Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 1: Kuat


__ADS_3

Denis merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Saat mahluk itu menyerangnya tiba-tiba, dia sama sekali tidak menduganya. Tubuhnya seketika langsung mematung, tidak mau bergerak. Dia sudah pasrah dan memejamkan matanya.


Tapi tiba-tiba sosok mungil itu menghampirinya dan melemparkan sihir. Tapi itu tidak berguna, sihir itu patah dalam sekejap, dan mahluk itu semakin mendekat.


"EVAAA!!" Denis berteriak sambil berusaha menggapainya. Tapi terlambat.


Sosok kecil itu terkena serangan. Seketika dia melihat ceceran darah menghambur di depan matanya.


Kaget, marah, dan ketidakberdayaan menjadi satu. Dia menatap sosok kecil itu terbaring lemah di depannya. Berusaha menggapainya.


ROARR!! Binatang itu meraung kesal. Bersiap melakukan serangan berikutnya.


Adele berusaha menahan dengan serangannya, tapi tidak berguna dan terlempar kesamping.


Mahluk itu berusaha menginjak sosok kecil yang terbaring lemah di depannya.


"Tidakkk!!!" Denis berteriak sambil menggerakan tubuhnya menggapai Eva. Tapi terlambat, mahluk itu lebih cepat.


DUAR!! Seketika tubuh Eva bercahaya. Dan cahaya itu naik ke atas, berkumpul menjadi satu. Membentuk gumpalan-gumpalan mana yang sangat besar.


Ini adalah mana yang telah disimpan Eva di dalam tubuhnya selama bertahun-tahun meditasi. Dia tidak menggunakan mana simpanannya, selalu menggunakan mana dari lingkungan. Dan dia tidak mengerti cara mengolah mana internal dari tubuhnya sendiri. Jadi seketika, saat dia dalam bahaya, alam bawah sadarnya melepaskan perlindungan, melepaskan semua mana internalnya. Semua mana yang dikumpulkan nya terlepas.


Mana itu terus berkumpul, dan membuat gumpalan awan putih yang sangat besar. Lalu gumpalan itu mulai bergerak ke arah mahluk itu dan mendorongnya menjauh. Binatang yang terdorong itu, berusaha memberontak dan mengaum sekeras-kerasnya. Tapi kekuatan gumpalan itu lebih besar. Binatang itu terus terdorong menjauh, dan gumpalan itu semakin terang dan semakin terang.


DUAR! DUAR! DUAR!


Terjadi ledakan yang sangat dahsyat!! Terjadi getaran hebat. Debu yang kuat langsung terbentuk.


Semua puing-puing pepohonan tumbang dan tanah retak berterbangan.


Denis melindungi Eva dalam pelukannya. Adele berusaha membuat pertahanan dengan tangannya.


Debu yang menutupi pandangan mereka perlahan memudar. Dan menampakkan sebuah lubang besar. Lubang itu terbentuk tidak jauh dari mereka. Lubang yang sangat dalam, hampir mengosongkan lahan hutan.


Tiba-tiba terdengar banyak langkah kaki dan suara semak-semak.


"Apa yang terjadi?" seru Jendral Lin kaget saat melihat kondisi kacau di depan matanya.


***

__ADS_1


"Uhh...." aku bergumam sambil mengernyitkan kening ku. Tubuhku terasa sangat sakit. Aku perlahan membuka mataku.


Hal pertama yang kulihat adalah ayahku, yang memandangiku dengan cemas.


"Kau tidak apa-apa gadis kecilku?" kata ayah bodoh itu lembut. Jujur saja, dia belum pernah berbicara dengan nada lembut seperti itu. Baik kepada ibuku, aku atau pun orang lain. Jadi ini sesuatu yang langka.


Ayahku ada disini?


Apa aku dirumah?


Aku berusaha beradaptasi dengan penglihatanku yang agak buram, dan pemandangannya semakin jelas.


Aku tidak berada di rumah, aku berada di tenda. Kelihatannya aku masih di perkemahan.


"Nona kau tidak apa-apa? Apa perasaanmu tidak enak?" tiba-tiba seorang pria tua yang tidak pernah kulihat wajahnya menghampiri ku.


"Siapa?" aku mengangkat bibirku dan bergumam pelan.


"Dia tabib istana yang dipanggil putra mahkota" jawab Ayahku. Entah kenapa nadanya agak dingin saat menyebutkan putra mahkota.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasakan sakit di punggungku. Tapi tidak terlalu sakit. Dan aku merasa tidak bertenaga" jawabku serak.


Tabib itu mengambil pergelangan tanganku dan memeriksa nadiku. "Denyut jantungnya normal tuan. Lukanya akan sembuh dalam beberapa hari, saya sudah menerapkan salep penyembuhan. Dan kelelahannya karena penggunaan mana yang berlebih. Disarankan untuk banyak istirahat, agar stamina nona kembali pulih"


Tabib itu langsung bergegas keluar. Saat tabib itu keluar, orang lainnya kembali masuk. Itu jendral Lin.


