Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 323


__ADS_3

Derttt....


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Adi. Adi mengangkat panggilan yang berasal dari Nakala itu.


"Ya, Miguela, ada apa?!" tanya Adi.


Sedetik kemudian, ekspresi wajah Adi terlihat pias. Mulutnya sampai menganga karenanya. Entah apa yang Nakala beritahu pada Adi hingga dia bereaksi seperti itu.


"Oke-oke! kami segera kesana!" ucap Adi menutup panggilan.


Adi langsung mendekat ke arah Darel yang saat itu masih menikmati pemandangan ikan-ikan itu memangsa sisa-sisa tubu* Pretty dan Sandra. Begitu Adi mendekat, dia langsung berbisik di samping telinga Darel.


"APAAA?!! KITA KESANA SEKARANG JUGA!!" perintah Darel setelah Adi mengabarkan berita yang disampaikan oleh Nakala tadi.


Darel terlihat begitu panik saat keluar dari rumah itu. Entah rumah siapa itu, yang jelas rumah itu terlihat terurus dengan model rumah ala-ala rumah Belanda.


********


"TARIIIII!!!! TARIIII!!!" teriak Darel begitu sampai dirumah sakit.


Darel menuju ruang perawatan dimana Nakala sudah memberitahu sebelumnya lewat telepon tadi. Matanya langsung menatap putranya yang menangis sesenggukan dipelukan Daniar sedangkan Daniar menangis didalam pelukan suaminya. Mereka semua yang ada disana tampak bersedih. Mengapa semuanya menangis seperti ini? bukankah harusnya mereka senang karena Tari sudah didalam ruangan perawatan. Yah, Darel berpikir kalau Mentari sudah selamat dari operasi karena seperti yang Nakala katakan di telepon tadi kalau Mentari berhasil melahirkan. Namun melihat reaksi semua orang yang ada disini, terutama Daniar membuat Darel menjadi ketakutan. Takut kalau-kalau yang ada di dalam isi kepalanya saat ini adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang sangat pahit.


"Ta... Tari?!" tanya Darel.


Semua orang menatap ke arah Darel dengan tatapan pilu. Iwang langsung berlari memeluk ayahnya, menumpahkan segala kesedihannya didalam pelukan sang ayah.


"Ayahhh, ibu.....ibu, yahh!!" isak Iwang.


Darel menatap sekeliling. Tidak ada mama Daniar juga papa Daniar disini. Kemana mereka?


"Anak-anak kamu semuanya selamat, Rel! mereka masih ada diruangan incubator karena kondisi mereka yang lahir secara prematur. Juga tadi ada satu dari tiga anakmu yang sangat-sangat lemah, hingga membutuhkan penanganan khusus." jelas Arul.


Arul merangkul pundak istrinya yang saat itu tengah menangis sesenggukan, sedangkan baby Brian terlelap dalam box bayi.


"Lalu, Tari?" tanya Darel pias.


Semua orang mendadak bungkam mendengar pertanyaan Darel. Daniar yang semula mulai tenang kembali menangis dengan sangat kuat membuat Darel semakin bingung.


"KENAPA KALIAN DIAM SAJAAA!!! JAWAB AKU DIMANA TARIII!!!" bentak Darel.


Iwang yang berada didalam pelukan Darel sampai menguatkan pelukannya akibat teriakan Darel.

__ADS_1


"Rel..." ucap Tomi.


Tomi sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Dia yang biasanya tegar kini mendadak meneteskan air mata.


"Yang sabar, Rel!! Tari..." ucap Tomi terpotong.


Tomi menghela nafas beratnya. Dia berulang kali menghela nafas panjang untuk mengontrol emosinya agar tidak terbawa kesedihan. Bahkan Tomi sampai susah menelan ludahnya sendiri saking sesak dadanya.


"Ikhlaskan dia, Rel! Tuhan lebih sayang Tari!" ucap Tomi lirih.


