Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 9


__ADS_3

"Sekarang anda istirahat saja dulu,nona!" ucap Angel.


Mentari mengikuti perintah Angel, dia juga tidak betah lama-lama dirumah sakit.


Tidak butuh waktu lama, Mentari akhirnya memejamkan matanya.


"Kalian pulanglah, biar saya dan Angel yang menjaganya disini!" ucap Bagas pada Daniar dan Laila.


"Tidak, aku akan menemani dia disini!" ucap Daniar keras kepala.


"Aku juga!" tambah Laila.


"Tidak, La. kau harus pulang. Jam kerjamu kan sudah habis 1 jam yang lalu! kau pulanglah biar aku yang menjaganya disini!" jelas Daniar.


Laila melihat jam diponselnya menunjukkan pukul 18.00, dia pun akhirnya pulang, membiarkan Daniar dan Bagas menjaga Mentari, sedangkan Angel juga ikut pamit karena ada hal penting yang harus dia lakukan.


"Jadi, apa kau mau aku bawakan kopi?" ucap Bagas membuka obrolan.


"Emm, aku tidak suka kopi." jawab Daniar singkat.


Dia masih menatap sahabatnya yang tengah tertidur pulas.


"Apa kalian sudah bersahabat sejak lama?" tanya Bagas.


"Iya! dia satu-satunya sahabatku." masih menatap Mentari.


"Bagaimana kalian bertemu?" tanya Bagas penasaran.


"Awalnya aku tidak sengaja bertemu dengannya. Wajahnya terlihat kusam, dekil, dan ketakutan." berusaha mengingat kejadian masalalu.


"Ketakutan? kenapa?" tanya Bagas lagi.


"Aku juga tidak tahu, setiap kali aku menanyakan hal itu dia selalu diam, kadang matanya berkaca-kaca, atau mengalihkan pembicaraan. Aku tidak keberatan dia tidak membaginya denganku, hanya saja aku akan berusaha ada disampingnya. Itu janjiku saat bertemu dengannya." menatap langit-langit sambil tersenyum.


"Apa kau tidak tahu darimana Mentari? maksudku tempat tinggalnya sebelum bertemu denganmu?"


Pertanyaan Bagas membuat Daniar refleks menatap kearahnya. Untuk beberapa saat mereka saling menghadap, dan kemudian Daniar kembali menatap Mentari.


"Aku akan tahu kalau dia sudah siap bercerita tentang masa lalunya, sebelum itu aku tidak akan menanyakannya." jawabnya singkat.


"Bagaimana jika masalalunya itu sangat menyedihkan? tidak mungkin kan dia akan membaginya denganmu?" kata Bagas lagi.


Benar juga yang dikatakan dokter ini. Bagaimana kalau Mentari mengalami kekerasan sebelumnya, atau jangan-jangan dia dulu dikejar orang jahat, makanya dia ketakutan! batin Daniar.


"Hei, hallo? Nona Daniar?!" melambaikan tangannya didepan wajah Daniar.


"Nona Daniar... nona!!" sedikit berteriak.


"Eh, ada apa?" Daniar terkejut.

__ADS_1


"Ada apa? anda tadi melamunkan apa? sampai saya panggil nona tidak dengar?" ucap Bagas pura-pura marah.


"Oh, maaf. Kamu panggil saya apa tadi?" tanya Daniar yang mendengar kata tidak enak ditelinganya.


"Anda?"


"Bukan, yang lain!"


"Nona Daniar?" mengerutkan dahinya.


"Ya, kenapa kamu panggil aku dengan sebutan nona?" tanya Daniar.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Bagas lagi.


Apa aku harus memanggilmu sayang? hehehehe.


"Panggil saja nama ku, Daniar. Bisa?" tersenyum.


"Baiklah aku akan memanggilmu Daniar. Emm sebaiknya kita beli makanan saja dulu nanti kita bawakan untuk nona Mentari kalau dia bangun." melihat jam ditangannya menunjukkan hampir jam 7 malam.


"Boleh juga! aku juga sudah sangat lapar?" ucap Daniar setuju.


Mereka pun keluar rumah sakit membeli makanan.


********


Sementara itu, dirumah utama, tuan dan nyonya Ardi sedang makan malam.


"Ma, kalau makan itu jangan dibuat main gitu dong!" ucap tuan Ardi.


"Pa, apa tidak sebaiknya kita membatalkan rencana kita menikahkan Darel? dia terlihat sangat marah tadi." masih memikirkan peristiwa siang tadi.


"Ma, mama kan tau sifat Darel. Biarkan dia menyendiri dulu untuk beberapa saat. Papa yakin kok dia bakal mau. Dia itu anak kebanggaan papa." ucap yakin tuan Ardi.


