
Mentari tengah menunggu kedatangan Darel beberapa saat lagi. Dia sudah berdandan dengan sangat cantik hanya untuk menyambut Darel. Tadi waktu mengenakan pakaian ini, Menari sempat mengunggah story lewat aplikasi hijaunya dengan caption "Siap menunggu Mr. suami❤️😍🤩".
Baru saja terkirim, ibu mertuanya langsung mengomentari postingan Mentari dengan mengatakan bahwa Mentari terlihat sangat cantik dan mempesona mengenakan pakaian yang dia belikan. Nyonya Ardi juga mengirimkan pesan lain kali akan mengajak Mentari keluar untuk shoping dan jalan-jalan.
"Nona, tuan Darel sudah pulang!!" ucap salah satu penjaga.
"Darel sudah pulang?"
Mentari langsung berlari menemui Darel dengan penuh semangat. Dia berlari menuruni tangga tanpa alas kaki. Terlihat jelas bahwa Mentari tidak sabar menunjukkan baju barunya kepada sang suami.
"Sayang lihat aku...." terhenti.
Mentari mematung ditempat melihat siapa yang datang bersama suaminya.
"Dia...???" menunjuk pada wanita yang berada di gendongan Darel.
"Kita bicara nanti saja ya!" mengabaikan Mentari.
Darel langsung membawa Pretty yang tengah pingsan itu ke kamar tamu. Darel berjalan tanpa memperhatikan penampilan Mentari yang sudah berdandan cantik khusus untuknya.
"Tapi kan aku sudah berdandan secantik mungkin untuk menyambutmu!" ucap Mentari lirih.
Sedih, kecewa, cemburu membuat Mentari tidak bisa berkata apa-apa selain menitihkan air matanya. Adi yang mengetahui bahwa nonanya ini tengah kecewa menghampiri Mentari dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Jangan salah paham dulu nona! tadi tidak sengaja nona Pretty tidak sengaja terserempet mobil jadi tuan membawanya kesini untuk diobati!" jelas Adi.
"Iya, aku tahu kok!" ucap Mentari sendu.
Mentari berjalan dengan lesu menaiki tangga menuju kamarnya.
Ceklekkkk....
Pintu kamar dikunci dari dalam.
"Hikss...hiks....hiks....hikss!!!! kenapa kau melakukan ini padaku Darel?? apa salahku??" menangis.
Mentari langsung berjalan menuju cermin. Riasan yang tadinya dia persembahkan untuk Darel ternyata tidak ada apa-apanya sekarang. Dengan kasar Mentari menghapus make upnya diselingi air mata yang terus membanjiri pipinya.
Sementara dibawah, Darel merasa bahwa Pretty sengaja menabrakkan dirinya ke mobilnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Darel kepada Bagas.
"Em, bisa kita bicara berdua?" tanya Bagas.
Darel tanpa sepatah katapun pergi meninggalkan kamar tamu dan menuju ruang kerjanya.
"Kau sudah tahu semua ini kan? kenapa kau masih mengikuti permainannya?" tanya Bagas tidak mengerti.
Bagas tahu kalau Darel juga mengetahui ini adalah salah satu trik mudahan Pretty, namun yang membuat Bagas tidak habis pikir kenapa Darel bersandiwara seolah tidak mengetahui apa-apa.
"Heh, kau juga sudah tahu ternyata!" berdiri dari kursi kejayaannya.
__ADS_1
"Yah, aku memang sudah tahu semuanya!" tersenyum licik.
"Apa yang kau pikirkan sekarang?" tanya Bagas tidak mengerti.
"Menurutmu?!" balik bertanya.
"Oh ayolah! jangan bermain tebak-tebakan denganku, aku tidak mengerti!" kesal sendiri.
"Kau mengenalnya bukan? dengan dalih aku yang menabraknya maka dia akan memintaku untuk merawatnya sebagai pertanggungjawaban." berjalan menuju jendela.
"Dan disaat itu, akan aku buat dia menderita seumur hidup!!!" berbalik menatap Bagas yang tidak mengerti maksud Darel.
"Kau bawa obat yang aku minta?" tanya Darel mendekati sahabatnya itu.
"Ya aku bawa!" memberikannya kepada Darel.
"Mau kau apakan obat itu? itu bukan obat biasa Darel! apa kau akan memberikannya kepada Mentari? jika benar maka kembalikannn!!!! kembalikannn!!" merebut obat ditangan Darel.
"Hei! jaga ucapanmu itu ya!! mana mungkin aku memberikan obat yang membuat istriku tidak bisa hamil?! jangan ngaco kamu!" kesal.
"Lalu untuk siapa obat itu?"
Darel tidak menjawab dengan kata-kata melainkan hanya dengan senyum liciknya.
