
"Robert kembalilah!" Dean Caro melunakan suaranya. Tapi tetap saja ada terselip nada memerintah.
"Tidak!" Robert bersikeras.
Raut wajah Dean Caro langsung berubah menjadi lebih mengerikan.
"Kalian kira kalian bisa menangkapku? Humph, kalian tidak akan bisa!" lanjut Robert. "Lagipula, bukannya sejak awal aku sudah diusir?"
"Kami tidak mengusirmu!" potong Charlotte dari kejauhan. "Kau sendiri tahu, bahwa mereka hanya iri padamu karena itu mereka memperlakukanmu seperti itu"
"Humph, walaupun aku tidak diperlakukan seperti itu, aku tetap akan pergi dari sini. Aku tidak mau menjadi senjata politik pak tua itu..." Robert menatap sinis Dean Caro.
"Kau tidak sopan! Dean Caro adalah ayahmu, seharusnya kau tidak bersikap seperti itu padanya!" timpal Charlotte.
"...."
Robert tidak menjawab. Sesaat wajahnya berubah menjadi sedih, tapi dengan cepat berubah serius. Dia melambaikan tangannya dan mulai menggunakan sihir.
DUARR!! Guyuran air yang sangat besar mulai muncul dari udara kosong dan menghantam orang-orang berjubah putih. Beberapa orang berjubah mencoba menghindar, tapi gagal. Dan beberapanya lagi mulai membentuk shield pelindung, tapi tiba-tiba CRACK! Air yang menerpa mereka membeku. Hampir setengah orang terjebak dalam bongkahan es dan beberapa lainnya berhasil menghindar dengan sihir terbang.
"Dasar anak kurang ajar!" Dean Caro menggeram. Seketika tanah di bawah mereka bergetar. Dean Caro merupakan spesialis penyihir udara, karena itu dia bisa memanipulasi gelombang suara yang tersebar di udara. Akibatnya, lingkungan sekitarnya menjadi bergerak kecil apabila terkena sihirnya. Bahkan bisa terjadi situasi yang paling parah, gema bumi, tanah longsor, serta menyebabkan pecahnya gendang telinga.
Dean Caro mulai mengangkat tangannya. Seketika orang-orang berjubah putih yang tersisa segera terbang mendekat ke arah Robert dan mengelilinginya. Mereka dengan sigap mengeluarkan seperangkat alat sihir dan mengaktifkannya. Alat sihir itu mengeluarkan cahaya kemudian saling menyatu, membentuk sebuah kurungan. Kurungan itu memiliki Robert dan Eva di dalamnya.
"Huh, alat sihir lagi? Kurungan tidak berguna. Kalian kira ini bisa menghalangiku?" kata Robert sombong dan mulai menggunakan sihirnya.
TAK! Terdengar bunyi tombol terbuka. Salah satu orang berjubah putih mengeluarkan alat sihir lainnya. Dan seketika sihir Robert menghilang di udara.
"Apa? Alat penghalang sihir?" Robert mengerutkan kening.
Aku mencoba mengedarkan mana di dalam tubuhku, tapi tidak bisa. Kali ini sihir kami benar-benar disegel. Mereka dipihak yang menguntungkan karena mempunyai orang lebih banyak. Walaupun sihir Robert kuat, itu tidak berguna kalau tidak dapat digunakan.
Aku dan Robert terjebak di tengah-tengah penjara sihir itu, tidak bisa bergerak.
Dean Caro menyunggingkan senyum kemenangan dan menghampiri kami.
__ADS_1
"Ambil Robert bawa dia ke kamarnya!" titahnya.
Lalu dia menatap Eva "Dan untuk gadis kecil ini..." matanya menyipit "singkirkan!" katanya dingin. "Kita tidak butuh hama tidak berguna"
Woah? Apa? Mereka akan menyingkirkanku? Bagaimana?
Apakah mereka akan membunuhku atau mangasingkanku?
"Umm, guruu..." Cahrlotte tiba-tiba menimpali. "Dia putri Duke Court. Apakah baik-baik saja?" tanyanya ragu.
Dean Caro mengangkat alisnya "Oh?"
"Putri Duke Court"
"Hmmm" Dean Caro berpikir sebentar 'kita tidak bisa membuang waktu untuk melawan faksi bangsawan hanya karena anak kecil ini. Kita bahkan belum menangani musuh disini. Kita tidak bisa menambah musuh' pikirnya.
"Tangkap saja keduanya! Pisahkan ruangan keduanya! Jangan lupa pasang alat penghalang sihir di kamar Robert" titahnya kemudian.
Perlahan kurungan sihir itu mulai memudar, lalu orang-orang berjubah putih itu mulai menghampiri kami, menahan kami, dan memisahkanku dengan Robert.
Oh? Aku melihat orang berjubah disampingku. Dia orang yang mengaktifkan alat penghalang sihir tadi. Aku benar-benar beruntung. Dengan gerakan cepat aku langsung mendorong orang itu jatuh ke lantai. Jangan lupa, saat alat penghalan sihir diaktifkan, kita semua ada orang biasa. kami tidak bisa menggunakan sihir, maka musuh juga tidak bisa hehehe...
