
"Heh!!! kalian itu babu nggak ada sopan santunnya ya sama majikan!!!" sentak Sandra.
Sandra sangat marah karena Adi dan Lukas selalu menyindir dirinya. Dia tidak ingin kehilangan kemewahan itu. Harta, perusahaan dan semua aset itu harus kembali padanya.
"Majikan?! anda itu kalau mau bermimpi tidur dulu, jangan mimpi tapi mata masih terbuka!!!" ejek Lukas.
"Sini kamu!!!" tarik Rumi.
Rumi tiba-tiba menarik lengan Mentari dari sisi kiri. Karena mereka semua fokus pada Sandra hingga mereka tidak sadar bahwa sisi kiri Mentari tidak ada penjagaan dan hal itu dimanfaatkan oleh Rumi.
"Nona!!!" teriak Nakala.
Adi dan Lukas langsung menoleh kebelakang dimana Rumi telah menarik lengan Mentari.
"Nek jangan sakiti ibu, nek!!!" ucap Iwang sambil memegang tangan Rumi agar melepaskan tarikannya pada lengan ibunya.
"Diam kamuuu!!! kamu bukan cucu saya!!! kamu hanya anak yang diadopsi oleh putra sayaa!! jadi jangan bertingkah kamuu!!!" bentak Rumi pada Iwang.
Mendengar ucapan kasar dari mama mertuanya itu, Mentari meronta hingga cekalan tangan Rumi pada lengannya terlepas. Mentari langsung memeluk putranya yang nampak syok karena Rumi berkata sekasar itu padanya.
"Mama kalau mau marah, marah sama saya! tapi tolong jangan libatkan Iwang yang tidak bersalah!!!" ucap Mentari.
"Heh, wanita kampungannn!!! berani kamu membentak keluarga sayaa!!!" ucap Sandra.
Sandra berjalan cepat menuju ke arah Mentari lalu menarik kencang rambut Mentari hingga Mentari mendongakkan kepalanya saking kuatnya tarikan Sandra pada rambutnya.
PLAKKKK.....
Nakala tidak tahan lagi. Dia menghampiri Sandra dan menampar wanita itu hingga terhuyung ke belakang. Untung aaja Rumi dan Pretty memegang tubuh Sandra atau jika tidak Sandra bisa saja terjatuh dan mengenai ujung sofa.
"BERANI KAMU MENAMPAR SAYAAA!!!" bentak Sandra sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparan Nakala.
"Apa?!! anda pikir saya takut dengan anda?! jangan lupa kalau saya adalah pemegang sabuk hitam!!! sekali anda main-main sama saya, saya bisa langsung mematahkan tulang anda yang telah lapuk itu dengan sangat mudah!!" ucap Nakala geram.
Pretty maju untuk melawan Nakala. Nakala yang memang jago beladiri dengan gesit meninju, memukul, menendang, dan menjatuhkan tubuh Pretty.
"Prerty kamu nggak apa-apa?!" tanya Sandra saat Pretty telah babak belur dihajar Nakala.
"Dasar wanita nggak punya sopan santun!! sini kamuu!!!" ucap Sandra.
Sandra meraih apapun yang ada didekatnya guna dijadikan senjata. Saat itu didekat Sandra ada gucci mahal milik Darel yang berukuran cukup besar.
Mentari merasakan keram lagi di perutnya. Situasi tegang di dalam rumah ini mempengaruhi kehamilannya. Mentari panik, takut, dan sangat stres karena masalah ini. Nakala yang tahu bahwa Mentari mengalami keram perut lagi berjalan mendekati Mentari yang terduduk di lantai. Hal itu di gunakan Sandra untuk melemparkan gucci itu ke arah Nakala.
Adi yang melihat bahwa Nakala dalam bahaya pun berlari menuju Nakala lalu mendorong gadis itu hingga tersungkur ke lantai. Adi tidak sempat menghindar saat gucci itu tepat mengenai kepalanya membuat luka disana. Darah segar keluar dari kepala Adi yang terluka.
__ADS_1
"ADDIIIIII!!!!" teriak Nakala saat tahu Adi terluka.
Baik Nakala dan Lukas segera menghampiri Adi yang terhuyung lalu jatuh tepat saat Lukas berada didekatnya hingga Lukas bisa menangkap tubuh lemah Adi yang Telah tidak sadarkan diri.
"Adi!! Adi bangun, Adii!!!" teriak Nakala.
Mbok Tini juga ikut keluar sambil menenangkan Mentari. Baru saja Mentari mulai tenang dan keram di perutnya telah berangsur menghilang, Sandra kembali menarik tangan Mentari dan membawanya untuk ke atas. Sandra tahu dimana letak brankas yang ada di rumah ini. Tentu saja berada didalam kamar utama dirumah ini. Apa yang akan Sandra lakukan dengan brankas itu?! tentu saja untuk mengambil uang dan surat berharga disana.
