Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 8 Kehidupan


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu, semua orang kembali ke tempat mereka masing-masing. Dunia sudah damai sekarang dan tidak ada lagi gangguan. Cerita tentang Casius tidak diketahui oleh semua orang. Tapi orang-orang tahu bahwa hari itu adalah hari terburuk karena seluruh langit di dunia menjadi gelap dan penuh dengan petir.


Eva melihat bintang-bintang di atas langit. Dia sendirian tapi Ren menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ren.


"Aku baik-baik saja" jawab Eva sambil mengedipkan matanya.


"Apa kau merindukan dunia lamamu? Apa kau merindukan orang tuamu di dunia lain?"


Eva tersentak kaget. Dia tidak pernah mengira bahwa Ren akan menanyakan pertanyaan seperti itu. Tapi dia merespon dengan anggukan kecil.


"Jadi kau akan meninggalkan semua orang dan pergi dari dunia ini?"


"Aku tidak mau" Eva menggeleng.


Ren menghela napas. "Aku tahu kau punya cara untuk kembali bukan? Tapi aku takut bahwa kau tidak akan kembali ke dunia ini lagi setelah kau pergi. Semua orang akan sedih. Terutama aku" mata Ren mulai berkaca-kaca. Ren bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya dia merasa sedih dan menangis.


"Aku tidak akan meninggalkan semua orang." kata Eva kemudian. "Aku berjanji aku akan kembali"


"Saat kau berhasil kembali, apa kau bisa membawaku ke duniamu juga?" Ren menatapnya penuh harap. "Aku hidup ribuan tahun di dunia kecil ini. Aku benar-benar bosan. Pasti sangat menyenangkan bisa melihat dunia lain bersamamu" katanya tulus.


Eva menunduk malu, pipinya memerah. Tanpa dia sadari jantungnya berdegup kencang. "Tentu saja.." katanya pelan. "Aku akan membawa keluargaku juga" tambahnya juga.


"Oh, itu akan sangat menarik. Aku akan punya ibu mertua lain di dunia lain" kata Ren.


Mata Eva membelalak. "Apa katamu?"


"ibu mertua" ulang Ren. "Bagaimana kalau aku melamarmu?"


Eva refleks berdiri. Wajahnya memerah seperti udang rebus. "Berhenti bercanda. Lagipula siapa yang mau dengan kakek-kakek!"


Ren tersinggung. Urat-urat kekesalan muncul di kepalanya. Dia tersenyum nakal dan langsung menarik Eva dalam pelukannya. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Eva sampai hidung mereka bersentuhan.


"Apa penampilanku seperti kakek-kakek?" katanya dengan nada menggoda. "Apa kau pernah melihat kakek tampan sepertiku?"


Bibir Eva bergetar. "Kau..Kau...Dasar tidak tahu malu!" dia memukul dada Ren.


Ren tertawa kecil. Lalu dia berkata dengan nada serius. "Aku menyukaimu. Apa kau tidak merasakan perasaan yang sama untukku?"


Eva berhenti memukul. Dia menatap Ren gugup. "Bukannya aku tidak menyukaimu...kau selalu mengangguku setiap waktu..." keluhnya.


"Aku menggodamu bukan mengganggumu, dan aku melakukannya karena aku menyukaimu" kata Ren serius. "Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak menyukaiku" katanya kemudian.


"Bukan begitu!" sergah Eva langsung.

__ADS_1


"Oh?" Ren menaikkan alisnya. "Jadi kau menyukaiku?"


"Aku...aku..." Eva berhenti. Dia tidak menjawab dan mengangguk kecil.


Melihat responnya Ren tertawa kecil. Dia menyentuh hidung gadis itu dan berkata. "Kau kelinci kecil yang nakal!"


"Bukan!" jawab Eva. Dia ingin melarikan diri sekarang saking malunya.


Tapi Ren tetap memeluk pinggangnya. Ren bergerak cepat. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Eva dalam sedetik. Semuanya berlangsung sangat cepat sehingga dia membeku dan merasa linglung.


"Aku menang sekarang" kata Ren. Dia melepaskannya lalu berkata "Aku akan memberitahu ayah dan ibu mertuaku bahwa kau ingin anak" katanya dan dengan cepat menghilang.


Eva langsung tersadar. Dia berteriak kesal. "Jangan mengatakan omong kosong!" Eva langsung mengejarnya.


***


Di sisi lainnya, Vivian masih sibuk dengan perusahaan golem miliknya yang berada di pusat kota. Tapi akhir-akhir ini Denis sering memanggilnya ke istana. Denis tiba-tiba menanyakan pendapatnya tentang administrasi kerajaannya. Walaupun Vivian tidak terlalu mahir dengan sihir, managemen adalah bakat uniknya. Dia memberikan beberapa masukkan untuk Denis. Membuat Raja muda itu melihatnya dengan tatapan yang berbeda.


Pangeran Erick pergi meninggalkan kerajaan Albion untuk mengejar gadis yang disukainya. Tentu saja dia pergi diam-diam dan membuat sang Raja murka. Pemuda itu pergi menuju Menara Sihir untuk menemui Charlotte. Dengan menggunakan kekuasaannya, dia bisa menemui gadis itu dengan mudah.


