
Bagas masih bergelut dengan laporan hasil pemeriksaan. Angel merasa sedikit aneh dengan tingkah Bagas yang seperti tidak biasa saat memperlakukan pasien yang kemarin tertabrak itu.
Apa Bagas mengenali wanita itu ya? batin Angel.
Bagas terus fokus pada laporan itu hingga pada sebuah lembar Bagas dengan cepat langsung berdiri.
"Kangker studium akhir?" teriak Bagas terkejut.
Angel juga terkejut, bukan karena perkataan Bagas melainkan karena teriakannya.
"Iya Bagas, wanita itu mengidap kangker serviks studium akhir. Apa kau mengenal wanita itu?" tanya Angel penuh selidik.
Angel sudah mengetahui isi laporan itu, makanya dirinya tidak ikut terkejut saat Bagas mengatakan jika wanita itu mengidap kangker serviks.
"Apa bisa disembuhkan?" tanya Bagas seolah mengatakan sembuhkan dia!
Angel menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau juga seorang dokter handal, Gas, kau pastinya juga tahu apa yang terjadi jika seorang wanita mengidap penyakit ini!" ucap Angel lirih.
Ngeri juga bagi Angel jika membayangkan seorang wanita mengidap penyakit mematikan seperti itu.
"Bukankah sampai saat ini penyakit kangker belum bisa ditemukan penawaran? selain dengan kemoterapi, kita tidak bisa melakukan apapun bahkan terkadang kemoterapi hanya akan mempercepatnya!" jelas Angel.
Sebagai seorang dokter, Angel tahu benar penyakit-penyakit berbahaya dan bahkan tidak ada obat penawarnya. Meskipun dalam lubuk hatinya, Angel ingin sekali menyelamatkan orang-orang yang terkena penyakit mematikan.
"Sialll!!!" teriak Bagas sambil menjambak rambutnya kasar.
"Bagas apa yang kau lakukan!" teriak Angel khawatir.
"Apa kau mengenali wanita itu, Gas?" tanya Angel yang sedari tadi memenuhi kepalanya.
Bagas menatap mata Angel lekat, tersorot dari matanya terdapat ketulusan dan ketenangan bagi Bagas.
"Sebenarnya wanita itu...."
********
Mentari tiba dirumah menjelang maghrib. Dia langsung bergegas memasuki rumah.
"Darimana aja kamu!" ucap seorang pria yang tengah duduk disofa.
Mentari menghentikan langkahnya ketika melihat Darel mendekat kearahnya.
"Aku dari rumah Iwang?" ucap Mentari.
"Benarkah? sampai selama ini?" tanya Darel penuh selidik.
"Iya, soalnya tadi cerita-cerita dulu, main sama Iwang, pokoknya seru deh!" ucap Mentari bersemangat.
Aku sedang marah loh! kok malah curhat sih! batin Darel.
__ADS_1
"Ya sudah aku mandi dulu, capek nungguin dari tadi nggak pulang-pulang!" ucap Darel hendak berlalu pergi.
"Kamu nungguin aku? kenapa?" tanya Mentari.
"Banyak tanya!" Ucap Darel langsung naik kelantai dua.
"Dasar, jawab gitu aja susah banget sih!" gerutu Mentari.
Mentari juga ikut masuk kekamarnya, mandi lalu bersiap-siap untuk makan malam.
Tepat pukul 19.00,Darel dan Mentari tengah duduk dimeja makan untuk makan malam. Mentari sebenarnya agak ragu untuk bertanya tentang Iwang tadi. Darel pun melihat wajah Mentari yang terlihat gusar seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Katakan!" ucap Darel disela makannya.
"Apa?" tanya Mentari terkejut.
Darel menatap Mentari sebentar lalu melanjutkan makannya.
"Katakan apa yang mau kau katakan!" ucap Darel sambil menyuapkan sesendok makanan kemulutnya.
Mentari berpikir sebentar.
"Ah, baiklah karena kau yang memaksa." ucap Mentari.
Mentari berpikir sejenak, bingung mau bicara mulai darimana. Saat Mentari sedang berpikir, Darel terus saja melihat gelagat Mentari.
Cih, dasar wanita! paling-paling dia juga mau minta emas dan barang-barang branded, semua wanita sama saja. Matre! batin Darel yang salah mengartikan apa yang hendak Mentari katakan.
"Hem!" jawab Darel singkat.
"Emm, aku berpikir akan membuatkan dia rumah...!" ucap Mentari terpotong.
"Uhukkk....uhukkkk...uhukkkk...!" Darel tersedak.
Mentari dengan sigap langsung menuangkan segelas air lalu memberikannya pada Darel dan dengan cepat langsung habis diminum oleh Darel.
"Hah, apa kau yakin?" tanya Darel setelah meminum segelas air pemberian Mentari.
Mentari menganggukkan kepalanya cepat. Darel semakin mengernyitkan dahinya, tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita didepannya ini.
"Kenapa?" tanya Darel.
Mentari menaikkan satu alisnya seolah berkata kenapa apanya?
"Kenapa tiba-tiba kau ingin membangun rumah untuknya?" Darel mengulangi pertanyaannya.
