
Sementara kelompok lainnya yang dipimpin oleh Dean Wason, juga mengalami hal yang sama. Mereka menemukan penghalang tidak terlihat yang menyelimuti seluruh lingkaran sihir raksasa. Dean Wason dan yang lainnya berhasil menghancurkan penghalang itu. Lalu Robert mulai menganalisa lingkaran sihir itu untuk menghancurkannya.
Saat lingkaran sihir itu hancur, sosok raksasa mulai muncul dari rimbunan hutan. Itu adalah sesosok beruang coklat raksasa. Binatang sihir itu mengaum dan aumannya memberikan aura tekanan yang sangat kuat.
"Apa-apaan..." pangeran Erick melonggo. Dia benar-benar membeku dan hampir terkena serangan, tapi Robert dengan cepat membawanya melarikan diri.
"Bodoh" kata Robert saat memindahkan pria itu dan melemparkannya.
"Hei, bisakah kau bersikap lebih lembut padaku" protes pangeran Erick sambil menggosok pantatnya yang menubruk tanah.
Robert tidak mempedulikannya dan langsung maju bersama yang lain untuk melawan mahluk itu.
Pangeran Erick memasang wajah cemberut sambil melihat semua orang yang bertarung. Dia menekuk lututnya dan menonton perkelahian itu seperti menonton pertandingan. Tidak berniat membantu sama sekali.
"Apa kau terluka?" tiba-tiba dia mendengar suara yang sangat indah. Dia menoleh dan melihat gadis cantik dengan rambut perak menghampirinya. Matanya berbinar. Jantungnya berdegup kencang.
"Aku sedikit terluka" dia berbohong.
Charlotte memandang pemuda di depannya. Pakaiannya sedikit kotor tapi tidak terlihat terluka sama sekali. "Tapi kenapa pemuda ini tidak ikut bertarung dengan yang lainnya?" pikir Charlotte. Tentu saja dia tidak pernah berpikir bahwa Erick malas untuk bergerak dan bertarung, jadi dia pikir pemuda lemah ini terluka.
Charlotte langsung memberikan sihir penyembuhan kepada Erick. Wajah Erick langsung memerah malu, saat Charlotte mulai menyentuh kakinya. Walaupun kakinya tertutup celana, dia masih bisa merasakan tangan lembut Charlotte. Hal itu membuatnya bersemangat.
"Ayah, putramu akan membawa permainsuri!" seru Erick dalam hatinya. Dia sangat bersemangat sekarang.
__ADS_1
Karena Charlotte sibuk dengan sihir penyembuhannya, dia tidak sadar bahwa beruang itu menuju ke arah mereka. Robert langsung menuju ke arah mereka. Tapi tiba-tiba, pangeran Erick berdiri dengan gagah. Dia memeluk pinggang Charlotte dan melompat tinggi, menghindari beruang itu.
"Dasar binatang sialan!" pangeran Erick memaki kesal. Beruang sialan ini benar-benar menganggunya dengan merusak momen romantis miliknya. Dia benar-benar marah.
Pangeran Erick mengeluarkan pedangnya. Dia masih memeluk Charlotte. Sosoknya sekarang seperti pangeran yang melindungi sang putri.
Dia menebaskan pedangnya. Tebasan itu mengenai mata kiri beruang raksasa. Beruang raksasa itu langsung mundur dan berteriak kesakitan.
"Bukankah kau terluka?" gumam Charlotte langsung.
"Bukannya kau tidak bisa bertarung" kata Robert dengan tatapan mata tajam.
Pangeran Erick membeku. Dia meletakkan Charlotte dan menjatuhkan dirinya sambil berteriak. "Argh! Kakiku masih belum sembuh nona. Tolong aku!" katanya histeris.
"..."
"Humph!" Charlotte mendengus kesal dan meninggalkannya, untuk menyembuhkan orang terluka lainnya.
"Nona, tungguu...." pangeran Erick berteriak putus asa.
Robert mengepalkan tangannya erat-erat. Dia merasa kesal dengan pemuda di depannya. Kalau saja dia bukan sepupu Eva, dia pasti akan memukulnya. Untuk melampiaskan rasa kekesalannya, Robert langsung menginjak kaki Erick. Tapi Erick dengan cepat menghindari serangan itu dengan mata melotot. "Musuh dalam selimut. Kau berniat melukaiku" katanya, seakan-akan dirinya tertindas.
"Ayo serius" Suara Dean Wason bergema dan mengakhiri adegan bodoh ini.
__ADS_1
Robert menahan amarahnya dan bergabung dengan yang lainnya. Sementara pangeran Erick masih duduk dan berpura-pura sebagai orang terluka yang menonton pertarungan.
Satu jam berlalu, pertempuran itu berakhir dengan kemenangan di pihak manusia. Semua orang kelelahan dan melihat bahwa pangeran Erick berbaring santai dengan mengangkat kakinya. Tanpa sadar mereka merasa kesal. Kalau saja dia bukan tokoh penting dari kerajaan Albion, mereka pasti akan memukulnya beramai-ramai.
"Oh, sudah selesai" gumam pangeran Erick. Dia tidak mempedulikan pandangan semua orang. Dia langsung mencari keberadaan Charlottte dan melihat keberadaan gadis di antara orang-orang yang terluka. Charlotte juga kelihatannya sudah menyembuhkan semua orang. Jadi Erick langsung menghampirinya.
"Nona, siapa namamu? Aku tidak bisa melihatmu tadi" tanya pangeran Erick sambil tertawa cengengesan.
"Charlotte" responnya ketus. Dia merespon pangeran Erick hanya karena kesopanan.
"Nona, namaku Erick. Bisakah kita berteman baik?"
"Maaf, Yang Mulia. Saya sibuk dan harus kembali" Charlotte langsung menghampiri rombongannya.
"Tunggu dulu" Erick memegang pergelangan Charlotte, refleks. "Aku hanya ingin berkenalan denganmu"
"Lepaskan" Charlotte menatap Erick dengan mata melotot.
Tapi Erick tidak mau melepaskannya. Dia menatap Charlotte serius. "Apa aku menakutkan? Aku hanya ingin berteman denganmu"
"Lepaskan" kali ini bukan Charlotte, tapi Robert. Pemuda itu langsung melepaskan genggaman Erick. Lalu dia memegang tangan Charlotte dan pergi.
Erick melihat mereka dengan tatapan sedih. Lalu dia melihat Robert dengan tatapan cemburu. "Dasar hidung belang. Bukannya kau sudah mengejar sepupuku. Kenapa kau harus mengejar wanita lain!" dia berteriak frustasi.
__ADS_1
Sementara Charlotte tersenyum manis. Tangannya masih dipegang oleh Robert dan tentu saja dia tidak akan melepaskannya. Wajahnya memerah malu sambil sesekali menatap Robert yang fokus memandang ke depan. Serta jantungnya berdegup kencang.
"Apakah perjuanganku selama bertahun-tahun akhirnya terbalaskan? Dia menyukaiku?" pikirnya gugup. Tapi tentu saja dia tidak berani menanyakan hal itu kepada pemuda di sampingnya.