Robert tersenyum. Dia langsung menggunakan sihirnya.
BLARR! Seketika orang-orang berjubah yang menahan Robert langsung tersungkur.
Dean Caro menggertakan giginya geram. Dia menatap Eva dengan benci. 'Aku mentolerirnya karena dia adalah putri duke, tapi dia benar-benar sumber kekacauan. Aku harus menghilangkannya. Dia bisa membuat kacau Robert dan menganggu rencanaku' pikir Dean Caro.
Robert merasa ada yang tidak beres. Dia waspada saat melihat tatapan menyeramkan Dean Caro. Lalu dia sadar tatapan menyeramkan itu ditujukan kepada Eva.
"Eva! Kemari" teriak Robert sekaligus menghampirinya.
Aku mendengar teriakan Robert dan menoleh "Baik, master" dan mulai perlahan ke arahnya. Tapi tiba-tiba Dean Caro bertindak. Dia menggunakan sihirnya ROARR!! Seluruh tempat berguncang. Tanah di bawah kaki mereka mulai retak. Tapi, KREK, KREK, KREK, tanah di bawah kakiku terus retak hingga akhirnya hancur, membentuk lubang besar.
"Uwahh??" aku berseru kaget saat tubuhku mulai jatuh ke lubang.
__ADS_1
"Eva!" Robert berusaha menangkapnya, Tapi orang-orang berjubah itu menghalangi jalannya.
"Aku tidak apa-apa masterr" teriakku sambil menggunakan sihir terbang untuk merangkak naik. Kemudian aku mulai menggunakan sihir cahaya untuk membuat buta pandangan musuh.
Robert langsung menyerang mereka dan membuat mereka berubah menjadi bongkahan es.
Orang-orang berjubah putih itu sudah disingkirkan. Hanya tersisa aku, Robert, Dean Caro, Charlotte dan penjaganya.
Aku terbang ke arah Robert, kemudian menggunakan sihir kegelapan untuk membuka dimensi. Ini memang konyol. Tapi ini adalah sihir yang baru kupelajari selama dua hari. Aku tidak sengaja menemukan sebuah buku kuno di perpustakaan sebelum pindah ke ibukota untuk mengadakan pesta teh. Dan buku itu menerangkan bahwa sihir kegelapan bisa digunakan sebagai teleportasi. Kau bisa membuat 'black hole' atau lubang dimensi, untuk pindah ke tempat lainnya.
Aku hanya merapalkan mantranya dalam pikiranku dan membayangkannya. Aku tidak tahu apakah ini berhasil atau tidak, karena ini percobaan pertamaku! Tapi, kalau berhasil kita bisa pergi dari sini. Secara perlahan udara di depan kami mulai roberk. Lalu membentuk sebuah lingkaran kecil yang berputar.
"Uwahh!! Ini berhasil!" aku berteriak senang.
Tapi, itu tidak sesuai harapan. Lubang yang terbentuk itu perlahan semakin mengecil dan mengecil sampai akhirnya tidak menyisakan apa pun.
"Eh? Aku gagal?"
Aku melakukan semua itu tanpa pikir panjang. Entah kenapa saat Robert datang rasa kewaspadaanku mulai berkurang. Dan aku mulai menggunakan sihir semauku.
"Master?" aku menegur Robert yang tampaknya sedang diam mematung. Wajahnya bingung. "Ada apa master?" tanyaku.
Eva benar-benar tidak tahu hasil dari perbuatannya.
"Darimana kau mempelajari sihir ini? Aku tidak pernah mengajarimu bukan?" tanya Robert sambil menatap Eva dengan aneh.
"Aku menemukan buku kuno di perpustakaan rumah kami master~" kataku manja sambil memeluk Robert. "Bukankah aku keren? Aku hampir berhasil melakukannya, aku hanya perlu mencoba lagi dan berlatih hehehe..."
"...." Robert tampak linglung.
"Jangan memakai sihir itu lagi" katanya serius.
"Eh? Kenapa? Bukannya pak tua itu" Aku menunjuk Dean Caro "juga keluar dari atas langit-langit? Itu sihir yang sama bukan? Sihir berpindah tempat?"
"Aku bisa mengajarimu teleportasi. Jangan menggunakan sihir itu lagi" Robert mulai linglung sambil memegangi kepalanya pusing. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Dan melihat Charlotte dan Dean Caro membelalakan matanya kaget.
__ADS_1
"Haaa" Robert menghela napas 'Bebanku tambah berat. Apa yang harus kulakukan? Walaupun kami berhasil lari, Menara Sihir akan mengincar Eva sampai ke kediaman Duke. Bagaimana aku mengurusnya?' pikir Robert.
Dia melihat gadis kecil di sampingnya. Ingin sekali memarahinya karena ceroboh. Tapi setelah gadis itu memeluknya dan berbicara dengan riang, dia langsung mengurungkan niatnya. Suara senang Eva kedengar seperti bel yang indah di telinganya, dia tidak mau memarahinya dan membuatnya menangis.