
Cerita Sebelumnya:
Eva mendapatkan sebuah undangan misterius. Dia mendatangi daerah yang tertera di dalam undangan dan berakhir dengan diculik lagi.
Saat dia kehilangan kesadaran, dia bermimpi aneh. Dia bermimpi mengalami kehidupan Eva asli di dalam novel. dewa kucing itu juga datang dalam mimpinya dan berkata bahwa dia harus menghadapi lima siklus kehidupan agar bisa kembali ke dunia nyata. Semua hal ini disebabkan oleh sihir gelapnya yang keluar kendali. Pikiran Eva melemah saat dia menyelesaikan lima siklus itu, karena dia harus berkali-kali dibunuh di dalam mimpi itu.
Dan saat terbangun, dia berada di dalam penjara. Lebih parahnya, jantungnya dikunci oleh sihir misterius sehingga dia tidak bisa menggunakan sihir.
Dan takdir aneh juga menghampirinya, dia bertemu dengan jubah hitam misterius yang merupakan pangeran kejam dari negeri tetangga, Sayn. Pangeran itu menyelinap ke tempat itu untuk melaksanakan misinya. Eva mengikuti pangeran itu keluar dari penjara. Nasib apa yang menantinya di depan?
***
Aku mengikuti Sayn dengan kukuh. Aku memegang jubahnya erat-erat sambil mengekor di belakangnya. Aku juga dengan waspada memperhatika jalan di depanku. Aku benar-benar takut orang aneh lainnya akan muncul di depan lagi.
Sayn memperhatikan bahwa gadis kecil di belakangnya terus menerus menarik-narik jubahnya. Dia melihat gadis itu seperti kelinci kecil yang sedang waspada sambil mengigit wortel di mulutnya.
'Apa dia benar-benar menganggapku sebagai makanan? Sehingga dia mengigit erat jubahku?'
Tiba-tiba Sayn tersenyum nakal.
Syuuu~
Sosok Sayn tiba-tiba menghilang di depanku, hanya menyisakan jubah kosong.
"Eh?" aku bergumam bingung sambil menatap jubah di tanganku.
Kemana orang ini? Kenapa tiba-tiba menghilang?
Aku melihat kanan, kiri, belakang, tapi aku tidak menemukan siapa pun.
Kemana dia? Jangan main-main denganku!
"Hei, kau dimana brengsek?" teriakku. Aku benar-benar mengabaikan etiket sekarang.
Sekarang bukan situasi yang tepat untuk bermain-main. Kenapa dia bersikap usil padaku.
Aku sudah menduga hal ini. Harusnya aku tidak terlalu mempercayainya. Dasar pria brengsek! Semua pria yang ada di novel ini benar-benar brengsek!
Apa dia benar-benar meninggalkanku...
Aku melempar jubah itu di tnah.
"Pria brengsek....pria brengsek...." aku mengumpat sambil menginjak-injak jubah itu.
Pria kejam itu...apa dia benar-benar lari meninggalkanku...
Aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak bisa menggunakan sihir....aku tidak bisa sembunyi....aku juga tidak bisa melawan....
"Hu...." tanpa sadar mataku memerah dan berkaca-kaca.
Apa aku memang selalu ditakdirkan untuk mati ya? Bahkan kematian lebih awal?
Kenapa? Kenapa aku selalu bertemu event berbahaya?
Ahhh~ ini pasti gara-gara dewa kucing itu, dia memberiku nasib yang menyedihkan...
"Hei,hei" tiba-tiba Sayn muncul di depanku. Wajahnya cemas dan panik.
__ADS_1
"Kau menangis? Jangan menangis oke" katanya panik.
'Aku hanya ingin bermain-main dengannya. Tidak bermaksud membuatnya menangis. Gadis kecil galak itu ternyata selemah ini?' pikir Sayn.
Aku menatap pria di depanku dan langsung memukulnya.
"Aku tidak menangis, aku tidak menangis" aku menyangkal sambil memukul dadanya.
