
Cerita Sebelumnya:
Eva memutuskan untuk tidak memikirkan kejadian buruk di pesta teh itu. Seiring waktu dia melupakan konfliknya dengan Denis, dan fokus dengan pekerjaan rumahnya.
Dia ingin melakukan percobaan sihir dengan kertas elemen. Sayangnya, asrama menjadi tempat yang tidak cocok untuk berlatih sihir. Karena Eva takut dia akan memulai kekacauan.
Lalu tersebarlah rumor bahwa di hutan barat, ada binatang sihir yang mengamuk. Tentu saja Eva tertarik. Dia segara menuju hutan itu dan menemukan bahwa tempat yang sudah hancur itu cocok untuknya berlatih sihir. Dia pun mulai melatih semua elemen yang dimilikinya dan membuat tempat itu menjadi lebih hancur.
Akhirnya para penduduk desa berdatangan karena keributan yang dibuat olehnya. Dan karena kejadian itu. Hutan barat disebut "hutan berbahaya" karena binatang sihir kelas tinggi mengamuk disana. Membuat hutan itu menyeramkan dan jarang dikunjungi penduduk.
***
Sudah tiga hari berlalu. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dari guru Wilson. Aku masih perlu menunggu tiga hari lagi sampai ujian. Lalu bisa lanjut ke pelajaran berikutnya. Haa~ ini sangat membosankan....
Aku berguling-guling di kasurku karena bosan. Aku tidak melakukan hal lain selain tidur di asrama. Walaupun beberapa kali aku mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku. Tetap saja aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk tidur! Aku sungguh iri saat melihat setiap hari teman-teman sekelasku berlatih dengan giat di lapangan.
Ternyata menjadi terlalu kuat itu menyusahkan~
"Kau benar-benar tidak berlatih?" tanya Vivian sambil menyusun beberapa buah buku di atas kasurnya. Kelihatannya dia fokus menggambar formasi sihir.
"Aku sudah berlatih" jawabku lelah sambil berbalik tiarap. Aku menompang daguku dengan telapak tangan.
Aku rajin meditasi dan belajar beberapa sihir baru. Tentu saja aku giat berlatih oke. Tapi tentu saja aku hanya menjawab ini di dalam hati.
"Ini membosankan~ Apa kau tidak bosan?" aku bertanya sambil mengerjap. Dia terlalu serius dengan untaian formasi itu. Gadis ini bahkan menghabiskan waktu di kasur lebih lama daripada aku!
Vivian menggeleng. "Aku dari dulu sangat penasaran dengan formasi sihir. Ayahku sangat hebat dalam formasi sihir. Waktu kecil aku sering bermain di ruang kerjanya dan..." Tiba-tiba dia menghentikan kalimatnya. Dan wajahnya langsung berubah sedih.
Sepersekian detik, Vivian mengingat kembali kenangan masa kecilnya bersama ayahnya, Marquis Zent. Dan kenangan itu sangat menyenangkan. Membuatnya selalu berpikir, kenapa hubungannya dengan ayahnya menjadi buruk seperti ini?
"Ayo jalan-jalan~" aku berusaha mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah sedihnya. "Ayo berbelanja. Selama aku masuk akademi, aku belum pernah pergi berbelanja. Akan sangat menyenangkan kalau kita pergi berdua!" ajakku antusias sambil menggoyang-goyangkan kakiku, senang.
"Aku tidak suka berbelanja" jawab Vivian .
Mendengar jawabannya, senyumku langsung menghilang dengan cepat dan wajahku berubah sedih.
Hah~ Vivian menghela napas.
"Baiklah. Aku akan menemanimu" katanya sambil menutup buku di depannya. Melihat wajah Eva yang begtu kecewa menggerakan hatinya dalam sekejap.
Mataku langsung berbinar saat mendengar jawabannya. "Aku ingin jalan-jalan ke pasar! Aku ingin membeli beberapa makanan ringan juga!" kataku antusias. "Apa kau punya empat rekomendasi untuk berbelanja?" tanyaku karena aku tahu Vivian lebih tahu mengenai ibu kota, karena dia sudah tinggal di sini waktu kecil.
"Hmmm....aku tahu beberapa tempat unik dan tempat dengan makanan terkenal" kata Vivian sambil berpikir.
TAP! Aku langsung dengan sigap berdiri.
"Apa lagi yang kau tunggu, ayo!!" kataku antusias sambil menarik tangannya.
"Ehhh?? Sekarang??"
Aku sama sekali tidak merespon pertanyaan Vivian dan SHUUU!! Membawanya terbang dengan cepat keluar dari asrama.
