Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Masa Lalu Nenek


__ADS_3

Ringkasan bagi yang lupa ceritanya:


Eva dan Robert mengelilingi pasar di lantai 60 Menara Sihir. Eva membeli beberapa makanan aneh dan mengunjungi beberapa toko. Lalu mereka menemukan sebuah toko aneh di pinggir jalan. Toko itu tidak memiliki satu pun pengunjung. Mereka masuk. Pemilik toko merupakan salah satu penyihir kegelapan. Memiliki sosok seorang nenek dengan hidung yang bengkok. Nenek itu mengundang Eva masuk dan berbicara empat mata dengannya. Nenek itu berkata akan mengatasi masalah sihir gelap Eva. Lalu meramalkan bahwa keberuntungan Eva akan pria sangat buruk, dan memberi Eva ramuan cinta....


***


Aku dengan tegas menolak pemberian nenek itu.


"Aku tidak membutuhkannya!" kataku tegas.


"Kau pasti membutuhkannya gadis kecil. Bawalah ini untuk jaga-jaga. Kau bisa menggunakannya pada pria yang kau cintai" kata nenek itu bersikeras.


"Aku tidak membutuhkannya! Dan aku tidak memiliki seorang pun yang kucintai!" aku tetap menolak.


"Bawalah gadis kecil. Aku tahu nasibmu. Setidaknya ini akan mengurangi ketidakberuntunganmu" nenek itu lebih bersikeras.


"Tapi...aku benar-benar tidak membutuhkannya...." jawab Eva lesu.


"Kau akan membutuhkannya" kata nenek itu dengan wajah mantap.


Eva menyerah. "Baiklah..." dia menerima ramuan itu dan memasukkannya dalam ruang dimensi.


Eh, tidak! Ini barang berbahaya. Bagaimana kalau orang tuanya mengambilnya? Bagaimana kalau tercampur acak dengan barang lain? Bagaimana kalau mengkontaminasi makanan-makanan yang sudah kusimpan di dalam?!


Aku tidak akan membiarkan benda ini merusak semuanya.


Aku menatap botol ramuan itu lekat-lekat, kemudian membuat keputusan, dan meletakkan benda itu di dalam saku gaunku.


"Bagus, bagus, bagus gadis kecil" kata nenek itu senang. "Benda itu akan membantumu kelak"


"Tapi...aku tidak memerlukannya."


Aku mulai memikirkannya. Kalau aku Eva yang asli, mungkin aku akan menerima ramuan itu dengan cepat dan memberikannya pada Denis. Agar dia menjadi jatuh cinta padaku.


Sayangnya, aku bukan Eva dalam novel. Saat ini aku tidak memiliki perasaan cinta apa pun terhadap karakter-karakter novel ini, termasuk Denis.


Yah, tapi benda ini mungkin akan berguna nanti, mungkin....


"Apa kau tahu mantra sihir gelap gadis kecil?" tanya nenek itu mengalihkan topik pembicaraan.


Aku mengangguk. "Ya. Aku tahu beberapa"


Aku menjelaskan sihir gelap bayangan yang sering kugunakan untuk menyembunyikan diri.


"Apa ada sihir yang lainnya?"


"Emmm...." aku berpikir sebentar. "Aku tidak tahu sihir spesifiknya, tapi mungkin teleportasi?"

__ADS_1


"Tidak ada mantra teleportasi dari elemen kegelapan" jawab nenek itu langsung.


"Eh? Benarkah?" aku agak kaget.


"Tapi, ini persis sekali seperti sihir teleportasi"


Aku mulai memperagakan sihir lubang dimensi yang baru kupelajari itu. Langit-langit ruangan terbelah dan lubang dimensi kecil terbentuk di atasku.


"Berhenti!" bentak sang nenek tiba-tiba.


Aku langsung menghentikan tindakanku dan PLUK!


lubang itu langsung tertutup.


"Jangan gunakan sihir itu lagi, apalagi di depan orang banyak" kata nenek itu serius.


"Eh? Kenapa nenek?" tanyaku agak takut.


Robert juga pernah menyuruhku agar tidak menggunakannya. Tapi apa yang salah? Ini sihir teleportasi bukan? Dengan prinsip kita merobek dimensi lalu pindah ke tempat lain.


"Ini hanya sihir teleportasi...."


"Itu bukan sihir teleportasi gadis kecil!" teriak sang nenek.


"Dengarkan aku, jangan menggunakannya. Dimana kau mendapat sumber sihir itu?"


Nenek itu mengernyitkan kening sebentar.


'Bagaimana bisa buku itu tersebar dan tercampur di antara manusia' gumam nenek itu. Kebetulan gumamannya agak keras dan terdengar oleh Eva.


"Aku akan memperingatimu sekali lagi. Jangan menggunakannya oke" sahut sang nenek.


Matanya menyipit. "Sihir itu bukan sihir teleportasi tapi sihir kehancuran."


"Lubang dimensi yang terbentuk bukan gerbang teleportasi tapi gerbang kegelapan. Semakin besar gerbang yang dibuat maka semakin besar daerah yang akan tertelan di dalamnya. Pernah ada kasus, salah satu penyihir kegelapan, memakai sihir itu, merobek langit dengan sihir itu dan membuat lubang sihir yang sangat besar. Lalu lubang sihir itu menelan hampir seluruh pulau. Tidak menyisakan apapun. Seluruh tanah, tumbuhan, manusia semuanya terserap ke dalam lubang dan ...lenyap..."


