
"Maaf bi, itu keputusan dari suamiku!! masalah kantornya aku tidak bisa ikut campur atas apapun kebijakan yang dia ambil bagi perusahaannya! lagian pemecatan itu juga bukan salahku!" ucap Mentari.
"Heh!! jelaslah salahmu!! gara-gara kamu suamiku jadi dipecat sama tuan Darel!! kamu tuh harusnya bersyukur karena keluarga Daniar sudah memungutmu dari jalanan, menyekolahkanmu hingga kau sukses dan punya suami kaya raya seperti sekarang!!!" maki Surti.
Mentari menghela nafas. Selalu! selalu saja seperti ini. Mentari tahu dia punya hutang budi yang tidak bisa dia bayar meskipun dengan nyawanya sekalipun kepada keluarga itu. Namun hal itu seolah menjadikan Surti alat untuk memojokkan Mentari.
"Aku tahu aku punya hutang budi kepada keluarga Daniar!! aku akan selalu ingat itu! tapi jika menyangkut perusahaan Darel, aku tidak bisa ikut campur, bi! mengertilah!!"
"Bukannya dulu Daniar kamu juga yang memasukkan kedalam perusahaan? kenapa pas suamiku tidak bisa? jangan culas ya kamuu!!" maki Surti.
"Culas bagaimana?! kamu pikir nona kami ini penipu begitu? jangan samakan nona kami dengan dirimu yang bahkan tidak punya malu itu yaa!!!" geram Lukas.
"Siapa sih ikut campur aja!" omel Surti.
"Saya kepala pengawal disini!! saya yang menjaga rumah ini dan nona kami khususnya dari orang-orang munafik seperti anda!!" jawab Lukas.
"Urusanku itu dengan wanita ini, bukan sama kamu!!!"
"Urusan nona Mentari juga menjadi urusan saya!!" ucap Lukas geram.
"Sudah-sudah!!" Mentari melerai.
"Baiklah, jika itu mau bibi! aku akan berusaha bilang kepada suamiku agar kembali memasukkan paman Abdul ke perusahaan! tapi kembali lagi, keputusan ada ditangan Darel apakah dia mau memasukkan paman kembali ke perusahaannya atau tidak!" ucap Mentari.
"Kalau kamu membujuknya pasti dia akan mau!! semua ada jalan kalau kamu berusaha!" cibir Surti lalu kembali melahap makanannya.
"Sepetinya kata-kata itu lebih cocok untukmu!! butuh tapi kok merendahkan!!! mana minta-minta lagi!!" cibir Lukas sambil bersidekap dada.
"Jaga ya mulutmu!! ini semua sudah pantas dilakukan oleh Mentari, secara dia punya...." terhenti.
"Punya hutang budi kepada keluarga nona Daniar!!? begitu?! keluarga nona Daniar saja tidak pernah mempermasalahkan budi baik yang telah mereka berikan kepada nona Mentari, kenapa kamu yang sibuk? kamu siapa? pernah kasih makan nona Mentari? pernah kasih uang buat keperluannya? kamu bantu apa sama nona kami sampai-sampai nona kami harus membantumu? punya hutang budi apa nona kami kepadamu sampai-sampai kau menagihnya? dia punya hutang budi kepada keluarga nona Daniar, bukan kepada keluarga mu!! seharusnya kau berkaca!! atau tidak punya kaca yaaa?!!! biar aku belikan kaca yang buesarrr, biar kamu bisa mengaca sepuasnya!!" sindir Lukas membuat Surti malu sekaligus marah.
"Sudahlah, aku mau pulang saja!! anak-anak muda jaman sekarang tidak punya sopan santun semua!!" omel Surti.
Surti memasukkan makanan beserta camilan satu persatu kedalam plastik lalu membawanya pulang. Sebelum pulang dia menghabiskan jus jeruk yang masih tinggal separuh.
"Eh, Tari! minta ongkos dong!! uangku habis tadi buat naik taxi kesini!" ucap Surti masih tidak tahu malu.
"Makanya kalau nggak punya uang tuh diem dirumah!! bukannya keluyuran lalu menyusahkan orang lain!!!" cibir Lukas.
"Ini bi!" ucap Mentari menyodorkan satu lembar uang seratus ribu.
"Kok cuma segini?! kuranglah!!" ucap Surti.
