
Cerita Sebelumnya:
Dean Caro mulai menghasut para penatua lainnya. Dan para penatua itu benar-benar terhasut. Mereka serakah akan ramuan kekuatan yang ditawarkan Caro. Dean Wason mulai menahannya bersama dengan Dean Cristal dan Dean Leon. Akhirnya terjadilah perkelahian antar penatua itu. Pertarungan tiga lawan dua.
Tapi pada akhirnya Dean Wason tetap menang, dan ketujuh penatua lainnya babak belur.
Dean Caro mulai meluncurkan rencana lainnya. Dia mulai menyerang Eva. Tapi itu gagal lagi. Eva mendapatkan kemampuan baru dan dia menjadi subjek eksperimen. Dia akhirnya benar-benar kalah. Dia meluncurkan rencana terakhirnya untuk meminta tolong pada Robert.
Dan ternyata Robert melindunginya? Jangan membunuhnya? Ada apa dengan Robert?
***
"Masterr..." aku menatap Robert sambil mengernyitkan kening.
Dia benar-benar memaafkan orang ini??
Ha~ setelah semuanya hubungan darah benar-benar kuat.
"Aku tidak setuju!" Sayn masih membantah sambil mengeluarkan aura membunuh.
"Aku bilang jangan membunuhnya. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menangkapnya. Kita tidak bisa membiarkan dia melarikan diri dari tempat ini" sambung Robert.
Mendengar perkataannya tubuh Dean Caro langsung bergetar.
"Tidak! Kita harus membunuhnya! Atau semua yang kulakukan ini sia-sia!" Sayn tetap bersikeras.
"Aku akan memberikan pengecualian. Kau tetap akan mendapat upahmu" Dean Wason muncul di dekat kami secara tiba-tiba.
"Kakek~" aku langsung menghampirinya dan memeluk pingangnya. "Haa~ sudah berapa lama aku hilang. Aku benar-benar rindu pada kakek dan aku takut orang tuaku khawatir"
"Jangan khawatir" Dean Wason mengelus kepala Eva dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Aku sudah memberitahu mereka bahwa kau baik-baik saja"
"Hum~"
"Tapi kita tetap tidak bisa membiarkannya seperti ini!" Sayn masih membantah. "Bagaimana bisa kalian membiarkan pengkhianat hidup. Mereka akan mencari waktu untuk membalas dendam pada kalian.Orang seperti ini benar-benar tidak bisa diampuni!"
"Kita akan membuatnya tidak bisa menggunakan sihir lagi" kata Robert tegas.
Dia menatap kami dengan tatapan yakin. "Kita akan merusaknya. Membuatnya cacat dan tidak bisa menggunakan mana lagi. Walaupun dia berhasil lari dari penjara, dia akan menjadi sampah. Kalau pun dia tidak berhasil, dia akan mati dengan sendirinya"
Ah~
Aku melihat Robert mengepalkan tangannya erat-erat. Robert benar-benar membuat keputusan yang berat. Aku benar-benar kasihan padanya.
"Master menunduk" aku menatap Robert.
Robert bingung dan dia langsung berjongkok.
Aku langsung memeluk lehernya dan berbisik. "Master...tidak apa-apa. Kau pasti baik-baik saja" kataku berusaha menghiburnya sambil mengelus rambutnya.
"Hmm.." aku mendengar Robert bergumam lembut.
Para jubah putih itu mulai menangkap semuanya. Mereka menangkap keenam penatua dan Dean Caro, lalu Jen. keadaan mereka semua sekarat, jadi sangat mudah untuk dibawa. Tapi Dean Caro masih memberontak. "Tidak! Tidak! Kalian tidak bisa menghilangkan sihirku! Tidak bisa!"
"Kalian semua kembali dulu. Aku akan mengurus hal ini sebentar" kata Dean Wason.
Dalam sekejap, dia dan kedua Dean lainnya langsung menghilang. Tampaknya dia ingin membereskan sisa-sisa pengkhianat itu.
Aku, Robert, Sayn dan Charlotte langsung berteleport ke aula Menara Sihir. Tidak seperti biasanya, aula ini sangat sepi dan sunyi. Aku melihat kursi para penatua. Tujuh di antara kursi ini akan kosong, aku benar-benar prihatin. Semoga saja kakek cepat menemukan pengganti mereka. Karena kalau dibiarkan terus, kekuatan Menara Sihir akan melemah.
"Kau sudah mau pergi" aku mendengar suara Robert.
