
Cerita sebelumnya:
Eva mulai membuat negosiasi dengan Vien. Awalnya itu negosiasi pernikahan Caca dan Fram. Mereka membuat hal itu menjadi pertunangan lebih dulu.
Kemudian, Eva mengeluarkan robot pembersih. Dia mulai negosiasi kedua dengan robot itu. Dia ingin menukarnya dengan kristal warna-warni yang berada di istana elf. Vien menyetujui nya dan mereka pun membentuk hubungan kerja sama.
***
Setelah melakukan negosiasi tentang robot pembersih itu, Vien dan Ren mulai bertatapan satu sama lain.
"Ren, aku tidak menyangka bahwa kau akan dekat dengan gadis manusia lagi..." kata Vien dengan penuh makna.
Ren tidak menjawab. Dia mengernyit kan kening tidak senang lalu menatap Vien dengan tajam.
Vien tahu tentang insiden itu. Dan dia juga tahu tentang Emily, wanita manusia yang dekat dengan Ren di masa lalu. Sebenarnya gara-gara insiden itulah hubungan mereka sebagai raja semakin memburuk. Karena walaupun mereka saingan dari kecil, mereka tidak pernah sampai membunuh satu sama lain. Itu adalah persaingan yang sangat.
Sejak kecil mereka selalu dibandingkan satu sama lain oleh para elf. Itu karena mereka berdua adalah anak jenius yang terlahir dari ras elf. Tapi persaingan mereka sangat sehat waktu itu. Tidak saling melukai satu sama lain tapi berlomba untuk menjadi siapa yang lebih kuat.
Kemudian, mereka beranjak dewasa dan kejadian itu pun terjadi. Saat itu bahkan Caca belum lahir sama sekali. Kejadian bahwa raja elf gelap Ren mulai menjadi sangat jahat.
Vien pun menyelidiki apa yang terjadi. Dan dia mendapatkan informasi bahwa Ren baru saja kehilangan wanita manusia yang sangat berharga baginya karena musuhnya. Sejak kejadian itu Ren menjadi sangat kejam. Dia selalu membunuh musuh yang menghalangi jalannya. Tidak pernah mengampuni mereka. Bahkan beberapa orang dari ras elf cahayanya dan ras elf lain juga dibunuh.
Tentu saja Vien menjadi sangat murka. Dia tidak harus membunuh mereka. Dia bisa saja membiarkan mereka hidup dan memenjarakan nya.
Akhirnya Vien juga akan melukai ras elf gelap yang memasuki wilayah mereka secara diam-diam. Tapi dia tidak pernah membunuh nya karena dia tidak bisa. Membunuh mahluk hidup akan membuat Vien kehilangan sihirnya. Itu karena sihir nya adalah pemberian dewa. Bahkan sihir cahayanya lebih murni daripada sihir para manusia yang menganggap diri mereka sebagai penyihir cahaya.
Jadi Vien hanya bisa mengalahkan musuhnya sampai kehilangan anggota tubuh, tapi tidak bisa membunuh. Tapi bukan berarti elf cahaya lain tidak bisa membunuh. Mereka bisa.
Pertarungan antar ras elf itu pun terjadi terus-menerus selama ratusan tahun. Dan membuat semua orang menjadi terbiasa untuk saling melukai, baik raja atau rakyat mereka. Walaupun faktanya Ren dan Vien belum pernah bertarung satu sama lain. Mereka hanya beragumen lewat telapati.
Vien pun mengalihkan tatapannya pada Eva. Gadis Manusia itu terlihat muda atau bisa dibilang remaja. Tapi dua atau tiga tahun lagi dia akan menjadi dewasa. Dan bagi elf dua atau tiga tahun itu sangat sebentar.
Vien melihat ke dalam gadis manusia itu, dia ingin mengetahui kekuatan nya. Dia penasaran apa yang membuat Ren tertarik pada wanita manusia lagi setelah ratusan tahun. Dan tiba-tiba dia menemukan sesuatu yang membuat dirinya sangat terkejut! Dia melihat mana cahaya dalam dirinya! Tapi yang lebih mengejutkan lagi. Dia juga melihat mana gelap!
Bagaimana mungkin bisa ada penyihir yang menyimpan mana gelap dan cahaya dalam tubuhnya? Ini sangat mustahil!
