
Cerita sebelumnya:
Mereka kembali ke penginapan. Lagi-lagi Eva dan Dean baru itu bentrok. Walaupun Eva tidak terlalu memikirkan nya.
Sementara di sisi lain, Dean Wason dan Penatua Kedua Kota Sihir dalam pembicaraan yang sangat serius. Mereka membicarakan bahwa suasana di tempat para penyihir mulai kacau akhir-akhir ini karena para penyihir gelap. Mereka menemukan penyihir gelap itu menyusup ke berbagai tempat dan mulai mengacaukan segalanya.
***
Keesokan harinya, kami semua akan kembali ke Menara Sihir. Lalu Robert akan mengantarku kembali ke akademi. Aku sudah berada di Kota Sihir selama seminggu. Dan aku tidak menghadiri akademi karena itu. Walaupun Dean Wason sudah membantuku dalam hal perizinan, aku benar-benar takut menghadapi wajah orang tuaku. Semuanya karena aku pergi diam-diam. Aku takut ayah bodoh itu menghukumku.
Awalnya, Dean Wason mengatakan pertandingan sihir ini berbahaya. Karena setiap tahun akan ada yang kehilangan nyawa karena pertarungan atau tidak bisa bertahan hidup dalam ruang dimensi. Tapi tidak ada yang mati di pertandingan kali ini.
Walaupun ada beberapa orang yang tidak beruntung seperti cacat, tidak bisa menggunakan sihir lagi, serta terluka parah, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk sebuh karena ramuan sihir tidak berguna.
Setelah bangun dari tidur, kami semua berkumpul di depan penginapan. Kami terpisah menjadi dua kelompok. Dean Wason bersama kelima Dean lainnya akan kembali terlambat karena mereka perlu berdiskusi dengan para penatua Kota Sihir. Sementara sisanya akan kembali lebih dulu.
Dean Wason sudah menempatkan lingkaran sihir di hutan sebelah gerbang barat Kota Sihir. Jadi Kami semua langsung menuju ke sana dengan sihir terbang.
Sepuluh menit berlalu, kami sudah tiba di hutan itu. Salah satu Dean memandu kami ke arah lingkaran sihir.
Lingkaran sihir teleportasi itu diletakkan secara tersembunyi di dekat rerumputan yang dikelilingi pepohonan rindang. Bahkan mereka memasang sihir pelindung -seperti dinding tidak terlihat dan Sihir ilusi - agar tidak ada yang menyentuh lingkaran sihir ini.
Tapi memang hal itu seharusnya dilakukan. Lingkaran sihir ini sangat penting. Kalau musuh menemukannya, maka mereka bisa menyelinap dengan mudah ke Menara Sihir. Tentu saja dampaknya akan sangat berbahaya.
Dean ketujuh membatalkan sihir penghalang, lalu menyuruh kami semua berdiri di atas lingkaran sihir.
Setelah kami semua masuk, dia kembali mengaktifkan penghalang nya. Lalu dia mengaktifkan lingkaran sihirnya.
Hal itu berlangsung cepat. Aku hanya merasa pandanganku menjadi buram sesaat, lalu aku melihat tempat yang sangat familiar di depan mataku.
Kami semua sudah kembali ke Menara Sihir. Lebih tepatnya saat ini kami berada di halaman belakang Menara Sihir. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk berteleportasi.
"Tidak mau menginap?" Robert menawariku untuk tinggal di Menara Sihir hari ini dan kembali besok.
Aku menggeleng kan kepalaku. "Aku ingin kembali sekarang" jawabku. "Sampaikan salamku pada kakek" lanjutku.
__ADS_1
Robert mengangguk, tapi dia mungkin akan melupakannya. Menyampaikan salam untuk Dean Wason bukan hal penting untuknya.
Aku dan Robert berpisah dari kelompok. Robert memegang tanganku dan mengantarku ke ruang kerja Dean Wason. Di sana ada lingkaran sihir untuk berteleportasi ke akademi.
Dalam sekejap, aku kembali ke akademi. Aku menghirup dalam-dalam udara yang sangat familiar ini. Walaupun aku tidak tahu di mana aku berada sekarang. Tapi terlihat seperti sebuah kamar.
"Ini kamarku" kata Robert saat melihatku mulai celingukan mengamati situasi.
"Oh?" aku mengerjap kaget. Aku belum pernah melihat kamar Robert di akademi. Tapi furniture yang ada di tempat ini lebih baik daripada kamar di Menara Sihir. Mungkin karena ada unsur bangsawan di akademi, jadi barang-barang yang ada di sini juga sedikit lebih mewah.
"Aku akan kembali ke rumahku dulu masta, sampai jumpa" kataku berniat pamit.