Aku langsung menoleh dan melihat Charlotte ingin melangkah pergi.
"Tunggulah sampai Dean datang, baru kau boleh pergi" Robert menyarankan.
"Aku ada urusan. Sampaikan saja salam dan terima kasihku pada Dean" jawab Charlotte dingin.
Eh? Aku melonggo dingin melihat sikap Charlotte.
Charlotte yang dulu selalu bersikap manja dan imut. Dia selalu berkata dengan lembut. Apalagi saat di depan Robert. Karena itulah, dia disebut sebagai penyihir suci. Tapi Charlotte yang sekarang benar-benar dingin. Walaupun dia penyihir cahaya, dia mengeluarkan aura membunuh yang cukup kuat. Dia juga tidak menatap Robert dengan mata berbinar seperti dulu. kelihatannya, rasa tertariknya terhadap Robert benar-benar sudah berubah. Apa karena kejadian hari ini?
Charlotte tahu bahwa aku sedang mengamatinya dan dia langsung menatapku. Kami langsung beratatapan.
"Terima kasih" katanya dengan nada dingin sambil membungkuk.
"Eh?"
Dia langsung melenggang pergi setelah mengucapkan terima kasih padaku.
"Tunggu!" aku berusaha menghentikannya.
__ADS_1
Tapi Charlotte mengacuhkannya. Dia terus berjalan menjauh.
'Aku memang berterima kasih padamu karena menyelamatku dari sihir gelap itu.' pikir Charlotte.
'Tapi penyihir gelap tetaplah penyihir gelap. Tidak ada yang berubah. Jangan mengira aku akan menjadi akrab denganmu karena kau menyelamatkanku. Aku tidak akan pernah memaafkan penyihir gelap. Penyihir gelap yang sudah membunuh orang tuaku, menghancurkan negaraku dan berusaha memanfaatkanku. Aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan mereka' pikir Charlotte sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Matanya menjadi sangat dingin dan aura membunuh keluar dari tubuhnya saat dia memikirkan para penyihir gelap itu.
***
Dean Wason bersama dua orang lainnya mengurus para tahanan itu. Dia memhancurkan sihir ketujuh Dean itu dan melemparkannya dalam penjara. Sementara Jen diletakkan di ruang terpisah.
'Penyihir gelap ini sepertinya menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam. Kenapa dia bisa menyelinap ke dalam Menara Sihir?'
Dean Wason segera membawa Jen ke dalam ruang privat untuk menginterogasinya.
"Katakan kenapa kau menyusup kemari?" tanya Dean Wason dengan nada dingin.
Jen menundukkan kepalanya sedih. "Aku berasal dari perkumpulan penyihir gelap."
"Kenapa kau menyusup kemari?" tanya Dean Wason lagi dengan geram. Bocah ini sama sekali tidak menjawab pertanyaannya!
"Aku sebenarnya mendapat misi dari perkumpulan itu. Untuk menyusup dan membawa resep kuno."
"Resep kuno? Resep untuk membuat ramuan kekuatan? Yang dimiliki oleh Caro?"
Jen mengangguk cepat. "Aku tahu Caro memilikinya, tapi aku tidak bisa mengambilnya. Karena aku sangat lemah. Jadi aku berniat untuk membantunya mengumpulkan semua bahan. Aku tidak mengira dia akan berhasil. Bahkan aku mengetahui bahan terakhir" dia tertawa nyengir.
"Itu tidak masuk akal!" dean Wason menyangkalnya. "Katakan padaku sebenarnya! Apa tujuanmu?! Atau aku benar-benar akan membuatmu seperti yang lainnya!"
Jen bergetar ketakutan. "Itu benar!" dia bersikeras. "Aku kemari untuk mencari resep kuno itu. Awalnya itu memang milik kami, tapi itu dicuri oleh penculik kecil. Dan aku baru tahu bahwa penculik kecil itu adalah putra Caro!"
"Robert mencurinya? Itu tidak mungkin! Seberapa berharga ramuan itu sehingga mereka benar-benar menyelipkan tikus ke tempatku?"
"Hmm" Jen tersenyum meremehkan. "Kau sangat bodoh pak tua! Ramuan kuno itu sangat berharga! Resep kuno itu milik pemimpin kami! Resep itu sangat penting baginya. Saat dia tahu resepnya dicuri, dia benar-benar mengamuk. Dia masih toleran untuk tidak berperang dengan Menara Sihir dan mengirim prajurit kecil sepertiku"
"Katakan siapa pemimpinmu?!" Dean Wason memaksa.