Mana cahaya adalah berkat dewa. Sementara mana gelap berasal dari mahluk asing dan keturunannya. Dewa sangat membenci mahluk asing yang masuk ke dalam wilayah mereka. Bahkan ingin memusnahkan nya. Jadi tidak mungkin para dewa itu memberikan berkahnya kepada keturunan mahluk asing. Ini diluar akal sehat!
"Bisakah aku pinjam tangan mu?" Vien bertanya pada Eva dengan mata berbinar. Seolah-olah dia melihat harta Karun asing.
Aku bingung. Kenapa Vien ingin melihat tangan ku? Tapi aku tetap memberikan tanganku padanya.
Vien menyentuh pergelangan tangan Eva untuk melihat kekuatan mananya. Dan dia langsung terkejut dan menatap Eva dengan mata berbinar. "Mahluk apa kau?" katanya dengan mata melebar.
Aku memiringkan kepalaku bingung. "Apa maksudnya?"
"Apa kau bisa tinggal disini sebentar?" kata Vien tiba-tiba, dia kelihatan seperti terburu-buru.
Aku semakin bingung.
Mereka berdua tidak sadar bahwa Ren sudah mengeluarkan aura membunuh dari tubuhnya.
"Kenapa?" aku bertanya tidak mengerti.
Vien tersenyum cantik. "Aku ingin memberikan kursi ratu kepadamu" kata Vien ambigu.
__ADS_1
Vien tidak memiliki pasangan. Mungkin semua orang berpikir bagaimana Caca bisa lahir. Awalnya, Vien mengontrak seorang wanita elf dengan sihir cahaya yang sangat kuat. Tidak ada cinta di antara mereka. Mereka hanya membuat kontrak terikat. Vien menginginkan seorang anak dan wanita itu ingin kekuasaan. Jadi mereka menjadi sangat cocok. Wanita itu kemudian menjadi seorang ratu. Lalu melahirkan Caca seratus tahun kemudian. Tapi sayangnya, umurnya tidak panjang. Wanita itu meninggal saat melahirkan.
Vien saat ini tertarik dengan sihir cahaya Eva yang sangat kuat. Dia akan memberikan nya kursi ratu. Dan dia menginginkan anak lainnya. Lagipula Vien pernah mendengar bahwa manusia bisa hamil dengan mudah daripada elf. Mereka hanya memerlukan waktu satu sampai dua tahun untuk hamil.
Jadi Vien merasa lebih bersemangat. Ini semua karena angka kelahiran elf yang sangat rendah. Jadi setidaknya Vien menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan tahtanya. Walaupun anak itu setengah manusia dan elf, Vien tidak masalah. Selama dia dan pasangan nya memiliki mana cahaya yang sangat kuat. Anak yang mereka lahirkan tidak akan pernah gagal.
Caca adalah contohnya. Dia adalah elf cahaya yang sangat jenius. Dia memiliki banyak sekali mana cahaya dengan kekuatan yang lebih kuat darinya. Hanya saja anak itu malas berlatih dan lebih memilih untuk bermain setiap harinya. Jadi pengalaman bertarung dan pelatihan nya benar-benar nol. Tapi Vien tidak memiliki masalah dengan itu. Caca masih kecil. Lebih baik dia menikmati waktunya sekarang sebelum dia memikul beban yang lebih berat di masa depan.
"Eh?" aku menatap Vien tak percaya. Ratu?! Apa maksudnya dengan Ratu, Hei!
"Aku akan memberikan kursi ratu padamu. Tapi kau harus memberi seorang anak untukku. Aku tidak masalah menunggu tiga tahun sampai kau beranjak dewasa" katanya tanpa rasa malu sedikit pun.
Duar!
Perkataan Vien seperti petir menyambar untukku. Aku langsung mematung karena tidak bisa memproses informasi mengejutkan ini dengan cepat.
Ren sudah mencapai puncaknya.
Krak, krak, krak, lantai istana mulai retak karena kekuatannya. Aura membunuh nya semakin tebal. Ren memisahkan Eva dari Vien dengan cepat lalu meletakkannya dalam pelukannya, agar Vien tidak bisa melihat nya.
"Jangan bicara omong kosong!" udara di sekitar nya bergetar hebat saat dia berbicara. "Dia milikku!"
Tapi Vien tidak takut. Dia benar-benar serius. "Aku mengerti kenapa kau dekat dengannya. Mana gelap dalam tubuhnya juga sangat kuat heh...jadi kau menginginkan nya juga" kata Vien tajam.
Mata Ren melotot dan retakan di bawah kakinya semakin lebar.