Tapi tiba-tiba Robert memegang tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya.
Aku tidak bisa melihat ekspresi Robert karena wajahku tertekan di dadanya. "A...ada apa...?" aku bertanya gugup.
Robert memperkuat pelukannya.
"Uwahhh mastaaa! Kau meremukkan ku!" protesku sambil memberontak, walaupun itu sia-sia.
Robert berada dalam pikirannya sendiri. Entah kenapa semenjak Pertandingan Sihir ada satu hal dipikirannya. Seakan-akan gadis itu akan semakin jauh darinya suatu hari nanti.
Robert adalah orang yang lurus. dia berlatih dengan wajar dan sudah mendapatkan julukan jenius sejak kecil. Tapi dia tidak pernah mencoba teknik berlatih apapun. Walaupun Dean Wason sudah beberapa kali menawarinya untuk berlatih beberapa teknik kuno agar bisa menjadi pewaris nya kelak, tapi dia menolak karena dia tidak mempunyai motivasi untuk itu. Dan dia ingin menjadi orang yang bebas.
'Mungkin aku akan memikirkan tawaran pak tua itu...' pikir Robert.
Sebenarnya bukan hanya Robert yang merasa dilema seperti ini, Sayn dan Denis juga. Denis memiliki dampak paling berat. Pria itu sekarang memiliki rasa percaya diri paling rendah sekarang. Setelah memberikan artefak kepada ayahnya, dia menghilang. Dia ingin melakukan pelatihan tertutup lagi, merasa bahwa kekuatannya yang sekarang sangat kurang.
"Jangan memanggilku master lagi" murmur Robert kemudian.
"Eh?"
Robert melepas kan pelukan nya. Kedua tangannya memegang bahu Eva dan dia menatapnya lekat-lekat.
"Kau sudah bukan lagi muridku. Dan aku tidak pantas untuk menjadi gurumu lagi. Jangan panggil aku master lagi."
__ADS_1
Aku mengernyit kan kening sedih saat mendengar perkataan Robert. Aku mencoba mencenra kata-katanya. Dia tidak ingin aku menganggap nya sebagai master lagi. Apa dia mulai membenciku? Dia tidak ingin murid seperti ku? Aku merasa sangat sedih
sekarang. Terasa seperti bahwa orang yang kau hargai membuangmu dalam sekejap mata.
Apa alurnya sudah kembali ke awal? Tapi kenapa? Aku tidak ingat sudah melakukan hal jahat yang membuat Robert membenciku?
"Panggil aku dengan namaku. Aku bukan mastemu lagi" sambung Robert dan membuatku mengerjap kaget.
Ehhh? Aku salah. Robert membuangku menjadi murid sekarang karena dia sudah menganggap ku setara dengannya bukan?
"Robert?" aku bergumam sambil memiringkan kepalaku. Apa nadanya tepat? Aku selalu menyebut nama Robert dalam pikiran ku. Tapi ini adalah pertama kalinya aku mwnyebutnya dengan menggunakan mulutku. Aku harap nadanya tidak terlalu aneh.
Robert tiba-tiba tersenyum. "Bagus..."
Gadis kecil di depannya sudah tumbuh dan sekarang hampir setinggi dadanya. Dia mengelus kepalanya.
"Kembalilah. Aku rasa duke sangat murka sekarang. Jangan lupa berhati-hati" katanya kemudian.
Kepalaku berkedut saat mendengar nya. Aku lupa rencana untuk menangani ayah bodoh itu! Ini sama sekali tidak bagus. Tapi aku seratus persen yakin dia tidak akan kembali ke ibu kota sekarang karena ibu baru saja melahirkan. Kalau dia memarahiku dari bola sihir dampaknya tidak akan terlalu besar.
Aku pun langsung berpamitan pada Robert dan menuju mansionku.
Padahal aku hanya pergi selama seminggu. Tapi aku melihat pemandangan akademi dan ibu kota seakan-akan aku tidak pernah kembali selama beberapa tahun.
Akhirnya aku menghentikan langkahku saat melihat gerbang besar di depanku. Ya, ini adalah gerbang mansion ku.
"Nona!"
"Nona sudah kembali!"
Dua orang penjaga gerbang berteriak kaget. Rasa ngantuk mereka langsung menghilang.
Lalu mereka mulai membuka gerbang.
Aku ingin masuk dengan damai. Tapi aku bisa melihat bahwa seseorang berlari dengan cepat ke arahku. Kecepatan nya seperti benteng. Bahkan beberapa debu berterbangan saat dia melintas.
__ADS_1
GRAB!
Tanpa aba-aba dan persiapan apa pun, kedua kalinya aku mendapat pelukan yang meremukkan tulangku. Aku kira aku benar-benar patah tulang kali ini...