
cerita sebelumnya:
Diana selesai menceritakan kisah masa lalunya yang cukup kompleks. Eva bahkan menjadi lebih bingung setelah mendengar semuanya. Ada banyak sekali pertanyaan di kepalanya yang belum terjawab.
***
Aku benar-benar kelelahan hari ini. Ada banyak hal yang terjadi hari ini. Diculik oleh Ren, terlambat di ujian pertandingan dan bahkan mendengar kan cerita masa lalu ibuku yang sangat panjang. Semuanya menguras semua energiku sampai kering.
Tapi aku tidak bisa beristirahat dengan tenang karena Rexus dan Fram tiba-tiba muncul di kamarku. Dua orang anak itu tiba-tiba menyelinap ke dalam kamar lewat jendela kamarku. Aku sangat tidak menduganya.
Rexus terbang dengan sayap kecilnya ke atas kasur dan langsung menggulung dirinya dengan santai, seakan-akan dia adalah seekor kucing yang ingin tidur. Tetapi matanya tetap terbuka. Dia menatap Eva dan Fram dengan mata penasaran, tapi tidak mengatakan pertanyaan apa pun.
Sementara Fram mendekati Eva dengan gugup, seperti dia seorang anak nakal yang sedang terkena hukuman.
"ada apa?" aku bertanya.
"Itu...aku mendengar pembicaraan bibi" katanya gugup. "Tentang masa lalunya dan....David..."
"Maafkan aku karena sudah menguping!" Fram langsung membungkuk dalam-dalam untuk meminta maaf.
Aku tidak tahu kenapa dia sangat gugup. Seorang anak yang menguping karena penasaran adalah hal yang biasa. tapi dia jauh-jauh datang menemuiku untuk meminta maaf.
"Tidak apa-apa" Aku berdiri dan menepuk kepalanya, untuk menghiburnya.
"..."
Fram terdiam dan membuat wajah ragu. Seperti nya dia memikirkan sesuatu. Setelah dia memantapkan pikirannya, dia menatap Eva. "Aku ingin menceritakan sesuatu padamu?"
"Ada apa? Cerita kan saja padaku" aku membawa Fram untuk duduk di samping ku di tepi tempat tidur.
Fram menundukkan kepalanya, lalu dia berkata dengan gugup. "Ibuku.... adalah murid David..."
__ADS_1
Aku membelalak kaget. Tapi hanya sekejap dan aku merubah ekspresi ku menjadi biasa kembali.
Ternyata elf gelap yang menjadi murid David waktu itu adalah ibu Fram. Aku tidak menduganya. Pantas saja Ren berkata dia merelakan bawahannya untuk menjadi murid David. Tapi bukan kah orang tua Fram sudah meninggal?
Melihat Eva tidak merespon, Fram melanjutkan ceritanya. "Tapi ibuku meninggal dua tahun yang lalu bersama dengan ayahku. Saat itu mereka sedang ada perjalanan keluar dari desa dan kebetulan aku juga ikut. Tapi kami terpisah. Jadi aku benar-benar tidak tahu kenapa hal itu terjadi pada mereka" Mata Fram mulai berkaca-kaca.
Aku berusaha menghiburnya agar tidak menangis. Aku pernah mendengar berita ini sebelumnya. "Apa yang terjadi pada mereka?"
Fram langsung menatap Eva serius. "Semua ini karena David" katanya berat.
Aku mengerjap kaget "Eh?" Apa David mulai membuat musuh lainnya lagi sekarang?
Seakan-akan bisa membaca pikiran Eva, Fram berkata "Bukan seperti itu"
"Kakak Ren tidak memberitahu ku tapi aku menyelidikinya dengan menguping pembicaraan secara diam-diam. Karena ibuku adalah murid David, para penyihir cahaya mengincarnya. Ibuku membawa peninggalan yang penting dari David. Dan ada orang yang menginginkan nya. Terjadilah pertarungan. Kebetulan saat itu ayah ada bersama ibu. Jadi mereka berdua terbunuh secara bersama-sama."
Fram menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya. "Kakak Ren berada di kerajaan ini dan mengajar sebagai guru, karena di masa lalu dia berhutang pada kepala sekolah. Tapi hutang itu sudah selesai dan dia bisa kembali ke istana lebih cepat. Tapi kakak Ren menolaknya. Aku mendengar kakak Ren sedang menyelidiki pembunuh itu. Dan jejak mereka ada di kota ini'
"Apa?" aku mengerjap tak percaya. Jujur saja aku kaget. Para pembunuh itu ada di kota ini? Siapa mereka? Dan terlebih lagi Fram mengatakan kalau itu penyihir cahaya m Tapi aku sedikit meragukannya.
Aku tahu aturan khusus bagi para penyihir cahaya murni. Mereka tidak bisa membunuh secara sembarangan atau dewa akan meninggalkan mereka dengan menghilangkan kekuatan mereka.
