
Darel sudah tiba di rumah sakit begitu juga Zanu yang sudah dia hubungi saat menuju ke rumah sakit tadi.
"Gimana kabar istriku?! kenapa dia bisa pingsan?" tanya Zanu.
Terlihat jelas Zanu begitu menghawatirkan istrinya itu.
"Aku juga nggak tau! tiba-tiba Nurul menelepon kalau Daniar tiba-tiba pingsan di depan kamar mandi dan aku langsung menghubungi mu." ucap Darel.
"Padahal tadi pagi aku sudah bilang kalau ijin saja dulu! dari tadi pagi dia muntah-muntah terus loh." ucap Zanu.
Zanu merasa tidak bisa menjaga Daniar, meskipun itu bukan kesalahannya.
"Sayangg!! Niar....gimana keadaan Niar?" tanya Mentari yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Masih diperiksa! kita tunggu saja ya!" ucap Darel menenangkan Mentari.
"Zanu, harusnya kamu jangan biarkan Daniar bekerja dong kalau dia sakit!" ucap Mentari.
"Sayang jangan marahi Zanu! Daniar yang memaksa untuk tetap bekerja! Zanu sudah meminta Daniar untuk ijin tapi Daniar yang tidak mau!" ucap Darel.
"Tapi kan Daniar memang keras kepala orangnya!"
"Tari benar! harusnya aku bisa lebih kekeh untuk meminta Daniar istirahat dirumah saja tadi! maafkan aku Tari!" ucap Zanu sendu.
"Kau tidak salah, Zanu! Sayang, kondisi Daniar yang seperti ini juga sangat menyakitkan untuk dia! dia ini suaminya loh, kalau kamu seperti itu dia bisa sedih nanti. Tanpa kamu marahi pun Zanu sudah sangat menyesal kok!" ucap Darel memberi penjelasan.
"Tapi...."
Ceklekk....
"Gimana kabar istriku?! dia baik-baik saja kan?" tanya Zanu.
Begitu melihat pintu terbuka, Zanu langsung mendekat ke arah Bagas dan Angel.
"Emm semuanya baik-baik saja kok tuan Zanu! tapi sepertinya bukan ahli kami untuk menangani kasusnya Daniar ini!" ucap Angel sembari tersenyum penuh arti.
"Apa?! kalian kan dokter masa tidak bisa menangani istriku sih?!" ucap Zanu.
"Angel, emang Daniar sakit apa sampai-sampai kalian tidak mampu menanganinya?" tanya Mentari mulai berlinang air mata.
Mentari pikir Daniar sakit parah hingga dokter handal seperti Bagas sampai tidak sanggup mengatasinya.
"Dia tidak sakit kok!" ucap Bagas menatap Angel dengan tatapan penuh arti.
"Maksud kalian apa sih? jangan bertele-tele dong!!! aku cemas beneran iniii!! istriku kenapaaa?" tanya Zanu frustasi.
__ADS_1
"Iyaa, dia tidak sedang sakit yang parah! dia tengah mengandung, selamat ya Zanu kau akan menjadi seorang ayah!!!" ucap Bagas langsung memeluk Zanu.
Zanu, Darel dan Mentari melongo berusaha mencerna kata-kata Bagas barusan.
"Ayah?! aku....akan jadi....seorang ayah??" tanya Zanu linglung.
"Iyaa, sana temui istrimu! aku akan meminta dokter kandungan untuk memeriksanya agar kita tahu pasti usia kandungannya!" ucap Bagas.
"Hahahha....aku akan jadi ayahhh!!! Dwii, aku akan jadi ayahhh!!!!" teriak Zanu kegirangan.
"Woi!!! ini rumah sakit!!!" bentak Bagas.
"Oh iya maaf!" ucap Zanu memelankan suaranya.
Zanu begitu senang hingga dia tidak sabar untuk bertemu dengan Daniar dan memberitahu kabar bahagia ini.
Disisi lain, Darel merangkul Mentari. Darel tahu Mentari sangat ingin hamil lagi setelah keguguran waktu itu.
"Jangan bersedih! kita bisa berusaha lebih keras lagi yaa! seharusnya kamu senang dong, kan sahabat kamu akan jadi seorang ibu! nantinya anak Daniar kan juga seperti anakmu sendiri!" hibur Darel.
"Ah, kamu benar!" ucap Mentari mengusap air matanya.
"Aku harusnya bahagia kan karena Niar kan jadi seorang ibu! aku mau beli hadiah dulu buat Daniar " ucap Mentari.
"Itu baru istriku!" ucap Darel.
"B...baik tuan! mari nona!"
Mereka berdua keluar dari rumah sakit untuk membeli hadiah buat Daniar. Darel hanya tersenyum melihat kepergian sang istri yang nampak bahagia itu.
********
"Niar!" panggil Mentari sambil memasuki ruangan Daniar.
"Tari?! sini...sini!!!" ajak Daniar menunjuk tempat kosong di samping tempat tidurnya.
"Ini aku bawakan hadiah untukmu! selamat ya atas kehamilanmu! Zanu, jaga baik-baik sahabatku dan calon keponakanku ini!" ucap Mentari yang telah duduk di samping Daniar.
"Ah, Tari kau bisa saja! Hah.....ini, ini beneran untukku? ini pasti mahal kan? aku tidak bisa menerimanya!" ucap Daniar tatkala melihat hadiah yang dibawa oleh Mentari.
