Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 50


__ADS_3

Wisnu datang kekantor dengan wajah yang entah bagaimana harus diungkapkan. Disatu sisi dia patah hati karena wanita yang sedang dia sukai ternyata sudah bertunangan, dan disisi lain dia senang karena mendapatkan nomor telepon wanita idamannya itu.


Bahkan saking bahagianya, Wisnu tidak bisa tidur semalaman.


"Tuan Wisnu, sepertinya anda sedang senang!" ucap Nurul yang melihat wajah atasannya itu berbinar-binar.


"Hahahaha matamu jeli juga, Nurul. Kau benar aku memang sedang bahagia saat ini!" jawab Wisnu tidak mengentikan senyuman yang merekah dibibirnya.


"Kenapa pak?" tanya Nurul lagi.


"Aku rasa....sini-sini!" menyuruh Nurul mendekatinya dengan nada berbisik.


"AKU SEDANG JATUH CINTAAAA!!" teriak Wisnu menggema diseluruh ruangan.


Beruntung ruangan mereka kedap suara, jadi suara dari dari dalam tidak bisa terdengar dari luar begitu pula sebaliknya.


Jatuh cinta? p...pa...pada siapa? batin Nurul.


"Aku....aku turut berbahagia untukmu, pak!" ucap Nurul.


Entah mengapa saat mengatakan hal itu dada Nurul terasa sesak, tenggorokannya terasa dicekal hingga sulit menelan air liurnya.


Pe...perasaan....apa ini? kenapa....kenapa aku merasa sakit sekali saat mendengar pak Wisnu jatuh cinta? batin Nurul memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak.


"Oh ya Nurul, kita harus segera bersiap karena sebentar lagi sesi interview gelombang kedua akan dimulai!" ucap Wisnu kembali pada pekerjaannya.


"Eh i...iya pak!" jawab Nurul terbata.


Wisnu keluar ruangan menuju tempat sesi interview, Nurul pun tidak lama kemudian menyusul Wisnu dengan langkah kaki gontai


Perasaan aneh apa ini? batin Nurul.


********


Arul dan Tomi bersama Jack membantu Lukas mengintai Drago Mark dari markas Tomi. Tidak dipungkiri kelompok itu juga sering berbuat onar pada kelompok mereka. Rohan dan Zen sebenarnya juga ingin membantu, namun dilarang oleh Tomi mengingat sumpah Rohan untuk melindungi masyarakat saat dilantik menjadi polisi dan Zen yang masih berselisih dengan Darel meskipun sudah tidak seburuk dulu.


"Apa ada pergerakan dari mereka?" tanya Arul pada Jack yang sedari tadi menghadap komputer canggih miliknya.


"Belum. Tapi sepertinya orang ini aku pernah melihatnya deh!" ucap Jack menunjuk pada seorang pria.


"Siapa dia?" tanya Tomi penasaran.


Arul dan Tomi juga seperti tidak asing dengan wajah pria berusia 40 tahunan itu.


"Tangan kanan, pemimpin Drago Mark." jawab Jack sambil mengotak-atik komputernya.


"Tunggu sebentar, tato ini sepertinya sangat tidak asing!" tunjuk Arul pada layar yang memperlihatkan goresan dipipi kirinya.

__ADS_1


"Seperti tidak asing bagiku!" ucap Tomi ikut memperhatikan dengan teliti.


"Hahaha mungkin itu biasa, kan kalian sering menggores luka seperti itu pada musuh kalian bahkan lebih parah lagi makanya kalian seperti tidak asing dengan luka itu!" ucap Jack mencairkan suasana yang terlihat tegang untuk beberapa saat tadi.


"Haha, aku rasa bisa jadi seperti itu!" ucap Arul tergelak.


Aku rasa ada sesuatu yang aneh disini! batin Tomi penuh selidik.


********


Darel masih diam saja didalam mobil sampai akhirnya mereka tiba di butik yang dimaksud Darel.


"Kok kesini?" tanya Mentari.


"Berisik!" jawab Darel sambil berlalu meninggalkan Mentari yang masih berdiri diluar.


Mau tidak mau Mentari pun ikut langkah kaki Darel memasuki butik itu.


"Selamat siang tuan Darel!" sapa karyawan disana.


"Pilihkan gaun yang indah untuknya!" ucap Darel menunjuk kearah Mentari.


Karyawan yang berjumlah 3 orang itupun melihat dengan serempak arah yang ditunjuk Darel dan melihat wanita berdiri dibelakangnya.


