
Cerita sebelumnya:
Eva melanjutkan kelasnya di akademi Kerajaan., walaupun para pangeran dan putri sudah meninggal kan kelas untuk menyambut tamu.
Setelah kelas selesai, Eva segera menghubungi Ricko untuk menanyai kabarnya. Dia juga menghubungi Vivian dan Denis.
Sementara Raja Albion dan Raja Kano mulai mendiskusikan tentang hubungan kerja sama mereka. Raja Albion mulai menawarkan untuk membentuk lingkaran sihir di masing-masing kerajaan. Lalu dia mulai menawarkan para prajuritnya juga untuk membantu kerajaan Kano dalam peperangan.
Mereka melakukan pertukaran perdagangan. Pangeran Erick juga ikut belajar di akademi kerajaan untuk hubungan diplomatis dan agar mengetahui budaya luar dari kerajaan asing.
***
"Yang Mulia..." aku berusaha untuk menyapa Denis dengan sopan.
"Ada apa?" Denis bertanya.
Anehnya suaranya benar-benar ramah. Seperti tidak ada konflik apapun yang terjadi di antara kita.
Denis sangat terkejut saat dia mendapatkan sinyal telepati dari Eva. Saat itu dia masih berada di penginapan di sebuah desa kecil bersama Jean.
Saat ini dia masih menjalankan misinya dan berada di luar ibukota. Kepala sekolah meminta bantuan padanya, jadi dia membantu. Tapi siapa yang menyangka bahwa dia sudah menjalankan misi ini hampir dua minggu.
"Yang Mulia, apa kau tidak ada ibukota sekarang ini?" aku langsung bertanya.
Denis berharap gadis kecil itu menanyakan keadaannya. Tapi ternyata tidak, sehingga dia sedikit kecewa. Tapi dia masih menjawab dengan nada datar.
"Ya, aku masih menjalankan misi"
"Apa kau tidak tahu tentang keadaan di ibukota?" aku bertanya lagi untuk memastikan.
Denis mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu?"
Aku pun menjelaskan bahwa keadaan di ibukota benar-benar tidak baik. Duke Court, ayahku memiliki konflik dengan Raja karena satu hal. Aku juga menceritakan tentang lubang antara faksi kerajaan dan faksi Court yang semakin membesar.
"Aku tidak tahu apapun..." kata Denis dengan suara sedikit bergetar.
"Mereka berkata bahwa ayahku berniat untuk melakukan pemberontakan bersama faksi Court. Mereka bahkan ingin mengambil alih toko robot yang sudah kujalankan. Padahal penemuan - penemuan itu juga bukan milikku. Aku sudah pernah menjelaskan nya padamu" kataku dengan berani.
Aku sedikit kesal, jadi aku benar-benar mengeluarkan semua yang kupikirkan pada Denis. Aku tahu ini hal yang salah karena pria itu tidak tahu apapun. Tapi tetap saja aku berharap dia bisa membuat sedikit perubahan, agar situasinya menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Saat aku kembali, aku akan memeriksa semuanya" jawab Denis lirih.
"Baiklah"
"..."
Setelah itu, kedua orang itu terdiam beberapa saat. Semuanya karena topik pembicaraan mereka sudah berakhir dan mereka menjadi sangat canggung. Hubungan keduanya tidak terlalu baik karena konflik terakhir kali, karena itulah suasana nya menjadi canggung.
Aku tidak menyukai situasi nya dan ingin mengakhiri ini, tapi tiba-tiba Denis berkata dalam keheningan.
"Aku minta maaf..."
"..."
Aku tidak merespon nya. Aku ingat bahwa dia selalu meminta maaf dan tentu saja aku memaafkannya.
"Tidak masalah...." kataku kemudian.
Mendengar respon Eva yang sangat acuh, Denis kecewa. Tapi dia tidak mengatakan apapun lagi sampai gadis itu memutuskan telepati nya.
"Masih berapa lama lagi kita harus tinggal di desa ini?" Denis menoleh ke arah Jensen, yang dari tadi menatapnya dengan sangat antusias sambil berbaring.
Denis tidak tenang. Dia tidak tahu konflik apa yang terjadi di ibukota sekarang. Tapi perasaannya tidak baik. Dia pun mengambil bola sihir dan langsung menghubungi ayahnya.
***
Pembicaraanku dan Denis berakhir. Sekarang adalah waktunya untuk beristirahat. Harusnya seperti itu. Tapi siapa yang menduga bahwa sesosok jubah hitam tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam kamarku tiba-tiba.
"Sayn?" dalam sekejap aku mengenali nya.
Sayn membuka tudung jubahnya dan tersenyum. "Halo" Dia melambaikan tangannya.