Tomi tidak kuasa menatap mata Darel hingga membuatnya mendudukkan pandangannya setelah berkata demikian.


"Hahaha, jangan bercanda!! Tari pasti sehat kok!! Tari sendiri yang ngomong kalau dia akan menjaga anak-anak kami! melihat Iwang diwisuda! melihat anak-anak kami tumbuh! melihat mereka berjalan untuk pertama kalinya, mendengar kata pertama yang mereka ucapkan, dan banyak lagi!!" ucap Darel tidak bisa menerima fakta ini.


Ini terlalu menyakitkan baginya. Wanita yang paling penting dalam hidupnya. Wanita yang menjadi semestanya. Wanita yang telah menjadikannya seorang ayah. Wanita yang memberikannya keturunan. Tidak-tidak!! Tidak mungkin Mentari meninggalkannya bukan?! Tari wanita yang kuat!! ini pasti salah satu lelucon dari mereka, batin Darel.


"Mentari menghembuskan nafas terakhir pukul dua belas lebih sepuluh menit, tepat setelah melahirkan anak ketiga mu. anak pertama dan kedua seorang cowok, dan yang terakhir seorang cewek. Dia juga yang paling lemah detak jantungnya tadi sehingga dokter melakukan penanganan ekstra." jelas Zanu sambil memeluk Daniar.


"Dia memilih menyelamatkan nyawa anak-anak mu walaupun dia tahu nyawanya yang akan dipertaruhkan. Dia bisa saja egois dengan memilih menyelamatkan nyawanya sendiri, tapi dia tidak melakukannya. Dia memilih anak-anak mu!!" ucap Arul.


"Tari...." isak Daniar.


Darel linglung seketika. Tubuhnya roboh menatap ke tembok rumah sakit. Matanya memerah menahan air mata. Dunianya telah runtuh. Semestanya telah pergi.


"Tuan..." panggil Adi lirih sambil hendak berjalan mendekati tuannya namun dicegah oleh Harri.


Dia bisa merasakan kepedihan dari Darel. Ditinggalkan oleh orang terkasih adalah hal yang paling menyakitkan, apalagi sampai ditinggalkan untuk selama-lamanya.


"Kau harus ikhlas, Rel! Biarkan Tari beristirahat dengan tenang!" ucap Arul menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Tidak bisa ditahan, air mata Arul ikut menetes menyaksikan kepedihan sahabatnya.


"Nggak!!! Tari!!!! dimana Tariii?!!!" tanya Darel.


"Ada diruang jenazah. Kami menunggu mamanya Daniar yang pingsan karena mendengar kabar ini." ucap Rohan.


"TARIII!!!"


Darel berlari seperti orang kesetanan menuju kamar jenazah. Sepanjang dia berlari, air matanya tidak henti-hentinya menetes ke pipinya.


BRAKKK...

__ADS_1


Darel membuka pintu kamar jenazah itu dengan sangat kuat. Dua orang perawat wanita yang ada disana langsung menatap ke arah Darel.


Darel melihat ditengah-tengah perawat itu ada brankar berisi seseorang jenazah yang tertutup oleh kain putih. Darel mendadak pias, langkahnya gontai berjalan menuju brankar itu. Tangannya gemetar saat hendak merai kain putih penutup jenazah tersebut. Begitu dibuka....


"SAYANGGGGGG!!!!" teriak Darel meraung kesetanan.


Semua sahabat dan anak buah Darel yang mengikutinya langsung terdiam di depan pintu kala mendengar raungan Darel. Adi, Harri, dan Lukas terkejut karena tidak pernah melihat tuan mereka sampai seperti ini. Tidak terasa Harri sampai menangis melihat adegan pilu ini.


"Sayangg, ini aku suamimu!! ayo bangun, sayang!!! Tari, ayo bangun!!!" ucap Darel sambil mengguncang-guncangkan tubuh kaku Mentari.


