Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Kedua 17


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba. Ternyata tempat yang dituju Denis adalah reruntuhan bangunan besar. Dan artefak yang Denis cari adalah artefak berbentuk piala.


Lalu saat mereka akan masuk, sekelompok tim dari Jiwa Sihir menghampiri mereka. Denis kaget dan memarahi Reina karena tidak bisa menjaga rahasia. Tapi Reina bersikukuh bahwa mereka adalah teman nya dan datang untuk membantu.


Denis mengalah dan semua orang masuk bersama. Walaupun akhirnya mereka harus terpisah saat masuk. Eva, Robert dan Sayn berada dalam satu kelompok karena mereka berada di barisan terakhir. Ketiga orang itu menemukan ruang rahasia di bawah tanah.


***


Pintu ruang rahasia itu terbuka. Terlihat tangga-tangga kecil dari batu yang mengarah ke bawah.


Aku pun memutuskan untuk masuk, tapi Robert menghalangi ku.


"Berhenti, biar aku yang masuk duluan. Kalau kami membiarkan mu masuk lebih dulu, kau akan mengaktifkan semua jebakannya" kata Robert.


"...."


Aku kesal.


Tapi aku tidak bisa mengatakan pembelaan.


Mereka benar. Sepanjang jalan ini aku selalu mengaktifkan jebakan yang terpasang. Seakan-akan aku menjadi radar kematian. Ini benar-benar kutukan untukku.


Robert masuk lebih dulu, Eva di tengah dan Sayn berada di posisi belakang. Kami tidak bisa masuk bersamaan karena ruang dan tangga bawah tanah itu cukup kecil.


Kondisinya juga sangat gelap, jadi Robert perlu memakai sihir bola apinya sebagai penerangan.


Setelah menuruni beberapa tangga, kami akhirnya tiba di ruangan bawah. Tapi kami tidak menemukan apa pun. Hanya ruangan kosong dengan tiga pintu di masing-masing sudutnya.


Aku sangat kecewa. Aku kira aku akan menemukan sesuatu yang spesial. Tapi ternyata hanya angan-angan. Sangat sulit untuk menemukan satu harta karun di domain Sihir dalam waktu yang sangat singkat. Tidak heran beberapa orang berakhir menyedihkan tanpa mendapatkan apa pun.


"Ada tiga pintu di sini. Kita akan pilih yang mana?" aku bertanya.


"Tengah" jawab Robert tanpa ragu.


Kami langsung menuju pintu tengah dan membukanya.


Astaga!


Kali ini mataku membelalak kaget. Bahkan bola mataku hampit keluar.

__ADS_1


"I..ini...." aku tak percaya dengan apa yang kulihat! Semuanya harta karun! Ada banyak sekali emas dan barang-barang sihir!


Ini ruang harta! Bukan hanya tumpukan emas. Aku juga bisa melihat tumpukan ramuan, senjata, dan artefak. Semuanya menumpuk seperti gunung di dalam ruangan. Aku tidak akan bisa membeli harta sebanyak ini di pasaran


Amazing!


"Ini benar-benar ruang harta karun!" kataku bersemangat. "Kita beruntung!"


Aku ingin melangkah maju tapi Robert langsung menghentikan ku. "Tunggu dulu" katanya.


Dia mengambil kerikil kecil yang ada di bawah kami dan melemparnya ke depan.


BANG!


secara tiba-tiba jeruji besi yang tajam jatuh dari atas.


Aku menyaksikan semuanya dengan mata kaget. Kalau aku langsung masuk tadi, kuyakin tubuhku sudah terpotong menjadi potongan daging yang siap di panggang. Membayangkan nya saja membuat ku ngeri.


"Aku kira sudah aman, ayo maju" kata Robert jahil sambil mendorong tubuh kecil Eva ke depan. Dia tersenyum kecil saat melihat wajah gadis kecilnya memutih ketakutan. Membuat nya semakin ingin menjahilinya


"Tidak" Eva dengan cepat menolak. Dia langsung berbalik ke belakang punggung Robert. "Kau duluan masta. Yang tua memimpin jalan"


"Oke, karena aku pemimpin" dia menunjuk tumpukan harta karun. "Bagianku lebih banyak"


Aku terdiam.