Kekuatan mereka hanya dirancang untuk melawan para mahluk yang berada di luar dimensi. Jadi intinya mereka hanya boleh membunuh para penyihir gelap. Walaupun elf gelap menggunakan sihir gelap, mereka tidak bisa membunuh nya karena elf adalah penduduk asli dunia ini. Bukan para makhluk asing yang datang melalui perjalanan antar dimensi.
"Apa Ren sudah menemukan siapa pembunuhnya?" tanyaku penasaran. Hanya ada Reina disini, yang memiliki kekuatan cahaya. Dan Aku. Tidak ada manusia lainnya. Jadi aku cukup kaget saat mendengar ada penyihir cahaya yang bersembunyi di kota ini. Siapa mereka? Bahkan novel itu tidak menjelaskan tentang keberadaan mereka sampai akhir cerita.
Fram menggeleng lemah. "Kakak Ren belum menemukan petunjuk apa pun"
"Bahkan orang sekuat Ren tidak bisa menemukan apapun?" kataku tanpa sadar.
Perkataanku membuat Fram semakin sedih.
__ADS_1
"Maafkan aku" kataku menyesal.
"Jangan meminta maaf. Kau tidak salah. Mungkin saja kakak Ren tidak menemukan mereka karena mereka sudah menghilang dan bersembunyi di tempat lain. Kita tidak tahu"
Fram bangkit berdiri, lalu membungkuk sekali lagi. "Maaf menganggumu. Aku hanya ingin memberitahu mu informasi tentang hal ini. Siapa tahu ini akan berguna di masa depan"
"Tentu saja ini sangat berguna" balasku cepat.
"Umm...juga...aku ingin mengaku..." Fram menggaruk kepalanya dengan wajah malu. "Aku juga sering memakan mana gelapmu secara diam-diam. Karena itu aku minta maaf!" Dia membungkuk untuk yang ketiga kalinya sebelum akhirnya melompat turun dari jendela dengan cepat.
Anak itu. Dia sama seperti Rexus, suka menyerap mana gelap dari manusia. Tapi aku tidak akan mempermasalahkannya karena dia sangat lucu. Lagipula aku cukup kuat untuk memberi makan dua anak kecil. Jadi tidak masalah.
Fram sudah pergi tapi Rexus masih dengan nyaman berbaring di atas kasur. "Kau tidak ikut dengan Fram?" aku bertanya. Biasanya kedua anak ini menempel erat seperti ada lem di antara mereka.
"Apa kau mengusirku?" tanya Rexus tidak senang. "Aku mengikutinya sebelumnya. Kamarnya lebih kecil dan kasurnya tidak empuk. Aku lebih suka tidur disini. Tempat mewah dan nyaman lebih cocok untukku. Karena aku seekor naga." katanya dengan nada sombong.
"...." Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Ada apa dengan Rexus? Padahal sebelum dia sangat polos. Kenapa sekarang dia sudah bisa membedakan hal-hal mewah? Apa Fram mengajarkan sesuatu padanya?
"Kau salah" aku langsung menyangkal nya. "Naga tua yang sudah hidup ribuan tahun tidak tidur di kasur yang empuk. Dia tidur di goa yang dingin dan keras. Kau harus mencari goami sendiri di masa depan" kataku serius.
Rexus mendengus tidak senang. "Itu karena dia seorang kakek yang sangat primitif" katanya sombong.
Aku hampir muntah darah saat mendengar nya. Apa anak ini mulai belajar untuk menjadi seory bangsawan yang sombong?
"Di masa depan aku tidak mau tinggal di goa yang dingin dan keras seperti itu. Kau harus membuatkan kastil besar untukku. Setidaknya harus ada kasur ajaib yang cukup besar. Persediaan ramuan seumur hidup. Dan makanan yang enak. Aku juga ingin memiliki banyak pelayan yang melayaniku di masa depan agar aku bisa bersantai tiap hari~" Rexus mulai menghayal.
Wajahku berkedut saat mendengar nya. Kalau itu benar-benar terjadi, dia akan mendapatkan julukan "naga pemalas" untuk pertama kalinya.
Lagipula sejak kapan dia mempelajari hal-hal seperti itu? Fram benar-benar mengajar kan hal yang tidak baik padanya.
Eva tidak mempedulikan perkataan Rexus. Dia berpikir ini hanyalah pikiran anak-anak dan dia tidak menganggap nya dengan serius.
__ADS_1
Eva berpikir Rexus akan berubah seiring berjalannya waktu. Dia akan mengenal apa itu naga yang sebenarnya.
Tapi dugaan Eva akan salah kali ini. Bahkan di masa depan, Rexus tidak akan berubah pikrian. Dia benar-benar ingin menjadi raja gemuk dan pemalas. Sehingga Eva harus bekerja untum memenuhi kebutuhan ramuannya setiap hari. Saat itulah Eva menyesal, kenapa dia tidak memperbanyak pikiran Rexus sejak naga itu masih muda.