"Heh nenek lampir!!! kalau mau malak jangan disini!! tuh! disana tuh!! di pasar tanah Abang!!!" ucap Lukas kesal.
"Sudah-sudah!! jangan ribut kak!"
Mentari mengambil dua lembar uang seratus ribu lagi dari dalam sakunya.
"Maaf bi, tapi didalam saku ku hanya ada ini saja!" ucap Mentari memperlihatkan uang dua ratus ribu ditangannya.
Secepat kilat Surti mengambil uang itu dari tangan Mentari lalu tiga lembar seratus ribu itu disusun menjadi satu kemudian melipatnya dan dimasukkan kedalam saku bajunya.
"Gini juga cukup! dah aku pulang!!" ucap Surti.
__ADS_1
"Pulang Sanaa!! dasar nenek lampir beban!! nona, kenapa kamu baik sekali sih sama dia?! kalau bukan karena nona menghentikanku tadi, sudah aku seret dia keluar sejak tadi!!" ucap Lukas.
"Biarkanlah dia! aku mau istirahat saja yaa, capek banget rasanya!" ucap Mentari yang memang terlihat letih.
"Nona mau saya pijet?" tanya mbok Tini.
"Nggak usah, mbok! mau tiduran aja! oh ya kak, nanti jam pulang sekolah tolong jemput Iwang yaa! bilang kalau aku nggak bisa jemput dia!" ucap Mentari.
"Tenang saja! nanti biar tuan kecil aku yang jemput!" ucap Lukas.
"Makasih kak!" ucap Mentari.
"Nona tidak mau makan dulu? sudah masuk makan siang ini?" tanya mbok Tini.
"Nanti saja mbok kalau Iwang sudah pulang. Sekalian makan sama-sama." jawab Mentari.
"Baiklah kalau begitu!" ucap mbok Tini.
Mentari pergi menuju kamarnya lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur yang empuk. Tidak butuh waktu lama kesadarannya pun mulai menghilang. Dia terlelap sangat nyenyak dalam waktu yang singkat.
********
Tok...tok...tok....
"Non....bangun!! ini den Iwang sudah pulang katanya nyariin, non!!" panggil mbok Tini dari luar kamar Mentari.
Mentari mulai membuka matanya lalu dengan lesu terduduk dari tidurnya.
"Huammm, iya bi! saya cuci muka dulu habis itu baru turun! Iwang sudah ganti baju?" tanya Mentari dengan mata yang kembali menutup.
"Iya mbok! makasih!" ucap Mentari.
Cukup lama hening karena mungkin mbok Tini sudah turun, Mentari pun turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Cukup mencuci muka dengan sabun cuci muka kemudian langsung turun.
"Iwang mana mbok?" tanya Mentari yang melihat ketidakhadiran Iwang dimeja makan.
"Ada dikamar, non! katanya mau menunjukkan sesuatu buat non!" jawab mbok Tini sambil menghidangkan makanan diatas meja.
"Makasih mbok!" ucap Mentari.
"Kalau begitu saya permisi dulu, non!" pamit mbok Tini.
"Ibuuu!!" panggil Iwang dari arah belakang Mentari.
"Hai sayang!!! maaf ya tadi ibu nggak bisa jemput kamu!" ucap Mentari.
"Nggak apa-apa kok, bu! tadi Iwang seneng banget dijemput sama om Lukas! aku diajak keliling dulu sebelum pulang ke rumah!" jawab Iwang.
"Baiklah! sini makan dulu!" ucap Mentari menarik kursi disampingnya agar Iwang duduk disana.
"Oh ya bu, tadi ada pelajaran seni budaya loh! terus sama bu gurunya dikasih tugas menggambar ragam kesenian, terus Iwang buat ini! kata gurunya bagus banget!!" ucap Iwang bercerita.
"Wahh, cantik banget sayang!! hebat anak ibuu!!" puji Mentari saat melihat hasil lukisan Iwang.
Didalam lukisan itu, Iwang menggambar beberapa tari tradisional seperti tari topeng, tari pendet, dan tari reog Ponorogo. Sungguh indah dipandang mata ditambah pemilihan warna yang digunakan Iwang sangat cocok dengan gambarnya.
__ADS_1
"Iwang dapat referensi tari-tarian ini darimana?" tanya Mentari.