"Kau hanya akan membuat nya dalam bahaya Ren. Sama seperti wanita manusia itu. Kau memiliki banyak musuh. Dia akan mati kalau berada di dekatmu. Lagipula manusia begitu rentan. Mereka mati dengan cepat, tidak seperti kita. Dia bisa lebih aman saat bersamaku. Aku tidak memiliki banyak musuh seperti mu dan aku menjalani hidupku dengan sangat damai" Vien berkata dengan sangat percaya diri.
Dia berkata dengan keras berharap gadis manusia itu mendengar nya. Vien berharap gadis manusia itu sadar bahwa berada di dekat Ren itu berbahaya karena dia memiliki banyak sekali musuh dari seluruh dunia.
"Kalau kau membuka mulutmu lagi, aku benar-benar akan menghancurkan wilayahmu" kata Ren tajam.
Ren sudah bersiap menyerang. Dia tidak peduli bahwa kedatangan awal mereka kesini adalah negosiasi.
"Um...tunggu!" Aku tersadar kembali. Aku langsung menghentikan Ren karena takut semuanya akan menjadi kacau. Perang antar Elf terjadi karena aku, bukankah ini gila?
"Ren, biarkan aku bicara sebentar" aku menatap Ren dengan mata penuh permohonan.
Ren melunak dan melonggarkan pelukannya.
Aku langsung menatap Vien. "Saya minta maaf yang mulia Vien. Tapi saya akan menolak tawaran itu" kataku sungguh-sungguh. "Aku tidak pernah berkeinginan menjadi ratu elf sama sekali"
Vien memutar matanya tidak mengerti. "Kenapa? Kami adalah ras elf tertinggi dari semua elf" kata Vien. Dia benar-benar menjatuhkan posisi ras elf gelap secara langsung. "Lagipula kami bisa berkomunikasi dengan dewa. Kami kaya. Bahkan raja dari kerajaan manusia hanya serpihan untuk kami. Kenapa kau menolak?" Vien tidak mengerti. Posisi ratu adalah posisi terbaik. Terutama untuk seorang manusia seperti mereka. Bagaimana pun elf jauh lebih baik dari manusia dalam berbagai aspek.
"Aku tidak berminat." kataku kemudian. Berkomunikasi dengan dewa? Aku selalu bertemu dengan dewa kucing sialan itu dan aku tidak ingin bertemu dengan dewa lainnya sama sekali.
"Lalu kau melupakan satu hal penting juga Yang Mulia. Aku keturunan David, mahluk asing yang datang dari dimensi yang berbeda. Dan kalian adalah tangan kanan dewa. Dewa sangat membenci para mahluk asing. Bukankah dewa akan mengutuk kerajaanmu kalau aku menjadi ratu? Dan aku juga tidak ingin membahayakan hidupku karena harus berhadapan dengan para dewa itu!" kataku.
Mata Vien melebar, seakan dia mengingat hal penting yang terlupakan. Dengan wajah ragu dia bergumam. "Tapi kau memiliki sihir cahaya. yang sangat kuat. Dewa juga memberkati mu..."
"Tidak. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan dewa. Aku mendapat kan sihir cahaya ini di sebuah bangunan kuno dalam domain Sihir. Ini bukan sihir bawaan. Aku meminum ramuan" aku sudah mulai mengarang cerita sekarang. Aku bersyukur bahwa aku mempunyai otak yang hebat!
Vien masih tidak percaya. "Tapi sihirmu sangat murni. Itu tidak mungkin..." katanya tak percaya.
"Itu mungkin Yang Mulia. Gunakan saja logika. Dewa sangat membenci kami. Bagaimana mungkin mereka memberi berkat pada kami? Itu sangat mustahil! Ini semua karena ramuan kuno yang sudah kuminum!"
__ADS_1
Mata Vien melebar seakan-akan dia menerima pencerahan. Dia jadi tahu alasan kenapa gadis manusia itu memiliki dua mana yang saling berlawanan dalam tubuhnya.
Vien juga merasa sedikit menyesal. Andai saja dia yang menemukan ramuan kuno itu. Mungkin sihir cahaya nya akan semakin kuat dan murni. Tapi keberuntungan setiap orang sangat berbeda.
"Begitu..." Vien akhirnya menerima kenyataan.
Melihat Vien sudah menyerah, aku mendesah lega. Setidaknya pertarungan bodoh tidak akan terjadi sama sekali.
"Jadi Yang Mulia, bisakah kita melupakan apa yang terjadi hari ini?" kataku. Aku takut hubungan kerja sama menjadi batal karena hal seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan kristal berharga itu pergi begitu saja!
