
Setelah selesai makan siang, Zanu mengantarkan Daniar kembali ke perusahaan.
"Aku pergi dulu ya, nanti kalau sudah waktunya pulang kerja aku jemput kamu! jangan pulang sendirian, mengerti?!" ucap Zanu yang terdengar lebih ke perintah mutlak.
"Iya sayang, aku pasti nunggu kamu jemput kok!" balas Daniar tersenyum gemas.
"Oh ya, nanti malam mama mau ngajak kamu buat makan malam dirumah." ucap Daniar.
"Oh baiklah, dengan senang hati aku datang!" ucap Zanu.
"Ya sudah pergilah, aku juga mau masuk!" ucap Daniar.
"Ya, aku pergi dulu!" ucap Zanu lalu menutup kaca mobil kemudian melaju diantara mobil-mobil lain dijalanan.
Setelah mobil Zanu tidak terlihat oleh mata Daniar, dia pun masuk dan mengerjakan pekerjaannya yang lain.
********
Jam pulang sekolah, Lukas dan Adi diperintahkan Darel untuk menjemput Iwang dan membawanya ke rumah sakit. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu didepan gerbang sekolah hingga terlihat anak kecil berjalan keluar dari gerbang.
"Iwang?!" panggil Lukas.
Iwang yang merasa dipanggil pun menoleh kearah mereka berdua kemudian berlari kearah mereka.
"Paman Lukas? paman Adi? kenapa kalian disini?" tanya Iwang.
"Iya kami disuruh nona Mentari dan tuan Darel untuk menjemputmu." jawab Adi.
"Wah, jadi mereka ada dirumah ya? asikkkk, Iwang juga kangen sama kak Mentari! ayo paman kita pulang sekarang Iwang tidak sabar ketemu kakak!" ucap Iwang tidak sabaran.
"Ayo, masuklah!" ucap Lukas membukakan pintu penumpang belakang untuk Lukas.
Satpam sekolah yang melihat Iwang memasuki mobil apalagi ada Adi dan Lukas disampingnya merasa curiga. Bukan karena apa-apa, setahu satpam itu Iwang selalu pulang dengan jalan kaki karena rumahnya tidak terlalu jauh dari sini. Pak satpam itu berpikir mungkin saja Iwang akan diculik makanya dia dimasukkan kedalam mobil terlebih lagi melihat tampang Adi dan Lukas yang seperti penculik anak kecil.
"Hei!!! tunggu!!!! tunggu sebentar!!!!" teriak pak satpam sembari melambaikan tangannya dan berlari menuju mobil Lukas.
"Ya pak? apa ada masalah?" tanya Lukas celingukan.
"Tidak, bukan itu!" terengah-engah.
"Mau kalian bawa kemana anak itu? kalian jangan macam-macam ya disini, saya bisa melaporkan kalian ke kantor polisi!" ancam pak satpam.
Adi dan Lukas menunjukkan ekspresi kebingungan.
"Maksudnya?" tanya Lukas.
__ADS_1
"Yah, kalian ini penculik anak bukan? jangan macam-macam ya disini saya yang menjaga! sebaiknya kalian pergi saja dari sini dan tinggalkan anak itu!" mengoceh semakin tidak beraturan.
Iwang yang sudah duduk didalam mobil menurunkan kaca mobil ketika mendengar kata penculik anak.
"Pak satpam!" panggil Iwang.
"Ehh, nak ayo turun disitu berbahaya! jangan dekat-dekat mereka! ayo sini turun!" peringatan pak satpam.
"Bahaya bagaimana sih? orang kami mau menjemput dia saja!" ucap Adi mulai kesal.
"Ya, mana ada penculik yang mau mengaku! kalau mereka semua mengaku penculik penjara penuh, mas!" berbicara semakin ngawur.
"Ganteng sih, pakaian rapi tapi masa iya pekerjaannya penculik anak! nggak malu apa?!" sindir pak satpam.
"Duh pak kalau tidak tahu apa-apa jangan asal bicara ya! kita ini bukan penculik anak!" ucap Adi semakin kesal.
"Kan saya sudah bilang tadi tidak ada pencuri yang mau ngaku, kalau mereka ngaku pencuri penjara bakal penuh. Sudahlah sebaiknya kalian serahkan diri ke polisi dan biarkan anak ini pulang dengan tenang! kalian tidak kasian apa sama orang tua anak ini? coba bayangkan, kalau itu terjadi pada anak kalian sendiri bagaimana?!"
Karena keributan yang mereka buat akhirnya memancing kerumunan yang sebagian besarnya adalah ibu-ibu yang menjemput anak mereka. Salah satu guru Iwang juga keluar dari gerbang karena melihat kerumunan.
"Pak, ada apa ini? kenapa berkerumun disini?" tanya ibu guru Iwang.