"Tadi aku kerumah Iwang, dan disaat sampai disana aku merasa kasihan. Apa kau tau dia dan neneknya hanya tinggal disebuah gubuk yang terbuat dari kardus dan karung bekas semen yang disangga kayu agar tidak roboh. Setelah pulang dari sana aku berpikir untuk memberikan uang pemberian papamu untuk membangun rumah Iwang, yah walaupun sederhana setidaknya masih layak dihuni." jelas Mentari sambil menatap mata Darel lekat.
Sedangkan Darel semakin dibuat tercengang dengan pemikiran Mentari. Benarkah wanita yang dia sebut sebagai wanita ular memiliki hati seorang malaikat? tidakkah Mentari menginginkan sesuatu layaknya wanita lain dengan uang yang diberikan papanya dan mamanya? terlebih jumlah yang diberikan orang tua Darel sangatlah banyak. Tidakkah Mentari merasa ingin membeli barang-barang untuk dirinya sendiri? begitu yang ada dipikiran Darel saat ini.
"Hei, kenapa malah melamun? kalau kau tidak memperbolehkan aku menggunakan uang papa, aku bisa menggunakan uang dari hasil pendapatan tokoku." jawab Mentari sembari memakan makanannya.
__ADS_1
Darel terdiam. Cukup lama dia berpikir, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Apa kau yakin ingin menggunakan uang itu untuk membangun rumah orang lain? kau bisa menikmati uang itu untukmu sendiri, kenapa kau memberikan uang itu untuk kebahagiaan orang lain? bukankah kau merasa punya hak sepenuhnya atas uang itu?" tanya Darel.
Mentari menghentikan makannya sebentar. Dia menatap pria yang ada dihadapannya ini, bukan sebagai orang luar namun sebagai suaminya.
"Karena aku pernah berada diposisinya!" jawab Mentari singkat.
Darel semakin tidak habis pikir dengan jalan pikir Mentari. Membangun rumah dari semula membutuhkan dana yang lumayan banyak, meskipun uang pemberian orang tuannya cukup untuk membangun rumah itu, namun Darel masih tidak percaya Mentari mengatakan hal ini.
"Jika bukan karena kebaikan hati Daniar dan orang tuannya, aku mungkin masih berada dijalanan sampai sekarang. Iwang itu anak yang pintar kok, dia hanya butuh bantuan dari seseorang untuk mengangkatnya dari tempat itu." ucap Mentari yakin.
Darel tidak bergeming. Pikirannya masih tidak bisa mencerna perkataan Mentari. Darel pun memilih beranjak dari meja makan menuju ruang kerjanya.
Apa aku salah bicara? batin Mentari sambil melihat punggung Darel yang semakin lama semakin menghilang.
********
Daniar hari ini lembur, dia baru saja keluar dari kantor. Saat berada diluar gedung, mata Daniar langsung membelalak ketika melihat seseorang sedang menunggunya diluar mobil.
"Zanu?" tanya Daniar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Benarkah itu Zanu? kenapa dia ada disini? apa dia mau menjemputku? atau mau menjemput orang lain? batin Daniar.
Zanu melambaikan tangannya kearah Daniar. Daniar pun refleks menengok ke samping kanan, kiri dan belakangnya memastikan bahwa lambaian itu untuknya.
Zanu pun dibuat gemas dengan tingkah Daniar yang jelas-jelas dirinya sedang melambaikan tangan kearah Daniar, namun justru Daniar seperti orang kebingungan.
"Ayo pulang, orang tuamu tadi menelepon ku untuk meminta menjemputmu karena kau sedang lembur." jelas Zanu setelah berjalan mendekati Daniar.
Daniar masih diam membisu, tidak bergeming sedikitpun, bahkan seperti tidak bernafas juga.
#Canda bernafas😂 author POV
"Oh iya kamu lapar nggak? masih sempat nih buat makan malam!" ucap Zanu sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 19.30.
Karena merasa tidak ditanggapi oleh Daniar, Zanu pun berinisiatif untuk menarik tangan Daniar menuju mobil. Karena tarikan dari Zanu, Daniar pun terkejut dan tersadar kalau itu bukan mimpi.
Apa aku berdosa jika perhatiannya ini aku anggap lampu hijau untukku mendekatinya? batin Daniar dengan posisi masih ditarik oleh Zanu menuju mobil Zanu.
Sesampainya disamping mobil, Zanu pun langsung membukakan pintu untuk Daniar. Daniar pun dengan senang hati memasuki mobil. Setelah Daniar duduk dikursi samping kemudi, Zanu langsung menutup pintu mobil dan berjalan memutar kemudian memasuki mobil dan menjalankan mobil menuju sebuah restoran langganan Zanu.
"Zanu!" panggil Daniar sambil melirik kearah Zanu yang sedang fokus mengemudi.
"Ada apa?" tanya Zanu tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Daniar sedikit ragu.
"Tentu saja boleh. Kau mau tanya tentang apa?" tanya Zanu.
Daniar diam sesaat. Otaknya sedang berpikir keras untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menanyakan perasaan hatinya.
__ADS_1
Apa pantas seorang wanita menembak seorang pria? bukannya dimana-mana pria yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu pada wanita? batin Daniar.