Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 61


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, rumah utama keluarga Sanjaya terlihat sangat ramai. Banyak pelayan dari rumah utama dan rumah Darel yang ikut membantu mendekorasi rumah untuk acara pertunangan besok. Hal ini sesuai permintaan Darel dan Mentari tentunya, dimana mereka berdua ingin pertunangan dilangsungkan dirumah utama, sedangkan pernikahan dilangsungkan ditempat sesuai keinginan orang tua Darel.


Undangan sudah disebar kemarin. Banyak petinggi negara, artis-artis ternama, dan sahabat dan kolega tuan Sanjaya beserta nyonya Sanjaya juga turut menerima undangan tersebut.


"Hei kalian ayo cepat sedikit, waktu kita tidak banyak, malam ini harus selesai semua!" ucap pak Joni memberi instruksi.


Tentu saja Pak Joni sangat bersemangat. Selain senang karena pertunangan tuan mudanya, dia juga sangat senang karena akhirnya bisa bertatap muka dengan Lukas anaknya, meskipun hanya sekilas dikarenakan Lukas juga dalam masa bekerja.


Tidak apa lah hanya melihat sekilas, yang penting aku sudah lega karena dia baik-baik saja. Nanti kalau ada waktu aku akan mengajaknya bicara! batin pak Joni.


Semua orang menjadi sangat antusias dan bersemangat, terlebih tuan dan nyonya Ardi.


Disisi lain, dirumah Mentari...


"Nak, apa benar yang kami dengar dari Daniar? kenapa kamu tidak cerita pada mama? apa kamu masih menganggap mama ini orang asing, Mentari?" tanya mama Daniar yang sudah duduk menghadap Mentari.


Daniar memang sudah menceritakan semuanya kepada orang tuanya, tentang rencana perjodohan yang dilakukan tuan Sanjaya kepada Mentari, dan tentang sikap Darel yang dinilai Daniar sangat kasar terlebih pada seorang wanita.


Mentari hanya tertunduk lesu. Dia sangat bingung ingin menjelaskan dari mana.


"Nak, kalau kamu memang tidak setuju dengan perjodohan ini jangan paksakan dirimu. Itu tidak baik untukmu dan mereka!" ucap papa Daniar memberi masukan.


"Ma, pa, sebelumnya Tari minta maaf, bukan maksud Tari buat tidak jujur pada kalian apalagi berbohong pada kalian. Mentari ingin mengatakannya tapi menunggu saat yang tepat. Namun karena acara ini juga sangat mendadak dan Mentari sendiri juga baru mengetahui satu minggu sebelum pertunangan, jadi Mentari tidak sempat mengatakannya karena banyak yang mesti dipersiapkan." jelas Mentari.


Mentari merasa sangat gugup. Dia memainkan jarinya bahkan keringat dingin mulai keluar dari telapak tangannya.


"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya mama Daniar mencoba memastikan kembali keputusan Mentari.


Mentari mengangguk.


"Iya ma, Tari yakin dengan keputusan Mentari. Tari yakin mereka bisa menjaga Tari, terlebih Tari juga ingin mengetahui alasan kematian orang tua Mentari yang mungkin juga menyangkut peristiwa kejam itu." ucap Mentari seraya menundukkan kepala.


Seketika wajahnya berubah menjadi sendu. Air mata mulai menggenang diujung matanya. Sesak didadanya ketika kembali mengingat peristiwa memilukan dan mengerikan itu.Dimana semua kebahagian dan dunianya dirampas hanya dalam sekejap.

__ADS_1


*Flashback On*


Mentari remaja yang tidak tahu kerasnya hidup harus meninggalkan desa kelahirannya. Dia menumpang pada truk yang dia temui hingga membawanya ketujuannya. Tanpa membawa uang sepeserpun kecuali kotak kecil yang selalu dibawa Mentari kemanapun disaku celananya. Mentari remaja harus hidup menjadi pengemis. Hal itu dia lakukan semata-mata agar bisa terus makan. Hingga suatu hari, beberapa preman sedang memalaknya. Mereka menjarah hasil kerja keras teman-teman Mentari yang lain. Mentari yang merasa takut pun berlari. Salah seorang dari mereka yang mengetahui itu langsung mengejarnya. Dia berlari tak tentu arah, hingga dia bersembunyi disemak-semak disebuah taman.


Mentari yang ketakutan mendekap kantung Snack belas yang menjadi wadah untuk menyimpan uang hasil mengemisnya. Saat dia melihat preman-preman yang mengejarnya tadi berhenti dihadapannya, dia langsung menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.


"Akh...sial, kemana larinya anak itu! ayo cepat cari dia!" ucap seorang preman dengan rambut gondrong.


Mereka pun berlari meninggalkan Mentari.


Syukurlah! batin Mentari lega.


Dia pun tertidur disemak-semak itu,hingga menjelang sore dia terbangun karena melihat bola tanpa sengaja mengenainya. Dia pun terkejut saat melihat wanita remaja mendekatinya dengan tatapan aneh.


