Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Sahabat


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Keesokan harinya Eva terbangun di kamarnya. Dia bahkan tidak sadar bahwa Ren sudah membawanya pulang saat dia tertidur. Dan Eva juga tidak menyangka bahwa Ren akan sebaik itu untuk mengantarkannya pulang.


Lalu Eva menghabiskan waktu di perpustakaan saat sampai di akademi karena dia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk tidur seharian.


Ini adalah hari terakhir nya di akademi sebelum liburan tiba. Setelah ini mereka akan libur selama sebulan dan kembali lagi bulan depan sebagai murid tingkat dua.


Setelah jam akademi berakhir, Eva langsung menuju ke asrama untuk menemui Vivian. Dia ingin berpamitan pada gadis itu beserta mengajaknya tinggal di Mansion nya demi keselamatan.


***


Vivian tidak bertanya lebih jauh pada Eva karena gadis itu sudah menjawab bahwa dia baik-baik saja.


"Aku akan merindukanmu selama liburan" kata Vivian dengan nada yang manja.


"Aku sebenarnya ke asrama karena ingin menemui mu dan bertanya akan satu hal. Selama liburan, apa kau mau tinggal di mansion ku?" tanyaku langsung.


Wajah Vivian tampak ragu dan dia tidak menjawab.


"Ini demi keselamatan mu. Setidaknya akan lebih aman kalau kau tinggal di mansion ku. Daripada harus tinggal sendirian di ibukota" aku melanjutkan. Tapi aku tidak akan memaksa nya tinggal kalau dia tidak mau.


"Baiklah" tiba-tiba dia menjawab dengan cepat. Semua ini karena Vivian teringat dengan keselamatan dirinya. Lagipula bukan hal mencurigakan untuk menginap di rumah temanmu saat kau sedang liburan.


"Emm...tapi kemungkinan aku tidak akan menetap di mansion cukup lama karena aku harus berpergian..." jawabku canggung.


"Tidak masalah. Aku akan menjadi anak baik di tempatmu" jawab Vivian. "Walaupun mungkin akan sedikit kesepian kalau kau benar-benar tidak ada di sana. Aku berpikir kita bisa menghabiskan waktu liburan bersama..." jawabnya kemudian dengan nada sedikit sedih.


"Aku akan menyelesaikan urusan ku secepat mungkin. Tenang saja. Setelah itu, kita bisa menghabiskan waktu liburan bersama oke. Aku ingin mengajakmu ke Menara Sihir juga"

__ADS_1


Lagipula kepergianku masih belum pasti. Aku hanya akan pergi ke istana elf gelap kalau ibuku setuju untuk pergi. Aku bahkan belum bertanya pada ibuku tentang hal itu.


Mata Vivian berbinar saat dia mendengar kata "Menara Sihir". Dan dia mengangguk pelan.


Vivian bersiap dengan meletakkan semua barangnya ke dalam ruang dimensi. Lalu kedua gadis itu berjalan dengan santai menuju salah satu mansion yang ada di ibukota.


Saat mereka sampai, Duke dan Diana menyambut kedatangan Vivian dengan antusias.


"Ini pertama kalinya Eva ku membawa teman perempuan nya ke rumah~" kata Diana bersemangat.


Vivian menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah malu.


"Aku mengajak Vivian untuk tinggal di sini selama liburan" kataku.


"Baiklah, siapkan kamar untuk nona Vivian" Duke mengintruksikan kepala pelayan yang berada di sudut ruangan. Kepala pelayan itu mengangguk pelan dan bergegas melakukan apa yang diperintahkan.


"Nona Vivian, kau sangat cantik~" puji Diana.


"Te... terima kasih..."


"Kau terlihat lebih feminim dari Eva" kata Diana cemberut.


"..."


"Kau tahu sejak kecil Eva sama sekali tidak feminim. Aku membelikannya banyak sekali renda dan pita. Tapi dia menyia-nyiakan semuanya. Dia benar-benar terpengaruh ayahnya untuk belajar sihir" lanjut Diana. Dan Diana terus mengoceh dan menceritakan masa kecil memalukan Eva. Vivian hanya mendengar kan sambil sesekali tersenyum dan mengangguk kecil. Sementara Eva harus mendengarkan cerita aib masa kecilnya di sudut dengan perasaan sedikit masam.