"Tidak! ini bukan mahal sekali kok! kau pantas menerimanya! kalung ini begitu indah, sangat cocok untukmu! ambilah, kalau tidak nanti aku akan sedih!" ucap Mentari menunjukkan wajah sedih.
"Baiklah-baiklah, aku akan menyimpannya! terimakasih sekali lagi! kau memang sahabatku yang terrrbaikkk!!!" ucap Daniar memeluk Mentari.
"Oh ya apa kata dokter kandungan tadi?" tanya Mentari penasaran.
__ADS_1
Yah saat Mentari baru tiba setelah membeli hadiah tadi Darel bilang bahwa Daniar sudah diperiksa oleh dokter kandungan. Mentari menjadi tidak sabar menanyakan hal membahagiakan ini.
"Janinnya sudah berumur dua minggu! waktu pernikahan kami itu aku tengah berada dalam masa subur sehingga bisa cepat hamil!" ucap Daniar singkat.
"Wahhh, kamu harus jaga diri baik-baik yaa! jangan makan makanan yang terlalu pedas loh, kamu kan suka makanan yang pedas! aku cari di website tadi wanita hamil tidak bagus makan makanan yang terlalu pedas." ucap Mentari.
Tadi Mentari sempat searching tantang ibu hamil agar dia bisa siaga jika sahabatnya itu membutuhkan sesuatu sehingga dia bisa menjaga Daniar.
"Terimakasih Tari! kau sangat baik!" ucap Daniar terharu.
"Oh ya, Daniar sudah boleh pulang, bagaimana kalau kita adakan makan malam kecil-kecilan dirumah mama?" tanya Zanu.
"Boleh juga! ide yang bagus!" ucap Daniar dan Mentari bersamaan.
"Kita undang juga yang lain, bagaimana?" tanya Darel yang tiba-tiba masuk.
"Tentu saja!" ucap Zanu.
********
Menjelang makan siang, Darel, Mentari, Daniar, dan Zanu baru tiba di rumah orang tua Daniar. Disana sudah ada Tomi, Arul, Jo dan pasangan masing-masing. Untuk Bagas dan Angel mereka akan menyusul nanti karena masih banyak pasien yang harus mereka tangani.
"Ya Allah, Niar! selamat ya nak! akhirnya kamu hamil juga! mama sudah punya firasat tadi saat kamu mual-mual dan ternyata firasat mama benar!" ucap mama Daniar yang langsung berjalan mendekati Daniar lalu memeluknya.
"Oh ya, Tari kamu belum ada tanda-tanda?" tanya mama Daniar setelah melepaskan pelukannya.
"Belum ma." jawab Mentari sambil menunduk.
Darel menggenggam tangan istrinya bermaksud menguatkan Mentari. Nyatanya banyak hal yang bisa membuat mental seorang wanita itu menjadi lemah. Misalnya bentuk badan, Warna kulit, rambut, dan lain-lain. Salah satunya adalah kehamilan. Bagi wanita yang sudah menikah, kehamilan ini menjadi sangat sensitif dan bisa membuat seseorang menjadi stress. Misalnya, jika ada yang hamil tidak sesuai dengan tanggal pernikahan maka akan dibilang anak hasil hubungan terlarang. Padahal untuk menghitung umur bayi bukan dimulai dari tanggal mereka menikah melainkan HPHT atau Hari Pertama Haid Terakhir. Atau jika sudah bertahun-tahun belum juga dikaruniai anak maka akan dibilang mandul. Begitulah mulut jahat tetangga, tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Asal ada topik pembicaraan, meskipun itu tidak benar juga tetap dibicarakan.
"Tidak usah bersedih, mungkin belum rejeki! tetap ikhtiar saja dan serahkan semuanya pada yang diatas!" ucap mama Daniar.
"Iya ma!"
"Oh ya ma, kami mau adain acara kecil-kecilan untuk menyambut hari bahagia ini, boleh?" tanya Zanu.
"Tentu saja boleh! asal jangan sampai Daniar kecapekan yaa!" ucap mama Daniar.
"Siappp!" ucap Zanu dengan gaya hormat.
Mereka mulai menyiapkan berbagai masakan untuk acara sederhana itu. Tidak lupa juga keluarga Darel diundang dalam acara tersebut. Yah, perayaan kecil-kecilan. Tadi Tomi dan Shiren berada di rumah Jo maka dari itu Jo ikut serta. Seperti biasa sepanjang persiapan terlihat Jo dan Tomi terus saja beradu argumen dalam hal apapun itu sampai membuat Shiren jengah kepada kedua pria itu.
"Mereka kenapa sih?" tanya Anisa sambil membuat bumbu untuk dijadikan olahan rendang.
"Biarkan saja lah mereka! pusing aku! tiap ketemu adaaa aja yang diributin!" ucap Shiren yang memotong daging sapi.
__ADS_1
"Hahahaha, lucu yaa! kan jadi seru!" ucap Anisa tertawa.
"Iya sih; tapi kalau keseringan pusing juga liatnya! mana ujung-ujungnya pada ngadu sama aku, aku kan jadi bingung mau memihak ke siapa! kalau memihak kakakku, pacarku yang ngambek, kalau memihak pacarku, kakakku yang ngambek!! duhhh pusing deh pokoknya!" ucap Shiren curhat.