Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 252


__ADS_3

Setelah makan malam, kini mereka semua tengah duduk-duduk di teras rumah Daniar. Disana sudah tergelar tikar besar yang cukup untuk menampung semua orang. Tuan Ardi berbincang-bincang dengan papa Daniar, nyonya Ardi berbincang-bincang dengan mama Daniar. Para tuan muda bercengkrama dan para wanita asik bergosip.


Tokk...tok....tok...


Terdengar bunyi kentongan di pukul.


"Sateee....sateeee....sate ayammmm..." teriak seorang pedagang sate keliling.


"Kamu mau?" tanya Zanu yang melihat mata Daniar berbinar ketika melihat gerobak sate.


"Mau...mau!!!" ucap Daniar bersemangat.


"Loh, Niar, kamu kan nggak terlalu suka sate?" tanya Mentari.


"Iya sih, tapi aku pengen banget makan sate!" ucap Daniar.


"Bang!!!" teriak Zanu sambil melambai-lambaikan tangannya di atas memanggil tukang sate keliling itu.


"Alhamdulillah, semoga laris manisss!!" ucap pedagang sate sambil mendorong gerobaknya memasuki halaman rumah Daniar.


"Ya, mas? mau berapa tusuk?" tanya abang-abang penjual sate.


"Kamu mau berapa?" tanya Zanu.


"Dua puluh!" ucap Daniar.


"Dua puluh ya bang, nggak usah pedes!" ucap Zanu.


"Pedes!" ucap Daniar.


"Jangan pedes! kasian dedeknya nanti!" ucap Zanu.


"Tapi aku mau pedess!!" ucap Daniar yang sudah ingin menangis.


"Nggak usah yaa! kamu kan tadi udah makan pedes, masa makan pedes lagii?"


"Aaa, tapi aku mau pedesss!!" ucap Daniar.


"Yaudah, bang dikit aja yaa! dikitttt...aja!" ucap Zanu.


"Baik mas!" ucap abang-abang penjual sate.


"Kamu mau juga sayang?" tanya Darel.


"Boleh!" ucap Mentari.


"Bang, dia puluh juga yaa! yang pedes!" ucap Darel yang tahu persis kesukaan Mentari.

__ADS_1


"Tuhh, Tari aja boleh kok makan pedess!!!" ucap Daniar protes.


"Kan dia belum hamil sayang, nanti kalau Tari hamil juga nggak bakal boleh makan pedes sama Darel! nurut yaa!" ucap Zanu berusaha sabar.


"Aku pengen makan pedes....makan pedess..." ucap Daniar menangis.


"Ehh...cup...cup...sayangg! jangan nangis yaa! kamu mau apa hem?" tanya Zanu menghibur istrinya.


"Mau sate pedes juga kayak Tari!" ucap Daniar berhenti menangis sambil menunjuk gerobak sate.


"Emm, bang saya nggak jadi pedes yaa! Niar aku nggak pedes loh, kamu juga harus nggak pedes!" ucap Mentari.


"Ihhhh, Tari kamu curang!!" ucap Daniar.


"Hehehee, habis kamu nih keras kepala. Makanya harus kayak gini biar kamu nggak makan pedes!" ucap Mentari tertawa.


"Tuh, Tari udah nggak pedes! kamu juga yaa!" ucap Zanu.


"Yaudah iyaaa!!" ucap Daniar terpaksa.


Mereka kembali menyantap seporsi sate ayam dengan bumbu kacang yang kental agak kehitaman.


"Berapa, bang semuanya!" ucap Zanu.


"Totalnya satu juta lima ratus ribu, mas!" ucap abang-abang penjual sate.


"Masyaalloh!! i....ini....ini beneran, mas?? ini....uang asli kan..." tanya abang-abang penjual sate terkejut sekaligus tidak percaya.


"Iya! sekalian minta doanya ya buat kesehatan istri dan calon anak saya!" ucap Zanu.


"Alhamdulillah ya Allah!! terimakasih tuan, nyonya! semoga kalian diberi rezeki yang berlimpah. Semoga istri dan anak tuan sehatz menjadi anak yang sholeh/Sholehah, berbakti pada orang tua, aminn!" ucap abang-abang penjual sate memanjatkan doanya.


"Amin...." ucap semoga orang mengaminkan doa penjual sate.


"Terimakasih sekali lagi tuan!" ucap abang-abang penjual sate sebelum keluar dari pekarangan rumah Daniar.


"Sama-sama!" ucap Zanu.