Karena kekuatan pukulan Eva sama seperti gadis kecil. Sayn hanya merasa bahwa bantal empuk memukul dadanya berulang kali. Dia tidak menghentikannya. Eh? Entah kenapa dia menyukai perasaan ini.
Wajahku memerah karena malu. "Aku tidak menangis" sangkalku lagi.
Aku memang tidak menangis oke. Mataku hanya berkaca-kaca, karena aku nostalgia dengan masa lalu. Aku tidak menangis!
Melihat wajah gadis kecil di depannya memerah, entah kenapa ada sesuatu di hatinya tergerak. Sayn ingin lebih menggoda gadis itu.
"Kau ketakutan? Apa kau takut aku akan meninggalkanmu?" tanyanya dengan nada nakal.
"Tidak! Aku tidak takut!" aku menyangkal keras dengan wajah seperti udang rebus.
Aku benar-benar malu! Pria brengsek ini! Dia benar-benar jago mempermalukanku.
Sayn mendekat, lalu memegang tangaku.
"Sudah kubilang bukan? Kita harus berpegangan tangan. Tapi kau tidak mau. Lebih aman berpegangan tangan daripada kau menarik-narik jubahku seperti pengerat"
Blush~ Wajahku memerah. Aku menundukkan kepalaku.
"Brengsek!" aku bergumam kecil.
"Apa?" Sayn mengangkat alisnya. "Apa kau baru saja menyumpahiku?"
"Baiklah..." kataku langsung.
"Ayo lanjut, kita tidak bisa membuang-buang waktu"
"Siapa yang membuang-buang waktu?" Sayn menjitak kepala Eva. "Kau yang membuang-buang waktuku dan menghambat misiku"
"...." Aku tidak menjawab.
Itu memang benar. Tapi aku tidak akan mengakuinya. Itu salahnya, karena bermain-main di situasi yang berbahaya ini.
Kami tidak berbicara lagi dan melanjutkan perjalanan.
Aku memegang tangannya mengikutinya. Selama ini aku sudah memegang tangan para tokoh utama. Tangan mereka terasa berbeda-beda. Tangan Denis sangat lembut dan sedikit dingin. Yah, itu cocok dengan sikapnya yang dingin. Tapi aku tahu dia orang yang lembut, dan sisi lembut itu hanya ditunjukan untuk sang tokoh utama wanita. Tangan Robert sangat hangat dan lembut. Robert memang orang yang penyayang dan itu cocok untuknya. Tapi, tangan Sayn sangat berbeda dari yang lainnya. Tangan itu sangat dingin, benar-benar dingin. Dan sedikit kasar. Tangan yang sangat tidak cocok untuk seorang pangeran. Tangan para bangsawan selalu halus dan lembut, yah karena mereka tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Tetapi tangan yang dimiliki Sayn bukan tangan seorang bangsawan.
Aku tidak tahu bagaimana hidup Sayn sebenarnya. Novel itu hanya mengambarkan garis besarnya saja. Tapi entah kenapa, bukankah ini tangan orang yang kesepian? Entah kenapa, aku sedikit kasihan padanya. Setidaknya, Denis dan Robert memiliki orang-orang yang menyayanginya. Denis memiliki orang tuanya. Dan Robert memiliki para Penatua di Menara Sihir dan juga orang-orang di akademi (di masa depan nanti). Tetapi tidak dengan Sayn. Dia tidak dianggap di keluarganya. Dan kelompok yang mengikutinya dengan nama 'Secret Gank' itu tidak bisa memberikan kasih sayang untuknya, mereka mengikuti dan menghormatinya hanya karena dia kuat. Hanya sang tokoh utama, Reina, yang memperhatikannya, dan membuatnya pertama kali merasakan apa itu kasih sayang. Hanya saja dia bernasib tragis juga pada akhirnya, benar-benar sangat kasihan.