"Hmph!" Jen mengalihkan wajahnya.
"Master adalah master. Dia adalah mahluk terkuat. Kita para manusia bukan tandingannya. Kau pasti sudah mengenalnya pak tua. Dia adalah raja para elf...Ren.."
Dean Wason langsung tersentak kaget. Ah! ren, raja elf gelap! Dia adalah pemimpin perkumpulan para penyihir gelap?
"Hahahaha" Jen langsung tertawa terbahak-bahak. "Dia memang benci para manusia, tapi tidak untuk penyihir gelap" katanya santai. "Kami sangat damai di sana, dan kami berbaur. Kami benar-benar mencari cara untuk melepaskan diri dari pengasingan ini. Dan resep kuno itu salah satunya"
"Haa" dia menghela napas. "Sayangnya kami benar-benar gagal kali ini. Resep itu hancur dengan bodoh di tanganmu. Dasar pak tua bodoh!" entah kenapa secara perlahan Jen mengatasi ketakutannya dan mulai berbicara dengan berani pada Dean Wason.
Dean Wason tidak mempedulikan ejekannya.
"Resep kuno?" dia masih berpikir. Semuanya gara-gara resep kuno ini! Dia harus bertanya pada Robert nanti. Apa benar dia mencurinya?
"Tapi apa hubunganya dengan cucuku? Dia benar-benar bahan terakhir dari resep kuno itu?"
"Ah! Aku lupa gadis kecil itu!"
"Yayaya" Jen mengangguk dengan antusias. "Di dalam resep menjelaskan bahwa enam elemen adalah bahan terakhir. Gadis itu memiliki enam elemen. Pasti dia adalah bahan terakhir. Tapi, kalau berpikir untuk merebusnya..." dia agak ragu. "Kukira ada cara lain selain merebusnya....mungkin...yang kita butuhkan hanya elemen sihirnya. Kita bisa mengekstrak sihirnya tanpa membunuhnya. Aku juga tidak ingin makan daging manusia ah~ Hanya si bodoh Caro yang berpikir seperti itu..."
"Kau!" Dean Wason menggeram. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakiti cucuku!"
"Aku akan menghilangkan semua kekuatan sihirmu!"
"Lakukan saja!" Jen memjawab santai. "Lagipula aku misiku sudah gagal. Aku tidak bisa kembali karena aku akan dibunuh juga. Haa...masterku itu orang yang sangat kejam. jadi hidup di penjara juga tidak buruk"
Tanpa menunggu, Dean Wason langsung menghancurkan penampungan mananya dan mengurungnya di dalam penjara.
"Ah! Pak tua! AKu akan memberikanmu ramuan yang tersisa. itu akan berguna, sayang sekali kalu dibuang" dari balik jeruji sel, Jen berteriak.
Awalnya, Dean Wason ingin mengabaikannya. Tapi setelah berpikir, ini tidak buruk. Dia membawa ramuan yang tersisa.
"Aku akan memberikannya pada Robert. Ini sisa peninggalan gurunya." gumamnya.
Setelah membereskan semuanya dan menghancurkan tempat terkutuk bawah tanah itu, ketiga Dean itu mulai kembali ke Menara Sihir.
Shuuu! Mereka berteleportasi ke aula. Dan melihat ketiga bocah itu menunggu disana.
"Kakekk" aku berteriak sambil melambaikan tangan.
"Kau baik-baik saja? Apakah ada yang aneh dengan tubuhmu?"
"Hum! Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah"
Dean Wason mengangguk.
__ADS_1
"Kakek..." aku berkata agak ragu. "Apakah itu semua tidak apa-apa? Masalah sihirku"
Dean Wason langsung mengelus kepalaku. "Tidak apa-apa. Aku sudah membereskan mereka semua. Lagipula itu baik-baik saja. Kau hanya seorang jenius, tidak lebih."
"Benarkah...?" aku agak ragu. Aku bahkan disebut iblis. Apa ada legenda iblis dengan enam elemen di dunia ini ya?
"tapi...apakah ada yang mempunyai enam elemen sepertiku di dunia ini?"
Dean Wason tersenyum ragu. "Jujur, aku belum pernah mendengarnya. Tapi di suatu tempat pasti ada. Mereka hanya menyembunyikan diri mereka" Dean Wason berusaha menghibur.
"benarkah?"