Sandra ingin meminta ganti rugi atas perusahaan dan seluruh aset miliknya yang diambil oleh Darel. Hal itu juga telah disetujui oleh Rumi, sehingga dia bisa dengan leluasa mengambil isi brankas nantinya.
"Jangan bawa ibu!!" teriak Iwang saat Sandra menarik paksa tangan Mentari menaiki tangga menuju lantai dua.
"Diamm!!! jangan berisik!!" bentak Sandra.
Sedangkan Rumi dan Pretty diam saja melihat Mentari ditarik dengan paksa oleh Sandra tanpa memperdulikan kehamilan Mentari yang telah memasuki trimester terakhir itu. Mentari berjalan menaiki tangga sambil memegangi perutnya, sedangkan Iwang sedari tangga pertama hingga sampai pada pantai ke dua, Iwang terus mencoba melepaskan tarikan Sandra pada tangan ibunya itu.
Lukas dan Nakala segera berlari menaiki tangga karena hal itu akan sangat membahayakan. Takutnya Sandra kehilangan keseimbangan hingga bisa membuat mereka bertiga terjatuh dari tangga. Bukan mereka mengkhawatirkan Sandra, namun lebih mengkhawatirkan Mentari juga Iwang yang merupakan semesta dan dunianya Darel.
Adi yang masih tidak sadarkan diri itu di jaga oleh mbok Tini yang terlihat sangat cemas dengan keadaan ini. Diam-diam dia menelepon Darel, namun belum sempat diangkat oleh Darel, Pretty langsung mengambil paksa ponsel itu lalu membantingnya dengan keras ke lantai hingga ponsel itu pecah tidak berbentuk.
"Jangan coba-coba kamu hubungi Darel atau saya tidak akan segan-segan menyakiti kamu, nenek tua!!" ancam Pretty.
"Mbok! mbok itu harusnya dukung saya, bukannya orang asing itu! suami saya, tuan Ardi yang telah memperkerjakan mbok, dan wanita itu telah membunuh majikan, mbok! harusnya mbok membantu saya untuk membalaskan dendam kepada Mentari, bukan malah met bela pembunuh itu!!" ucap Rumi yang berada dihadapan mbok Tini.
"Saya hanya memihak pada yang benar, nyonya! dan dari kacamata saya, tuan besar memanglah bersalah, walau saya juga tidak menginginkan nasibnya yang sebegitu menyedihkan." ucap mbok Tini.
"Dasar pembantu tidak tahu diri!! kamu sudah dipekerjakan disini, digaji dengan gaji yang besar, fasilitas mewah! dan kamu malah menyumpahi suami saya yang tidak-tidak!!! tahu apa kamu soal suami sayaa?!!!" bentak Rumi.
"Saya bahkan lebih mengenal tuan besar daripada anda sendiri, nyonya! tahu apa anda dengan hidup tuan besar dimasa lampau?! saya bahkan sampai tidak percaya bahwa tuan besar bisa menjadi pria yang begitu menjijikan!" ucap mbok Tini yang tidak takut melawan Rumi yang merupakan majikannya.
"Dasar kau tidak tahu balas budi!!!" teriak Rumi.
Rumi semakin kesetanan hingga dia dengan sengaja membentur-benturkan kepala mbok Tini ke lantai. Rumi duduk di punggung mbok Tini lalu tangannya mencekal rambut mbok Tini, kemudian membentur-benturkan nya ke lantai hingga mbok Tini tidak sadarkan diri akibat benturan itu. Bahkan darah mulai mengucur dari keningnya yang terluka akibat benturan itu.
Kembali ke sisi Mentari. Sandra terus menarik Mentari dengan Iwang yang mencoba melepaskan tarikan lengan Sandra pada tangan Mentari.
"Minggir kamu anak siala*!!!" umpat Sandra sambil mendorong tubuh kecil Iwang.
"IWANGGGGGG!!!" teriak Mentari.
Karena Iwang merecokinya untuk membawa Mentari ke kamar utama, Sandra dengan tega mendorong tubuh Iwang dengan sangat kuat hingga anak itu terhuyung dan jatuh berguling-guling ke bawah karena memang posisinya saat itu mereka bertiga berada di lantai dua dekat dengan anak tangga. Nakala dan Lukas yang melihat tubuh Iwang terjatuh dari lantai dua itu pun langsung menangkap tubuh mungil Iwang.
"Kak, se..lamatkan ibu! Iwang m...mohon!!" pinta Iwang saat tubuhnya telah ditangkap oleh Lukas.