Sayn sadar bahwa gadis kecil disampingnya menatapnya. Dia melihat ada rasa melankolis dalam mata gadis itu. Dan sedikit rasa kasihan.
'Kenapa? Dia tidak suka! Apa gadis itu merasa kasihan padanya?
Apa gadis itu tahu identitasnya? Yah, dia tahu namanya tentu saja dia tahu identitasnya dan juga rumor-rumor tentangnya.'
"Kenapa kau menatapku seperti itu" kata Sayn dengan nada tidak senang.
Dia tidak suka dikasihani!
__ADS_1
"Ah!" aku langsung mengalihkan tatapanku.
"Maaf...aku sedang memikirkan sesuatu..."
"Oh?" Sayn mengangkat alisnya.
'Jadi tatapan kasihan itu bukan untukku? Entah kenapa aku sedikit lega.' pikir Sayn
"Baiklah..."
Kami terus berjalan. Dan Sayn membawaku ke sebuah ruangan.
"Ini ruangan apa?"
"Sstt" Sayn menyuruhku diam. Dia mulai menggunakan sihir pendeteksi untuk memeriksa sekitar. Setelah memastikan tidak ada siapa pun di dalam dan sekitarnya, dia mulai menarikku masuk.
"Mereka menyimpan barang-barang penting disini. Bisa jadi kunci mantra itu ada disini" jelasnya.
Aku melihat sekeliling ruangan. Sangat penuh dengan rak buku dan beberapa rak aneh dengan isi acak. Ini terlihat seperti gudang penyimpanan atau ruang arsip.
"Baiklah aku akan membantumu mencarinya. Kau bisa mencari di meja kecil disana" kata Sayn. Ini lebih efisien karena gadis kecil itu tidak bisa menggunakan sihir. Jadi dia hanya bisa menyuruhnya mencari di meja kecil, menyesuaikan kemampuannya.
Aku mengangguk.
Sayn menuju rak buku. Dia menggunakan sihirnya. Dan mulai mengangkat buku itu satu persatu. menerbangkannya dan juga mengibaskannya. Lalu mulai menerbangkan lemari, membolak-boliknya, takut ada tempat rahasia yang tertinggal.
Aku menuju meja kecil di sudut.
Hanya ada beberapa gulungan kertas di atas meja. Pulpen dan barang kecil lainnya. Aku membuka dokumen itu satu per satu. Dokumen yang tidak penting untukku. Setelah memeriksa barang di atas meja, aku segera memeriksa laci yang ada di bawah. Hanya ada satu laci kecil di meja itu. Setelah membuka lacinya, aku hanya menemukan beberapa barang-barang rumah tangga tidak berguna.
"Haa~ tidak ada apa pun disini"
Tapi, tiba-tiba aku menemukan tok sampah di bawah meja.
"Eh?" aku menemukan sebuah buku di dalam tong sampah itu.
Sebuah novel? Novel rakyat?
"Story of Darkland?"
Kalau Robert melihat buku cerita ini, dia pasti akan mengenalinya. Buku cerita yang dicurinya dari desa elf. Buku cerita itu disimpannya di dalam ruang dimensi. Kenapa bisa berakhir di dalam tempat sampah?
Aku secara perlahan membuka buku itu.
Eh? Halamannya kosong?
Tidak mungkin kan?
Lalu tiba-tiba, asap gelap muncul dalam buku aneh itu dan mulai masuk ke dalam tubuh Eva.
"Eh?"
Pandanganku mulai kabur. Dan tubuhku perlahan tumbang
"Evaa!" teriak Sayn panik sambil menyingkirkan buku itu dari tangan Eva.
Dia mulai menangkap Eva.
__ADS_1
Secara perlahan suara teriakan Sayn menjadi sayup-sayup, mataku tertutup dan aku kehilangan kesadaran lagi.
Untuk kedua kalinya, aku kembali masuk ke dalam dunia mimpi lagi, di tempat yang sama. Ini sebenarnya keberuntungan atau kemalangan?