Erick pun mengejarnya setiap saat dan menggodanya. Hal itu membuat Charlotte merasa kesal setiap harinya. Tapi untungnya, entah kenapa Robert akan selalu muncul untuk menendang pantat pemuda bodoh itu menjauh. Sehingga Charlotte merasa lebih baik saat melihat kemunculan Robert karena menolongnya.


Di sisi lain, Reinell tiba-tiba membeli rumah di ibukota kerajaan Well. Pemuda itu memata-matai seorang wanita bangsawan muda yang hidup sendirian di mansion miliknya. Wanita itu tidak lain adalah Reina.


"...." Reina mengernyitkan keningnya tidak senang. "Humph!" dia mendengus kesal dan masuk kembali ke dalam mansionnya. Pintu mansion di tutup dengan keras, menandakan bahwa dia sangat kesal.


Reinell sudah terbiasa dengan ini dan dia berteriak. "Nona, hari ini aku akan memasak ayam bakar dengan lotus. Aku akan mengirimkannya padamu!" katanya.


Reina yang berada di dalam mansion mendengarnya. Hatinya dipenuhi oleh perasaan rumit. Dia kira dia akan hidup sendirian setelah ini karena semua orang membencinya. Tapi tiba-tiba pemuda bodoh datang entah darimana dan mengejarnya. Dia merasakan sedikit perasaan hangat di hatinya. Perasaannya campur aduk dan dia tiba-tiba menangis.


Sementara di kerajaan Kano, Sayn sedang sibuk mengurus administrasi tapi seorang wanita terus mengoceh di ruangannya sambil berjingkrak kesana kemari.


"Yang Mulia ini kertas apa?"


"Yang mulia dari mana kau dapat bunga ini?"


"Yang mulia kalau aku bakar ini kira-kira apinya menyebar tidak ya?"


"Yang mulia aku minta kuemu"


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Sayn, dia sudah diambang batas kesabarannya. "Bisa tidak kau diam dan kembali ke kerajaanmu?"


Gadis itu tersentak. Matanya berkaca-kaca. "Huaaa" katanya menangis (tentu saja pura-pura). " Bukankah kemarin yang mulia bilang ingin berteman denganku? Tapi kenapa sekarang mengusirku? Huaaaa!"


Sayn menghela napasnya, menenangkan dirinya. Dia memegang kepalanya. "Baiklah, tapi jangan ribut. Aku perlu berkonsentrasi"

__ADS_1


Wanita itu, yang tidak lain adalah Lilac berhenti menangis dalam sekejap "Oke" katanya.


Tanpa Lilac sadari api kecil keluar dari tangannya dan api itu mulai merambat ke karpet di bawah kakinya.


Sayn melihatnya dan langsung menyiramnya dengan sihir air. "Bukankah sudah kubilang jangan buat kekacauan?!"


"Bukan aku yang melakukannya!" jawab Lilac, membela dirinya.


***


Dewa kucing itu muncul kembali dalam mimpi Eva.


"Selamat, kau berhasil miaow~"


"Jadi mana hadiahku?" tuntut Eva langsung.


"Dasar tidak sabaran miaow~" kucing buntal itu merenggut kesal.


"Aku takut kau berbohong padaku" kata Eva jujur.


"Aku tidak pernah berbohong miaow! Aku dewa yang jujur miaow" kucing itu membela dirinya. "Mendekat ke arahku dan tundukkan kepalamu miaow. Aku akan memberikan pengetahuan tentang sihir itu padamu"


Eva mendekat dan menundukkan kepalanya. Kucing itu menyentuhkan telapak tangan berbulunya ke kening Eva. Lalu Eva merasakan aliran ingatan tentang sihir itu mengalir ke dalam otaknya.


"Terima kasih" kata Eva sungguh-sungguh.


"Tapi aku tidak menanggung resikonya miaow. Aku sudah bilang padamu sihir itu berbahaya miaw"


"Aku tahu"


"Aku senang kau menikmati kehidupanmu yang sekarang miaow. Semoga kita bisa bertemu kembali lagi nanti miaow"


"Sampai nanti"


Kucing itu menghilang dari pandangannya dan Eva terbangun dari mimpinya.


Beberapa hari kemudian, di halaman belakang kerajaan. Eva berpelukan dengan ayah dan ibunya serta kakeknya. Dia juga berpelukan dengan Ren.


"Hati-hati di jalan" kata Diana khawatir.


"Terima kasih ibu. Tenang saja. Aku akan kembali"


"Kau harus tepati janjimu oke" kata Ren. Eva mengangguk.


Eva meninggalkan mereka dan berbalik ke arah Ricko yang sedang menunggunya. Mereka berpegangan tangan satu sama lain. Lalu saling menatap dan mengangguk pelan. Keduanya masuk secara bersamaan ke dalam lubang hitam di depan mereka. Setelah kedua sosok itu menghilang, lubang hitam itu perlahan memudar dan ikut menghilang.

__ADS_1


__ADS_2