"Oooooooo, i know!!!" ucap Bagas mengerti.
"Aku akan memberikan dia obat ini setiap harinya. Dan secara tidak sadar, lama kelamaan dia akan kehilangan aset paling berharga sebagai seorang perempuan!" melempar-lemparkan botol obat itu ke udara.
"Lalu Mentari? dia tidak akan setuju! dan aku lihat dari tadi Mentari tidak ada disini!" menanyakan keberadaan Mentari.
"Yah, Mentari...." terdiam.
Darel teringat disaat dia pulang tadi, baju yang dikenakan Mentari belum pernah Darel melihatnya. Dan riasan di wajah Mentari tadi, Darel juga tidak pernah melihat Mentari merias wajahnya sedemikian rupa ketika dirumah.
"Oh ya Tuhan! celakaaa!!!" berlari keluar.
"Hei, ada apa? apanya yang celaka!!!!" teriak Bagas sembari mengejar Darel.
"Dimana Mentari?" tanya Darel ketika bertemu Adi dan Harri yang tengah mengobrol bersama Lukas.
"Nona naik ke atas tuan! sepertinya dia cemburu dan kecewa karena tuan mengacuhkannya tadi!" jawab Adi.
"Matii akuuu!!!" bergegas menaiki tangga.
"Ada apa dengan Darel itu?" tanya Bagas kepada Adi Harri dan Lukas.
"Yah biasa, rumah tangga tidak akan lengkap rasanya kalau tidak ada bumbu-bumbu kecemburuan didalamnya!" ucap Harri sembari tertawa.
"Kau ini bisa saja, hahahaha!" ucap Lukas sembari memukul pelan kepala Harri membuat Adi dan Bagas ikut tertawa.
Mereka tidak mengejar Darel dan membiarkan Darel membujuk Mentari.
__ADS_1
"Duh, bisa-bisanya nggak dikasih jatah nih nantiii!!!" khawatir Darel ketika berada didepan kamar.
"Mentari! sayang!!! buka pintunya honey!!" panggil Darel.
"Nggak! tidur aja diluar!" teriak Mentari dari dalam kamar.
Tidak kehabisan akal, Darel langsung meminta kunci cadangan yang dibawa oleh mbok Tini dan langsung membuka pintu kamar. Ketika pintu terbuka, terlihat Mentari yang tengah menangis terduduk disudut ruangan.
"Sayang!!!" hendak mendekati Mentari
"Jangan Mendekat!!!" perintah Mentari.
"Tapi aku kan..." terpotong.
"Tega sekali ya kamu sayang! aku sudah berdandan lama hanya untuk menyenangkan kamu, aku sudah memakai baju paling bagus dan kamu!!!! sedetik pun tidak memuji usahaku??!!!"
"Aku minta maaf, aku salah!!!" ucap Darel hendak melangkah.
"Stoppp! maaf? kamu tahu nggak?! jangankan memuji, melirik aku aja kamu nggak lakuin loh tadi!!!" meluapkan emosinya.
"Aku yang istri sah kamu, tapi kamu malah menggendong perempuan lain dan mengedepankan dia dari pada aku?!!! tega kamuu!!!" mencari-cari sesuatu.
"Pergi dari sini!! pergiii!!!!" melemparkan bantal dan guling kearah Darel.
"Tapi sayang dengerin aku dulu!!!" berusaha menghindar dari lemparan Mentari.
"Pergiiii!!! aku nggak mau lihat kamu, pergiiiiii!!!!!" teriak Mentari.
Dengan terpaksa Darel pun meninggalkan Mentari sendirian di kamar.
Setelah pintu tertutup, Darel mendengar suara tangisan Mentari.
"Duh gimana nih!!????" mondar-mandir didepan pintu.
"Kenapa, Rel?" tanya Bagas.
Bagas, Adi, Harri, dan Lukas memutuskan untuk menghampiri Darel.
"Dia marah!"
"Mungkin cemburu tuan! itu kan bagus, berarti nona benar-benar mencintai tuan!" celoteh Harri.
"Plak!!!! husttt...diamm!" ucap Adi setelah memukul kepala Harri.
"Bagus? bagus apanya? aku disuruh tidur diluar tau!!!!" kesal Darel.
Suasana langsung hening seketika namun tidak lama kemudian suara tawa terdengar dari Bagas, Lukas, Harri dan Adi.
"Hahahahaha!!! seumur-umur aku mengenalmu, baru kali ini ada yang mengusir seorang Darel Sanjaya dari kamarnya, hahahaha!!!!!' ucap Bagas tertawa hingga mengeluarkan air mata.
Begitu juga dengan Lukas, Adi, dan Harri yang tertawa hingga menangis tidak percaya kalau tuan mereka bisa terusir dari kamarnya sendiri.
__ADS_1