Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 1: Berburu


__ADS_3

Kami berempat masuk ke dalam hutan.


Tapi kenapa aku berada dalam pelukan Denis?


Aku mencoba memberontak "Yang mulia, kau tidak perlu menggendongku!"


"Kau terlalu lambat" itulah tanggapannya.


"Aku tidak lambat tahu. Aku bisa menggunakan sihir untuk mempercepat langkahku. Selama kita tidak terburu-buru ataupun dikejar, aku masih bisa menyaingi para pendekar" Jelasku.


Tapi sebagai tanggapannya. Denis, Jensen dan Adele melihatku dengan mata kasihan.


Aku benar-benar jengkel. Mereka semua benar-benar meremehkanku karena aku seorang penyihir!


Ini adalah diskriminasi! Aku tidak menerima ini!


Lihat saja kalian, aku akan membuktikannnya pada pada kalian!


Kami terus menyusuri hutan dan sampai di sebuah tempat agak lapang. Tempat itu agak lapang karena pohon yang tumbuh sedikit dan didominasi rerumputan panjang. Kami berhenti di tempat itu dan Denis mulai melepaskanku dari pelukannya.


"Di daerah sini ada banya binatang" kata Denis sambil mengamati sekitar.


"Oh? Benarkah?" Aku langsung melihat Jensen. Jensen melihatku dan mengangguk.


Denis mengernyitkan kening "Kau meragukanku" katanya kesal.


"Ha? Kapan aku meragukanmu Yang Mulia" kataku tidak peduli dan maju mengamati sekitar.


Wajar sekali meragukan bocah manja yang bahkan tidak tahu rumah (Denis tidak tahu kondisi ibukota), apalagi sampai tahu kondisi hutan.


Area itu penuh dengan rerumputan tinggi. Tiba-tiba aku melihat rerumputan itu bergoyang dan sesosok kijang sedang melintas disitu.


"Uwah...ada hewan" kataku antusias.


SWOSH!


Sebuah panah langsung melintas di depan mataku dan mengenai kijang itu. Aku melihat sumber panahnya, itu Adele.


"Sudah satu" jawab Adele datar.


Aku terdiam.


Lalu rerumputan mulai bergerak lagi dan SWOSH!


Panah diarahkan dan membunuh hewan itu lagi.

__ADS_1


Selama beberapa menit, sudah sekitar 10 hewan yang terbunuh dengan ganas.


Apa-apaan ini?


Dimana sensasi berburunya?


Ini benar-benar terlalu mudah. Bukankah ini tidak adil untuk peserta lainnya?


Jadi, selama sejam kedepan terus seperti ini.


Kami menemukan hewan, lalu tembak, temukan, tembak. Dan aku bertugas meletakkan tubuh hewan itu dalam ruang dimensi dengan bantuan Jensen.


Denis dan Jensen bahkan belum turun tangan. Tapi sudah puluhan hewan yang terkumpul di dalam ruang dimensi. Aku sudah tidak menghitung hewan yang terbunuh lagi.


Aku menghela napas sambil menyusuri daerah itu.


Awalnya aku sangat antusias. Tapi sekarang aku bosan. AKu melirik Denis dan Adele, mereka berdua membuat suasana berburu ini suram dan membosankan, karena terlalu overpower. Andaikan saja aku berburu dengan Jensen dan prajurit lainnya. Itu pasti lebih seru dan menyenangkan.


"Eh?" Penglihatanku tiba-tiba dialihkan oleh sesuatu. Sebuah aura gelap terlihat mengambang di udara.


"Apa itu?" aku bertanya pada mereka sambil menunjuk.


Mereka semua melihat mengikuti arah tanganku.


"Aku tidak melihat apa-apa" jawab Denis. "Eva apa kau mulai lelah?" tanyanya mengejek.


Itu aura kegelapan!


Aku mempunyai elemen kegelapan, karena itulah aku bisa melihat aura itu.


Aku langsung mencari sumber aura tanpa pikir panjang.