***
"Bagaimana?" tanya Vivian sambil mengamati ekspresi Eva. Dia membawa di salah satu toko baju terkenal. Baju yang dijual di toko ini memiliki design yang elegan dan mewah. Toko baju ini juga terkenal di kalangan bangsawan dan kekaisaran. Dan yang lebih penting, ini toko baju langganan yang mulia ratu!
Saat Vivian berjalan bersama para gadis bangsawan itu, mereka sangat senang berkunjung ke sini. Jadi dia mengira Eva, yang merupakan bangsawan peringkat tinggi, menyukai hal-hal seperti ini juga. Tapi dugaannya salah! Gadis di depannya tampak tidak senang dan ekspresinya cemberut.
"Ayo" kataku sambil berjalan keluar toko. Aku sama sekali tidak tertarik dengan toko baju! Apa tidak ada hal menarik lainnya seperti di Menara Sihir? Ahh...aku rindu Menara Sihir. Aku rindu kakek. Aku rindu master bodoh yang tidak pernah kulihat batang hidungnya selama ini.
"Kau tidak menyukainya"
Aku mengangguk. "Apa tidak ada toko yang menarik? Maksudku toko yang unik dan sejenisnya? Jujur saja aku kurang suka dengan barang mewah. Melihat kilauan-kilauan itu membuat mataku sakit" kataku cemberut.
Vivian sedikit tersentak mendengar jawabannya. Temannya ini sangat sulit! Dia bukan gadis bangsawan normal. Dia tidak menyukai hal-hal yang biasanya disukai gadis bangsawan. 'Jadi aku harus membawanya kemana?' pikir Vivian linglung. Dia mengetahui beberapa tempat terkenal di kalangan bangsawan. Toko baju, toko perhiasan, toko kosmetik, toko tas, dan toko jepit rambut. Dia juga tahu beberapa temat makan mewah dan enak. Tapi gadis ini tidak menyukai hal-hal seperti ini!
Note: kecuali makanan enak. Eva pasti akan menyukainya!
"Hum...." Vivian berusaha mengingat sambil menggembungkan pipinya. Dia memilah-milah ingatan dalam otaknya dan berpikir keras.
'Dia sangat imut' aku memekik dalam hati. Padahal dia memiliki fiur wajah gadis dewasa dengan mata tajam. Aku tidak mengira dia bisa seimut ini.
"AH! Aku tahu!" katanya kemudian. "Ayo" dia langsung menarik tangan Eva. "Aku yakin kau pasti suka tempat ini" dia berkata dengan percaya diri.
Vivian menarikku dan menuntunku melewati beberapa jalanan kecil. Lalu kami tiba disebuah toko yang sangat unik. Toko itu tidak terbuat dari bata seperti struktur bangunan yang ada di ibukota. Tapi terbuat dari batang-batang pohon. Dan aku melihat beberapa parasit merambat masih tergantung di dinding toko.
__ADS_1
'Hmmm...ini terasa nostalgia' Toko ini mengingatkanku pada toko nenek penyihir yang ada di Menara Sihir. Walaupun aura yang dihasilkan kedua toko itu berbeda. Toko ini sama sekali tidak memiliki aura gelap dan dipenuhi dengan aura kehidupan. Baunya juga enak. Seperti bau hutan.
Vivian mulai menarikku masuk.
Dan saat kami masuk, aku langsung disungguhkan dengan pemandangan menakjubkan.
"Ini...toko alat sihir...?" aku bergumam takjub. Aku melihat ada banyak rak. Dan di masing-masing rak terpajang beberapa item yang beraneka ragam. Ada rak khusus buku mantra. Rak khusus alat sihir. Rak khusus makanan dan ramuan sihir. Ini semua mirip dengan yang ada di Menara Sihir. Walaupun tidak sebagus di Menara Sihir, aku cukup takjub bahwa di jalan kecil ibu kota terdapat toko seperti ini.
"Ya" Vivian mengangguk. "Toko ini tidak terlalu terkenal di kalangan bangsawan. Tapi aku mendengar rumor bahwa penyihir kerajaan yang terkenal sering berkunjung ke sini."
Vivian mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik. "Kau pasti kaget. Aku dengar-dengar ini toko milik kepala sekolah.."
Mataku membelalak kaget. Oh? Toko milik kepala sekola?
Uwahh!! Kalau begitu barang yang dijual pasti hebat bukan?
"Maaf nona-nona. Ada yang bisa dibantu?" salah satu pelayan toko menghampiri kami.
Aku agak kaget saat melihatnya. "Kurcaci...?" aku bergumam bingung tanpa sengaja.
"Ah! Maafkan aku!" kataku panik.
