
Pagi itu Mentari sudah bersiap sedari pukul 07.00 mengingat aktivitasnya yang selalu berlama-lama didalam kamar mandi makanya dia memutuskan untuk mandi dua jam lebih awal agar Darel tidak menunggu lama.
Sebenarnya Mentari sendiri bisa pergi kemarin, tapi karena Darel bersikeras untuk mengantarnya Mentaripun mengalah saja.
"uuuhhhhhhaaaaaahhhhh, udara pagi ini terlihat lebih segar dari biasanya!" ucap Mentari menghirup dalam-dalam udara pagi yang terasa sejuk dan menyegarkan.
Mentari sudah selesai mandi, namun masih memakai bathrobe yang sudah lama dia beli namun belum pernah dipakai karena sering memakai handuk yang dililitkan.
Dari rumah Mentari bisa terlihat embun pagi masih menyelimuti rumput dan dedaunan. Sinar Mentari pagi seakan mengusir embun untuk pergi diganti dengan kehangatan yang langsung menusuk disetiap sel tubuh.
"Sungguh tiada duanya ciptaan mu, Tuhan!" puji Mentari sambil menatap keatas langit.
Setelah puas melihat dunia, Mentari berpakaian dan menggunakan make up seadanya. Bedak tipis, lip balm berwarna pink bibir juga tidak lupa dia oleskan dibibirnya yang memang sudah pink itu hanya sekedar sebagai pelembab saja, dia juga merapikan alisnya yang sudah membentuk indah secara alami tanpa perlu dilukis lagi.
Rambutnya juga dia sisir sedemikian rupa, mengepangnya dari atas kepala hingga ujung rambut dan poninya dia biarkan menggantung didepan keningnya. Bulu matanya yang sudah lentik, banyak dan panjang itu dibiarkan begitu saja tanpa mempolesnya sedikitpun.
Wajah cantik sempurna milik Mentari memang sudah seperti itu sedari dulu. Bibirnya yang merah alami, alis yang terbentuk rapi dan bulu mata yang lentik itu menurun pada sang ibu. Bahkan tubuh Mentari tidak jauh beda dengan sang ibu jika dilihat dari foto.
"Ibu, apa aku sudah sepertimu? aku cantik kan bu?" ucap Mentari sambil berlagak didepan cermin yang memantulkan dirinya.
Mentari tersenyum sendiri melihat pantulan dirinya di cermin.
Apa aku pakai dress itu saja ya? batin Mentari mengingat-ingat dress biru yang baru dibelikan Daniar pada saat ulang tahunnya setahun lalu.
Mentari membuka lemari mencari-cari dres itu, dan benar saja dress tanpa lengan dengan panjang selutut itu membaur bersama pakaiannya yang lain digantungan.
"Aku coba dulu deh!" ucap Mentari sambil menuju kamar mandi.
Tidak lama kemudia Mentari keluar dengan dress itu melekat sempurna ditubuh idealnya.
"Cocok juga!" ucap Mentari tersenyum sambil berlenggak-lenggok didepan cermin.
Tanpa Mentari sadari Darel sudah berada disana saat Mentari baru keluar dari kamar mandi.
*Flashback On*
Darel, Harri, dan Adi sudah sampai didepan rumah Mentari. Darel datang setengah jam lebih awal dari perjanjiannya kemarin.
"Harri, Adi kalian tunggu disini biar aku yang masuk!" ucap Darel datar lalu keluar mobil.
Harri dan Adi melihat tuannya mengetuk pintu Mentari. Cukup lama Darel berdiri diluar rumah namun Mentari tidak kunjung membuka pintunya. Darel pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah yang ternyata tidak dikunci itu.
"Permisi?" ucap Darel berharap Mentari mendengarnya.
Apa dia sudah tuli juga sekarang!? batin Darel jengkel.
Mata Darel menatap kearah ruangan yang dia yakini itu kamar Mentari. Darel pun menuju kamar itu yang terbuka lebar.
Saat Darel hendak masuk, Mentari keluar dari kamar mandi dengan memakai dress yang membuat beberapa tubuh Mentari menonjol kedepan.
__ADS_1
Darel meneguk air liurnya kasar melihat pemandangan itu. Sesuatu didalam diri Darel terbangun karena pemandangan indah itu. Darel menggelengkan kepalanya kasar lalu menatap kearah lain sebelum dia kehilangan akal sehatnya.
*Flashback Off*
Tok....tok....tok.....
Darel mengetuk ointu kamar Mentari. Mentari yang terkejut langsung menatap Darel yang sudah berdiri mematung didepan pintu kamarnya.
