
Cerita Sebelumnya:
Para rombongan itu menelusuri hutan selama beberapa jam sebelum mereka memutuskan untuk berhenti dan istirahat. Ya, mereka berhenti untuk makan siang. Anak-anak akademi dari Kerajaan Well memakan makanan mereka masing-masing. Dan para pangeran dan putri dari kerajaan Kano menyuruh pelayan pribadi mereka untuk memasak di tempat. Perbedaan kebudayaan makan kedua kerajaan ini sempat mengejutkan Eva. Eva bahkan tidak berpikir bahwa Reina, sang tokoh utama, memutuskan untuk akrab dengan pangeran dan putri.
Saat mereka sedang menikmati makan siang mereka, tiba-tiba terdengar auman yang memekakan telinga. Kedatangan binatang iblis dimulai...
***
ROARR!! Auman itu terdengar di seluruh hutan. Beberapa binatang kecil yang mendengarnya, langsung berhamburan untuk menghindar.
Semua orang langsung berdiri dan waspada. Para prajurit pengawal langsung mengelilingi para pangeran dan putri. Kami mendekati mereka dan Robert melindungi di barisan paling depan.
ROAR! ROAR! ROAR! Ada banyak sekali auman.
Jangan-jangan binatang sihirnya lebih dari satu? Kalau benar begitu, aku bergidik ngeri. Satu binatang saja sudah menakutkan, bagaimana kalau ada banyak, aku tidak bisa membayangkannya.
Dan benar saja dugaanku! Dalam sekejap sekelompok singa mulai menampakan wujud mereka. Singa-singa itu mulai mengepung kami sambil menunjukkan gigi-gigi mereka yang tajam.
"Singa hutan, binatang sihir level 5" Robert memperingati. "Mereka lumayan kuat, tapi masih bisa dikalahkan. Tapi jumlah mereka....menyusahkan"
Aku berusaha menghitung singa-singa itu. Ada 30 ekor singa! Astaga! Kenapa bisa ada banyak singa seperti itu? Apa hutan ini sarang singa?
Aku menghitung jumlah kami. Ada 13 pangeran, 1 orang putri, 15 prajurit, 14 pelayan, dan kami ada 11 orang. Sebenarnya jumlah kami lebih banyak. Tapi, tidak semua orang bisa bertarung! Para pelayan itu kita akan membuangnya, pangeran dan putri juga kemampuan mereka sangat diragukan. Sebenarnya harapan kami hanya bertumpu pada Robert dan para prajurit. Ah~ aku melupakan Sayn yang menyembunyikan kekuatannya dari balik layar.
Salah satu singa yang paling besar, sang singa pemimpin, mulai mengaum lagi. Lalu dalam sekejap semua singa lainnya mulai ikut mengaum. Dan mereka langsung berlari mendekati kami!
"Siaga!" teriak Robert. Dia langsung menggunakan alat sihir untuk memasang dinding pelindung di sekitar kami.
Para singa itu semakin mendekat. Mereka menerjang perisai sihir dengan cakar dan tubuh mereka. Perisai akan bergetar setiap kali mereka menerjangnya.
"Kyaaa!!'
"Akhhh!"
"Gyaaa!"
aku mendengar para perempuan dalam kelompok berteriak histeris saat sekelompok singa itu mulai menerjang perisai.
__ADS_1
Sebenarnya semua wanita itu berteriak ketakutan. Hanya Eva, Lilac, Reina dan Si Sadako (Eva tidak tahu namanya) yang dengan tenang mengamati situasi.
Robert mulai maju dan menggunakan sihirnya. Robert mengira singa-singa itu akan terpancing untuk mengerumuninya. tapi ternyata tidak. Binatang sihir itu sangat pintar! Dua dari mereka memisahkan diri untuk menghadapi Robert sementara sisanya masih terus menerjang perisai.
Mengalahkan dua ekor singa memerlukan waktu bagi Robert. Dia takut perisai itu tidak akan bertahan lama.
Setelah lima menit, dua ekor singa itu berhasil di kalahkan dan Robert mulai menyerang singa lainnya dengan sihir area. Hasilnya tidak bagus, karena Robert berusaha mengurangi sihirnya agar tidak melukai kami semua. Sementara para singa itu mengelilingi kami. Jadi Robert tidak bisa menghancurkan mereka sekaligus karena kami juga akan terkena dampak sihirnya. Mau tidak mau dia harus memancingnya sau persatu dan mengalahkannya.
Tapi setelah beberapa menit, perisai itu hancur. Singa-singa yang tersisa mulai menyerang, tapi para prajurit langsung dengan sigap menahannya.
"Kalian semua, lindungi yang mulia" teriak salah satu prajurit kepada kami. Mereka ingin kami melindungi para pangeran dan putri itu. Tentu saja kami mengangguk.
Kami mengira para prajurit itu cukup kuat untuk mengalahkan singa, tapi ternyata tidak. Hanya beberapa dari mereka yang masih bertahan dan bertarung. Sementara sisanya kalah dengan menyedihkan. Singa-singa yang memperoleh kemenangan mereka dari para prajurit langsung menghampiri kami. Tidak ada yang bisa melindungi kami. Robert sedang sibuk dengan lima ekor singa. Para prajurit juga sibuk dengan singa mereka masing-masing. Kami harus menghadapi binatang sihir ini sendiri.