"Ini loh Bu, saya melihat kedua orang ini lagaknya mencurigakan dan hendak membawa anak ini pergi makanya saya tahan. Mungkin saja kan mereka ini komplotan penculik anak yang sedang marak?" jelas pak satpam sesuai asumsinya.
"Hah? ya Alloh, masak penampilan rapi kayak gini bapak bilang penculik anak sih pak?" terkejut.
"Aduhh, ini semua salah paham pak, Bu! kami ini memang ingin menjemput Iwang pulang!" ucap Lukas.
"Iwang ayo turun dulu, nak!" ucap Ibu guru yang berpikiran sama dengan pak satpam.
Iwang diturunkan dari mobil dan dijauhkan dari Adi dan Lukas.
"Bu tolong percaya pada kami, kami ini bukan penculik!" ucap Lukas frustasi sendiri menghadapi orang-orang.
"Halah, buktinya saja saya tidak pernah melihat kalian sebelumnya, kenapa sekarang tiba-tiba datang menjemput?" ucap pak satpam tetap pada pendiriannya.
"Sudah pak jangan banyak bicara lagi, bawa saja langsung ke kantor polisi!" ucap bu guru.
"Iya pak langsung bawa saja ke kantor polisi!" ucap ibu-ibu mendukung ibu guru.
"Ehh apa-apaan ini, lepas! kami bukan penculik, percaya pada kami!" protes Lukas dan Adi yang tangannya hendak diikat oleh pak satpam.
"Bu guru, paman ini nggak jahat kok! mereka baik!" ucap Iwang tiba-tiba membuat semuanya terdiam.
"Iwang? Iwang kenal sama mereka?" tanya bu guru.
__ADS_1
"Iya bu, mereka ini karyawannya tuan Darel dan kakak Mentari yang sering Iwang omongin itu lohh!" ucap Iwang.
"Ooooo, jadi ini karyawannya tuan Darel?!" ucap bu guru dan ibu-ibu lain.
"Iya, tadi mereka disuruh jemput Iwang karena kak Mentari sama tuan Darel lagi ada dirumah!" ucap Iwang.
"Oooooo!" ucap bu guru dan ibu-ibu lain.
"Mereka itu orang baik loh, walaupun wajahnya agak seram terus matanya kalau lagi natap orang asing tajam tapi hati mereka baik kok! Iwang aja seneng kalau Deket mereka!" ucap Iwang lagi.
"Ooooooo!" ucap bu guru dan ibu-ibu lagi
"Jadi? boleh dilepas sekarang?" tanya Adi kesal.
"Eh, emm maaf tuan saya tidak tahu kalau kalian karyawannya tuan Darel!" ucap pak satpam salah tingkah.
"Kan sudah saya bilang kalau kami bukan penculik!" dengus Adi.
"Sabar tuan! kita pulang sekarang!" ucap Lukas berusaha menenangkan Adi.
Jangan sampai tuan Adi lepas kendali disini! ya nggak salah juga sih sebenarnya, kami kan mafia bukan penculik tapi agak sebelas dua belas lah! eh apa yang aku pikirkan ini?!!! batin Lukas.
"Sudah, Iwang ayo masuk! kita sudah terlambat ini nanti nona Mentari pasti sangat khawatir!" ucap Lukas.
"Iya ayo! Bu guru Iwang pulang dulu yaa!" ucap Iwang melambaikan tangannya lalu memasuki mobil.
Pak satpam, ibu guru dan ibu-ibu lain tersenyum malu sambil menatap kepergian mobil Lukas.
********
Tomi sudah selesai memasak menu makan siang yang terakhir, dia pun segera membawanya ke meja makan dimana Shiren sudah menunggu disana.
"Ini diaaa! tumis udang tahu favoritmu!" ucap Tomi menghidangkan makanannya ke meja makan.
"Wahhh banyak banget masakannya! aromanya enak deh, kamu emang jago masak yaa!" ucap Shiren sembari mencium masakan Tomi yang terlihat sangat menggoda.
"Ayo dimakan jangan cuma dilihatin aja dong!" ucap Tomi.
Shiren mengambilkan nasi dan juga lauk ke piring Tomi kemudian ke piringnya sendiri. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, rasa udang yang fresh ditambah dengan lembutnya tahu dan cinta dari Tomi membuat masakan itu sangat lezat.
"Wahh sayang, ini enak banget! kamu jago deh masaknya, aku jadi iri sama kamu!" puji Shiren.
"Kenapa iri? nanti setelah kita menikah aku yang akan memasak untukmu setiap hari, mau?" tanya Tomi.
"Mau bangett!!!" ucap Shiren senang.
__ADS_1
"Ya sudah makan yang banyak!" ucap Tomi.
Mereka pun menikmati makan siang mereka dengan sederhana dan penuh cinta.