"K...ka...kau? k...kenapa tidak menunggu diluar?" ucap Mentari gagap.
"Aku bahkan sudah mengetuk pintumu dari tadi, karena tidak ada jawaban makanya aku masuk. Lagi pula kau ini tidak tuli kan?" ucap Darel menatap penuh kesal.
"Tentu saja aku tidak tuli! mungkin saat kau mengetuk pintu aku sedang ada dikamar mandi jadi tidak bisa mendengar!" jelas Mentari.
Darel menatap Mentari penuh hasrat, tidak dipungkiri Mentari terlihat sangat menggoda dengan pakaian itu. Semua yang ada ditubuh Mentari sangat pas, tidak kebesaran atau kekurangan pokoknya pas.
"Se...sebaiknya kita pergi sekarang!" ucap Mentari yang mulai canggung.
"Hem!" jawab Darel singkat.
Darel dan Mentari keluar rumah menuju mobil Darel setelah mengunci pintu rumahnya.
Saat hendak memasuki mobil, pak Joko datang dengan menaiki motor kesayangannya.
"Motorkuuu!!!" ucap Mentari senang.
Itu kan cuma motor, apa bagusnya sih? batin Darel yang sebenarnya cemburu dengan motor itu yang lebih bisa menarik perhatian Mentari daripada dirinya.
Mentari sampai segitunya dengan motor itu? apa istimewanya? batin Harri.
"Mungkin motor penuh kenangan, makanya dia sangat sayang pada motornya!" ucap Adi tiba-tiba.
Darel dan Harri langsung menoleh kearah Adi dan yang ditatap hanya kebingungan mendapati hal itu.
Apa salahnya dengan perkataan ku? batin Adi.
"Neng Mentari mau kemana?" tanya pak Joko yang melihat mobil Darel.
"Mau pergi beli baju pak, buat acara besok!" jawab Mentari tersenyum.
"Oh yasudah kalau begitu, nanti biar rumah sama motor bapak yang jaga." ucap pak Joko menawarkan diri.
"Wahh, terimakasih pak!" ucap Mentari senang.
"Sama-sama. Ya sudah pergilah nanti kesingan!" ucap pak Joko.
Mentari mengangguk dan pergi menuju mobil Darel yang sudah menahan emosi dari tadi.
Kenapa juga motornya dibawa sama bapak itu? apa semalam Mentari keluar larut malam lalu dia diantar pria asing dan motornya ditinggal ditempat itu? makanya bapak itu mengambil motornya. Tau jangan-jangan?? batin Darel dipenuhi pikiran kotor.
__ADS_1
Mentari sudah mendudukkan bokongnya kekursi disamping Darel, namun pria itu tidak bergeming sedikitpun.
"Tuan?" panggil Mentari.
"Hem!" jawab Darel singkat berusaha membuang pikiran kotor dari pikirannya.
"Ayo berangkat!" ucap Mentari.
"Harri, bawa ke butik Myandra !" ucap Darel.
Mobil pun melaju kearah yang dituju Darel. Didalam mobil, pikiran Darel masih berkeliaran dengan kotornya membayangkan kejadian yang sebenarnya tidak terjadi pada Mentari semalam.
Hais otak, jauhkan pikiran kotor itu dari pikiranku!! ucap Darel kesal.
Mentari melihat kegusaran dari wajah Darel.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mentari.
"Ah, ap...apa?" tanya Darel gugup.
Baru kali ini dia terlihat pucat begini! batin Mentari.
"Apa kau sakit?" tanya Mentari sambil menempelkan tengkuk tangan kanannya di kening Darel.
"Tidak panas kok, biasa saja!" ucap Mentari.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Darel memberanikan diri.
Pikiran kotornya tidak bisa dihilangkan dari otaknya membuat Darel tidak bisa tenang.
"Silahkan saja, tidak ada yang melarang!" jawab Mentari sambil tersenyum manis.
"Apa semalam kau diantar pria asing?" pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Darel.
Dekkk.....
Bagaimana dia tahu kalau semalam aku diantar Wisnu pulang, apa dia membuntuti ku? batin Mentari.
"I...iya!" jawab Mentari ragu.
"Kenapa?"
"Karena ada hal mendesak semalam, jadi aku terpaksa diantar pria itu dan meninggalkan motorku disana!" jawab Mentari jujur.
Sudah kuduga dia sama jal*ng nya dengan Pretty!
Adi dan Harri mendengarkan pembicaraan Darel dan Mentari tanpa beniat ikut campur.
Apa yang dipikirkan tuan Darel sekarang? kenapa dia menanyakan hal itu pada Mentari? batin Adi.
__ADS_1