Aku bergidik ngeri mendengar cerita sang nenek.


"Aku pasti tidak akan menggunakannya lagi" jawabku cepat.


Lalu sang nenek mulai menundukkan kepalanya. "Kau tahu kenapa kita, penyihir gelap, dianggap sebagai sumber kejahatan?"


Aku menggeleng.


Aku benar-benar tidak tahu. Hal itu sudah terpatri dalam pikiran setiap orang. Dan mereka menganggap penyihir kegelapan yang kuat itu sebagai iblis. Tapi aku tidak tahu alasannya.


"Itu karena sihir ini" kata nenek sambil membuat wajah sendu.

__ADS_1


"Dahulu ada penyihir kegelapan yang kuat. Dia sibuk bereksperimen dan menghasilkan sihir baru. Sihir terkutuk inilah yang dihasilkan. Dia melakukan percobaan sihir di dekat sebuah desa. Dan menyebabkan seluruh desa menghilang dan sebagian lahan dari pulau itu lenyap. Semenjak itu para penyihir kegelapan dianggap perusak dan penjahat karena menyebabkan kematian dan hampir menyebabkan musnahnya suatu negara. Padahal sebelum ini, derajat kami sama dengan penyihir elemen lainnya, tidak dikucilkan seperti ini"


Haa~ nenek itu menghela napas.


Dia memejamkan matanya sedih. "Masa laluku juga menyedihkan kau tahu. Karena itulah aku memperingatkanmu dengan hati-hati. Ketidakberuntungan selalu menyertai kita, para penyihir gelap, terutama masalah cinta. Aku, yang saat itu masih muda dan cantik jatuh cinta dengan salah satu penyihir terkenal. Penyihir itu terkenal sebagai penyihir kuat dan sangat dihormati. Dia adalah penyihir elemen air dan cahaya, yang sangat mahir dalam penyembuhan. Kami saling jatuh cinta saat itu, tapi hanya aku yang berpikir begitu. Pria itu tidak mencintaiku, dia lebih memilih seorang putri dari sebuah kerajaan dan menjadi tunangannya. Akhirnya, aku ditinggalkan"


"...."


"Itu hanya permulaan. Siapa yang pernah mengira bahwa kekasih akan menjadi musuh? Saat pria itu menikahi putri kerajaan, dia sudah menjadi bagian dari kerajaan itu. Kerajaan itu merencanakan program penghapusan seluruh penyihir gelap dari negaranya. Aku, disaat itu, harus berhadapan dengan pria yang kucintai, dan membunuhnya di tempat" lanjut sang nenek dengan senyum menyeramkan.


"Aku tidak bermaksud membunuhnya. Tapi kurasa itu pantas untuk pengkhianat sepertinya. Tapi, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kerajaan lain menginvasi kerajaan itu. Raja terbunuh dan putri kerajaan itu juga terbunuh. Aku pikir itu akhir yang bahagia. Pasangan itu saling menyusul dalam kematian. Aku mengamati semua kejadian. Menemukan sesuatu yang kecil berusaha bertahan hidup dalam peperangan itu. 'Hal kecil' itu adalah anak dari pria itu dan putri. Karena sedikit rasa bersalah sudah membunuh pria itu, aku membuatnya hidup, sampai dia bisa menghidupi dirinya sendiri"


"Jadi? Apa yang terjadi dengan para penyihir gelap itu? Apa mereka diusir? Dibunuh?"


"Saat kerajaan menyerang kami, kerajaan lain ikut menyerang sehingga kerajaan itu jatuh. Jadi untuk apa kami tinggal di kerajaan yang sudah hancur? jadi kami semua memutuskan untuk menjalani hidup kami sendiri. Berkelana mencari tempat yang baru"


Haa~ nenek itu menghela napas lagi.


"Baiklah gadis kecil, aku akan memberikanmu ini" seketika sebuah kalung liontin muncul dari udara kosong. "Liontin ini dapat menjaga arus mana elemen gelap dalam tubuhmu agar tidak berantakan dan bertabrakan dengan elemen lainnya"


"Lalu buku ini" sebuah buku kecil dengan sampul coklat kulit binatang pun muncul di udara. "Aku memberikanmu buku mantra dasar untuk memperkuat manamu"


Aku menerima kedua benda itu dengan senang hati. Dan meletakkannya dengan rapi di dalam ruang dimensi.


"Baiklah gadis kecil, kau boleh pergi." kata nenek itu. "Kunjungi aku lagi nanti"


"Baik nenek, aku pasti akan mengunjungimu nanti"


KAKKK! KAKK! KAKK!


Tiba-tiba seekor gagak hitam kecil terbang ke arah kaki. Gagak itu menempatkan kakinya di bahu sang nenek.


"Ada apa Pito?" tanya sang nenek.


"Kakk kak kaaakk" burung itu bersuara.


Nenek mengangkat alisnya "oh? Ada tamu?"


Lalu sang nenek melangkah menuju pintu. Aku mengikutinya, karena aku juga ingin pergi dari tempat itu.


KRIIEET


Pintu terbuka dan aku melihat seorang gadis dengan gaun hitam sedang menundukkan kepalanya di samping pintu.


Eh? Sosoknya kenapa tidak asing ya? Rambut abu-abu perak itu, aku pernah melihatnya sebelumnya...


Gadis itu mengangkat kepalanya dan mata kami saling bertatapan.

__ADS_1


Aku melonggo kaget. "Charlotte?"


__ADS_2