
Cerita Sebelumnya:
Setahun berlalu, Eva sudah berumur sebelas tahun. Karena sangat merindukan Dean Wason, kakeknya, Eva memutuskan untuk mengunjungi Menara Sihir. Saat di Menara Sihir dia bertemu dengan seorang pemuda aneh yang memakai penutup mata. Pemuda tampan dengan jaket kulit berwarna hitam. Pemuda dari kerajaan tetangga, Kerajaan Kano. Siapa sebenarnya pemuda itu?
***
Kami memasuki pintu dimensi dan masuk ke pintu lainnya. Ini pertama kalinya aku berada di aula Menara Sihir. Aula itu sangat besar, bisa menampung ratusan orang. Langit-langitnya juga tinggi. Aku melihat di dalam aula, sepuluh penatua Menara Sihir duduk dengan posisi setengah lingkaran. Dean Wason duduk di tengah-tengah sebagai simbolis bahwa dialah pemimpinnya. Lalu di tengah-tengah aula ada sekitar sepuluh orang dengan pakaian warna-warni. Sepertinya mereka penyihir, karena mereka memakai jubah penyihir. Hanya saja aku tidak tahu asal para penyihir itu.
Aku dan No 2 melihat semua itu dari jarak yang agak jauh. Di posisi yang sama dengan para penjaga aula.
"Kenapa kalian kemari?" tanyaku langsung.
Aku mengerutkan kening "Maksudku, kenapa Kerajaan Kano memasuki wilayah Kerajaan Well? Lalu apa para penyihir itu berasal dari Kerajaan Kano? Apa yang kalian rencanakan?" tanyaku curiga.
"Hahaha..." No 2 tertawa kecil. Dia merasa gadis kecil disampingnya terlalu polos dan terlalu lucu. "Bukan. Para penyihir itu bukan dari Kerajaan Kano. Mereka para penyihir pengembara. Mereka para penyihir pengembara yang membentuk organisasi kecil. Kau bisa menyebut mereka penyihir petualang" jelas No 2 sambil tersenyum cerah.
"Eh? Lalu kau?"
"Aku bagian dari para penyihir itu"
"Kau seorang penyihir?"
No 2 mengangguk. "Aku bagian dari kelompok itu. Kami semua berasal dari tempat yang berbeda-beda. Kebetulan saja aku berasal dari Kerajaan Kano, yang memiliki hubungan politik yang buruk dengan Kerajaan Well"
"oohh..." aku mengangguk mengerti. Ternyata begitu. Mereka para penyihir pengembara. Jadi itu masuk akal kalau mereka berada di Menara Siihir. Mereka mungkin saling bertransaksi satu sama lain. Mungkin jual beli item langka?
"Kenapa kalian ke Menara Sihir?"
No 2 tersenyum. Senyum kelicikan dan senyum ceria tercampur menjadi satu. "Kami sedang membangun hubungan kerja sama"
"Kerjasama?"
Aku tidak ingat bagian cerita dimana Menara Sihir membuat hubungan kerjasama dengan para penyihir pengembara? Atau karena ini hanyalah even kecil, jadi tidak dijelaskan di dalam buku?
"Kerjasama bagaimana?"
"Kau tidak perlu tahu" jawab No.2 misterius.
"Cih! Dasar pelit!" aku mendengus.
"Eh? Aku lupa menanyakan ini. Apa nama kelompok kalian?" aku mengalihkan topik pembicaraan.
Aku tahu bahwa para penyihir pengembara itu membentuk organisasi kecil, ini mirip seperti istilah 'party' dalam game MMORPG. Dan setiap kelompok yang terbentuk memiliki nama tersendiri.
"Hmmm....Secret Gank" katanya agak ragu.
"Secret Gank?" aku bergumam. Kenapa terasa tidak asing?
Aku berusaha membongkar pikiranku, dimana aku menemukan istilah ini. Kenapa tidak asing ya? Ayolah otakku, berpikirlah lebih keras! Aku benar-benar penasaran!
