
cerita sebelumnya:
Diana berinisiatif menggantikan Fifi untuk dijual duluan. Tapi dia berhasil melarikan diri dengan mengeluarkan sihir gelap pertamanya tanpa sadar hingga pingsan. Saat dia pingsan, seseorang tidak dikenal membawanya pergi.
Sementara di sisi lain, kavaleri dengan ratusan kuda menyerang kerajaan Garbiur. Kavaleri itu ingin mengambil alih kota. Dan siapa yang menyangka bahwa rencana penyerangan itu direncanakan oleh seorang anak kecil bangsawan bernama Enell.
***
Diana merasa kepalanya sangat sakit. Walaupun dia tersadar dan membuka matanya, kepalanya berdenyut kesakitan.
"Minum ini" suara asing menyuruhnya untuk meminum ramuan dalam botol aneh.
Tapi entah kenapa, Diana percaya pada orang asing itu dan dia meminum ramuannya dengan patuh.
Cairan menyejukkan jatuh ke tenggorokannya dan masuk ke dalam perutnya. Rasa segar itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan sakit kepalanya perlahan memudar.
"Kau terlalu banyak menggunakan mana gelapmu. Kau hampir mati karena hampir tidak tersisa mana dalan tubuhmu" jelas orang asing itu.
"Terima kasih" kata Diana tulus. Dia bangkit dari tidurnya untuk melihat siapa yang menolongnya.
Ternyata itu seorang pria muda yang berumur sekitar 20 an.
"Terima kasih kakak" kata Diana lagi. Dia mengucapkan terima kasih lagi karena orang itu sama sekali tidak meresponnya.
"Tidak perlu berterima kasih" jawabnya.
"Umm...tapi apa maksudmu sihir gelap? Aku sama sekali tidak mempunyai sihir jahat seperti itu" tanya Diana. Dia bingung, tapi dia juga tidak percaya bahwa dirinya menggunakan sihir gelap.
Pria itu melihat Diana dengan tatapan menyedihkan. Keluarga nya benar-benar merahasiakan hal itu darinya, sampai gadis kecil itu tidak tahu apapun tentang asal usulnya.
"Aku tidak akan mengatakan apapun lagi." pria itu menyerah. "Aku akan menyerahkan semua nya kepada keluargamu. Kalau kau ingin mengetahui sesuatu, lebih baik kau tanya orang tuamu" jawabnya. Pria itu membiarkan Diana, dan kembali fokus pada pekerjaan nya.
Diana mengangguk patuh. "Em. Aku akan menanyakan nya pada ibu nanti" katanya polos. Lalu dia mulai penasaran apa yang dikerjakan oleh pria itu.
"Kakak, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Diana penasaran sambil mencuri pandang. Diana melihat pria itu sedang membuat sebuah ramuan aneh. Ruangan yang sekarang ditempatinya penuh dengan tanaman, serbuk dan buku-buku aneh. "Apa kau membuat racun?"
"Jangan menyentuh barang yang ada disini sembarangan atau aku akan membuangmu" ancamnya.
"Tapi aku memang tidak ingin tinggal di tempat ini kok" balas Diana sambil menggembungkan pipinya.
"..."
Pria itu terdiam.
"Kalau begitu cepat cari ibumu"
__ADS_1
"Bagaimana aku mencari ibuku? Kalau aku berkeliaran sekarang, aku akan diculik lagi. Aku tidak mau!"
"Kalau begitu, jadi anak baik. Jangan menyentuh barang penelitianku sembarangan. Aku sudah menyebarkan berita ke komunitas penyihir gelap. Ibumu akan segera menjemputmu"
Diana masih memasang wajah cemberutnya "Kenapa harus penyihir gelap? Ibuku sama Sekali tidak berhubungan dengan penyihir gelap!" dia bersikeras.
Pria itu tidak mau meladeni anak-anak, jadi dia hanya bisa membiarkan dia mengoceh.
