Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 93


__ADS_3

Kembali ke Indonesia....


Arul dengan telaten merawat Anisa. Dia menyuapi Anisa bubur ayam sebagai sarapan kemudian membantu Anisa meminum obat. Karena kondisi Anisa yang sempat drop, Arul menjadi tidak bisa meninggalkannya sendirian meskipun disana ada Bagas dan Angel yang selalu menemani Anisa.


"Apakah kamu tidak punya kepentingan lain?" tanya Anisa setelah meminum obatnya.


Arul meletakkan gelas berisi air keatas meja kemudian menatap Anisa dengan penuh kelembutan. Baru kali ini Anisa mendapatkan tatapan mata seperti ini dari Arul. Arul yang dulu dia kenal memang playboy dan jarang bersikap lembut apalagi kepada wanita. Namun Anisa tidak tahu kalau setelah kepergiannya, Arul menjadi seseorang yang berbeda. Dari Arul yang urakan dan playboy, kini berubah menjadi Arul yang dewasa dan bijaksana dalam berucap dan bertindak, meskipun sesekali dirinya bertingkah bak anak kecil.


"Apa kau mengusirku? tahukah kau betapa tersiksanya aku setelah kau pergi jauh dariku? sekarang aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk yang kedua kalinya dari ku!" ucap Arul penuh keyakinan.


Anisa merasa terharu, jika bisa mungkin saat ini dia akan melompat-lompat kegirangan. Cinta yang selama ini bertepuk sebelah tangan kini mulai membalik tangan dan menggenggam tangannya. Cinta pertama yang tidak bisa dia kubur kini mulai mendapatkan sinarnya kembali.


"B....bu...bukan begitu maksudku, aku hanya tidak mau kau meninggalkan pekerjaanmu karena aku itu saja." ucap Anisa dengan suara lirih.


Arul menghembuskan nafas kasar.


"Aku tahu kesalahanku yang dulu dan aku minta maaf akan hal itu.." terhenti.


Anisa deg-degan menanti kelanjutan kalimat Arul yang menggantung tersebut.


"Tapi aku ingin memperbaiki semuanya, memulai kembali semua dari nol, aku ingin membahagiakan mu untuk selama hidupku!" ucap Arul sambil menggenggam tangan lembut Anisa.


Mata Anisa berkaca-kaca, terharu dan senang menjadi satu didalam hatinya. Dia pun memeluk Arul dengan sangat erat dalam keadaan tubuhnya yang masih sedikit lemah. Arul menerima pelukan Anisa dengan senang hati. Mereka pun saling berpelukan cukup lama hingga Bagas dan Angel datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.


"Sebaiknya kau keluar dulu biar Anisa beristirahat." ucap Bagas setelah melakukan pemeriksaan.


Arul menganggukkan kepalanya. Saat Arul hendak pergi Anisa meraih tangan Arul.


"Bisakah kau menemaniku?" tanya Anisa dengan suara lemah.


"Tentu saja!" ucap Arul tersenyum manis.


Arul kembali duduk dikursi samping ranjang Anisa. Bagas yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya kemudian mengajak Angel untuk keluar dari ruangan.


"Gas?" panggil Angel setelah keluar dari ruangan Anisa.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bagas yang berbalik menatap Angel.


Kini posisi Bagas berada didepan Angel. Angel dengan sedikit ragu ingin mengatakan sesuatu.


"Apa tidak bisa kita melakukan operasi padanya?" tanya Angel.


Tidak bisa dipungkiri bahwa Bagas juga menginginkan kesembuhan sahabat kecilnya ini. Namun dia tahu benar meskipun dioperasi sangat kecil kemungkinan untuk Anisa bisa selamat.


"Aku tidak tahu." ucap Bagas lesu.


"Aku tahu!" ucap seseorang yang baru saja datang.


Angel dan Bagas menoleh kearah sumber suara kemudian saling pandang satu sama lain.


********


Disisi lain Darel, Mentari, Ferry dan sang istri sudah berada dimeja makan. Mereka makan dengan sangat tenang, tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Setelah selesai mereka pun menuju ruang tamu sambil ditemani potongan buah segar sebagai camilannya.


"Emm, nona Frishi berapa usia kandungan anda sekarang?" tanya Mentari yang berusaha menghilangkan ketegangan diantara mereka.


