Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Apa aku mengenalmu? (Pangeran Erick)


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Pangeran Erick tiba-tiba mencuri tongkat sihir Raja Kano dan memberikan nya kepada Eva. Pria itu membantu penyihir gelap yang mungkin bisa membuat semua manusia membenci Kerajaan Albion karena sikapnya. Tapi Pangeran Erick tidak peduli. Dia membantu Eva melarikan diri. Bahkan memohon pada Eva untuk mengajarinya sihir gelap. Pria itu juga terus mengikuti nya sehingga membuat Eva kewalahan. Dan Emerta datang membantu Eva.


***


Eva mengenal sosok itu.


"Nenek!" katanya bersemangat.


Emerta melirik Eva dan mendekat ke arahnya. "Kau tidak apa-apa kan?" kata Emerta lembut sambil mengusap kepala gadis kecil itu.


Emerta tiba di kerajaan Kano setelah beberapa kali tersesat. Dia menggunakan sihir teleportasi beberapa kali tapi sihirnya terlalu terganggu dan menyebabkan dia berteleportasi di tempat yang salah. Mungkin kerajaan Kano memasang alat sihir aneh yang melarang orang untuk berteleportasi ke kerajaan mereka, kecuali melalui lingkaran sihir resmi.


Dan Emerta tidak mengetahui lingkaran sihir resmi itu karena dia belum pernah mengunjungi kerajaan ini sama sekali.


Saat dia tiba, suasana di kota sangat ramai. Dan saat itulah dia mendengar berita tentang penangkapan penyihir gelap di kerajaan Well. Dia tahu siapa itu, tentu saja penyihir gelap itu adalah putrinya.


Dia sudah menduga tidak aman bagi mereka untuk hidup secara mencolok di kerajaan orang lain. Karena saat identitas mereka ketahuan, mereka akan ditangkap.


Emerta ingin menyelamatkan putrinya. Tapi perlu waktu sekitar dua hari untuk terbang kembali ke kerajaan Well dengan kecepatan penuh. Lalu dia ingat bahwa cucunya masih berada di tempat ini, jadi dia membuat Eva sebagai perioritas terlebih dahulu.


"Aku baik-baik saja" Eva menjawab sambil memeluk Emerta. Dia benar-benar merindukan orang-orang terdekatnya setelah apa yang terjadi.


"Ibu..."


"Aku tahu" Emerta langsung memotong pembicaraan Eva. "Jangan khawatir. Kita akan menyelamatkan nya" kata Emerta.


Selagi kedua nenek dan cucu itu saling melampiaskan rindu mereka, gerombolan musuh semakin dekat dan terlihat.


Emerta melihat sekelompok manusia itu dengan mata menyipit, seperti melihat semut. Lalu dia mengangkat salah satu jarinya. Ada sebuah cahaya yang keluar dari telunjuknya. Dia mengibaskan tangannya dan cahaya di tangannya melebar seperti kibasan pedang.


Kibasan cahaya itu mengenai segerombolan manusia di depan mereka dan BOOM! Ledakan yang sangat besar terdengar. Bahkan sangkar yang mengurung mereka membentuk retak-retak walaupun belum hancur sepenuhnya.


"Nenek hebat!" kata Eva sambil tersenyum lebar.


Pangeran Erick melongo. Tiba-tiba monster lainnya muncul dan dia seorang wanita cantik.

__ADS_1


'Lalu nenek? Bagaimana bisa wanita muda ini menjadi seorang nenek?' pangeran Erick berpikir. Ini sama sekali tidak masuk logikanya. Wanita itu berumur seperti dua atau tiga puluhan tahun dan tidak terlihat seperti seorang nenek-nenek.


Lalu wanita itu juga sangat kuat! Pangeran Erick melirik Eva. Gadis kecil ini memiliki banyak sekali orang kuat di dekatnya. Ayahnya adalah Raja perang. Ibunya adalah mata-mata penyihir gelap. Dia diangkat sebagai cucu oleh Dean Menara Sihir. Dan seorang wanita muda (nenek) yang kuat tiba-tiba muncul.


"Um... tapi tunggu" Pangeran Erick mengernyitkan keningnya. Dia berpikir keras. Entah kenapa dia merasa wajah wanita sangat familiar. Rambut ungu yang mencolok itu mengingatkan nya pada sesuatu.


Lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu.


Emerta menggendong Eva dan ingin membawa pergi cucu kecilnya itu. Tapi tiba-tiba dia mendengar kan suara teriakan di samping nya dan melihat seorang pria muda disana.


"Tunggu, tunggu!" pangeran Erick memblokir jalan mereka.


Emerta mengernyitkan keningnya dan bertanya pada Eva. "Temanmu?"


Eva spontan menggeleng. "Bukan"


Senyum aneh terbentuk di bibir pangeran Erick. Entah kenapa dia merasa sedikit sakit hati mendengar Eva tidak mengakuinya.


Melihat wajah sedih pria itu, Eva merasa sedikit kasihan dan berkata "Aku bercanda. Kami teman sekelas"


Lalu pangeran Erick tersenyum lebar.


"Aku tidak pernah mengenal satu pun bocah bau susu" kata Emerta dingin.