Apakah orang ini hanya ingin bermain-main dengan ku saja?


Sialan!


Sayn tanpa aba-aba melenggang maju sambil menatap kasihan dua mahluk bodoh di depannya.


"Harta karunnya memang banyak. Tapi tidak semua berharga. Beberapa dari mereka bahkan hanya sampah" dia mengumumkan. Entah kenapa dia sudah maju dengan cepat dan menyentuh salah satu artefak dengan tangannya.


"Kita tidak bisa mengambil semuanya. Tapi kita harus mengambil yang terbaik. Sisakan harta karun sampah itu untuk yang lainnya" kata Sayn sambil menunjukkan senyum licik.


Mata Eva dan Robert langsung berbinar.


"Kau benar" kataku setuju sambil mengangguk cepat.


Kita harus mendapat yang terbaik karena kita menemukan nya lebih dulu. Serahkan harta sisa itu untuk yang lainnya. Keputusan itu cukup bijaksana walaupun licik.

__ADS_1


"Aku akan mengajarimu cara menyortir harta. kumpulkan mana di matamu lalu rasakan kekuatan mana yang ada di kumpulan harta ini. Semakin besar esensi mana yang dimiliki, maka itu akan semakin berguna" kata Robert.


Aku dengan cepat melakukan petunjuk yang diarahkan Robert untuk melihat esensi mana kumpulan harta itu. dan benar sekali. Esensi mana yang dimiliki mereka sangat beragam.


Aku jadi penasaran esensi mana yang dimiliki dua ramuan harta yang kuperoleh sebelumnya. Aku yakin itu pasti sangat besar. Buktinya Rexus masih tertidur lelap sampai sekarang. Dia menjadi naga yang berhibernasi. Sayangnya dia bukan beruang.


Kami bertiga pun dengan langkah cepat mengumpulkan semua barang dan memasukkannya dalam ruang dimensi kami. Hanya dalam beberapa menit saja, harta karun di tempat itu sudah berkurang setengahnya.


Lalu kami merasakan kehadiran orang lain yang masuk ke tempat ini.


Kami pun berhenti memasukkan harta ke dalam ruang dimensi dan menoleh. Ternyata itu Denis.


"Aku mencarimu" dia menatap Eva. "Kau tiba-tiba terpisah dari kelompok. Aku sangat khawatir. Aku tidak menyangka kau sudah tiba duluan di pusat reruntuhan."


Aku berdehem dan menatap Denis dengan polos. Aku ingin menyembunyikan fakta bahwa kami sudah mengambil banyak harta terbaik di tempat ini sebelumnya.


"Karena ada banyak sekali jebakan. Aku terpisah dari kelompok tanpa sadar" aku menjawabnya


Denis tersenyum. "Baiklah"


"Lalu dimana Yang lainnya Yang Mulia?" aku bertanya lagi.


"Aku tidak tahu. Aku berpisah dari mereka saat aku ingin mencarimu" jawab Denis santai. Sekali lagi Denis membuka peta rahasia miliknya.


"Artefak yang kucari ada di tempat ini" katanya.


Denis maju ke tengah ruangan. Lalu dia melukai jarinya dan menggambar sebuah diagram kecil dengan darahnya.


Aku tidak tahu apa yang dilakukannya. Tapi kelihatannya semua tindakannya sangat rahasia.


Setelah itu Denis membacakan sebuah mantra dan TRINGG! Lingkaran sihir yang digambarkan nya mulai bercahaya.


GREK! DRUK! KREK!


Tiba-tiba sebuah meja batu muncul dari bawah. Di atas meja itu ada sebuah piala emas yang bersinar terang.


"Artefak itu ada disini. Artefak leluhur kami" Denis tersenyum lega.


Hanya dia yang bisa membuka segel artefak itu dengan darahnya. Karena pada awalnya artefak ini milik keluarga Well. Artefak ini snagat berperan bagi keluarga Well saat mereka menghancurkan kerajaan lama dan merebut tahta.


"Tunggu!"

__ADS_1


Denis ingin mengambil artefak itu, tapi tiba-tiba sekelompok orang dari Jiwa Sihir muncul entah dari mana dan menghentikannya.


__ADS_2