Diana terus bertanya. Setiap dia menemukan benda aneh dia akan mengoceh untuk bertanya. Pria itu akan mengabaikan nya, tapi tidak sepenuhnya. Dia akan menjawabnya sesekali kalau suasana hatinya sedang baik.
Tanpa terasa seminggu pun berlalu. Tapi ibunya sama sekali belum menjemputnya.
"Kakak, kau menyebarkan informasi ke tempat yang salah. Ibuku tidak akan menemukan ku di perkumpulan penyihir gelap itu!" protes Diana dengan pipi cemberut.
"Kalau ibumu tidak menjemputmu berarti dia tidak menginginkanmu lagi" kata pria itu kasar. Dia tidak tahu bahwa perkataan itu menyakiti hati Diana.
Diana yang selalu tersenyum itu, seketika langsung memasang wajah menyedihkan saat mendengar pernyataan itu.
Pria itu merasa aneh bahwa gadis kecil itu tidak membalas ucapannya. Padahal biasanya gadis itu mengoceh dengan sangat keras. Dia pun menoleh dan melihat Diana dengan mata memerah. Gadis kecil itu menahan tangisnya dengan mengigit bibirnya sendiri.
Pria itu merasa bersalah. "Aku minta maaf" katanya.
"Ibu tidak mungkin membuangku. Dia bukan ayahku!" Diana berteriak dengan air mata yang mengalir di pipinya. Anehnya, walaupun Diana menangis, dia sama sekali tidak terisak. Dia menangis dalam diam.
Diana memang terlihat lincah dan kekanak-kanakan. Tapi sesuatu dalam dirinya menjadi dewasa dengan cepat. Diana dapat dengan mudah mengendalikan rasa takut dan sedihnya. Karena itulah dia bisa tersenyum senang walaupun dia bersedih dan ketakutan.
"Em, tidak apa-apa. Aku akan berhenti menangis sekarang" jawab Diana. Dalam sekejap air matanya berhenti keluar. Diana mengusap sisa-sisa air mata di pipinya dengan bajunya. Membuat pipinya yang lembut itu memerah karena terkena gesekan kain.
"Ibumu pasti akan datang. Mungkin ada sesuatu di perjalanan yang membuatnya terhambat kemari." jelas Pria itu lagi. "Baiklah, sekarang aku akan membawamu makan cemilan" pria itu menggendong Diana. Dia ingin mengatasi rasa bersalahnya dengan memberi makan gadis kecil itu dengan cemilan.
"Terima kasih kakak. Kau sangat baik. Saat aku besar nanti aku ingin menikah dengan mu~" kata Diana polos sambil memeluk leher pria itu erat-erat.
Uhuk!
Pria itu langsung tersedak. Selama ribuan tahun dia belum mendapatkan pernyataan cinta dari siapapun. Tapi siapa yang menyangka pernyataan cinta pertamanya datang dari gadis manusia berumur 8 tahun. Dia tidak menerima hal itu.
Tentu saja pria itu langsung melupakan perkataan Diana dalam sekejap. Dalam pikirannya itu hanyalah pemikiran anak kecil dan dia tidak akan menganggap itu serius.
Pria itu tidak merespon. Dia langsung membawa Diana ke ruang makan dan menyediakan cemilan untuknya. Kue dan permen warna-warni tertata dengan rapi di atas meja.
"Terima kasih~"
Diana mulai melahapnya dengan gembira. Selama ini dia selalu berpergian dengan ibunya dan sangat sulit untuk bisa memakan makanan enak dan manis. Makanan seperti ini sangat langka baginya.
Beberapa jam berlalu. Diana menghabiskan waktunya dengan menikmati cemilan sambil membaca buku. Sementara Pria itu kembali sibuk dengan penelitian anehnya.