"Dari buku di perpus, bu! bu gurunya memperbolehkan untuk mencari di buku kelas atau di perpustakaan! jadi Iwang dan beberapa yang lain pinjam dari perpus. Iwang carinya yang tari-tarian, bu. Terus karena Iwang suka dengan tari-tarian ini makanya Iwang lukis!" jelas Iwang.
"Hebat sekali kamu nakk!! nanti kalau ayah sudah pulang tunjukkan hasil lukisanmu ini pada ayah yaa?! pasti ayah senang sekali melihat karyamu!!" ucap Mentari bangga.
"Iya bu!!" ucap Iwang semangat.
Mereka pun mulai menyantap makan siang sambil sesekali Iwang bercerita kesehariannya tadi disekolah. Mentari mendengarkan cerita Iwang dengan seksama. Baginya Iwang seperti ini sudah sangat menenangkan hatinya. Pasalnya Iwang menjadi ceria lagi seperti dulu sebelum ditinggalkan oleh neneknya. Sempat Mentari berpikir bahwa Iwang akan menjadi anak pendiam setelah kepergian sang nenek karena trauma ditinggalkan orang yang tersayang, namun alhamdulillah Iwang menjadi lebih ceria lagi sekarang.
********
Pukul delapan malam Darel baru saja pulang dari kantor. Pekerjaannya hari ini lumayan banyak sehingga harus pulang terlambat.
"Baru pulang sayang? udah makan?" tanya Mentari yang duduk di ruang tamu sambil menyantap beberapa potong buah dan kue.
"Iya, capek banget! aku belum makan nih, laper!" jawab Darel sambil mengusap perutnya yang terdengar berbunyi meski lirih.
"Ya sudah kamu mandi saja dulu! ku dan Iwang juga belum makan!" ucap Mentari.
"Loh kok gitu? kenapa? kamu tuh lagi hamil nggak baik makan terlambat!!" ucap Darel.
"Kami menunggu kamu! lagian Iwang lagi mengerjakan PR tuh. Oh ya, Iwang ada sesuatu loh yang mau dia tunjukkin sama kamu!" ucap Mentari dengan senyum merekah.
"Apa?" tanya Darel penasaran.
"Rahasiaaa!! nanti aja pas di meja makan! dah kamu mandi dulu sana! bau tau!!!" ucap Mentari sambil menutup hidungnya agar bau kecut Darel tidak terhirup olehnya.
"Dih, dasarr!!! yaudah aku mandi dulu! kalian langsung ke meja makan aja, nanti aku nyusul!" ucap Darel.
Setengah jam berlalu, Darel berjalan menuju meja makan. Disana sudah ada Iwang dan juga Mentari.
"Ayah kok pulangnya telat? kenapa?" tanya Iwang.
"Iya maaf yaa! tadi ayah banyak kerjaan jadinya pulang terlambat! oh ya kata ibu kamu ada sesuatu yang mau di tunjukkin sama ayah?"
"Iya! ini!" ucap Iwang memberikan selembar kertas gambar berisi gambarnya tadi.
"Ini...kamu yang buat??" tanya Darel tidak percaya.
"Iya yah!! bagus nggak?" tanya Iwang.
"Wahhh bagus!!! bagus banget!!! pinternya anak ayahh!!! siapa yang ngajarin menggambar?" tanya Darel terkagum-kagum dengan hasil lukis Iwang.
"Iwang memang suka menggambar dari dulu yah, cuma nggak ada alatnya aja!" jawab Iwang.
"Karena hasil lukisan kamu bagus dan dipuji guru, ayah bakal kabulin satu permintaan dari Iwang! Iwang mau minta apa?" tanya Darel menatap Iwang.
"Emmm, apa yaaa?" tanya Iwang berpikir.
"Itu dibahas nanti saja! sekarang kita makan malam! Iwang, pr nya sudah selesai apa belum?" tanya Mentari.
"Sudah, bu!" jawab Iwang.
"Habis makan gosok gigi, ganti baju terus langsung tidur yaa! udah malam banget ini besok masih sekolah." ucap Mentari.
__ADS_1
"Siap ibu negaraaa!!" ucap Iwang menirukan perkataan Darel yang pernah memanggil Mentari dengan sebutan ibu negara membuat Mentari dan Darel tertawa renyah.