Vien mengangguk.
"Bagaimana dengan penawaran nya? Semuanya baik-baik saja bukan?"
Vien menatap kedua orang di depan nya dengan wajah menyesal. "Maafkan aku. Aku terlalu bertindak implusif saat melihat mana dalam tubuhmu. Kau tahu kalau angka kelahiran elf sangat rendah bukan? Dan bahkan sulit menemukan orang berbakat karena orang berbakat hanya muncul beberapa ratus tahun sekali di ras kami. Sangat berbeda dengan manusia yang memiliki angka kelahiran tinggi dan terus melahirkan keturunan" katanya frustasi. Dia menceritakan hal yang selama ini mengganjal hatinya.
Vien tidak bisa terlalu berharap pada Caca karena dia anak perempuan. Caca akan mengikuti pasangannya suatu hari nanti. Itulah alasannya dia tidak pernah memaksa Caca untuk berlatih atau pun belajar. Dia membutuhkan anak laki-laki. Tapi dia belum menemukan calon ratu yang tepat untuk melahirkan anak nya.
Vien menatap Ren serius. "Kau harus memiliki keturunan Ren. Anak-anak elf tumbuh dengan lamban. Kau harus memikirkan hal ini dengan baik. Aku tidak peduli apakah itu elf cahaya atau elf gelap. Tapi kami tidak bisa membiarkan ras kami musnah seperti ini dan digantikan oleh ras manusia yang semakin banyak"
Ren tidak menanggapi dan hanya mendengus kesal. Tapi dia sudah menarik aura membunuh nya.
Lalu Vien kembali menatap Eva. "Kita lupakan apa yang terjadi. Anggap saja hari ini kita hanya membicarakan pernikahan Caca dan juga robot pembersih itu. Tapi..." dia menunjuk lantai istana nya yang hancur. "Mungkin aku akan mengurangi kristal nya sebagai biaya ganti rugi"
Aku langsung melihat ke bawah. Aku tidak sadar bahwa lantai aula istana ini benar-benar retak seluruhnya. Dan pusat retakan nya juga tidak asing. Ren lah penyebabnya!
"Baiklah..." aku mengangguk dengan tatapan sedikit kecewa.
"Ayo pergi" Ren menarik Eva kembali dalam pelukannya. Dia bahkan tidak berpamitan dengan Vien dan langsung menghilang dengan cepat.
Saat aku membuka mata, kami sudah tiba di istana elf gelap. Ren tiba-tiba berteleportasi. Aku bahkan belum berpamitan dengan Vien! Bukankah itu tidak sopan? Aku pun melepaskan diri dari Ren dengan wajah cemberut.
Siapa yang mengira bahwa ada kejadian mengejutkan seperti itu di pertemuan kali ini? Semua ini benar-benar melelahkan!
"Aku lelah. Aku akan kembali ke kamar"
Diana sudah pulang. Rexus bermain dengan Fram Sekarang. Aku hanya bisa menemui Emerta setelah ini. Aku ingin berpamitan dengan nya. Aku akan kembali ke rumah sejak urusanku disini sudah selesai.
Aku berjalan menuju kamarku, tapi siapa yang mengira bahwa Ren akan mengikutiku di belakang. Ini sangat tidak normal. Bukannya biasanya dia akan kembali mengurus pekerjaan istananya?
Aku menoleh dan melihat Ren. Pria itu terus mengikuti ku dengan mata melotot.
" Ada apa denganmu? Kenapa kau mengikuti ku?" tanyaku tidak senang.
"Apa kau sama sekali tidak ingin menjadi ratu?" dia bertanya dengan wajah datar.
Ada apa dengan orang ini. "Tidak sama sekali"
"Tapi kau bertunangan dengan putera mahkota dari kerajaan manusia itu" katanya kemudian.
"Itu hanya pertunangan politik antar orang tua" kataku ketus. "Lagipula itu hanya pertunangan bukan pernikahan. Dan aku masih bisa membatalkan nya kalau aku mau"
Ren mengerjap. "Begitu..." katanya lirih sambil menghentikan langkah nya. Lalu dia mulai membalikkan tubunya dan berjalan pergi meninggalkanku.
Aku menatap nya dengan tatapan tidak percaya. Kenapa sikap pria itu benar-benar random. Dia mengikuti ku tiba-tiba lalu sekarang dia berbalik pergi tiba-tiba.
__ADS_1