Mata tuan Ardi melihat kearah pak Joni. Dia bersama seseorang sedang menatap khawatir kearah mereka.


"Ma, mama makan saja dulu, papa ada urusan!" ucap tuan Ardi.


"Hemm, iya pa!"


Tuan Ardi melirik kearah pak Joni dan orang itu lalu melirik kearah ruang kerjanya.


Pak Joni dan rekannya itu paham, mereka langsung menyusul tuan Ardi memasuki ruang kerjanya.


"Ada apa?" tanya tuan Ardi setalah memasuki ruang kerjanya dan duduk di kursi kebanggaannya.


"Tuan, kelompok Drago Mark sudah terdeteksi melakukan kegiatan ilegal. Banyak anak buah kita yang berkhianat dan memilih kelompok itu. Saya khawatir bukan hanya anak buah kita saja yang telah berkhianat!" ucap Merish, salah satu tangan kanan tuan Ardi.


"Maksud mu, anak buah Darel juga kemungkinan ada yang berkhianat?" tanya tuan Ardi serius.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan anak buah kita yang sudah berkhianat? apa kalian sudah mengurusnya?" tanyanya lagi.


"Benar tuan, kemungkinan besar ada beberapa kelompok dari tuan muda Darel yang berkhianat. Untuk anak buah kita yang berkhianat ada hampir tiga ratus orang tuan, dan mereka semua sudah diurus oleh anak buahku dan Joni." ucap Merish yakin.


"Hem, baiklah."


"Tuan, apa tuan tidak ingin memperingatkan tuan muda Darel agar berhati-hati dengan anak buahnya?" tanya pak Joni.


"Hahahaha, apa kau lupa siapa dia, Joni? dia anak ku! anak tuan Ardi, mantan mafia terhebat dimasanya! dia pasti sudah tahu hal ini, tapi dia diam dan menyelidikinya lebih dalam. Yah, seperti sifatku, keras kepala, brutal, dan mengerjakan pekerjaan dengan rapi." ucap tuan Ardi membayangkan sifat anaknya yang turun darinya itu.


"Hahahaha, kau benar tuan! hampir saya bahkan tidak pernah lupa ketika dia masih berumur 8 tahun, dia dengan brutalnya menghukum anak buahku yang ketahuan berkhianat dengan memotong jari-jari tangannya dan menggores wajahnya dibagian kiri." mengingat kejadian dulu.


"Kau benar, jika seorang anak kecil bisa se-brutal itu, maka dia bisa lebih buas ketika dewasa!" ucap tuan Ardi bangga.


"Setelah kejadian itu, kita tidak mengetahui lagi keberadaanya, seperti hilang ditelan Bumi!" ucap pak Joni.


Mereka pun tertawa bersama mengingat bagaimana brutalnya Darel kecil hingga dewasa.


********


Pagi itu, Darel mengerjapkan matanya, melihat sekeliling. Kepalanya sangat pusing akibat terlalu banyak minum bir.


"Emmm, dimana aku?" berusaha untuk berdiri.


"Hei, kau diam disitu!" ucap seseorang sambil membawa air jeruk lemon.


"Kau, kenapa kau ada disini?" bertanya pada Arul. Ya orang itu adalah Arul.


"Haih, ini kan bar ku, ya suka-suka aku lah mau pulang atau tidak. Dan lagipula aku tidak tega meninggalkanmu disini sendirian." ucapnya memberi air lemon pada Darel.


Darel menghabiskan minuman itu dalam sekali teguk.


"Dimana Harri dan Adi? apa mereka tidak kemari?" tanya Darel lagi.


"Semalam mereka menyusul kemari, tapi aku menyuruhnya pulang setelah membawamu kekamar ini." mengambil gelas kosong dari tangan Darel.


"Kau bersihkan dulu tubuhmu itu, bau alkohol. Kalau sudah, pergi kebawah aku menunggumu untuk sarapan." berlalu pergi.


Darel mulai mengingat alasan dia datang kemari dan mabuk alkohol.


Aku tidak ingin dijodohkan dengan orang asing, meskipun dia anak dari teman papa. Aku hanya mencintai Tia. Tia....dimana kau sekarang, aku sangat merindukanmu.


Tidak terasa air mata jatuh ke pipinya.


********


Kenapa aku menangis? batin Mentari bingung.


Mentari mengeluarkan kalung cangkang kerang dengan beberapa manik-manik berwarna-warni dari balik bajunya.

__ADS_1


Kalung yang selalu melingkar dilehernya. Kalung pemberian seseorang yang pernah ada dimasalalunya.


Aku kemari karena mendapat kabar kau dan keluargamu pindah kemari. Tapi sampai sekarang aku belum menemukan mu, bahkan jejakmu pun tidak aku temukan! Mentari sedih.


__ADS_2