Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Pertunangan Vivian


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Vivian berhasil melarikan diri dari bahaya karena artefak pelindung yanh diberikan oleh Eva. Tapi sayangnya dia diteleportasikan ke tempat acak sendirian. Dan hal itu membuat Vivian sangat ketakutan.


Tapi untungnya dia bertemu Denis dan pengawalnya di jalanan yang gelap itu. Sehingga Denis membantunya untuk kembali ke akademi.


Setelah kembali ke akademi, Vivian memutuskan untuk menghubungi Eva dengan telepati. Tapi Eva mengabaikan telepati miliknya sehingga dia memutuskan untuk menemuinya besok.


***


Keesokan harinya, Vivian masih termenung di atas kasur. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Dia hanya meminum ramuan pemulih stamina untuk memulihkan kelelahan nya karena tidak beristirahat. Walaupun kelelahan tubuhnya sudah pulih, kelelahan mentalnya tidak pulih karena dia terlalu banyak berpikir.


Vivian langsung bersiap-siap. Dia langsung menuju ke kelas A pagi-pagi sekali untuk menemui Eva. Tapi siapa yang mengira bahwa dia akan bertemu dengan orang yang paling dibencinya lebih dulu.


Vivian tidak mengira bahwa dia akan menemukan Reina di tempat ini sendirian. Terlebih lagi mereka saling bertatapan satu sama lain.


Vivian berusaha menekan amarah dalam hatinya. Dan dia berusaha agar tidak terprovokasi dan mengabaikan Reina. Dia langsung membuang tatapannya dan terus melangkah maju seakan-akan dia tidak melihat seorang pun di sekitarnya.


"Apa yang kau lakukan tadi malam?" Reina membuka mulutnya. Vivian menghentikan langkahnya dan membeku di tempat.


"Kau meninggalkan kereta kudamu dan menghilang. Ayah mencarimu karena kau menghilang tiba-tiba"

__ADS_1


Tubuh Vivian bergetar ketakutan saat dia mendengar bahwa Marquis Zent mencarinya. Dia takut ketahuan bahwa dia sudah menguping pembicaraan itu.


"Aku hanya ingin kembali dengan cepat. Dan itu sama sekali bukan urusanmu" Respon Vivian datar.


Reina berbalik dan menatap Vivian lekat-lekat. Vivian masih tidak bergerak dari posisi nya sehingga Reina hanya melihat punggungnya. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan. Tapi ayah menyuruhmu kembali." katanya serius.


DEG!


Mata Vivian membelalak kaget.


'Dia tahu...' pikir Vivian kacau.


Melihat Vivian sama Sekali tidak merespon, wajah Reina berubah jelek. "Hei, jangan mengabaikanku. Ayah ingin kau kembali agar bisa bertunangan" jawabnya.


"Ayah ingin kau bertunangan dengan Count Gastin"


"Tidak!" Vivian langsung berteriak. Dia menolak dengan cepat. Count Gastin adalah seorang pria setengah baya yang berumur 40 tahun. Dia seorang duda dengan lima orang anak. Bahkan anaknya seumuran dengan dirinya. Ayahnya benar-benar menyuruh nya bertunangan dengan pria tua seperti itu? Vivian tidak menyangka dan dia tidak akan pernah menerima pertunangan itu! Tidak akan pernah!


"Kau seharusnya menghormati ayah" kata Reina serius. Matanya mulai berkaca-kaca seakan-akan dia sedang bersimpati pada seseorang. "Ayah sudah merawatmu dari kecil. Dan dia ingin kau hidup dengan bahagia setelah kau keluar dari rumah kami. Dia benar-benar ayah yang baik. Dia mencarikanmu tunangan seorang bangsawan yang dapat membuat mu hidup dengan nyaman."


"Persetan!" Vivian sama sekali tidak peduli dengan imagenya lagi. Dia benar-benar meledak kali ini. "Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan keluarga kalian. Aku tidak akan bertunangan! Aku sama sekali tidak peduli dengan bangsawan itu! Jangan memaksaku!"

__ADS_1


Reina mengigit bibirnya dan menatap Vivian dengan tatapan kasihan. Sebenarnya Marquis Zent menyuruh nya untuk membawa Vivian kembali karena dia akan menggunakan gadis itu sebagai alat tukar.


Count Gastin adalah bangsawan yang netral. dia tidak berpihak pada siapapun. Jadi Marquis berniat menarik orang itu di sisinya dengan menawarkan tali pernikahan. Marquis juga yakin bahwa raja tidak akan menentang semua ini karena sangat menguntungkan pihak kerajaan. Semakin banyak bangsawan yang berpihak ke keluarga kerajaan, maka semuanya akan semakin baik.


"Aku hanya memberitahu mu. Walaupun kau menolak, kau tidak akan bisa melakukan apapun karena ayah akan membawamu sendiri" kata Reina. "Jujur saja jangan terlalu munafik. Kau sudah hidup dengan sangat nyaman sejak kecil di bawah naugan keluarga kayamu. Kau yakin bisa hidup dengan nyaman setelah kehilangan gelar bangsawan mu? Jadi pikirkan dengan baik-baik. Jangan terlalu pemilih karena kau sama sekali tidak berhak memilih."


"Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat itu lagi. Dan tidak akan pernah bertunangan" kata Vivian. Dia menatap Reina dengan tatapan jijik. "Kau lebih menjijikan dari yang aku duga. Aku mengira kau hanya bisa beraktig lemah di hadapan orang lain. Tapi kau ternyata bisa mengeluarkan pemikiran kotor seperti itu dari mulutmu juga. Kenapa tidak kau saja yang bertunangan dengan pria itu? Bukankah kau menginginkan kekayaan? Jadilah wanita penggoda seperti ibumu. Ibumu itu seorang Vixen yang bahkan bisa membuat ayahku cinta mati untuknya. Aku yakin kau tidak berbeda jauh darinya" ejek Vivian.


Wajah Reina memerah karena marah. "Tutup mulutmu! Aku mendengar dari ayah bahwa ibumu juga tukang selingkuh. Bahkan ayah tidak yakin kalau kau adalah anaknya! Bisa jadi kau adalah putri dari selingkuhan nya!"


PLAK!


Vivian langsung menapar Reina dengan cepat. Dia sama sekali tidak peduli kalau dirinya dihina. Tapi mereka juga menghina ibunya. Semua ini benar-benar membuat nya murka.


Tapi satu hal yang menambah kemarahan nya adalah perkataan ayahnya. Ayahnya yang mengatakan bahwa ibunya berselingkuh. Itu adalah kenyataan yang paling tidak bisa diterimanya. Dia tidak menyangka bahwa ayahnya mempunyai pemikiran seperti itu.


Vivian ingin melanjutkan aksinya dengan memukul Reina. Tapi seseorang menghentikannya.


"Hentikan!"


Vivian menoleh dan melihat Eva berdiri di sampingnya. Dalam sekejap emosinya pecah dan dia memeluk Eva sambil menangis.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Eva bertanya sambil mengusap Vivian yang sedang menangis dalam pelukannya.


__ADS_2