"Ayo!" Lilac dengan semangat meloncat ke depan dan menghadang satu ekor singa. Saudaranya, Louis juga membantunya.
Sebenarnya taktik dua lawan satu ini cukup efektif karena kami masih anak-anak.
Jadi para anak-anak itu mulai membentuk kelompok untuk melawan singa. Reina dengan dua sahabatnya dan pangeran kedua. Dua bangsawan, Ben dan Chris. Putra mahkota dan para pangeran. Lalu gadis sadako dan aku juga membentuk kelompok. Hanya sang putri dan para pelayan wanita yang berada di zona dilindungi karena kemampuan mereka cukup lemah.
Aku dan Sadako fokus pada singa di depan kami.
"Air..." dia menjawab lirih.
"Baiklah, ayo kita lakukan yang terbaik!" kataku semangat. Ini pertama kalinya aku bertarung dengan binatang sihir, semenjak kekalahan menyedihkanku di masa kecil. Mengingatnya benar-benar membuatku sedih, karena aku benar-benar lemah saat itu. Aku bahkan melukai tubuhku sendiri...
"Em...siapa namamu?"
"...Fena.."
"Oke"
"Fena kau bisa mencoba lebih dulu!' kataku bersemangat.
Fena menatapku dengan mata sendu yang terhalang oleh rambutnya. Lalu gadis itu mengangguk perlahan. Dia mencasting sihirnya dan mengarahkannya kepada singa. Singa itu mengaum saat jarum-jarum es mengenai tubuhnya. Tapi sayangnya, jarum es itu tidak melukai sang singa. Sang singa malah semakin marah karena benda itu menggelitiknya.
"Kulitnya cukup keras" gumam Fena sambil mendecakkan lidahnya kesal.
__ADS_1
Akhirnya gadis itu mengeluarkan sihir lainnya, tapi tetap hanya membuat sang singa semakin marah. Sang singa tidak terluka, dia hanya kehilangan beberapa helai bulu karena sihir Fena.
Aku mengamati pertarungan dan berpikir. Ternyata singa-singa ini cukup kuat untuk anak-anak. Para bocah ini masih belum bisa bertarung dengan binatang sihir level 4.
"Cih!" teriak Fena kesal. Lalu dia mengeluarkan mantra aneh.
Eh? Aku agak terkejut saat melihat mananya. Warnanya gelap? Tidak mungkin kan? Elemen gelap yang mengelilingi Fena kembali berubah menjadi biru dan dia menghasilkan beberapa jarum es dengan warna biru tua pekat.
Fena mulai melempar sihirnya. Dan ternyata ini efektif! Jarum es itu berhasil menembus tubuh singa. Sang singa mengaum kesakitan. Tapi sayangnya, sihirnya belum cukup untuk membuat singa itu mati. Karena jarum es yang dihasilkan berukuran kecil, jadi hanya menancap di kulit singa. Tidak berhasil menembus organ dalamnya.
Aku melepaskan sihir bola apiku dan melemparkannya ke singa yang terluka. Dalam sekejap bola api itu menyelimuti seluruh tubuh singa dan singa itu terbakar menjadi abu.
"Em...Fena...elemen gelap..."
STARE! Fena langsung menatapku dengan tatapan menakutkan. Aku mengerti arti dari tatapannya dan langsung menutup mulutku.
Tapi ini mengejutkanku! Gadis kecil ini adalah penyihir gelap! Baiklah~ anggap saja aku tidak melihat apa pun. Aku akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kyaaa!!"
Teriakan yang keras membuat fokusku teralihkan. Aku melihat anak-anak lainnya sangat kewalahan. Bahkan ada yang terluka dan melarikan diri mereka ke tempat yang aman. Membiarkan singa lawannya lepas. Singa itu mulai menetapkan tujuan barunya ke kelompok putri dan para pelayan.
Singa menyerang dan mereka berteriak ketakutan. Untung saja putra mahkota bertindak cepat melemparkan tubuh singa ke sisi lainnya dengan sihirnya. Lalu para pangeran mulai menyerang dan singa itu berhasil dikalahkan. Hm...ternyata kekuatan putra mahkota ini tidak buruk juga.
Aku melihat Sayn berbaur bersama pangeran. Dia sama sekali tidak menunjukan kemampuannya. Berpura-pura sebagai mahluk tidak berdaya yang sesekali mengeluarkan sihir angin kecil.
Lalu disisi lainnya aku melihat Reina sibuk mengobati semua orang terluka yang masih hidup.
Kelihatannya pertarungan si kembar api juga akan selesai. Karena singa itu sudah babak belur.
Aku melihat jumah binatang sihir yang berhasil dikalahkan. Sudah lebih dari setengah. Aku kira kita akan memenangkan pertarungan ini. Robert bahkan sudah melawan tiga singa baru lagi.
Aku kira semuanya akan selesai. Tapi...sepertinya aku melupakan sesuatu? Aku sama sekali tidak melihat singa besar yang berada di awal-awal sekali. Raja singa yang memimpin kelompok singa ini. Kemana binatang itu?
ROARR! Saat aku berpikir, aku mendengar auman yang keras. Suara auman ini sangat dekat.
"Eva!!" aku mendengar teriakan Fena.
__ADS_1
Aku menoleh dan belum sempat untuk beraksi, mataku ditutupi sinar menyilaukan dan tubuh besar mulai melemparkan dirinya padaku.
Jangan Lupa LIKE