Kurcaci itu hanya tersenyum. "Tidak apa-apa nona. Semua orang yang melihatku selalu membuat wajah kaget." katanya senang.
"Nona-nona ingin mencari apa?" tanya ramah.
Uuhh..
Aku belum tahu mau mencari apa. Aku benar-benar belum menyusun rencana untuk membeli barang di toko seperti ini.
"Aku akan melihat-lihat dulu oke?"
Kurcaci itu mengangkat tangannya dan mempersilahkan kita untuk berkeliling.
"Kalau ada pertanyaan, nona bisa bertanya padaku"
"Baiklah"
Kurcaci itu mengundurkan dirinya dan kembali ke meja kasir. Aku benar-benar tidak tahu kalau kurcaci itu ada di meja dekat pintu. Saat dia duduk, dia benar-benar tidak terlihat karena tubuhnya terlalu pendek.
Buku ya? Kukira mencari beberapa buku mantra juga tidak buruk.
Aku mengikuti Vivian menuju rak buku dan mulai melihat satu per satu buku mantra yang dipajang. Ada berbagai jenis mantra lanjutan dan bahkan ada mantra tingkat tinggi! AKu tidak menyangka toko ini juga menjual mantra tingkat tinggi. Dari yang aku dengar mantra tingkat tinggi tidak diperjual belikan, hanya bisa di dapat saat kau belajar di akademi atau menjadi murid Menara Sihir. Semua ini membuktikan, bahwa kemungkinan benar adanya pemilik toko ini adalah kepala sekolah akademi.
Tanpa pikir panjang, aku mengambil beberapa buku mantra tingkat tinggi dari berbagai elemen. Dan menumpuknya menjadi beberapa tumpukan.
'Harga buku ini pasti sangat mahal bukan?' aku berpikir ragu. Buku langka seperti ini pasti mahal! Aku takut tidak cukup membawa uang.
Aku melirik meja kasir dan membawa beberapa buku itu ke sana.
"Permisi. Aku boleh bertanya berapa harga bukunya?"
Kurcaci itu hanya tersenyum.
"Kami tidak menjualnya"
ZOONG! Aku langsung melonggo kaget. Tidak dijual? Lalu kenapa kau pajang benda itu disana!!
Aku benar-benar ingin berteriak, tapi aku berusaha menhan emosiku. Apa kurcaci ini sedang mempermainkanku?
"Jangan marah dulu" kata kurcaci itu geli saat melihat wajah Eva yang merah padam. "Khusus buku ini kami tidak menjualnya dengan uang atau apa pun. Tapi kau bisa menyalin isi bukunya dengan alat sihir perekam. Bayarannya hanya dengan manamu"
"Ah!" ini sangat aneh. Aku cukup tahu bahwa merekam isi buku itu lazim. Tapi membayar dengan mana ini cukup aneh.
"Membayar dengan mana?"
Kurcaci itu mengangguk dan mengeluarkan sebuah kotak besar. Aku cukup kaget bahwa tubuh sekecil itu bisa mengangkat kotak yang ukurannya dua kali lipat dari dirinya. Dia mengangkat kotak besar itu keluar dari ruang dimensi.
"Lihat paramaternya" katanya sambil menunjuk beberapa angka. "Satu buku, lima sax" katanya. "Nona hanya perlu mengirimkan mana nona ke dalam kotak ini sampai parameternya lima sax. Cukup letakkan tangan nona di kristal bawah. Tapi ada peraturannya. Nona hanya bisa menyalin isi buku kalau mana nona cukup. Kalau tidak cukup nona bisa kembali nanti untuk menyalin buku lainnya" kurcaci itu menjelaskan.
"Tidak perlu" kataku langsung. Aku cukup percaya diri dengan kapasitas manaku walaupun aku tidak tahu sebesar apa.
Aku mulai memegang kristal yang ada pada kotak dan melirik buku yang sudah kupilih. Aku memilih sepuluh buku mantra. Berarti totalnya lima puluh sax bukan?
Aku mulai mengedarkan mana dan lampu parameternya mulai berpendar. Aku terus menuangkan mana dan lampunya terus berpendar naik. Setelah beberapa menit akhirnya sampai pada angka lima puluh sax. Ah~ aku menghela napas. Aku tidak menduga ini cukup melelahkan. Lima puluh sax ini benar-benar menghabiskan hampir seperempat mana dalam tubuhku!
__ADS_1
"Umm...apa aku boleh menyalinnya"
"...."
Kurcaci itu tidak menjawab. Dia berdiri mematung di tempatnya. Dan matanya melebar menatap Eva.
'Bagaimana mungkin?' pikir si kurcaci tidak percaya.