"Iwang! Iwang sabar ya, kakak akan menyelamatkan ibu dulu!!" ucap Lukas.
__ADS_1
Lukas dan Nakala berlari kembali menuju ke lantai dua. Namun entah dapat darimana, Sandra menembakkan beberapa peluru ke arah mereka berdua.
"Naka!!! kak Lukas!!! awasss!!!" teriak Mentari memperingati dua orang itu.
Baik Nakala dan Lukas sempat berhasil menghindari peluru yang mengarah pada mereka, namun karena posisi mereka yang sulit, mereka pun terkena peluru juga pada akhirnya. Nakala terkena peluru tepat di lengan kanannya, sedangkan Lukas terkena peluru di bawah perut samping kiri. Mereka berhenti sejenak akibat rasa sakit yang menjalar di tubuh mereka. Darah keluar seiring berjalannya waktu dan terus mengucur keluar dengan sangat banyak.
Mentari mencoba meronta untuk menyelamatkan putra dan orang-orang yang terluka karenanya. Mentari mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Sandra hingga tidak sadar mereka berada di ujung tangga.
"MATILAH SAJA KAU SANAAA!!!" teriak Sandra dengan tatapan bak psikopa*
Sandra melepaskan celakan tangannya lalu dengan sangat tidak berperasaan dia mendorong Mentari hingga membuat Mentari terjatuh dari ketinggian. Posisi jatuh Mentari dengan tubuh yang menghadap ke atas.
BUKKKKK.....
Seketika darah segar keluar dari bagian bawah tubuh Mentari.
"AKHHHH!!! BAYIKKUUU!!!! SELAMATKAN BAYIKUUU!!!" teriak Mentari kesakitan sambil memegangi perutnya.
Mentari tidak memperdulikan bahwa kepalanya bagian belakang telah mengeluarkan banyak darah. Dia sangat khawatir akan keselamatan bayi dalam kandungannya. Nakala dan Lukas dengan tergesa-gesa menuju ke arah Mentari. Lukas harus menahan sakit di bagian perutnya akibat peluru yang masih bersarang di dalam tubuhnya itu.
"Nona!!! Nona bertahanlah, nona!!" Ucap Nakala yang telah sampai lebih dulu di samping Mentari.
"Naka, selamatkan anakku!!! sakit, Naka!!! akkhhh!!!" Mentari menangis menahan sakit yang teramat sangat.
Adi, yang baru siuman dari pingsannya itu lekas menatap ke sekeliling. Matanya membulat sempurna kala melihat pemandangan yang begitu menyakitkan. Mentari berada di lantai dengan kepala dan bagian bawahnya yang penuh dengan darah. Adi langsung berlari menuju Mentari.
"Nona, apa yang terjadi?!" tanya Adi khawatir.
"Jangan bahas itu dulu bodo*!!! bantu aku membawa nona kerumah sakit atau jika tidak mereka akan mati!!" bentak Nakala.
Menurut Nakala, pertanyaan Adi barusan terdengar sangat tidak masuk akal. Atau lebih tepatnya sangat tidak berguna apalagi diposisi seperti ini.
"SIAPKAN MOBIL SEGERAAA!!!" perintah Adi sambil menggendong tubuh Mentari berlari keluar rumah.
Disusul oleh Lukas yang membawa tubuh Iwang, sedangkan mbok Tini dibawa oleh dua orang penjaga. Mereka menaiki mobil yang berbeda dengan Adi, Mentari dan Nakala. Karena kondisi Lukas tidak memungkinkan untuk menyetir mobil sendiri, dia pun meminta salah satu anak buahnya untuk menyetir mobil.
Rumi, tercengang dengan adegan itu. Jujur saja perasaannya saat ini adalah takut, cemas, khawatir. Dia takut kalau terjadi sesuatu kepada janin yang ada didalam kandungan Mentari. Dia cemas dengan keselamatan Mentari. Dan dia khawatir kalau Darel tahu dia ikut andil dalam masalah ini, Darel pasti tidak akan mengampuninya. Atau lebih buruk lagi, Darel tidak akan mau mengakuinya sebagai ibu lagi.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai para reader, tidak menyangka sudah sampai pada episode-episode terakhir nih. Kira-kira gimana ya nasib Mentari dan baby triple?! apakah mereka akan selamat dari kejadian ini? dan bagaimana reaksi Darel saat tahu semua kejadian ini? apakah dia akan menghukum Rumi karena telah ikut terhasut tipu muslihat Pretty dan Sandra? dan apa yang akan Darel lakukan pada dua pengganggu itu? ikuti terus kelanjutan episodenya. Jangan lupa like, komen, share+ tips agar author semakin semangat updatenya 🥰🥰