TRING! Aku menemukan clue nya. Aku menemukan kenapa kata itu terasa familiar.
Tapi, tidak...mungkin....
Aku menatap No 2 dengan mata membelalak kaget. "Tidak mungkin! Kalian pembunuh....!"
Puft!
Belum sempat aku selesai bicara, No 2 sudah meraihku dan menutup mulutku.
Dia mendekatkan bibirnya di telingaku "kita bicara di luar" katanya serius.
Kami keluar.
BANG! Pintu tertutup kembali.
No 2 dan aku sekarang berada di luar aula. Kami berada di depan pintu.
__ADS_1
No 2 menatapku serius dan itu menakutkan karena aku merasakan aura dingin yang samar-samar keluar dari tubuhnya.
"Bagaimana kau tahu?" tanyanya penuh selidik.
Bagaimana mungkin seorang gadis kecil berumur 11 tahun bisa tahu tentang hal ini? Bahkan raja dan intel mereka tidak tahu tentang ini. Mereka baru beroperasi sekitar beberapa bulan dan belum ada target, jadi mana mungkin berita tentang organisasi mereka bocor keluar.
"Eh..." aku terbata-bata.
eh? eh? eh? Aku harus jawab apa!!
"Aku...tidak sengaja mendengarnya..." kataku terbata-bata.
"Dimana?"
"Aku...aku...mendengarnya...."
"dari ayahku..."
Aku memejamkan mataku sambil memohon maaf. 'Ayah bodoh maafkan aku sudah menambing hitamkanmuuuu!'
No.2 mengernyitkan kening.
'Sudah kuduga dari Duke Court, ternyata aku tidak boleh lengah' pikir No. 2 dengan raut wajah serius.
Lalu dia kembali menatap Eva dengan tatapan tajam dan sinis "Jadi...bagaimana aku harus mengurusmu..."
"Apa maksudmu?!" bentakku langsung. "Kau ingin mencelakaiku!!" kataku waspada sambil berlari menjauh darinya.
Entah kenapa, saat No.2 melihat gadis kecil itu panik, dia benar-benar menyukainya. Ekspresi bodoh gadis itu. Tubuhnya yang gemetar ketakutan. Semuanya benar-benar lucu.
"Kau harus memberiku kompensasi, gadis kecil" katanya sambil mendekati Eva. "Kalau tidak kau tahu resikonya bukan?"
"Uhh...kau ingin apa? Aku akan memberikannya!" responku dengan yakin.
No.2 memegang dagunya, berpikir.
"Berjanji apa?"
"Saat kau dewasa"
Matanya menyipit "Menginap di tempatku..."
Uhuk! Aku langsung tersedak. Tubuhku bergoyang dan BUK! Kepalaku terantuk dinding di sampingku.
Aku menatap pria di depanku dengan mata melotot. Apa-apaan ini? Janji itu sangat tidak normal! Ada apa dengannya?
Tubuhku bergidik ngeri saat aku memperhatikan mata dingin di depanku.
Apa yang sedang dia rencanakan??
Argghhh! Aku hanya bisa menjerit frustasi.
Lalu, aku melihatnya mengubah ekspresi. Ekspresi dingin itu berubah menjadi ekspresi mesum. Cih! Itu menjijikan! Dia pasti sedang mempermainkanku bukan?
Aku mendekatinya dengan wajah kesal.
Dan BAK! Aku langsung menginjak kakinya. Tidak lupa aku menambahkan sihir pemberat tubuh beberapa pon, biar dia tahu rasa! Beraninya dia mengejekku!
"Ouch!" No.2 menjerit kecil sambil menarik kakinya. "Tubuhmu kecil, tapi kenapa sangat berat. Apa yang kau makan? Apa lemakmu menumpuk di tempat yang tidak terlihat" katanya mengejek.
Aku sangat kesal dan bersiap menginjak kakinya lagi. Tapi pria itu menghindar dengan cepat sambil tertawa mengejek.