Tak lama kemudian, kepala pelayan memberitahu mereka bahwa ruangan Vivian sudah selesai di siapkan. Kamar Vivian ternyata berada di sebelah kamarnya. Mungkin duke sudah mengaturnya karena posisi ini benar-benar efisien. Eva pun mengantar kan Vivian langsung ke kamarnya.


"Ibumu benar-benar menyenangkan" kata Vivian. Dia merasa sedikit nostalgia dan matanya sedikit sedih. Tanpa sengaja, interaksi nya dengan Diana mengingat kannya akan masa kecilnya, dimana saat ibunya masih hidup.

__ADS_1


"Yah, dia memang selalu bersemangat setiap hari" kataku.


"Ibuku tidak seperti itu. Dia orang yang serius. Tapi dia juga sangat pengertian. Kadang aku mengira dia terlalu dingin. Tapi ternyata dia orang yang hangat" kata Vivian dengan mata sendu.


Dia mengingat saat-saat masa kecilnya. Saat itu ibunya selalu menyuruh nya untuk belajar dengan ekspresi dingin. Setiap hari hari-harinya selalu dilewati dengan belajar hanya karena dia harus memenuhi kewajiban nya sebagai gadis bangsawan. Sebagai seorang bangsawan dia harus mempelajari semua etiket, menari, politik, sihir dan sebagainya. Sehingga ada saat dimana dia benar-benar muak akan semua itu dan membenci ibunya.


Tapi, suatu hari dia jatuh sakit. Saat itu dia menemukan ibunya menjaganya seharian bahkan sampai tertidur di sisi ranjang. Dia juga mendengar kan ibunya menangis karena saat itu dia berpura-pura tertidur. Tentang bagaimana ibunya menyesal karena sudah memaksakan semuanya sampai dia menjadi sakit seperti ini.


Semenjak kejadian itu, ibunya mengurangi jam belajar nya. Vivian merasakan sedikit kehangatan. Hubungan ibu dan anak mereka membaik. Dia bahkan belajar dengan keinginan nya sendiri tanpa paksaan apapun. Tapi sayang nya ibunya sama sekali tidak berumur panjang. Dan harus meninggalkan nya di usia muda.


Melihat wajah sedih Vivian, aku hanya bisa terdiam canggung. Aku ingin menghiburnya tapi Vivian tiba-tiba kembali seperti biasanya dan tersenyum.


"Malam ini, ayo kita tidur bersama. Aku ingin menceritakan beberapa gosip terbaru dari akademi" katanya dengan nada bahagia.


Aku mengangguk pelan.


"Aku yakin kau pasti ketinggalan beberapa berita karena kau sering bolos akhir-akhir ini" ejek Vivian dengan tatapan nakal. "Aku bahkan memiliki gosip tentang Putra Mahkota." Dia mengedipkan matanya.


Wajahku berkedut. Tapi aku tidak mengatakan apapun sebagai balasan.


Vivian tidak menunggu respon Eva sama sekali. Dia langsung bercerita dengan penuh semangat. Sebagian besar cerita yang dia lontarkan adalah cerita konyol dan beberapa aib dari para murid serta guru. Tapi Eva yang mendengar kan semuanya dengan wajah tertarik. Dan akhirnya kedua orang itu terus bergosip sampai mereka lupa waktu.


"Halo gadis-gadis cantik, ayo makan malam~" terdengar suara Diana dari balik pintu kamar.


Eva dan Vivian langsung terdiam. Mereka menatap ke arah pintu dengan wajah kaget. Mereka tidak sadar bahwa mereka menghabiskan waktu selama empat jam hanya untuk bergosip.


"Kita akan lanjutkan setelah makan malam. Ayo turun" aku menarik tangan Vivian, menuju ke arah meja makan di lantai dasar.


Vivian melihat punggung Eva, dan senyum kecil terbentuk di bibirnya. Ini adalah pertama kalinya dia mempunyai sahabat perempuan. Eva adalah orang terpenting untuknya setelah ibunya. Dan hal itu tidak akan pernah berubah.

__ADS_1


__ADS_2