__ADS_1
"Kakak, aku sudah tinggal lama disini. Tapi aku sama sekali tidak tahu namamu" Diana mengeluh dengan wajah cemberut. Tapi dia masih tetap makan sambil menggoyang-goyangkan kakinya senang.
"Ren" jawab pria itu singkat.
"Baik, kakak Ren~ Senang bertemu denganmu~".
Dua orang itu pun melanjutkan hari-hari mereka bersama. Tanpa tersadar seminggu sudah berlalu.
Setelah sekian lama, akhirnya ibu Diana tiba di depan pintu rumah Ren. Wanita itu membungkukan tubuhnya untuk memohon maaf "Aku minta maaf karena menyusahkan mu untuk menjaga Diana selama ini. Dia anak yang cukup aktif. Aku tahu kau akan kesulitan karena hal itu" katanya menyesal.
"Tidak masalah. Aku bisa menjaganya" jawab Ren dengan ekspresi datar.
Wanita itu mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam dari ruang dimensi nya "Ini adalah kompensasi karena menyusahkan mu" katanya formal.
"Tidak perlu" Ren berusaha menolak. Dia tidak berniat mengambil apapun dari seorang wanita pengembara yang tidak memiliki apapun.
"Jangan meremehkan penampilan ku. Ambil saja kotak kayu itu. Aku yakin kau akan membutuhkan nya suatu saat nanti" kata wanita itu penuh arti.
Ren menerimanya. Dia membuka kotak itu. Matanya langsung berubah cerah. Dia menatap wanita itu sungguh-sungguh "Terima kasih" katanya. "Aku memang membutuhkan benda ini"
Wanita itu hanya tersenyum.
Setelah itu dia membawa putrinya pergi dari kediaman Ren.
"Ibu, apa aku bisa menemui kakak lagi?" tanya Diana polos.
Wanita itu menatapnya serius. "Jangan menyusahkan dia lagi di masa depan. Kita akan pergi ke tempat lain nya. Tidak mungkin untuk kembali ke tempat ini." Wanita itu dengan cepat meruntuhkan impian si Diana kecil.
Diana merasa sedih sekarang. Tapi dia mengangguk patuh, menuruti perkataan ibunya. Lagipula dia juga tidak ingin menyusahkan Ren lebih jauh lagi.
"Ibu, aku juga ingin bertanya sesuatu. Apa benar kita penyihir gelap?"
Deg! Wanita itu tersentak. Dia mengangkat Diana dan menatapnya lekat-lekat. "Darimana kau dengar itu?"
"Kakak Ren yang memberitahuku. Itu tidak benar bukan?" Diana mengerjap polos.
Wanita itu mengigit bibirnya, seakan-akan sangat sulit menjawab pertanyaan putri satu-satunya itu. "Kalau itu benar, apakah kau membenci ibu?" wanita itu balik bertanya.
Diana melonggo sebentar karena kaget. Tapu dia menggeleng kan kepalanya dengan cepat. "aku tidak akan membenci ibu. Kalau ibu memang penyihir gelap. Berarti penyihir gelap bukanlah orang jahat! Karena ibu bukan orang jahat!" begitulah logika gadis kecil itu bekerja.
Wanita itu tersenyum kecil. Dia membawa Diana dalam pelukannya. Lalu dia mencium keningnya.
"Kita bukan orang jahat. Jangan berpikir seperti itu. Setiap orang akan menjadi jahat kalau mereka memang mempunyai pikiran jahat. Kita tidak akan menjadi jahat kalau kita mempunyai pikiran yang baik" Wanita itu menjelaskan nya dengan bijaksana. "Kadang dunia itu terlalu tidak adil, terutama untuk kita. Jadi kau harus pintar menempatkan dirimu" katanya melankolis.
"Aku akan mendengar kan nasihat ibu dengan baik" kata Diana senang.
__ADS_1
Kedua wanita itu melanjutkan perjalanan mereka untuk mengelilingi dunia ini, mencari tempat tinggal dimana mereka bisa hidup dengan damai.