"Nona sudah bangun tuan? Apa kondisinya baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Dia tidak apa-apa." jawab Duke Court. "Aku harap kau merahasiakan kejadian ini. Jangan sampai ada yang tahu tentang kerusakan itu" kata Duke dengan nada dingin.


"Kerusakan apa pa?" tanyaku langsung.


"Bagaimana dengan binatang sihirnya? Bagaimana dengan yang lainnya? Apa Denis baik-baik saja? Bagaimana dengan Adele? Apa mereka terluka? Bagaimana dengan kompetisinya?" Aku langsung tersadar dan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.


"Uh...nona tenang lah...." jawab Jendral Lin.


"Semuanya baik-baik saja" katanya agak ragu "Tidak ada yang terluka parah, semuanya hanya kelelahan"


"Oh? Aapkah kalian mengalahkan binatang itu? Denis dan Adele tidak apa-apa? Kompetisinya bagaimana? Semua hewan buruan masih ada di dalam ruang dimensi. Aku takut kami dihitung gagal karena aku kehilangan kesadaran" jelasku.

__ADS_1


"Uhh... "jendral Lin bergumam ragu. "Semuanya baik-baik saja. Aku akan menghitung bintang buruannya."


"Oh, syukurlah. Jangan lupa hadiahnya oke" kataku agak antusias. "Kalau kami menang. Aku tidak memerlukan bagian ku. Berikan saja pada Jensen" kataku langsung.


Itu benar. Aku tidak kekurangan batu meditasi. Aku melihat ada banyak batu meditasi di rumah Duke. Tapi masih belum aku gunakan.


Batu meditasi mungkin langka di kalangan warga. Tapi tidak dikalangan bangsawan, itu masih bisa diperoleh. Hanya saja harganya memang cukup mahal.


"Dimana yang lain? Aku ingin bertemu mereka. Aku ingin memastikan mereka baik-baik saja" ucapku sambil bangkit berdiri.


"Istirahatlah dulu oke" Ayahku langsung menghentikanku. "Mereka tidak apa-apa. Mereka sedang memulihkan diri. Kita harus bersiap untuk kembali."


"Uhh...secepat ini? Aku bahkan belum bertemu dengan Denis..." gerutuku.


Mendengar nama Denis disebutkan, aura disekitar ayahku tiba-tiba menjadi dingin. "Jangan menyebutkan itu. Kalau saja dia bukan seorang pangeran. Aku pasti sudah menghancurkan nya karena melukaimu!" serunya kasar.


Ayah bodoh ini kelihatannya salah paham. Denis tidak pernah melukai ku! Setidaknya untuk sekarang ...


"Denis tidak salah. Mereka semua tidak salah. Itus semua salahku....Aku terlalu ceroboh dan arogan" jelasku. Aku lalu menjelaskan semuanya pada ayahku. Dari awal aku menemukan aura gelap dan mengajak mereka untuk masuk ke dalam goa. Hanya dengan tujuan bersenang-senang.


"Itu salahku ....pa...aku bersyukur mereka tidak terluka...." kataku sambil mulai terisak.


Ayahku mendekatiku dan mulai memelukku. "Gadis kecilku, kau tidak salah. Jangan menyalahkan dirimu. Jangan menangis lagi. Kita sebaiknya cepat pulang. Diana menunggu dengan cemas di rumah. Kau tidam mau membuatnya semakin khawatirkan?" seru Ayahku sambil menegelus-elus rambutku.


"Aku tidak mau mama khawatir...." kataku lirih.


Setelah itu, ayahku bersiap-siap. Aku digendong dan ditempatkan di kereta utama. Secara perlahan kavaleri kami mulai berjalan dan menjauh dari perkemahan. Aku melihat perkemahan yang semakin mengecil.


Sampai aku pergi, aku belum melihat Denis, Adele dan Jensen. Aku belum berpamitan dengan mereka.


***


Denis menatap tenda itu dari kejauhan. Dia sangat khawatir dengan gadis kecil itu.


Saat berita kesadarannya diumumkan, dia sangat senang. Dan hampir melangkah kan kaki ke dalam tenda. Tapi dia langsung menghentikan nya, dia langsung teringat tentang Duke dan perkataannya. Dia tidak boleh menemuinya sekarang. Gadis itu terluka karena dia.


Dia terus memperhatikan tenda itu berjam-jam. Sampai dia melihat gadis itu keluar dari tenda untuk berpindah ke dalam kereta. Dia tersenyum lega saat melihat senyum gadis itu.


'Kelihatannya dia baik-baik saja' pikirnya.

__ADS_1


Sampai kavaleri itu berjalan dan kereta itu mulai menghilang dari pandangannya. Dia tetap mengawasinya. Tangannya mengepal dengan erat dan dia menggertakan giginya.


"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi. Tidak akan pernah! Aku harus menjadi lebih kuat! Dan semakin kuat! Sehingga aku bisa melindungi apa yang harus aku lindungi!" pikirnya sambil terus menatap kereta yang sudah melenggang dikejauhan.


__ADS_2