Wajah ceria langsung terpancar dari ibu muda ini. Benar-benar diluar dugaannya selama ini, Mentari yang diceritakan suaminya dengan yang ada dihadapannya sangatlah berbeda. Mentari yang dia kira sombong, angkuh, dan sangat elegan karena menikah dengan anak triliuner. Namun Mentari yang dia lihat sekarang adalah Mentari yang sangat sopan, ceria, ramah bahkan dia sangat sopan memanggilnya dengan nona padahal dia adalah istri dari bawahan suaminya dan tidak semestinya Mentari memanggilnya dengan sebutan nona.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan sebutan ku tadi?" tanya Mentari.


"Tidak-tidak nona, hanya saja saya ini kan istri bawahan suami anda dan berarti saya bawahan Anda juga jadi tidak pantas rasanya seorang bawahan dipanggil dengan sebutan itu" jelas Frishi.


"Aku tidak pernah membeda-bedakan orang, dan aku yang ingin memanggilmu dengan sebutan itu jadi kau mau tidak mau harus mendengarnya." ucap Mentari tersenyum ramah.


"Tapi nona, saya merasa tidak pantas saja dipanggil seperti itu oleh anda." ucap Frishi.


"Hemm, baiklah kalau begitu aku memanggilmu dengan sebutan kakak saja bagaimana? aku tidak menerima penolakan untuk yang ini!" ucap Mentari sambil bercanda.


"Hahah, baiklah nona sesuai keinginan anda saja." ucap Frishi yang akhirnya menyerah.


Darel dan Ferry yang melihat hal itu hanya menghela nafas kasar. Mereka bergumul dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Tuan dan nyonya yang keras kepala, pasti akan sangat menyenangkan bisa melihat mereka saat adu keras kepala seperti itu, hehehe! sifat mereka hampir sama, apa mereka benar-benar jodoh yang dikirim Tuhan? batin Ferry.


Dasar wanita bodoh, dia bisa saja menundukkan semua orang dan mengangkat dirinya sendiri ke langit tapi dia memilih membaur dan menyetarakan dirinya dengan yang lain! dia benar-benar berbeda dari yang lain! batin Darel yang tanpa sadar tersenyum sambil menatap kearah Mentari.


"Oh, iya kak, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, berapa usia kandunganmu sekarang?" tanya Mentari mengulang pertanyaannya.


"Ah, baru menginjak 5 bulan. Emm, nona bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Frishi agak takut.


"Tentu saja, apa sih yang enggak buat ibu hamil?" ucap Mentari.


"Bolehkah saya memeluk anda? saya sangat ingin sekali memeluk anda." ucap Frishi memohon.


"Kau jangan kelewatan ya? kau tahu kan siapa dia ini? dia itu nona Mentari Sanjaya istri tuan Darel Sanjaya!" bentak Ferry yang tidak ingin istrinya membuat masalah.


Frishi langsung tertunduk. Pupus sudah harapannya untuk memeluk nona yang dia agungkan itu.


Darel masih tetap diam tidak bergeming. Tanpa diduga Mentari langsung meraih tubuh Frishi dan memeluknya. Hal itu spontan membuat semua orang terkejut termasuk Frishi.


Darel bangun dari duduknya dan menghampiri Mentari dan Frishi yang tengah berpelukan.


"T...tuan, saya mohon maafkan istri saya, dia...dia hanya sedang ngidam saja tuan. Saya akan memberikan penjelasan kepadanya nanti saya mohon tuan jangan apa-apakan istri saya!" ucap Ferry memelas.


Ferry berpikir Darel marah pada istrinya karena dengan lancang meminta sesuatu yang mustahil. Mentari dan Frishi juga ikut ketakutan saat melihat Darel tiba-tiba terbangun dari duduknya yang bisa mengartikan satu hal saja, dia sedang marah.


Apa dia marah karena aku memeluk kak Frishi? oh Tuhan maafkan aku kak Frishi, aku tidak bermaksud membawamu ke kendang singa yang kelaparan, maafkan aku! batin Mentari.


Tangan Mentari memegang tangan Frishi dengan kuat.


"Eh?" Mentari mendongakkan kepalanya keatas.


Darel mengusap pucuk kepalanya dengan sangat lembut membuat semua orang terkejut bahkan melongo melihat adegan itu.


Apa? benarkah itu tuan Darel? batin Ferry yang tidak percaya dengan penglihatannya.


Apa aku sedang bermimpi? dia tidak mungkin memperlakukan ku selembut ini bukan? hais Mentari sadarlah!! jangan bermimpi dengan mata terbuka!!! batin Mentari.

__ADS_1


Mentari terus menatap Darel yang masih mengusap pucuk kepalanya.


Rasa ini, kenapa aku merasakan hal aneh saat didekatnya? apa aku memang sudah jatuh cinta padanya? batin Darel.


__ADS_2