Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Kedua 8


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Empat orang itu, -Robert, Sayn, Denis, dan Reina, -bertarung dengan bintang sihir kuat berbentuk ular raksasa. Pertandingan itu berlangsung selama beberapa jam, sebelum akhirnya mereka menang. Ular hitam yang sudah binasa itu tiba-tiba menghilang, lalu pohon raksasa di tengah danau itu juga runtuh secara tiba-tiba. Sampai akhirnya tiba-tiba muncul batu raksasa dengan rune kuno di tempat pohon raksasa itu berakar.


Eva hanya mengamati situasi. Lalu Robert mengetahui keberadaannya. Disusul dengan dua orang lainnya. Eva pun menampakkan dirinya dan bergabung dengan kelompok itu.


***


"Apa kau benar-benar tahu caranya?" aku memastikan lagi. "Beritahu aku" kataku penuh semangat.


"Baiklah, aku memberitahumu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku" kata Rexus dengan nada licik.


Astaga!


Kadal ini benar-benar...tidak tahu malu!


Aku benar-benar kesal. Aku ingin membuangnya dan tidak akan memberinya makan lagi! Lagipula dia hanya kadal tidak berguna saat ini. Kalau pun tidak bisa, aku ingin memukulnya. Tapi memukul anak kecil sama sekali tidak baik. Tapi aku berusaha menahan rasa kesalku.


Entah mengapa aku merasa kadal ini sama menyebalkannya dengan dewa kucing buntal itu!


"Apa itu?"


"Setelah ini aku ingin makan yang banyak. Aku ingin ramuan" katanya langsung.


Haa~ aku menghela napas lega dia tidak meminta yang aneh-aneh.


"Oke"


"Dekatkan aku ke batu itu, aku akan membantumu membuka. Entah kenapa semua hal di tempat ini sangat tidak asing untukku. Aku mengetahui semuanya. Seperti rumah" jelas Rexus.


Hmm...apa mungkin ini intuisi Rexus karena ini adalah rumah awalnya? Entahlah, masih membingungkan...


Aku pun mulai mendekat ke batu besar itu. Tapi tiba-tiba sebuah tangan mencengkram lenganku.


"Apa yang kau lakukan nona! Jangan mendekat dan membuat masalah! Kau akan merusak runenya!" Reina tiba-tiba berteriak. Menarik perhatian tiga pria di dekat mereka.


Aku menatap Reina dengan ekspresi kesal. "Aku tidak akan merusaknya. Aku hanya ingin membuka segel batunya" aku membela diriku sendiri.


"Apa yang bisa dilakukan oleh gadis kaya dan manja sepertimu? Segel batu? Jangan mengganggu yang lainnya. Tunggu mereka untuk memecahkan runenya dulu" serbu Reina lagi tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Eva, ada banyak jebakan di tempat ini. Kita mengaktifkan jebakan sebelumnya, jadi kita harus hati-hati sekarang" timpal Denis juga.


Di dalam pikiran Denis, Eva masihlah seorang gadis kecil. Walaupun dia melihat bahwa Eva jenius dalam bidang sihir, dia sama sekali tidak mengetahui kemampuannya yang sebenarnya. Sehingga dia sedikit menyetujui perkataan Reina. Dia tidak ingin gadis itu berada dalam bahaya.


Hanya Sayn dan Robert yang mengetahui kemampuan Eva yang sebenarnya. Ini wajar untuk Robert karena dia mengawasi Eva sejak dia masih kecil. Sementara Sayn melihat semuanya karena pertemuan mereka yang tidak terduga. Denis hanya bertemu Eva di akademi, istana dan mansion duke, dimana Eva selalu menyembunyikan jati dirinya.


"Apa kau bisa membuka segelnya?" Robert menatap Eva dengan ekspresi serius. Dia juga berpikir bahwa mereka harus berhati-hati di tempat ini.


"Aku tahu!" aku mengangguk yakin.


"Kalau begitu baiklah" respon Robert kemudian.


Aku langsung menghepaskan tangan Reina yang menempel di lenganku. Sebelumnya, aku hanya ingin mengubah alur cerita novel karena aku ingin hidup. Aku tidak akan mengusik para tokoh utama ini. Tapi aku tidak menyangka bahwa tokoh utama wanita di novel itu ternyata sangat menyebalkan. Aku jadi tahu kenapa Eva asli tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik saat berada di dekat gadis ini. Ini semua karena gadis ini menyebalkan!


"Argh!" Reina berteriak kesakitan dan terjatuh saat Eva mulai menghepas tangannya.


Aku mengernyitkan kening saat melihat tingkahnya.


Ayolah, aku tidak mendorongnya sekuat itu hingga dia bisa jatuh seperti itu!


