
Mobil hitam mewah milik Darel sudah terparkir di toko sepatu kelas elit itu. Harri dan Adi ikut masuk kedalam untuk berjaga-jaga.
"Kita beli ditempat lain saja ya, disini kayaknya mahal!" bisik Mentari pada Darel.
Mentari sedikit berjinjit agar bisa sampai pada telinga Darel yang memang lebih tinggi dari dirinya.
"Aku yang bayar, kau tidak perlu khawatir!" ucap Darel datar sambil terus berjalan.
Mentari tidak kehilangan akal, dia berlari kedepan dan menghentikan jalan Darel dengan merentangkan kedua tangannya berharap Darel berhenti.
Apa sih yang wanita ini lakukan! batin Darel bingung.
"Aku bilang jangan beli disini!" ucap Mentari merajuk.
"Haisss!! lalu dimana?" tanya Darel pasrah.
Mentari dengan secepatnya berlari keluar menggandeng tangan Darel. Darel pun dengan pasrah mengikuti gerak kaki wanita itu, sedangkan Adi dan Harri kebingungan dengan yang dilakukan Mentari. Mereka pun juga menyusul Darel dan Mentari.
Mentari berhenti disebuah toko sepatu yang tidak jauh dari toko sepatu tadi.
Mentari terus menggandeng tangan Darel seperti anak kecil yang menuntun ibunya untuk memilih mainannya. Dengan wajah senang Mentari melihat-lihat isi dari toko itu.
Setelah berputar-putar toko selama hampir 1 jam, Mentari memutuskan untuk membeli 2 pasang heels itupun atas pilihan Darel.
"Gimana seneng kan?" tanya Darel setelah sampai didalam mobil.
"Seneng banget!" ucap Mentari.
"Baju sama sepatunya kamu total aja, nanti aku transfer lewat rekening. Berapa nomor rekeningmu?" tanya Mentari sambil menyodorkan ponselnya.
Darel menatapnya tajam.
"Loh, kenapa? apa lagi salahku kali ini?" ucap Mentari polos.
"Kau pikir aku kekurangan uang, ha? ini semua aku berikan untukmu dengan gratis tau!' ucap Darel dengan nada sedikit kesal.
Nggak usah marah-marah juga kali, kan bisa ngomong baik-baik! dasar tuan pemarah! batin Mentari.
"Makasih kalau begitu!" ucap Mentari sambil melontarkan senyum termanisnya lalu meletakkan kembali ponselnya ditasnya.
Dasar wanita aneh! dibelanjain malah nggak mau!! batin Darel.
Sebelum kembali pulang, mereka memutuskan untuk mampir kesebuah restoran milik Darel yang dia bangun 5 tahun lalu.
"Wahh, indah banget tempatnya!" ucap Mentari sambil celingukan melihat restoran itu.
Restoran tersebut didesain bernuansa alam dengan dihiasi tanaman-tanaman hias nan cantik menambah keelokan dari restoran itu.
Karena tempatnya yang unik dan menu yang disajikan juga sangat enak dan beragam, alhasih banyak pengunjung yang datang. Bahkan tidak jarang restoran itu di booking untuk acara-acara formal, seperti dinner, pertunangan, dan pertemuan antar bisnis.
Karena tempat itu termasuk luas makanya banyak yang membooking untuk acara spesial mereka. Bahkan saking membeludaknya banyak pengunjung yang tidak kebagian tempat duduk dan harus duduk lesehan dibawah dengan beralaskan karpet.
"Ini salah satu restoran milikku, apa kau suka?" tanya Darel pada Mentari yang terlihat sangat senang dengan suasana ditempat ini.
"Aku sangat suka!" jawab Mentari cepat sambil tersenyum.
Adi dan Harri juga ikut masuk, mengikuti langkah kaki tuannya dan Mentari.
"Jika kau suka, kapan-kapan kita akan lebih sering kesini!" ucap Darel
Mentari langsung menghadap Darel yang berada disampingnya. Mata indah Mentari dengan iris berwarna coklat itu menatap lekat kearah Darel.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Darel.
"Ah, tidak apa-apa, hehehe!" ucap Mentari salah tingkah sendiri.
Sudah kuduga jawabannya seperti itu! batin Darel.
Mentari langsung duduk dikursi yang terdapat vas bunga dipenuhi bunga mawar merah muda dan merah serta ditambah dengan bunga-bunga kecil disekelilingnya.
Darel, Adi, dan Harri langsung mengikuti dimana Mentari duduk.
"Apa yang mau kau pesan?" tanya Darel pada Mentari.
Mereka pun sibuk melihat isi menu.
Makanan disini lumayan murah sih, banyak pilihannya lagi. Eh, ada kue matcha juga!! batin Mentari girang.
"Apa yang kau pesan?" tanya Darel lagi.