Wanita yang cantik, tapi pakaiannya sepertinya bukan dari kalangan atas, bagaimana dia bisa mengenal tuan Darel? batin salah satu karyawan.


Mentari mengikuti arah langkah kaki karyawan itu hingga sampai ditempat dimana terdapat banyak sekali baju wanita bermerek.


Oh astaga, bahkan satu baju disini bisa untuk membeli sebuah motor terbaru! batin Mentari tercengang dengan harga pakaian yang menurutnya selangit itu.


Darel sudah lama menunggu, hampir satu jam lamanya namun Mentari ataupun karyawan itu tidak kunjung datang. Akhirnya Darel memutuskan untuk menyusul dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini, kenapa lama sekali?" tanya Darel setelah menghampiri mereka.


"M...maaf tuan, tapi nona ini tidak menyukai satu gaun pun disini!" ucap wanita yang tadi membawa Mentari ketempat itu.


Darel mengerti sifat Mentari, dia pasti tidak suka karena harga yang terbilang fantastis itu tertera disetiap baju disana.


Dasar wanita aneh, jika wanita lain yang aku bawa kesini pasti akan dengan senang hati memborong sebanyak mungkin. Tapi lihat saja dia! dia bahkan menolak semua gaun yang ada disini hanya karena harganya yang tidak mahal itu. batin Darel terkekeh.


"Kau, kesini!" panggil Darel pada wanita berambut sebahu tadi.


"Ambil yang ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, dan ini. Cepat bungkus dan bayar pakai ini!" ucap Darel memberikan kartu tanpa limit miliknya.


Mentari melihat gaun-gaun yang dipilih Darel tadi. Darel mengambilnya tanpa melihat dulu harganya membuat Mentari menelan ludahnya.


Apa dia sudah tidak waras? harga satu gaun saja sudah sangat mahal dan dia....dia malah membeli gaun itu tanpa melihat dulu harganya! dasar!! umpat Mentari dalam hati.

__ADS_1


Darel dan Mentari keluar dari butik itu dengan santai sedangkan paper bag tadi dibawa oleh Adi dan Harri.


Barang sebanyak ini hanya untuk satu orang saja? memang beda ya sultan kalau lagi belanja, suka nggak tau harga! batin Harri sedikit iri.


Darel dan Mentari langsung duduk dikursi belakang, sedangkan Adi dan Harri meletakkan belanjaan Mentari ke bagasi mobil.


"Kita mau kemana lagi tuan?" tanya Harri setelah duduk dikursi belakang kemudi.


"Kita ke toko sepatu Mataram dulu!" jawab Darel datar.


"Toko sepatu? buat apa?" tanya Mentari penasaran.


"Kau tidak mungkin bertemu mitra kerjamu dengan flat shoes itu!" ucap Darel menunjuk pada flat shoes yang dipakai Mentari.


Mentari memang lebih sering memakai sepatu terlebih lagi flat shoes seperti yang dia kenakan hari ini karena baginya itu lebih nyaman daripada memakai high heels seperti wanita lain meskipun dia bisa memakainya.


"Loh, kenapa? kan yang penting aku pakai alas kaki!" ucap Mentari polos.


"Kamu nih ngerti fashion nggak sih? gaun yang baru kamu beli itu akan terlihat lebih bagus lagi kalau pakai heels!" ucap Darel sedikit emosi menjelaskan hal itu pada Mentari.


"Iya-iya nggak usah marah-marah juga napa! sewot amat!" maki Mentari sambil memanyunkan bibirnya.


"Terserahlah!" ucap Darel.


Dia sangat menggemaskan kalau lagi ngambek gini! batin Darel.


Tanpa sadar Darel tersenyum namun secepatnya dia menutupi senyumnya itu, menata dirinya dan bersikap seperti biasa, cool dan berkharisma.


Adi dan Harri hanya tersenyum dengan tingkah kedua orang dikursi belakang itu.


Mereka sangat menggemaskan kalau lagi bersama gini, hehehehe! batin Harri.


Benar-benar seperti kucing dan tikus! batin Adi.


Mobil melaju dijalanan yang ramai menuju toko selanjutnya. Hari sudah semakin siang dan matahari semakin bersinar dengan teriknya.


*


*


*


*


*


Hallo para reader, jangan lupa dukung terus novel SUAMIKU Mr. MAFIA ya😉 semakin banyak dukungan kalian semakin meningkat semangat aku buat up terus ceritanya😊

__ADS_1


__ADS_2