"Gadis kecil, aku serius. Pertimbangkan janjiku tadi, atau kau akan menerima akibatnya" katanya lagi.
"Humph!" aku merenggut kesal.
Aku hanya membalikkan wajahku.
__ADS_1
No.2 menyipitkan matanya. Dia sudah mengulurkan tangannya, bersiap untuk meraih Eva....
Tapi tiba-tiba, BRUK! Pintu di belakang mereka terbuka.
Salah satu penjaga keluar dan menghampiri mereka.
"Kenapa kalian menunggu di luar? Pertemuannya sudah selesai, Ketua menyuruh kalian masuk" kata penjaga itu.
Tanpa menunggu aba-aba, aku langsung melangkah masuk dengan cepat.
"...."
No. 2 masih berdiri di tempat, dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa detik kemudian, kakinya bergerak, menyusul Eva memasuki aula.
Aku menerobo masuk. Lalu aku melihat para penyihir pengembara itu sudah tidak berdiri di tengah, tapi berkumpul disamping. Hanya ada beberapa penatua, tampaknya penatua yang lainnya sudah pergi dengan teleport. Dean Wason juga tidak duduk di kursinya, tapi berdiri di samping bersama dengan para penyihir pengembara. Kelihatannya mereka asik mengobrol.
"Kakek!" panggilku sambil menghampiri Duke Wason.
Duke Wason menghentikan pembicaraanna dan menoleh padaku. "Oh? Eva"
Aku sontak langsung memeluknya. "Kakekk, aku merindukanmu ~" kataku manja.
"Kakek juga merindukanmu" balas Dean Wason sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
"EH? Sejak kapan kau mempunyai cucu pak tua?" salah satu penyihir pengembara melototi kami dengan mata bingung. Penyihir itu tampaknya seumuran dengan Dean wason. Mungkinkah mereka berteman?
Dan, kelihatanya dia seperti pemimpin kelompok penyihir, bukan, itu kelompok pembunuh. Yah, tapi itu hanya covernya saja, pemimpin sebenarnya dari kelompok ini ada di balik layar. Dan dia merupakan seseorang yang tak akan pernah diduga siapa pun.
Penyihir itu kemudian mengalihkan pandangannya di belakang kami "kau sudah kembali?" tanyanya sambil mengernyitkan kening.
"Tentu saja" jawab No.2
"Kapan kita akan kembali pak tua Ren?" tanya nya malas.
"Segera"
Pak tua Ren menatap Dean Wason. "Kami akan pergi, terima kasih atas waktunya" katanya berpamitan.
Dean Wason hanya mengangguk.
"Ayo, Sayn" kata Pak tua Ren dengan suara kecil. Lalu mulai menghilang dari tempatnya berdiri. Para penyihir lainnya mulai mengikuti.
No.2 menatap Eva sebelum teleport keluar. "Sampai jumpa gadis kecil" katanya dengan mata menyipit licik.
Aku hanya menjulurkan lidahku, untuk membalas ejekannya.
Lalu secara perlahan No. 2 menghilang.
"Kakek, aku ingin makan~" kataku manja.
Dean Wason hanya menatapnya dengan penuh kasih sayang sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka berdua ikut meninggalkan aula dan menyusuri lorong untuk pergi ke ruang makan.
"EHHHH!!" tiba-tiba Eva berteriak sambil memegang kepalanya. Dia terdiam mematung di tempat.
Dean Wason menatapnya dengan mata panik dan bingung "Ada apa Eva?"
Saat No.2 pergi, aku baru ingat! Aku baru ingat perasaan tidak asing ini!
"No.2.....Negara Kano.....Secret Gank.....dan terakhir....Sayn..." aku bergumam sambil menggerakan jari-jariku.
'Sudah kuduga, itu tokoh utama ketiga!' pekikku dalam hati.
'Pangeran termuda dari Kerajaan Kano, Sayn...'
__ADS_1