Disaat itulah dia bertemu Daniar remaja. Daniar yang saat itu berusia 13 tahun itu menemukan Mentari dalam keadaan ketakutan dan sangat dekil. Dia yang saat itu sedang jalan-jalan bersama orang tuanya pun memanggil orang tuanya dan memutuskan untuk membawa Mentari remaja kerumah mereka.


Saat itu Daniar masih duduk di bangku SMP kelas satu, dia yang awalnya kesepian karena tidak mempunyai teman pun sangat senang dengan kehadiran Mentari dirumahnya.


Selama dirumah Daniar, Mentari yang memang sudah hobi membaca memilih menghabiskan waktunya untuk membaca diruangan yang tersedia sembari menunggu Daniar pulang dari sekolah. Dia menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku tentang bisnis, sains, dan sejarah. Ayah Daniar sebenarnya ingin memasukkan Mentari kesekolah yang sama dengan Daniar, namun Mentari menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan. Hingga saat usia 19 tahun, Mentari menyampaikan keinginannya untuk membuka usaha pada keluarga Daniar yang sudah seperti keluarganya sendiri.


"Apa om?" tanya Mentari.


"Kamu harua mau menerima bantuan dari om. Om akan menyiapkan modal untuk kamu memulai usaha, seperti menyediakan tempat, lalu apa saya yang kamu butuhkan akan saya tanggung. Jadi kamu hanya tinggal menjalankannya saja." ucap papa Daniar.


"Emm, baiklah om, kalau begitu itu saya anggap sebagai hutang saja. Setelah usaha saya maju nanti saya akan mengganti semuanya. Dan untuk masalah uang, saya masih punya simpanan hasil kerja saya ditoko swalayan ditambah hasil dari menjual perhiasan pemberian ibu." jelas Mentari.


"Apa kamu tidak sayang dengan perhiasan itu, Tari? itu kan pemberian ibu kamu?" tanya Daniar yang sedari tadi hanya mendengar saja.


Mentari menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan keputusannya sudah sangat bulat.


*Flashback off*


"Mentari sangat senang bisa bertemu kalian, jika bukan karena modal yang pala pinjamkan dulu, mungkin Tari akan kehilangan perhiasan peninggalan ibu selamanya." ucap Mentari sambil terisak.

__ADS_1


Air matanya sudah tidak terbendung lagi mengingat bagaimana kerasnya kehidupan padanya saat itu. Mengingat dia yang terpaksa menjual perhiasan ibunya dalam kotak itu. Dan mengingat masa remaja yang harusnya dia habiskan untuk bermain dan bersenang-senang, berubah menjadi masa dimana sebagian besar waktunya dia habiskan untuk bekerja serabutan demi mendapatkan uang.


"Sayang, kamu jangan mengingat kejadian itu lagi, semua sudah berlalu. Kamu harus mengikhlaskan apa yang sudah terjadi." ucap mama Daniar mengusap punggung Mentari dengan lembut.


"Papa dan mama tidak bisa berkata apa-apa jika kamu sudah memutuskannya. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, nak. Kami sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri, jadi tolong pikirkan lagi masak-masak." jelas papa Daniar bernegosiasi.


"Mentari sudah memutuskannya dan sudah memikirkannya masak-masak. Mentari harap kalian mendukung keputusan Mentari. Dan pa, Tari ingin papa yang menjadi wali Tari nanti saat akan nikah, boleh?" tanya Mentari dengan wajahnya yang sudah mulai sembab.


"Tentu saja nak, papa akan melakukan itu dengan senang hati!" ucap papa Daniar dengan tersenyum.


Setelah cukup lama, mereka pun memutuskan untuk pulang.


********


Dimarkas Drago Mark...


"Apa kami harus menculiknya besok tuan?" tanya Dendi pada bos besarnya.


"Jangan dulu!"


"Kenapa tuan?" tanya Dendi penasaran.


Menurutnya, jika ingin menculik wanita itu, besok adalah saat yang tepat karena tidak akan yang tahu jika dia menghilang.


"Karena untuk saat ini wanita itu belum begitu penting bagi Darel. Itu hanya akan membuang-buang waktu kita jika kita menculiknya." jelas bos besar Drago Mark.


Dendi menganggukkan kepalanya seraya berpikir.


"Hemm, benar juga yang tuan katakan. Jadi apa kita harus menunggu satu bulan lagi? karena acara pernikahan dilangsungkan satu bulan lagi!"


"Kita lihat saja nanti. Jika sebelum itu pria sok (Darel) itu sudah jatuh cinta pada wanita ini, maka kita atur siasat untuk menculiknya, dan memaksa Darel menyerahkan diri, hahahahaha!" ucap pria itu diselingi tawa yang menggelegar.


Dendi yang mendengar siasat licik itu ikut tertawa senang. Dendi memilih keluar dari ruangan itu, seraya mengatur rencana agar kelak mereka tinggal menjalankannya saja.

__ADS_1


Aku akan dengan sabar menantikan detik-detik kematianmu Darel! bersiap-siaplah, dewa kematianmu sudah datang, hahahahaha! batin Dendi sambil tersenyum menuju ruang para anak buahnya.


__ADS_2