Pangeran Erick mencibirkan bibirnya. "Tapi aku pikir aku mengenalmu. Kau tahu? Ayahku menyimpan lukisan besar di ruangannya dan wanita itu mirip denganmu" katanya.


Dia teringat lukisan besar di kamar ayahnya. Sang Raja memperlakukan lukisan itu seperti harta karun, bahkan lebih dari harta Karun kerajaan. Dia bahkan tidak membiarkan para pelayanan membersihkan nya. Dia membersihkan lukisan itu sendiri! Dan menjaganya lebih dari dia menjaga putranya.


Pangeran Erick masih ingat kenangan masa kecil yang membuat nya trauma. Saat itu, dia tidak sengaja menyentuh lukisan itu dan sang Raja mengurungnya dalam ruang bawah tanah selama seminggu. Jujur saja, dia benar-benar ketakutan, apalagi dia masih anak-anak saat itu.


"Mungkin itu orang lain. Lagipula itu hanya lukisan. Aku tidak mengenal siapapun" jawab Emerta acuh. Dia memang tidak dekat dengan siapapun sejak dia mengandung Diana. Dia hanya sedikit dekan dengan Ren karena penelitian. Tapi hanya itu saja.


"Tapi aku yakin kalau itu sangat mirip! Apalagi rambut ungumu sangat mencolok dan garis wajahnya juga cocok" pangeran Erick bersikeras menyakinkan Emerta.


Emerta mengabaikan nya dan melenggang pergi bersama Eva.


"Tunggu, tunggu aku!" pangeran Erick kewalahan mengejar mereka sambil berpikir bahwa wanita di lukisan itu memang Emerta. Karena firasatnya tidak pernah salah.

__ADS_1


Ketiga orang itu terbang dan melintasi kerajaan Kano. Setelah tiga puluh menit, akhirnya mereka keluar dari perbatasan kerajaan dan sampai di hutan liar.


Eva sebenarnya malu digendong seperti anak kecil oleh neneknya. Tapi dia menyukainya sehingga dia mengabaikan harga dirinya.


Eva menoleh ke arah pangeran Erick yang mengikuti mereka dan terlihat lelah.


"Kau bisa kembali ke kerajaan mu sekarang" katanya.


"Kau membuangku ?" Pangeran Erick menatap Eva dengan tatapan menyedihkan.


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Eva. "Bukan seperti itu. Kau akan dalam bahaya karena sudah menyinggung Raja Kano. Sebaiknya kau kembali ke kerajaanmu sekarang." Eva merasa pangeran Erick akan terlibat masalah apabila terus mengikuti mereka seperti ini.


Lagipula pangeran Erick adalah pewaris kerajaan Albion. Dia tidak bisa terluka atau peperangan besar akan pecah.


"Aku akan menyelamatkan ibuku, jadi kau bisa pulang" lanjut Eva.


"Aku tidak tahu jalan pulang" jawab Pangeran Erick lesu.


"Apa ?"


"Ayahku tidak menitipkan apapun padaku untuk kembali pulang. Kau tahu jarak dari kerajaan Kano ke kerajaan Albion sangat jauh. Dan aku perlu menyeberangi sungai"


"Bagaimana dengan lingkaran sihir teleportasi?"


"Ada di aula kerajaan. Kalau aku kembali ke sana" Dia menunjuk ke belakang dan memperagakan menyayat lehernya dengan tangan. "Aku akan mati"


"Tapi aku ingin ke kerajaan Well. Dan pertarungan besar akan terjadi. Sangat bahaya disana"


"Aku akan ikut!" kata Pangeran Erick bersikeras. "Jangan khawatir. Aku tidak selemah itu. Aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku akan kembali ke kerajaan tapi aku butuh bantuan beberapa orang. Itu lebih baik daripada meninggalkan aku sendiri di tengah hutan seperti ini"


"Tidak lemah? Hanya terbang sebentar wajahmu sudah seperti mayat" sindir Emerta.


DEG! Sekali lagi hati pangeran Erick tersayat. Dia tidak pernah menyangka bahwa wanita cantik itu memiliki mulut yang sangat tajam. Benar sekali kata ayahnya, semakin cantik seorang wanita maka mereka semakin beracun!


Eva menghela napas. Pria itu sudah membantu nya. Jadi memang tidak mungkin meninggalkan nya sendiri di tengah hutan tanpa koneksi apapun. Dia bahkan tidak membawa seorang pengawal pun saat dia berada di Kano. Pria ini benar-benar berpergian sendirian.


"Baiklah, tapi jangan terlalu ikut campur dengan urusan kami" kata Eva kemudian.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku tidak akan. Aku hanya ingin meminta pertolongan dengan beberapa orang" kata pangeran Erick sambil tersenyum kecil. Tapi tentu saja itu bohong. Dia ingin pergi ke kerajaan Well karena rasa penasaran yang besar. Dan dia merasa sangat tertarik dengan semua hal itu. Dia ingin melihat apa yang akan terjadi di sana.


"Semoga kita bisa sampai sebelum matahari terbit..." kata Eva. Dia merasa sedikit khawatir.


__ADS_2