"Tenang saja Eva" Dean Cristal tiba-tiba menyahut. "Semuanya baik-baik saja. Kau hanya harus berlatih agar kau berkembang dan semakin kuat. Saat itu kami tidak akan khawatir lagi padamu"
"Tentu saja guru!" aku mengangguk pasti.
"Aku benar-benar bangga mempunyai murid jenius sepertimu. temui aku nanti, aku akan memberikan semua buku mantra itu padamu"
"Ah~" mataku langsung berbinar senang. "Terima kasih master~" aku langsung memeluk Dean Cristal.
"Pak tua, mana upahku?" nada tidak senang Sayn menghancurkan suasana bahagia ini.
"Hmph" aku merenggut tidak senang sambil menatapnya. Dia benar-benar menghancurkan suasana bahagiaku dengan nada ketusnya itu.
Dean Wason tersenyum dan menyerahkan sekantong uang padanya. "Kau sudah menyelesaikan tugasmu dengan baik"
"Baiklah, aku akan pergi"
Dia tiba-tiba mangarahkan tatapannya padaku.
Aku mengernyitkan kening tidak senang.
"Sampai jumpa lagi gadis kecil. Aku harap kau berkunjung ke rumahku" katanya sambil tersenyum licik sebelum menghilang.
Aku hanya menjulurkan lidahku, mengejeknya.
Semoga kita tidak pernah bertemu lagi! Aku berharap aku tidak akan pernah bertemu dengannya! Dan aku juga tidak akan pernah berkunjung ke kerajaan yang berbahaya itu. Memangnya aku gila, humph!
Dean Wason mengeluarkan kantong lainnya dan menyerahkannya pada Robert. "Ini adalah sisa ramuan dari laboratorium Caro"
"Aku tidak menginginkannya!" Robert langsung menolaknya. Memikirkan barang sisa orang tua jahat itu, dia benar-benar merasa jijik.
Eh? Ramuan dari resep kuno itu bukan?
"Master, ambil saja! Ayolah~" aku membujuk Robert.
"Tapi...."
"Itu akan berguna untukmu. Ambil saja~ oke, oke" kataku dengan nada memohon.
Robert akhirnya mengambilnya dan meletakkannya dalam ruang dimensi.
Ramuan ini akan dipakai Robert untuk meningkatkan kekuatannya. Yah, setidaknya tidak menyimpang terlalu jauh dari ceritanya. Ini akan sangat berguna untuk pertandingan sihir di masa depan!
"Dimana Charlotte?" tanya Dean Wason tiba-tiba.
"Ah! Dia pergi duluan. Dia menyampaikan terima kasih padamu kakek" jawabku langsung.
Haa~ Dean Wason menghela napas.
"Gadis itu pasti sangat kecewa" katanya prihatin. Dia benar-benar menganggap Charlotte sebagai cucunya juga, walaupun mereka tidak dekat. Dia cukup prihatin terhadap kejadian yang sudah menimpanya. Hampir saja gadis itu tertuduh dan ditangkap. Dia juga kecewa pada dirinya sendiri karena tidak percaya pada gadis itu.
"baiklah, kalian panggil semua guru yang ada di sini. Kita akan mengadakan pemilihan untuk penatua yang baru. semua guru di sini dapat berpastisipasi." Dalam sekejap Dean Cristal dan Dean Leon langsung menghilang.
"Kalian berdua dapat kembali ke kamar. Istirahatlah. Dan Robert, besok ada yang ingin kutanyakan padamu" katanya sambil menatapku dan Robert, lalu secara perlahan sosok itu menghilang.
"Eva, kau akan menginap di kamarku?" tanya Robert penuh harap.
Aku mengangguk. "Ada yang ingin kutanyakan padamu master. Tentang ruang bawah tanah itu. Aku ingin memeriksa lebih detail"
DEG! Robert tersentak. Ruang bawah tanah? gadis ini mengetahuinya?
Tapi dia langsung tersenyum tulus. Dia berlutut, lalu mengambil tangan Eva dan mencium punggung tangannya. "Tentu saja. Aku akan melakukan apa pun untuk putriku~"
Blush!
Pipiku langsung memerah. Ha~ aku benar-benar belum pernah diperlakukan seperti ini. Ini benar-benar sesuatu yang baru ah~
'Lihatlah kucing bodoh! Rencanamu benar-benar gagal! Aku sudah menjadi putri hahahaha dan mendapatkan satu penggemar.' pikirku sambil tersenyum senang.
Ternyata tidak buruk untuk masuk ke dalam cerita novel. Walaupun peranmu adalah penjahat ~
__ADS_1