"Emm, aku mau ini, ini, ini, ini, sama yang pasti ini!" ucap Mentari menunjuk beberapa menu.
Mentari memilih menu seporsi steak daging, semangkuk cream sup, sepiring roti gandum, segelas jus jeruk dan yang pasti kue matcha favoritnya.
Darel, Adi, dan Harri tercengang dengan pesanan Mentari. Takut tidak habis nantinya mengingat tubuh Mentari yang kecil itu memesan makanan sebegitu banyaknya.
Apa dia bisa menghabiskannya? batin Darel meragukan perut Mentari yang kecil.
Apa nona Mentari ini tidak menjaga pola makannya? batin Adi heran.
Nona Mentari ini kalau makan suka kalap, hahahaha! beda sama cewek lain yang selalu memperhatikan penampilan dengan diet atau semacamnya! batin Harri terkekeh.
"Harri, Adi, kalian pesan apa?" tanya Darel menatap anak buahnya.
"Saya seporsi steak saja tuan dengan kentang goreng dan secangkir kopi capuccino!" ucap Adi.
"Kalau saya sama steak saja tuan, dengan jamur crispy dan untuk minumannya sama seperti Adi!" ucap Harri.
"Pelayan!" panggil Darel.
Seorang waiterpria muncul menghampiri Meja Darel.
"Iya tuan besar, anda pesan apa?" tanya pelayan itu yang mengenal pemilik restoran, Darel.
"Pesan 4 porsi steak, semangkuk cream sup, sepiring roti gandum, sepiring kentang goreng, sepiring jamur goreng, dan kue matcha. Untuk minumannya capucino 3 dan jus jeruk satu. Oh ya tambah corndog spesial 4!" jelas Darel.
Waiter tersebut mencatat semua pesanan Darel.
"Ada lagi tuan, Darel?" tanya waiter itu.
"Tidak, itu saja!" ucap Darel.
"Baiklah tunggu sebentar ya tuan!" ucap waiter tersebut lalu meninggalkan meja Darel.
Hampir 30 menit semua hidangan pesanan Darel sudah berjejer dimeja. Mereka bahkan sampai menelan air liurnya saking tergodanya dengan aroma semerbak nan menggoda dari makanan-makanan itu.
Kue matcha, bersiaplah masuk ke perutku! batin Mentari sambil tersenyum melihat kue favoritnya.
"Kenapa hanya diliha saja? apa makanan ini bisa masuk ke mulut kalian sendiri?" tanya Darel ketus.
Tanpa aba-aba mereka pun menyantap makanan masing-masing. Darel, Adi dan Harri menatap Mentari jika saja dia tidak ingin makan lagi.
Namun nyatanya tidak, Mentari dengan lahap menyantap makanannya, hingga tersisa setengahnya saja. Darel, Adi, dan Harri tercengang dengan hal itu. Bagaimana bisa seorang wanita makan dengan sangat rakus seperti Mentari? Adi dan Harri hanya terkekeh melihat hal itu. Mereka pun mulai menyantap pesanan masing-masing.
__ADS_1
Dasar wanita aneh! batin Darel.
Tidak butuh waktu lama meja yang tadinya penuh dengan makanan itu kini hanya tinggal sisa piring kotornya saja. Hanya corndog saja yang masih tersisa 2 buah.
"Apa kalian masih ada yang mau makan ini?" tanya Mentari seolah tidak memiliki rasa kenyang.
"Apa kau masih kuat makan ini?" tanya Harri seolah mengatakan "Kau sudah makan banyak tadi apa perutmu masih belum kenyang?"
"Tentu saja!" ucap Mentari yakin.
"Makanlah kalau kau masih sanggup menghabiskannya!" ucap Darel tersenyum penuh arti.
Tanpa ragu-ragu Mentari pun mengambil dua corndog yang tersisa itu dan dengan sekejap hanya tersisa tusuknya saja.
Benar-benar wanita yang aneh! bagaimana mungkin dia bisa menghabiskan semua pesanannya itu dan masih bisa menghabiskan dua buah corndog? sepertinya perutnya ini terbuat dari karet! batin Darel tidak percaya.
Benar-benar wanita yang rakus! batin Harri tercengang sampai-sampai mulutnya terbuka lebar.
Adi langsung menutup mulut sahabatnya itu.
"Hehehe, makasih!" ucap Harri cengengesan.
*
*
*
*
*
Hallo kakak-kakak hari ini aku akan beri beberapa visual dari karakterku ya. Dan untuk yang lainnya akan menyusul belakangan.
Mentari Angeliska Tia
Darel Dwi Sanjaya
Moh. Bagas
Zanuar Shatara
Arul Putra Grisha
Tomi Pangestu
Rohan Revansyah
__ADS_1
Daniar Sansvar