"Sebaiknya kita juga pulang! hari sudah malam, Daniar pasti juga capek. Apalagi orang hamil harus tidur yang cukup!" ucap Anisa setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Benar juga! om, tante kami pergi dulu yaa!" ucap Arul.


"Ma, pa, kamu pulang juga yaa!" ucap Mentari menjabat tangan mama dan papa Daniar.


Satu persatu mobil mewah itu keluar dari pekarangan rumah Daniar. Kini tinggalah mama, papa, Daniar, Zanu, dan Galih.


Galih awalnya ingin mengundang Candra untuk acara makan bersama ini, namun karena Candra bilang dia tengah sibuk dengan customer nya yang ada di Bali jadi dia tidak bisa ikut. Semenjak kejadian itu, Candra tidak lagi terlihat di Jakarta. Mungkin dia lebih memilih tinggal di Bali. Mungkin salah satu alasan Candra tidak ingin hadir adalah Mentari.

__ADS_1


********


Pagi kembali menyapa, Darel dan Mentari masih saja terlelap dengan tangan Darel yang melingkar di perut Mentari. Permainan semalam begitu panas bagi keduanya hingga terjadi selama beberapa jam dan banyak kali pelepasan. Darel melakukan itu agar Tari segera hamil. Semalam Mentari memang terlihat ceria dan penuh antusias, Namun Darel tahu. Di lubuk hati Mentari dia pasti sangat sedih. Memiliki seorang anak adalah dambaan semua wanita yang telah menikah. Apalagi pernikahan Darel dan Mentari terbilang sudah lama dari Daniar dan Zanu yang baru dua minggu menikah.


"Terimakasih untuk kemarin ya sayang! kau sangat kuat menyembunyikan rasa sedihmu!" ucap Darel yang telah bangun lebih dulu.


Darel menatap lekat wajah Mentari yang masih tertidur. Di usapnya wajah ayu itu dengan belaian lembut hingga seolah membawa Mentari untuk tetap berada di alam mimpinya.


Dert....dert....dert ...


"Hallo!" ucap Darel setelah mengangkat panggilan dari Rohan.


"Apa?! innalilahi wa innailaihi rojiun, bagaimana bisa? bukannya kabar kesehatannya sudah mulai membaik beberapa bulan ini? kenapa bisa seperti ini?" tanya Darel yang terkejut.


Mentari terbangun dari tidurnya saat Darel berteriak tadi. Matanya masih mengerjap berusaha mengumpulkan nyawa.


"Baik kami segera ke sana!" ucap Darel.


"Ada apa?" tanya Mentari masih dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya.


"Ne...nenek Iwang!"


"Hah, nenek Iwang kenapa?" tanya Mentari langsung membuka matanya lebar-lebar.


Rasa kantuknya sekarang sudah hilang sepenuhnya diganti dengan rasa khawatir.


"Nenek Iwang, meninggal dunia pagi tadi!" ucap Darel lirih.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun!" ucap Mentari terkejut sampai menutup mulutnya sendiri.


"Sayang ayo kita kesana! Iwang...kasian Iwang!" ucap Mentari kelabakan.


"Sayang tenang dulu!! hei, tenangg!! kita kesana sekarang yaa!! ayo bersiap dulu! kau tidak mungkin kesana dengan keadaan penuh cairan ini kann?" tanya Darel.


"Ya, kau benar! aku mandi dulu!" ucap Mentari.


Setelah bersiap Darel dan Mentari berangkat menuju rumah Iwang dimana rumah itu pemberian dari Darel.


Sesampainya disana, kaki Mentari seolah lemas melihat bendera kuning. Sudah banyak tetangga yang ikut melayat, bahkan sahabat Darel yang lain juga sudah berada disana termasuk Daniar dan Zanu. Mereka terlihat menitihkan air mata karena tidak kuasa melihat hal pilu ini.


"Kakakkkk!!!" teriak Iwang yang menyadari kehadiran Mentari.


Iwang yang saat itu tengah duduk di antara Bagas dan Angel langsung berlari ke arah Mentari dan memeluknya dengan erat.


"Kakak, nenek kak!!! nenek meninggalkan Iwang sendirian kakk!!! nenek jahat!!! nenek nggak sayang sama Iwangg!!" ucap Iwang disela tangisnya.


Mata Iwang sampai bengkak karena terlalu lama menangis. Bram, Laila, Harri, dan semua yang ada disana semakin menangis melihat anak kecil dengan garis hidup yang keras ini.

__ADS_1


__ADS_2