"Eva, tunggu!" sentak Denis saat melihat Eva mempercepat langkahnya untuk maju ke depan.


Aku terus maju ke depan, mengikuti aura gelap itu. Dan aku menemukan sumbernya!


Aura itu berasal dari sebuah goa di depan.


Huwa...goanya gelap, aku tidak bisa melihat apa pun dari sini.


"Eva, jangan masuk ke sembarang tempat" Denis menghampirinya dan menarik lengannya.


"Tapi ada sesuatu di dalam situ" aku bersikeras. "Ayo masuk, siapa tahu ada sesuatu yang seru. Kita bisa menghancurkan kebosanan ini" kataku sambil merenggut.


"Tapi hati-hati, kita tidak tahu apa yang ada di dalam. Aku merasakan firasat buruk" Adele memperingati.

__ADS_1


Aku mulai menggunakan elemen cahaya dan bola-bola cahaya.


Bola-bola cahaya itu mengambang di atas.


Perlahan kami masuk dan bola cahaya itu menerangi jalan kami.


Goa itu sangat gelap dan lembab. tetapi jalannya sangat luas.


"Goanya tampak kecil di depan. Tapi rupanya sangat dalam" seruku sambil menyusuri goa.


"Itu wajar" respon Denis.


Kami terus masuk lebih dalam.


Saat masuk lebih dalam, kami menemukan sebuah ruangan yang agak luas dan penuh dengan batu-batu sihir. Batu-batu itu memancarkan cahaya kelap-kelip, menyinari goa yang gelap, seperti bintang-bintang kecil menyinari langit malam.


"Sangat indah" gumamku


"Ada banyak batu sihir disini. Kita bisa memberitahu Jendral Lin nanti" respon Denis.


"Tapi itu aneh. Ada banyak batu berharga. Kenapa tidak ada yang menjaganya?" kata Adele berpikir.


Adele benar. Batu sihir menarik binatang sihir. Biasanya satu batu sihir saja dijaga oleh satu binatang sihir, tapi ruangan ini kosong. Kami tidak melihat apapun. Padahal ada banyak batu sihir, seharusnya ada banyak binatang sihir.


Tapi bukannya tidak ada binatang sihir. Kami saja yang tidak memperhatikan!


Tiba-tiba goa itu bergetar. Setumpuk batu besar, (kami mengira itu batu) mulai bergerak secara perlahan.


"Gawat!" teriak Denis kaget.


"Eh? Batu itu bergerak?" aku bertanya bingung.


Batu itu bergerak dan semakin besar. Lalu perlahan ROARR!! terdengar raungan yang menggelegar.


Aku refleks menggunakan sihir untuk merendam suara untuk semua orang.


Kalau aku tidak menggunakan sihir itu, gendang telinga kami pasti pecah.


"Itu binatang sihir" gumam Adele waspada.


Binatang sihir itu tertutup kegelapan, kami tidak bisa melihat bentuknya. Kami menjauh dari ruangan dan binatang sihir itu mulai mendekati kami. Perlahan sosok binatang itu mulai terkena pencahayaan. Menampakan sesosok binatang besar seperti harimau. Harimau itu tidak seperti harimau biasanya, itu mempunyai taring tebal yang mencuat dimulutnya seperti vampir. Lalu di punggungnya ada sepasang sayap berwarna hitam. Tubuhnya juga tiga kali lipat dari harimau biasa.


"Binatang sihir apa itu?" tanyaku bingung. Aku benar-benar belum pernah melihat binatang sihir. Karena itu pengetahuanku sangat kurang.


"Ini binatang sihir level 6!!" Teriak Denis kaget. Dia langsung dengan cepat membawa Eva dalam pelukannya lagi. "Lari!!" dia berteriak memerintahkan semuanya.

__ADS_1


SWOSSHH! Mereka bertiga mulai berlari keluar goa.


ROARRR!! Binatang itu mengaum keras dan mulai mengikuti kami dengan cepat.


__ADS_2