
Cerita Sebelumnya:
Mereka menemukan bahwa manusia yang dibawa oleh binatang sihir itu adalah Reina.
Reina juga mengikuti pertandingan sihir dan bergabung dengan tim dari Organisasi Jiwa Sihir. Situasinya menjadi lebih rumit saat Reina mengetahui Eva dan Robert juga mengikuti pertandingan. Ditambah tim lawan dari Jiwa Sihir mulai berdatangan. Apakah ini akan menjadi duel pertama Eva?
***
"Reina kau tidak apa-apa?" tanya satu orang dari mereka. Orang itu langsung melepas tudungnya. Menanmpakan wajahnya yang buntal dengan rambut emasnya.
"Em" Reina merespon sambil mengangguk yakin.
Aku melihat si rambut emas itu. Kemungkinan dia adalah pemimpin kelompok karena anggota yang lain mengikutinya dari belakang.
Tim dari Jiwa Sihir membatalkan sihir terbang mereka dan mulai mendarat turun. Reina yang menyadari situasinya segera menghampiri mereka dengan wajah senang.
"Kau benar tidak apa-apa?" satu orang lainnya mulai menunjukkan diri. Seorang pria tampan dengan rambut panjang berwarna putih. Wajahnya tampak cemas saat memperhatikan jubah Reina yang hancur berantakan.
Aku agak terkejut saat melihatnya. kenapa? Karena penampilan pria itu lumayan mirip dengan Charlotte. Semua ini karena rambut putihnya. Kalau mereka berdiri berdampingan, mungkin semua orang akan mengira mereka kembar. Dari ciri-cirinya kelihatannya pria berambut putih ini adalah penyihir cahaya, sama seperti Reina.
"Aku terjatuh sebelumnya karena itu aku merusak jubahnya. Tapi aku tidak apa-apa. Hanya beberapa luka ringan dan itu sudah sembuh" jelas Reina dengan sedikit bangga.
Si rambut kuning menatap Reina, Lalu dia menatap ke arah kami dengan mata penuh kemarahan. "Kalian menyerangnya bukan? Dasar brengsek! Aku pasti akan menghancurkan kalian!" teriaknya. Lalu dia memberikan aba-aba kepada anggota lainnya untuk menyerang.
__ADS_1
"Tu...tunggu!" reina langsung melerai semua orang dari Jiwa Sihir. "Kalian salah paham. Aku tertangkap binatang sihir sebelumnya saat aku tersesat. Mereka sudah menyelamatkanku."
"Tidak masalah kalau mereka menyelamatkanmu. Tapi kita tetap harus melawan tim lain bukan?" si rambut putih itu membuka suara.
"Em..." Reina mulai bergumam ragu. Dia berpikir. Pertandingan ini memang untuk melawan tim lainnya, tidak peduli bahwa tim itu penyelamat atau bukan. Kalian tetap harus bertarung!
Tapi bukan itu alasan utama Reina melerai timnya! Entah kenapa dia merasa sedikit aneh. Ada rasa waspada di dalam hatinya saat dia tahu tim lawan bisa melawan binatang sihir yang kuat itu. Bukankah itu berarti tim lawan cukup kuat? Ada ketakutan kecil di hatinya bahwa tim lawan lebih kuat dari timnya. Sehingga dia takut kalah. Karena itu dia memutuskan untuk melerai timnya. Setidaknya mereka tidak perlu bertarung untuk saat ini. Mereka harus mengawasi kekuatan tim lawan dulu. Mereka bisa bertarung nanti.
"Bukan itu....Tapi....Jangan menyakiti mereka. Aku mohon. Demi aku oke?" Reina ulai memohon dengan mata berkaca-kaca. Membuat semua orang yang melihatnya menjadi simpatik dan khawatir.
"Baiklah...kami tidak akan melakukannya" kata si rambut pirang menyerah.
"Kau terlalu baik..." gumam si rambut putih pasrah sambil menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa kau mengasihani musuhmu padahal sebelumnya mereka ingin menyakitimu? Benar-benar gadis bodoh."
"Baik, baik" kata si rambut putih sambil tertawa kecil.
"Baiklah. Ayo kita lanjutkan perjalanan" titah si rambut pirang sambil melihat ke arah timnya. Lalu dia melihat ke arah tim lawan. "Saat kami bertemu dengan kalian untuk yang kedua kalinya, kami tidak akan menahan diri lagi" serunya dengan nada sombong.
WOOOSH! Mereka semua mulai terbang. Sebelum mereka pergi, Reina berbalik dan membungkuk ke tim lawan "Terima kasih" sahutnya. Lalu SHUUU! Semua kelompok itu mulai menghilang, meninggalkan kelompok Menara Sihir kebelakang.
"Gadis yang imut..."
"Dia gadis yang baik"
__ADS_1
Aku mendengar Jean dan Hans bergumam kagum.
Yah, seperti itulah Reina. Gadis itu selalu memiliki kesan yang baik di mata orang lain. Saat mereka melihatnya, tanpa sadar mereka akan terpesona dengan dirinya. Sangat berbeda denganku. Saat orang baru kenal bertemu denganku, pandangan diriku di mata mereka pasti buruk. Aku tidak tahu mengapa. Apa tubuh Eva ini mengeluarkan aura iblis dan sebagainya yang membuat semua orang tidak senang saat melihatnya? Entahlah. AKu belum berpikir sejauh ini.
"Semoga saja kita tidak bertemu tim Jiwa Sihir saat berada dalam perjalanan" gumam Jean.
"Tidak masalah kita bertemu dengan mereka atau tidak. Tinggal hancurkan saja" Robert membalas dengan nada acuh tak acuh.
Jean hanya tersenyum canggung. Sebenarnya dalam hatinya dia merasa tidak yakin untuk melawan tim terkuat. Walaupun tim mereka bisa menggunakan sihir tingkat tinggi, tim lawan juga punya orang seperti itu. Dan mereka bahkan tidak tahu jumlahnya. Terlalu terburu-buru sebenarnya kalau berkonfrontasi langsung dengan tim terkuat.
"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan. Kita akan beristirahat setelah satu jam kemudian" Robert berkata.
Semua orang merespon dengan menganggukkan kepala.
Akhirnya perjalanan kami dilanjutkan. Perjalanan yang mulus. Kami tidak bertemu dengan binatang sihir level tinggi atau tim lawan. Akhirnya setelah kami mendekati rawa, kami beristirahat di sekitar.
"Rawa itu di depan kita. Sihir angin sudah harus siap. Kita harus mempercepat perjalanan saat melewati rawa karena ada banyak binatang sihir berbahaya disana" kata Robert menjelaskan.
Aku melihat ke depan. Rawa itu hanya berjarak beberapa meter di depanku. Area itu sangat gelap, aku tidak bisa melihatnya. Saat aku menajamkan penglihatanku, aku hanya bisa melihat beberapa ranting pohon mati. Aku tidak bisa melihat keberadaan mahluk hidup di dalamnya.
Setelah kami cukup beristirahat, Robert memastikan kami untuk berkumpul dan jangan pergi terpisah. Lalu para penyihir angin mulai menggunakan kekuatan mereka untuk membuat pusaran angin di bawah kaki kami. Robert menyalakan enam bola api, lalu menyebarkannya melingkari kelompok sebagai penerangan. Kali ini Jean dan Hans berada di posisi depan untuk mencegah mereka tertinggal lagi di dalam zona berbahaya.
Setelah semuanya siap, "Ayo!" titah Robert.
__ADS_1
SWOOSH! Kami mulai menggunakan sihir kami dan melesat ke arah hutan gelap itu dengan cepat.