Reina yang terjatuh itu memasang ekspresi sedih dengan wajah berkaca-kaca, hampir menangis. Dia berharap ada yang membelanya karena Eva memperlakukannya dengan kasar. Tapi dugaannya salah! Sama sekali tidak ada yang membantunya! Tiga orang pria di sekelilingnya hanya melihat dirinya dengan ekspresi datar! Dia merasa tidak nyaman dengan perlakuan para pria itu.


"Kalau begitu jangan menyentuhku lain kali" jawab Eva datar.


"Murid kecilku memang cukup kasar" kata Robert.


Denis mengangguk. "Dia gadis yang kasar, padahal aku sudah menyuruhnya untuk mempelajari etiket bangsawan"


"Dia juga cerewet" sambung Sayn.


"...."


Reina membeku membisu.


Sementara aku melotot tiga orang pria di dekatku. Berani sekali mereka mengatakan aku gadis yang kasar dan cerewet! Kalau diperhatikan aku belum pernah membuat perhitungan kepada para tokoh utama itu. Mereka selalu mengerjaiku duluan dan aku sama sekali tidak pernah membalasnya! Jadi lihat saja, lain kali kalau aku mempunyai kesempatan aku akan mempermalukan mereka!


"Hmph!"


Aku tidak mempedulikan keempat orang itu dan membalikkan tatapan itu untuk fokus pada batu besar. Aku mendekatkan diriku sampai Rexus bisa mencapai batu itu. Setelah sudah cukup dekat, Rexus mulai mengeluarkan  dirinya dan melompat ke atas batu besar.

__ADS_1


Kemunculan Rexus yang tiba-tiba membuat semua orang kaget.


"Kadal!" Reina berteriak ketakutan. Gadis itu baru saja memulihkan diri dan kembali berdiri. Tapi seekor kadal kecil tiba-tiba melompat di depan matanya dan membuatnya terjatuh lagi karena syok.


Sementara tiga orang pria lainnya hanya membelalakan mata mereka sebentar sebelum ekspresi mereka kembali datar.


"Sudah menetas?" gumam Sayn tiba-tiba.


"Ya, masta" aku menjawab. "Dia adalah temanku" aku mengkonfirmasi identitas Rexus agar mereka tidak menyerangnya.


"Kenapa kau mengambil kadal kecil? itu sama sekali tidak berguna" respon Denis.


"Aku bisa mencarikanmu binatang iblis yang lebih baik dari ini" sambung Sayn.


"Aku tidak tahu dia hanya kadal" kata Robert kecewa.


Rexus mengetahui respon manusia di sekelilingnya. Dia menjadi marah dan berteriak "Aku bukan kadal! Aku naga!" dia berteriak dan tentu hanya Eva yang memahami perkataannya.


Di mata semua orang, kadal itu hanya mencicit dengan suara imutnya sambil menghentakan kaki dan mengibaskan ekornya. Membuat semua orang terpana karena tingkahnya cukup imut. Bahkan ketakutan Reina menghilang dan dia mulai bergumam "Imut".


Eva hanya menonton semuanya di samping sambil berusaha menahan tawanya.


Rexus tahu bahwa semua manusia itu tidak mengerti kemarahannya. Dia hanya memendam semua amarahnya di dalam hati.


'Lihat saja kalau aku sudah besar nanti. Aku akan menghancurkan mereka' pikir Rexus sambil mengingat wajah empat orang manusia di depannya.


Setelah meredakan amarahnya, Rexus mulai fokus pada rune di bawa kakinya. Naga kecil itu mulai berjalan ke sudut dan tiba-tiba mengeluarkan api hitamnya yang sebesar lilin kecil. Api hitam itu bersentuhan rune di atas batu lalu secara perlahan menyebar di atas rune seperti air yang memasuki saluran. Dan mulai mengubah rune itu itu menjadi hitam.


"Eva tuangkan manamu. Elemen gelap" kata Rexus kemudian.


Aku sedikit kaget. "Eh? Elemen gelap? Apa kau yakin?" Lagipula mengeluarkan elemen gelap di sembarang tempat akan berbahaya karena orang-orang bisa mengira aku adalah penyihir gelap dan mulai menyerangku. Tidak apa-apa jika di depan Robert dan Sayn. Tapi di sini juga ada Denis dan Reina.


"Cepatlah. Tidak apa-apa. Gunakan sedikit saja"


Aku mulai mengikuti perintah Rexus. Aku menyentuh batu itu dengan telunjukku lalu mengedarkan sedikit mana gelapku. Lalu tiba-tiba KREK, KREK, KREK, batu itu mulai berbunyi. Rune di atasnya mulai bercahaya dan mulai bergerak-gerak seperti membuka kunci.


Lalu tanah di sekeliling mereka tiba-tiba bergetar. Air danau yang ada di sekeliling mereka pun tiba-tiba menghilang, membuat jurang yang menjorok ke dalam.


"Ada ruang bawah tanah. Sudah terbuka" kata Robert, menyadarkan semua orang yang masih mematung karena kejadian di depan mata mereka.

__ADS_1


__ADS_2