Entah mengapa aku merasa ekspresi nya sangat gelap walaupun sekarang pria itu sedang tersenyum. Aku mendengar bahwa Raja mengurung nya karena suatu hal. Tapi aku juga sudah menduga bahwa dia bisa melarikan diri dengan mudah. Mungkin memang suasana hatinya sedang tidak baik sekarang.
"Ada apa?" aku bertanya.
Wajah Sayn menjadi semakin gelap, tetapi dia tetap tersenyum. "Apa kau tidak merindukan ku? Kenapa respon mu sedingin ini".
Dia menarik tanganku dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya, sambil menatapku lekat-lekat. " Kau bahkan tidak mencariku setelah sampai di kerajaan Kano"
__ADS_1
"Um, Sayn" aku menggeliat, berusaha menjauh. Benar-benar tidak nyaman melihat Sayn menatapku seperti itu. Seperti tatapan predator yang lapar. Aku tidak menyukainya.
Tapi pegangan Sayn semakin kuat. Akhirnya aku refleks menggunakan Sihir ku dan melompat menjauh.
Sayn menatap tangannya yang kosong dengan ekspresi rumit lalu dia menatap Eva. "Kenapa kau menjauhi ku?"
"aku tidak menjauhimu. Tapi sikapmu sekarang membuat ku sangat tidak nyaman. Wajahmu mengerikan. Apa yang terjadi?" kataku langsung.
Mata Sayn meredup. Dia memejamkan matanya selama beberapa detik lalu menghela napas. Dia berusaha mengatur ekspresinya menjadi normal kembali. "Maafkan aku. Aku terlalu berlebihan." katanya menyesal.
"Tidak apa-apa. Tapi apa yang terjadi? Aku belum pernah melihat mu marah seperti itu" tanyaku. Bahkan saat di dalam novel, Sayn hanya marah saat dia tahu Reina tidak memilih nya dan lebih memilih Denis. Tapi apa yang membuat nya menjadi sangat marah sekarang?
"Dan lagi. Aku ingin menemui mu saat itu di akademi. Tapi kelihatannya kau sibuk berbicara dengan orang lain. Jadi aku tidak ingin menganggu dan pergi lebih dulu. Bukan berarti aku mengabaikan mu" kataku lagi.
"..." Sayn diam dan menatap Eva dengan penuh arti selama beberapa saat. Lalu dia mulai berkata. "Kau tahu bahwa Raja mengurung ku?"
"Ya. Berita itu tersebar luas" aku mengangguk.
"Pria itu menganggap aku tidak berguna..." katanya lirih.
Aku tidak menyangka bahwa perkataan Raja akan menyinggung nya. Bukankah selama ini dia sama sekali tidak pernah menghiraukan perkataan Raja. Tapi kenapa sekarang dia kepikiran akan hal itu?
"Aku tidak menganggap perkataan nya adalah masalah" lanjut Sayn lagi, seakan-akan dia mengetahui isi pikiran Eva. "Aku malas untuk membuat konflik yang tidak perlu dan memilih untuk menunggu di penjara. Tapi pria itu tiba-tiba datang. Dia datang bersama ibu asuhku dan mengancamku." Ekspresi Sayn berubah menjadi mengerikan.
Aku tersentak saat melihat nya.
"Maafkan aku. Aku tidak berniat untuk membuat mu takut" kata Sayn menyesal.
"Tidak apa-apa" kata ku langsung. Aku memberanikan diri untuk mendekati nya dan menepuk kepalanya. Sayn lebih tinggi dariku. Perlu beberapa usaha agar tanganku bisa mencapai ujung kepalanya.
Wajah Sayn memerah malu sebentar. Lalu dia melanjutkan. "Pria tua itu mengancamku untuk menikah dengan seorang pedagang kaya berumur 40 tahun."
Aku hampir tersendat saat mendengar nya.
"Dia mengatakan, dia akan membunuh ibu asuhku kalau aku menentang nya" lanjut Sayn lagi sambil menyipit kan matanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa ibu asuhmu ditangkap sekarang?" tanyaku. Aku ingat Sayn memang menganggap pelayan yang sudah merawat nya sedari kecil sebagai ibu angkatnya. Lagipula dia pelayan yang baik, walaupun memang sedikit dingin dan bermulut tajam.
"Aku bisa menyelamatkan nya dengan mudah" kata Sayn percaya diri. "Aku hanya bingung. Apa yang harus kulakukan dengan pria tua menyebalkan itu? Semakin hari dia benar-benar merusak mataku. Haruskah aku membunuhnya?"
__ADS_1
Sayn berbicara tentang keinginan nya untuk membunuh seseorang sambil mengerjap polos. Terlihat sangat mengerikan. Dia bahkan lebih cocok menjadi tokoh antagonis daripada Ren. Sungguh