'Baru saja....baru saja...gadis ini menghabiskan lima puluh sax mana dan dia sama sekali tidak pingsan atau kelelahan? Bukankah dia hanya gadis bangsawan? Bagaimana itu mungkin?'
Tubuh kecil si kurcaci mulai gemetar ketakutan. 'Apa gadis ini monster yang menyamar?' pikir kurcaci itu dengan keringat yang mengucur deras di dahinya.
"Haloo!! Heii!!" aku berusaha melambaikan tanganku karena kurcaci itu hanya berdiam diri di tempatnya. Kenapa orang kecil ini sangat aneh. Apa dia sedang sembelit dan ingin ke kamar mandi?
"I..iya nona..." jawab kurcaci itu tergagap-gagap.
Aku masih menatapnya bingung. Tapi aku tidak memikirkannya lagi dan membawa tumpukan buku mantra di sampingku. Aku mulai mengeluarkan alat sihir untuk merekam. Perlu waktu beberapa menit sampai semua buku mantra terekam. Setelah selesai, aku mengembalikannya ke rak semula.
Lalu aku mulai menjelajah ke rak lainnya. Aku menemukan beberapa alat sihir yang unik dan juga ramuan penyembuhan. Tentu saja aku langsung membelinya!
Saat aku datang ke meja kasir itu. Si kurcaci mulai mengatakan bahwa aku harus membayarnya dengan mana lagi. Apa? Toko ini sangat aneh. Dia benar-benar tidak menggunakan uang secagai alat transaksi, tapi mana. Aneh, benar-benar aneh.
Vivian juga selesai memilih beberapa buku formasi. Dan tentu saja kasus Vivian sama denganku. DIa harus menyalin buku formasi itu dengan alat perekam dan harus membayarnya dengan mana.
Setelah kami selesai berbelanja. Aku dan Vivian mulai meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih" kami berdua tersenyum pada si kurcaci kecil.
Kurcaci itu hanya melambaikan tangan sambil tersenyum juga.
Kurcaci itu terus memandangi kedua gadis di depannya sampai kedua gadis itu membuka pintu dan menghilang.
"Ini menakutkan" katanya ngeri sambil mengelap keringat di dahinya dengan tangannya. "Aku harus memberitahu master. Bagaimana bisa eksistensi mengerikan bersembunyi di tempat kecil seperti ini" katanya sambil menggeleng. "Dan lagi itu hanya seorang gadis kecil...."
***
"Ah, aku lelah..." kata Vivian sedih. "Toko itu benar-benar menguras sihirku"
"Toko ini aneh. Apa peraturan bayarnya memang seperti itu?" tanyaku sambil mengernyitkan kening.
Vivian mengangguk. "Tapi tidak selalu. Kadang beberapa item kecil masih bisa dibeli dengan uang."
"Tapi itu tidak adil. Kalau kau menginginkan banyak barang, kau bisa mati karena manamu terkuras sampai kering."
"Untuk apa mereka mengumpulkan mana? Pembayaran dengan mana ini benar-benar unik..."
"Aku mendengar rumor....tapi ini hanya rumor lho..." kata Vivian sambil melihat kanan dan kiri dengan waspada. "Aku dengan mereka mengumpulkan mana untuk membuat alat sihir. Alat sihir yang bisa memusnahkan satu negara" katanya dengan nada berbisik.
Aku bergidik ngeri.
"Kalau itu benar-benar terjadi. Bukankah itu mengerikan..." kataku merinding.
"Ayolah, ini hanya rumor oke" kata Vivian cemberut.
"Karena kita sudah membeli barang yang kita inginkan dan kelelahan. Sudah waktunya untuk mengisi ulang tenaga,. Ayo saatnya makan" kata Vivian Senang.
AKu melihat Vivian yang tersenyum senang dan berjalan dengan riang. Kelihatannya dia menemukan beberapa buku yang bagus. Karena itulah perasaannya bisa sangat senang.
"Gadis yang imut" gumamku geli.
Aku bingung kenapa gadis seperti ini bisa menjadi toko antagonis di dalam novel.
***
Hai, para readers yang udah setia sama cerita ini. Maafin author, kalau novelnya jarang update 🙏
Semuanya gara-gara corona, author harus kerja bagai kuda 😭😭
Doain aja pandemi ini cepat berakhir ya. Biar bisa update normal lagi 😊
Author udah jadi mahluk nocturnal loh, cuma bisa update novelnya subuh karena shift malam 💩
Author usahain buat crazy update beberapa episode kalau sempat ngetiknya ya
Sorry dan stay safe ~☺️😊
__ADS_1