak kecil yang sempat menghadiri pesta pertunangan dan pernikahan tuan mudanya bersama Mentari.
Mentari memilih untuk bersiap-siap dengan berganti baju dan memoles sedikit make up diwajahnya. Tidak butuh waktu lama Mentari pun keluar dari kamarnya dengan menenteng tas selempang miliknya.
Mentari pun berangkat kekantor ditemani Lukas. Sesuai perintah Darel dimana Lukas akan selalu menjaga Mentari selama Darel tidak ada dirumah dan akan menemani Mentari kemanapun Mentari pergi.
"Emm, kita sudah bertemu beberapa kali tapi aku masih belum tahu siapa namamu?" tanya Mentari membuka obrolan.
"Saya Lukas, nona. Saya anak dari pak Joni." jawab Lukas masih fokus ke jalanan.
"Pak Joni? pengawal dirumah utama?" tanya Mentari yang sedikit mengingat nama itu.
"Benar nona!" jawab Lukas.
Lukas terdiam sejenak. Bayangan ibunya seketika muncul dibenaknya.
"Ibuku sudah meminggal nona." jawab Lukas singkat.
Mentari ikut bersedih dengan pertanyaan yang baru saja dia lontarkan pada Lukas yang membuat Lukas merasa bersedih.
"Maafkan aku!" ucap Mentari.
"Ah, tidak apa-apa kok nona. Sejak saya kecil keluarga Sanjaya sudah menganggap saya seperti anak mereka sendiri. Saya, tuan muda Darel, tuan muda Juna, dan tuan Frans tumbuh bersama. Karena jasa yang sangat besar dari keluarga Sanjaya, akhirnya saya bersumpah untuk menjaga keluarga Sanjaya sampai titik darah penghabisan." ucap Lukas tersenyum.
Mentari ikut tersenyum dengan perkataan Lukas. Meskipun Darel terlihat cuek, dan sombong namun ada sisi lain yang orang lain tidak tahu. Dan sisi itulah yang membuat banyak orang mengagumi dan bahkan rela menyerahkan nyawa mereka demi Darel dan keluarganya.
Tidak lama kemudian Mentari sampai dikantor Darel. Mentari turun dan segera memasuki perusahaan. Saat sampai didepan resepsionis, Mentari memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu takut jika saat dia datang nanti Darel sedang sibuk atau bahkan sedang meeting dengan klien.
"Maaf, apa Darel ada diruangannya?" tanya Mentari sopan.
Resepsionis itu menatap Mentari dari atas sampai bawah, dan melihat sebuah kantong berisi bekal untuk makan siang Darel.
"Maaf tuan muda sedang sibuk!" ucap resepsionis itu dengan nada malas.
"Apa saya boleh masuk keruangannya?" tanya Mentari.
"Maaf ya sudah saya bilang kalau tuan muda sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Wanita seperti kamu ini sudah banyak datang kesini hanya untuk menarik perhatian tuan muda kami!" ucap resepsionis itu merendahkan Mentari.
"Maaf ya, saya ini tanya baik-baik jadi anda jangan nyolot gitu!" ucap Mentari yang sudah mulai terpancing amarahnya.
__ADS_1
"Ya udah sana pergi ngganggu orang kerja aja!" ucap resepsionis itu seolah mengusir Mentari.
Mentari dengan kesal hendak melangkah meninggalkan perusahaan.
"Dasar jalang!" ucap resepsionis itu yang sengaja mengeraskan suaranya agar Mentari mendengarnya.
Mentari berbalik kearah resepsionis tadi karena tidak terima jika dirinya dikatai wanita jalang.
"Apa kamu bilang tadi?" tanya Mentari menahan amarahnya.
"Wa..ni..ta..JALANG!" ucap resepsionis menekan setiap katanya.
Mentari yang sudah sangat terpancing langsung menarik rambut resepsionis itu dengan kasar. Resepsionis itu pun tidak mau kalah, dia dengan cepat mencakar tangan Mentari hingga meninggalkan luka cakaran disana.
Karyawan lain pun mulai mengerumuni. seakan mendapat tontonan gratis, bahkan ada yang sempat memvideokan aksi tersebut. Daniar yang baru saja ingin ke pantry melihat kerusuhan yang terjadi. Karena penasaran dia pun melihat kearah tersebut. Daniar terkejut ketika melihat wanita seperti Mentari yang sedang adu jambak dengan seorang resepsionis yang baru magang hari ini.
Daniar pun berinisiatif untuk memberitahu Darel. Daniar langsung menaiki lift dan langsung menuju lantai tempat ruangan Darel berada.
Tok...tok...tokk...
Daniar mengetuk pintu ruangan Darel setelah sampai disana.
"Masuk!" ucap Darel dari dalam.
Dengan segera Daniar memasuki ruangan dengan nafas ngos-ngosan.
"Tuan, Mentari....huh...huh...Mentari.." ucap Daniar yang mengatur nafas.
Darel yang mendengar nama Mentari disebut langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Daniar yang seperti orang habis lari maraton itu.
"Kenapa dengan Mentari?" tanya Darel sedikit berteriak. Terlihat jelas raut wajah khawatir disana.
"Mentari sedang berkelahi dengan resepsionis baru!" ucap Daniar yang sudah mengatur nafasnya.
Darel dengan cepat berlari menuju lift dan segera menuju lantai bawah. Wisnu yang saat itu sedang berada diruangan Darel juga ikut berlari dan disusul Daniar.
Tidak butuh waktu lama mereka bertiga sampai dilantai pertama. Darel dan Wisnu melihat banyak karyawan yang berkerumun disana, dan dipastikan Darel mereka sedang menonton istrinya yang sedang berkelahi itu.
"BERHENTIII!!!" teriak Darel memecahkan kebisingan yang tercipta dari tadi.
Karyawan, resepsionis dan Mentari sendiri ikut melihat kearah Darel. Mentari sudah terlihat acak-acakan bahkan ditangan dan wajahnya ada bekas cakaran, yang sudah pasti itu perbuatan resepsionis baru tersebut.
Darel menatap setiap orang disana dengan tatapan menakutkan. Karena takut karyawan lain pun segera bubar dan menyisakan Mentari dan resepsionis.
Mentari yang melihat tatapan tajam dari Darel itupun segera menundukkan kepalanya, takut karena dia sudah mengganggu kelangsungan pekerjaan Darel dan karyawan lain. Resepsionis yang melihat Mentari menunduk pun merasa senang karena berpikir dirinya sudah menang saat Darel datang.
"Kalian berdua ikut keruangan ku sekarang juga!" bentak Darel.
Mentari dan resepsionis yang dia ketahui bernama Ratna pun mengikuti langkah Darel menuju ruangannya. Daniar melihat sebuah kotak makan diatas meja resepsionis, dia yakin kalau itu milik Mentari dan segera membawanya bersama keruangan presdir.
Setelah sampai diruangan Darel, Darel langsunh menyuruh Wisnu mengambilkan kotak P3K. Ratna sangat kegirangan karena menyangka Darel sangat perhatian padanya hingga menyuruh asisten pribadinya untuk mengambilkan kotak obat untuk mengobati lukanya.
"Ini tuan!" ucap Wisnu sambil memberikan kotak P3K.
"Duduk sini!" ucap Darel tegas.
Awalnya Ratna ingin maju, namun matanya terkejut ketika Mentari yang malah maju dengan kepala yang masih tertunduk.
__ADS_1
Apa-apa wanita ini!? batin Ratna