"Sayang ayo bangun!! kamu kan udah janji akan merawat anak-anak kita hingga mereka besar, sampai mereka menikah! kamu juga janji nggak akan meninggalkan aku!!! ayo bangun sayangg!!" ucap Darel.


Air mata Darel semakin deras. Istrinya masih setia menutup matanya tanpa mau membuka matanya. Tubuh Mentari telah menjadi dingin.


"Sayang kamu kedinginan yaa?!" tanya Darel sambil mengusap-usap telapak tangan Mentari.


"Adi, Carikan selimut untuk Tari!!! dia kedinginan!!" perintah Darel.


Adi menatap Darel dengan tatapan sendu. Dia sampai melengos ke arah lain untuk menyeka air matanya.


"Tari bangunn!! BANGUNN TARIIII!!!" teriak Darel.


"AKU TIDAK MENGIJINKANMU MENINGGALKANKU, JADI BANGUNNNNN!!!" teriak Darel.


"KENAPA KAMU MENGORBANKAN NYAWAMU DEMI ANAK-ANAK KITA!! MEREKA MEMANG PENTING BAGIKU, TAPI KAMU!! KAMU JAUH LEBIH PENTING DARI APAPUN. AKU MAU KAMU, BUKAN YANG LAINN!!! JADI BANGUNNLAHHH!!! BANGUN, SAYANGGG!!! AKU BILANG BANGUNNN!!!" teriak Darel namun nihil, Mentari tidak akan bisa membuka matanya kembali.


Darel memeluk tubuh kaku Mentari sambil menangis, meraung meminta Mentari untuk bangun. Perawat yang masih ada diruangan itu sampai tidak bisa berhenti meneteskan air mata. Baru kali ini mereka melihat dirumah sakit ini, seorang suami menangisi istrinya yang meninggal apalagi setelah melahirkan. Biasanya, jika ada seorang wanita yang meninggal setelah melahirkan, si suami akan bodo amat dan memilih menggendong dan bermain dengan anak yang baru lahir itu. Biasanya juga keluarga si wanita lah yang paling terpukul jika putri mereka meninggal setelah melahirkan.


Apalagi seorang Darel Sanjaya sampai menangisi istrinya sebegitunya. Pastilah sangat besar cinta Darel untuk sang istri. Batin keduanya.


"Kumohon bangun, sayangg!!! aku ada disini!! aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi!!! tapi aku mohon bangunn!! aku tidak bisa merawat anak-anak kita sendirian, aku butuh kamu!! mereka butuh kamu!!" ucap Darel masih menangis.


"Rel, sudah, Rel!!!" ucap Rohan menepuk pundak Darel.


"Biarkan Tari beristirahat dengan tenang! biarkan dia pergi dengan senyuman. Dia pasti akan sedih kalau melihat kau menjadi kacau begini. Buatlah pengorbanan Mentari tidak sia-sia dengan membesarkan anak-anak mu dengan baik." ucap Rohan lagi.


"MINGGIIRRRR!!! AKU MAU IKUT MENTARII!! KEMANAPUN TARI PERGI, AKU JUGA MAU IKUTT!!" teriak Darel.


"Lalu anak-anak mu? dia telah kehilangan ibu mereka, jangan buat mereka kehilangan ayah mereka juga!! masih ada anak-anak mu Darel!!!!" ucap Rohan.


"Tapi, Tariii...."

__ADS_1


Darel menangis didepan jenazah Mentari. Tangannya menggenggam erat tangan kaku itu. Dadanya sangat sesak bahkan untuk bernafas saja sangat susah. Darel kalah! kalah oleh takdir Tuhan. Cintanya, dunianya, semestanya telah tiada. Banyak wanita yang mungkin jauh lebih cantik dari Mentari, tapi dia bukan Mentari. Sosok wanita yang kuat, penyabar, lemah lembut, dan penuh kehangatan. Darel hanya mau istrinya. Hanya Mentari!! bukan yang lainn!!!


"TARIIIIII!!!!" teriak seseorang dari arah pintu.


__ADS_2